
Ku lirik Lilis, wajahnya tampak sedih mungkin juga kecewa atas jawabanku yang salah saat diberi pertanyaan oleh ayahnya.
Hatiku berdegup sangat kencang.
Akhirnya Aku terbangun dari tidurku, ternyata semua hanya mimpi.
Keringat sudah membanjiri badan, tentu saja Aku masih tak habis pikir dengan mimpiku barusan.
"Kenapa Aku mimpi seperti itu? Bukankah masuk Islam itu hanya mengucapkan kalimat syahadat? Ah kenapa Aku terbangun saat belum menyelesaikan mimpiku?" Ku usap kasar wajahku.
Ku lihat jam masih menunjukkan pukul tiga dini hari.
Aku beranjak menuju dapur untuk minum air dingin dalam kulkas, karena tenggorokan ku terasa kering. Aku memang suka terbangun saat malam. Tapi biasanya jam satu atau dua dini hari.
Aku melewati kamar disebelah ku dengan tetap berjalan, tak sengaja melirik ke dalam kamar dan melihat ada sesuatu yang berdiri disana berwarna putih.
Sempat kaget karena mengira itu adalah sosok Hantu pocong karena keadaan lampu kamar tidak dihidupkan. Hanya mengandalkan lampu didekat langit-langit ruang pemisah kamar yang remang-remang.
"Bu Imah? Kenapa dia Shalat dijam seperti ini? Memangnya umat Islam berapa kali Shalat dalam sehari?" Batinku bertanya-tanya.
Ku dengar seperti suara seorang wanita menangis sesenggukan yang tak lain adalah Bu Imah.
"Kenapa Bu Imah Shalat sambil menangis? Apa dia punya masalah besar yang sedang disembunyikan?" Aku terus saja penasaran.
Aku berlalu melanjutkan niat untuk menuju dapur dan akan menanyakan perihal Bu Imah yang menangis esok pagi.
Setelah minum aku tidak bisa kembali memejamkan mata, ku nyalakan tv yang belum lama ini Aku pasang dikamar.
Satu lagi ku pasang di dekat dapur. Agar Bu Imah tidak bosan dan mau menonton TV saat santai.
Paginya Aku berangkat ke toko material yang dimaksud oleh bawahan ku yang mengawasi jalannya proses pembangunan proyek. Atau yang biasa disebut supervisor. Ada lima supervisor yang dikontrak oleh Ge tom. Semua menjalankan bagiannya masing-masing.
"Bu, saya berangkat ya. Nanti mungkin saya pulang agak malam karena tujuan lumayan jauh. Kalau bu Imah tidur jangan lupa kunci pintu dan jangan biarkan tamu tidak dikenal masuk ke dalam rumah. Takutnya penipuan" ucapku pada Bu Imah sebelum berangkat.
"Iya pak, saya juga takut kalo ada tamu yang tidak dikenal." jawabnya.
Cukup lama tak terdengar kabar dari Lilis, Aku sudah mulai terbiasa untuk tidak memikirkan Lilis.
Tapi semenjak mimpi semalam, Aku kembali mengingat Lilis dari mulai bertemu sampai Aku ingin mengorbankan agama ku.
"Dia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, dan mungkin ia ganti nomor telepon" batinku menerka-nerka.
Kali ini aku bersama pak Joko yang tidak lain adalah salah satu supervisor yang dipilih kakakku, aku mengajaknya membeli material karena ia jauh lebih berpengalaman mengenai hargai barang.
"Pak Shang, istirahat disini sebentar ya saya mau Shalat dhuhur dulu." Pinta pak Joko.
"Oh, iya boleh pak silahkan. Saya parkir diarea masjid aja ya." Aku membelokkan mobil ke masjid yang berada di sisi kanan jalan.
__ADS_1
Tak lama pak Joko turun dari mobil menuju tempat wudhu yang berada disamping masjid.
Aku yang merasa jenuh didalam mobil memutuskan keluar dan berdiri didekat mobilku diparkirkan.
"Mari pak bareng wudhunya." ucap seorang pria padaku.
