Aku Masuk Islam Karena Pembantu

Aku Masuk Islam Karena Pembantu
Be Careful Jeff


__ADS_3

Ku lirik jam ditangan, pukul 20:00


"Setelah ini kita beli mainan sama baju buat Om kerja ya Jeff, baru pulang" ucapku pada Jeff.


" Iya om, Jeff pengen beli tembakan pingpong" jawabnya senang.


~


Setelah membeli tembakan, ku ajak mereka ke tempat pakaian pria.


Ku lihat Lilis melirik gamis yang terpajang di samping pakaian pria.


Selesai dengan baju-


bajuku aku mengambil gamis yang tadi sempat dilirik oleh Lilis tanpa menoleh ke Lilis


"Terima kasih, selamat berbelanja kembali." ucap salah satu SPG.


Aku mengajak Jeff dan Lilis membeli pizza untuk oleh-oleh dirumah. lalu kembali menuruni eskalator menuju tempat parkir.


"Nih mbak buat mbak." ungkapku seraya menyodorkan plastik berlogo pull n bear berisi gamis .


"Eh nggak usah kak, ini mahal. Aku gak punya uang buat bayarnya." jawabnya menolak.


"Kan tadi udah Aku bayar, ini buat mbak. karna mbak suka pakai gamis." jawabku.


"Beneran ini buat Aku?" Tanyanya, Kulihat keraguan diwajah Lilis.


"Iya mbak, nanti kalau Aku ngajak Jeff main lagi pakai baju ini ya" pintaku pada Lilis.


"Iya kak, makasih. Semoga semakin sukses." jawabnya.

__ADS_1


"Sama-sama mbak." jawabku.


Di mobil Jeff sangat heboh dengan tembakan pingpong barunya,


"Be careful Jeff.! then hit." (hati-hati Jeff nanti terbentur) ucap Lilis.


"Yes mbak, i'm be careful" (ya mbak, aku hati-hati) balas Jeff.


"Are you sleepy yet Jeff?" (Udah ngantuk belum Jeff?)tanya Lilis lagi.


"I'm not sleepy." (Aku tidak mengantuk) jawab Jeff.


Aku terbengong,


"Ternyata Lilis bisa bicara bahasa Inggris." batinku.


"Wah mbak jago bahasa Inggris, sebelumnya lulusan apa?" tanyaku penasaran.


"Lalu kenapa gak lanjut kuliah?" tanyaku.


"Ekonomi keluarga lagi kurang baik. semenjak kepergian bapak. Ibu kerepotan mengurus segala kebutuhan dua adikku, jadi Aku ikut membantu ibu mencari uang." jawabnya sambil pandangannya menatap luar kaca mobil.


"Oh gitu, maaf terlalu ingin tahu" kulirik wajahnya.


Lilis diam saja, sepertinya ia enggan menjawab.


Sampai dirumah kakakku Aku langsung pulang ke rumah mengendarai sepeda motor beat dengan membawa barang paket.


dua puluh menit kemudian sudah sampai di perumahan gading Serpong, rumahku sendiri.


Ada mobil Innova berwarna pink terparkir didepan rumah

__ADS_1


"Chenchen." pikirku, pasti hal buruk akan terjadi.


Kulihat Chenchen duduk diruang tamu ditemani buk Neni pembantuku. mereka memang sudah akrab, bukan akrab tepatnya tukang gosip.


Karena jika dua wanita tersebut berkumpul pasti ada saja kejelekan orang lain yang dibahas, keluargaku tidak ketinggalan jadi bahan gosip mereka.


Aku cuek saja, tidak pernah mau tahu dengan obrolan mereka.


"Sayang!" panggilnya.


"Iya, tumben jam segini masih disini." jawabku basa basi.


Chenchen memang sering keluar masuk rumahku sekedar mengantarkan makanan untukku, tentu makanan itu di dapat dari membeli. karena ia tak bisa masak.


"Iya sengaja nungguin kamu pulang." jawabnya sambil memperlihatkan kue diatas meja yang ia beli entah darimana, menawariku untuk memakannya.


"Sekarang Aku udah pulang, jadi lebih baik kamu pulang ya. udah malam ntar dicariin Daddy." ucapku dengan suara yang kubuat lembut agar ia tak curiga bahwa Aku ingin Dia segera pulang .


"Iya Aku juga mau pulang, tapi Aku mau ngomong sesuatu dulu sama kamu." jawab Chenchen.


"Ngomong apa sayang?".


"Aku mau kita putus." jawabnya dengan nada yang dibuat tegas dan ketus, sambil melipatgandakan tangannya ke dada.


"Putus? ada alasan kenapa minta putus?" jawabku yang ku buat seolah sedih, padahal dalam hati amat senang bahkan ingin jingkrak-jingkrak tapi ku tahan.


"Ini semua salahmu, terlalu sibuk dengan pekerjaan, gak pernah ada waktu buat nemenin aku. dan sekarang aku dekat dengan laki-laki yang lebih mapan dari kamu. Dia lebih tampan dan juga lebih perhatian." jawabnya.


"Baik kalau memang itu maumu, putus." jawabku sambil berlalu meninggalkan nya.


Sempat ku lirik raut wajahnya yang tampak kaget dengan apa yang aku lakukan.

__ADS_1


__ADS_2