
Tepat dihari sebelum keberangkatan keluargaku ke Thailand, Lilis pulang. Aku pun meminta izin pada mama untuk mengantar Lilis ke pelabuhan Merak.
"Anter Lilis kalo lu mau anter, tapi jangan lu bawa kemana-mana" ucap mama.
"Iya ma, Shang kan anak baik" balasku diselingi candaan.
"Yaudah sono berangkat, ntar lu mampir beli oleh-oleh buat keluarga Lilis." ucapnya lagi.
Lilis keluar dari kamar menyeret sebuah koper.
Ia mengenakan gamis berwarna kuning mustard yang aku belikan, dilengkapi dengan pashmina hitam dan sepatu berbentuk boots ala wanita Korea.
Aku tak hentinya menatap Lilis, ia sungguh terlihat menawan.
"Cantik sekali." Gumamku.
Mamaku yang masih duduk diruang tamu pun tak kalah heran, ikut menatap Lilis. Ntah apa yang mama pikirkan.
Ia berjalan ke arah keluar menaruh kopernya dan kembali masuk untuk berpamitan ke Ge tom, ci sri, dan juga Jeff.
"Pak, Bu, Lilis pulang ya." ucapnya sambil menyalami keduanya.
"Do you want to come to Palembang Jeff?" (Apa Jeff mau ikut ke Palembang?) ungkap Lilis sambil membungkukkan badannya pada Jeff.
"No, i want go to Thailand" (nggak, Aku mau ke Thailand) jawab Jeff polos.
"Okay, sure someday Jeff go to Palembang"
(Oke, suatu saat Jeff pasti ke Palembang) balas Lilis. lalu ia mencium Jeff dan berpamitan pada Mama.
Lalu ia kembali menyeret kopernya menuju mobilku.
"Biar saya aja." Tawarku, sembari mengambil alih membawa kopernya.
Lilis tampak menoleh ke arah pintu. Mama, ci sri, Ge tom masih berada disana. tentu Lilis merasa tak enak.
Ia hanya diam saja, tidak membuka suara.
"Kenapa kak Shang sangat baik ke Aku? tanyanya saat mobil yang aku kendarai sudah jauh dari rumah Ge tom.
__ADS_1
"Karena mbak juga baik." jawabku spontan.
"Berarti kalau Aku tidak baik, kak Shang juga gak baik ke Aku?" tanyanya.
"Mana mungkin mbak nggak baik, mbak selalu baik menurutku, dan pasti menurut semua orang juga." jawabku.
Lilis tidak membalas.
"Berapa hari dirumah? kapan balik kesini?" tanyaku.
"Kurang tahu, mungkin gak balik." jawabnya santai.
"Loh kenapa? bukannya mbak butuh uang buat bantu biayain keluarga? apa gaji yang diberikan Ge tom kurang?" tanyaku.
"Ngga, malah banyak. terus ditambah uang bonus dari perusahaan yang dikasih kak Shang juga udah cukup buat buka usaha kecil-kecilan." jawabnya tetap dengan nada santai tanpa menoleh ke lawan bicaranya.
Hatiku sudah mulai panik, takut Lilis memang tidak kembali bekerja di rumah kakakku.
"Emm apa mbak udah mau nikah?" tanyaku.
"Nggak tahu, jodoh kan rahasia Allah. jadi gak tahu kapan nikah. tapi untuk sekarang belum mikirin itu. adik-adik masih butuh aku." jawabnya.
Mobil yang Aku kendarai akhirnya sampai di pelabuhan Merak.
Setelah mengantar Lilis membeli tiket kapal Aku langsung kembali ke Tangerang. tak lupa meminta nomor WhatsApp nya agar Aku tidak kehilangan jejaknya.
"Ini Aku Shang." pesan singkat ku kirim ke Lilis saat sudah memasuki kawasan tangerang city mall.
"Iya kak, Aku save ya nomornya." balas Lilis tak lama setelahnya.
"Iya, kalau sudah sampai rumah tolong kabari." ku ketik pesan lalu menekan tombol send.
Hanya berconteng biru dua, tak ada balasan.
Jam delapan malam, masuk sebuah pesan dari orang yang aku tunggu-tunggu, Lilis.
"Alhamdulillah Aku udah sampai rumah." pesan dari Lilis dilengkapi sebuah foto. foto seorang gadis cantik bersama ibu dan kedua adiknya, tebakku.
Yang membuatku heran adalah background dari foto tersebut. rumah yang kelihatan cantik dengan warna dan hiasan yang elegan.
__ADS_1
"Benarkah Lilis berasal dari keluarga yang tidak mampu?" aku pun semakin penasaran.
Setelah menyiapkan perlengkapan yang akan dibawa, Aku dan keluarga berangkat ke bandara.
Beberapa jam kemudian, pesawat sudah mendarat di bandara Suvarnabhumi Thailand, Bangkok. atau yang bisa disebut juga sebagai bandar udara internasional Bangkok baru.
Aku, Ge tom, ci sri, mama dan Jeff segera menuju hotel terdekat yaitu hotel Royal ivory nana.
Kami memesan tiga kamar. satu untuk Ge tom dan keluarganya, satu untuk Mama, dan satu untukku.
Tujuan utama kami adalah kuil wat pho dan wat Arun. bangunan bersejarah kuno di Thailand.
Untuk malam ini waktu kami habiskan untuk menikmati kuliner di sekitar hotel royal ivory nana. mulai dari makanan berat sampai jajanan dipinggir jalan.
Tentu kami semua memakai masker mengingat sedang ramainya perbincangan mengenai virus Corona.
Setelah puas dan kenyang kami kembali ke hotel dan masuk kamar masing-masing.
Dikamar sendiri aku tampak jenuh, hendak menonton TV tapi malas karena aku tidak hobi nonton sinetron.
Ku buka kunci layar HP membuka aplikasi Youtube sekedar nonton film aksi buatan Hollywood. Saat baru membuka trending topik Aku tak sengaja membaca judul tulisan " Alasan Islam melarang memakan hewan yang diberi label Haram." ku tekan tombol klik untuk menonton video berdurasi enam menit tersebut.
"Masuk akal dan logika." gumamku setelah selesai menonton video tersebut.
Akhir nya rasa kantuk datang. ku matikan lampu kamar dan menghidupkan lampu tidur.
"Semoga masih diberi kesempatan untuk melihat dunia esok pagi." doaku dalam hati.
~
Selesai sarapan Aku dan yang lain segera berangkat menuju kuil Wat Arun. pemandangannya cukup keren, tak lupa Aku mengabadikan momen itu dengan berfoto-foto. Aku dan Ge tom bergantian menjadi fotografer.
Ku kirim salah satu foto ke Lilis.
[Coba aja mbak ikut, disini pemandangan nya bagus]
Pesan masih ceklis satu, tanda Lilis tidak sedang online.
Saat istirahat, kembali ku cek pesan yang dikirim ke Lilis. Belum ada balasan, bahkan belum menunjukkan bahwa ia sedang online. Kemana Lilis?
__ADS_1
terimakasih sudah membaca ☺️