Aku yang non muslim hanya mengangguk dan tersenyum, bingung harus menjawab apa.
Pria itu menatapku, kemudian pandangannya beralih ke leherku yang memakai kalung salib berukuran kecil.
"Kalau begitu saya duluan wudhu ya Pak" pria itu berpamitan menuju arah samping masjid. Mungkin ia mengerti bahwa aku bukanlah orang muslim.
Tak lama terdengar suara dari dalam masjid "Allahu Akbar" tak lama lagi "Allahu Akbar" berulang-ulang. Tentu Aku tahu bahwa itu suara dari imam masjid yang memimpin Shalat.
" It's been a loveless year
i'm a man of three fears.
Integrity Faith and crocodile tears
Trust me darlin trust me darlin." handphone ku bergetar diikuti lagu dari imagine dragon, Aku memang mengganti nada sambung telepon WhatsApp dengan lagu berjudul bad liar tersebut.
Tampak dilayar Mama sedang menelepon ku dengan sistem video call diaplikasi WhatsApp.
Ku tekan tombol hijau untuk mengangkat telepon.
"Halo mam," ku buka obrolan saat Aku dan mama sudah terhubung dan video kami terpampang di layar.
"Lagi istirahat Ma, Shang mau beli material bangunan bareng supervisor Shang. Nanti barang diantar oleh pihak penjual kalo udah melakukan transaksi pembayaran atau DP." jawabku.
"Gua dengar suara orang Islam lagi Shalat, itu lagi di masjid ya?" Tanya Mama berusaha fokus ke layar, tentu ia melihat masjid di belakangku.
"Iya ma, Shang lagi nunggu supervisor Shang Shalat." jawabku.
"Kirain lu yang Shalat" seloroh Mama. Aku tak berani balik bertanya kepada Mama soal hal ini.
"Mama baik-baik aja kan?" Ku alihkan pembicaraan dengan menanyakan kabar mama.
"Mama baik Shang, kapan lu cuti? Gak kangen sama Mama? Udah empat bulan lu dimedan.!" Mama bicara dengan nada sedikit tinggi, aku paham maksudnya. Tentu mama kangen dengan anak bungsunya, meski aku sering menelefon atau video call Mama tentu beliau ingin melihatku secara langsung.
"Iya Ma, pertengahan bulan depan Shang pulang. Proyeknya gak bisa ditinggal soalnya, Mama baik-baik ya disana jaga kesehatan Mama." Aku berusaha menenangkan mama.
"Yaudah, gua mau tidur siang dulu." ungkap Mama.
"Iya ma, Shang juga mau lanjut perjalanan." tak lama telepon dimatikan oleh Mama.
"Jahat banget gua jadi anak, cuma mentingin kerjaan sampe lupa sama orang tua" rutukku, mulai menyesali perbuatanku yang menjadi cuek terhadap Mama.
__ADS_1
"Assalamualaikum warahmatullah, assalamualaikum warahmatullah" ucap suara imam masjid.
Tak berselang lama para jamaah Shalat dhuhur keluar dari masjid.
"Mari pak, maaf ya kalau agak merepotkan dan sedikit mengulur waktu." Ungkap pak Joko.
"Iya pak gak papa, saya maklumi kok. Shalat merupakan kewajiban bagi setiap agama. Dan tentu ada konsekuensi dari Tuhan bagi umat yang melalaikannya" jawabku.
"Iya pak, dan saya selalu berusaha untuk Shalat selalu diawal waktu. Karena lebih baik daripada menunda-nunda." jawab pak Joko.
"Iya pak",
"Bapak sudah lama menekuni pekerjaan dunia proyek pembangunan?" Tanyaku pada pak Joko.
"Sudah lima belas tahunan pak, semenjak saya masih lajang dan menikah lalu punya anak" jawabnya.
Pak Joko orang yang asyik diajak ngobrol, jadi Aku tak sungkan-sungkan untuk memberondong banyak pertanyaan.
"Dulu semasa kuliah ambil jurusan apa pak?"
Tanyaku dengan tetap fokus menyetir.
"Jurusan teknik sipil pak, mencakup teknologi merancang, membangun, memelihara, dan memperbaiki bangunan." jawab pak Joko.
"Sebelum ini pak Joko kerja dimana?" Sepertinya pak Joko memang memiliki banyak pengalaman kerja dilihat dari cara kerjanya di proyek yang sedang ku jalani.
"Belum lama ini saya keluar dari proyek pembangunan pabrik gula di Palembang pak. Kebetulan saya menempati posisi sebagai manager produksi." Jawab pak Joko.
"Loh bagus dong dapat posisi sebagai manager? Kok malah keluar dan memilih turun menjadi supervisor?" Aku mulai tertarik dengan arah obrolan dengan pak Joko.
"Ya karena masa kontrak saya sudah habis pak, padahal saya betah disana. Selain tempatnya yang cukup menarik berada di dataran rendah sungai menang Ogan Komering Ilir, perbatasan antara provinsi Lampung dan Palembang. Disana semua pekerja ditempatkan dalam mes-mes yang berbentuk memanjang atau biasa kami sebut long House. Dan setiap jabatan memiliki tingkat kebagusan mes yang berbeda. Semakin tinggi jabatan maka akan semakin bagus dan nyaman juga mesnya." pak Joko menceritakan pengalamannya dengan semangat, Aku pun ikut tersenyum mendengar semua ceritanya.
"Wah bagus dan keren pastinya ya pak, struktur bangunannya." jawabku dengan sedikit menoleh ke lawan bicara.
"Iya pak, saya acungi jempol kalau untuk arsitektur bangunan. Bahkan tidak tanggung-tanggung pihak perusahaan mengontrak orang-orang luar negeri seperti India (isgec), Swiss, Korea, dan beberapa negara lain untuk membantu proses pembangunan dari mulai production dan engineering." pak Joko meneruskan ceritanya sesekali dengan diselingi tertawa.
"Kalau proyek gitukan biasanya pekerjanya pria semua ya pak ya?" Aku mulai mengingat- ngingat pengetahuan mengenai dunia proyek agar tidak dianggap kurang pengetahuan oleh pak Joko. Bahwa memang biasanya pekerjaan tersebut dikerjakan oleh mayoritas pria.
"Iya pak, mayoritas para pekerja ya pria, tapi disana juga ada yang perempuan. Ya bisa dihitung jari, sekitar sepuluh orang. Kalo cewek ya paling menempati jabatan sebagai Admin, staff, supervisor, dan superintendent" Jawab pak Joko.
"Pasti jadi rebutan ya pak ya hehehehe" jawabku berusaha menirukan gaya bicara para karyawan proyek yang Aku dengar saat Aku sedang memperhatikan pekerjaan mereka.
"Yo pasti lah pak, tapi ada satu kisah yang unik yang sampai sekarang saya ingat mengenai pekerja perempuan bagian supervisor, dulunya Admin biasa, tapi karena berkat skill dan bakat kemampuan nya dia naik jabatan setelah bekerja selama dua tahun dan mengikuti seleksi serta tes yang dibuat pihak perusahaan. Dia cuma dua bulan jadi supervisor terus keluar, tapi keluarnya itu aneh. Habis balik kerja dua hari dari cuti terus keluar, kan aneh ya pak?" Tampak pak Joko memikirkan sesuatu hal.
"Loh, emang gak ada berita apa alasan dia keluar? Biasanya kan HRD yang mengurus surat keluar pasti tahu." jawabku yang mulai ikut penasaran.
"Ya dari supervisor HRD sampai stafnya cuma bilang nggak tahu pak. Mungkin memang Lilis dapat pekerjaan yang lebih baik diluar, dan gak panas-panasan kayak di proyek. Ya meski dia menempati bagian kantor." ungkap pak Joko.
__ADS_1
"Lilis pak namanya?" Mendengar orang lain menyebut nama Lilis, tiba-tiba dadaku kembali bergetar.
Terimakasih sudah setia membaca cerbung ini ☺️