
Kenapa ge Tom menelpon malam-malam begini, apa ada hal penting? Gumamku,
[Hallo Ge] jawabku dengan malas. selain karena mengantuk, tentu karena kejadian tadi juga sangat memengaruhi emosiku.
[Gimana Shang pestanya? Lancar?] Tanya Ge Tom.
[Lancar Ge] Jawabku.
[Gua mau ngomong hal penting Shang, tapi tolong lu tenang dan jangan panik, kalau bisa pulang secepatnya.] ucap Ge Tom dengan suara sedikit parau,
[Maksudnya gimana Ge? Iya Shang mau pulang tapi dua hari lagi] jawabku yang tak mengerti dengan arah bicara Ge tom.
[Mama meninggal Shang, barusan.] ucap Ge tom, terdengar nada yang ragu saat mengucapkan.
[Ge lu serius Ge? Gak mungkin, orang sebelum gua pergi Mama sehat-sehat aja] Aku langsung terperanjat mendengar apa yang dikatakan Ge tom.
[Gua serius, kemarin Mama ke pasar naik ojek. Dan lu tau sendiri tangan mama nggak bisa memegang benda dengan kuat dan selalu getar-getar meski udah kita bawa ke banyak dokter. Dan pas naik ojek Mama jatuh, posisi jatuh Mama terjengkang ke belakang. Dan terkena tulang ekornya. Mama sempat dirawat, tapi barusan mama benar-benar menghembuskan nafas terakhir] ucap Ge tom diiringi suara tarikan hidung, tentu ia tengah menangis.
[Gua pulang sekarang] ucapku, lalu ku matikan telepon.
Ku bangunkan pak Joko yang tengah tidur dan menceritakan hal yang terjadi, aku langsung mengajaknya kembali ke Tangerang.
"Maaf pak banyak merepotkan, bahkan saat tidur aku masih mengganggumu" batinku.
"Pak kalau kita ke Tangerang menggunakan mobil, akan memakan banyak waktu. Bapak naik pesawat saja. Biar mobil saya yang bawa ke Tangerang, mari saya antar ke bandara Sultan Mahmud Badaruddin] ungkap pak Joko.
"Ternyata beliau adalah seseorang yang sangat berhati mulia, Aku pasti selalu mengingat kebaikanmu pak" Batinku,
"Ayo pak ke bandara." ucapku.
Kami menuju bandara Sultan Mahmud Badaruddin.
Yang ada di pikiranku saat ini hanya Mama, banyak hal yang belum aku lakukan untuk membuat beliau bahagia. Belum banyak waktu yang aku luangkan untuk Mama..
Mama.. maafin Shang.
Tak butuh waktu lama, Aku dan pak Joko sudah sampai di bandara Sultan Mahmud Badaruddin.
Ku pilih penerbangan pertama pukul 05.00-06.05 WIB. Ku ucapkan banyak terimakasih kepada pak Joko atas kebaikan hatinya.
__ADS_1
"Tidak perlu berterimakasih pak Shang, selagi masih bisa membantu pasti akan saya bantu. Hidup harus tolong menolong" balas pak Joko.
Pesawat berangkat sesuai dengan jam yang telah ditentukan.
Sekitar satu jam lebih perjalanan udara, pesawat mendarat di bandara Soekarno Hatta Tangerang, Banten.
Aku langsung memesan ojek online, jarak bandara dengan rumah Ge tom tidak terlalu jauh. Dan barang-barang ku berada dimobil yang dibawa oleh pak Joko.
Tak lama Aku sudah sampai di rumah Ge tom, tentu sudah berkumpul para keluarga, sanak saudara dan para tetangga.
Dan saat Aku melihat Mama, beliau sudah didandani dengan rapi dan sangat cantik. Bahkan, terlihat senyum simpul dibibirnya.
Tangisku pecah, "Kenapa Mama buru-buru meninggalkan Shang? Tak bisakah Mama menunggu Shang menjadi anak yang sukses dan membuat Mama bangga?" Ucapku dalam hati saat melihat jenazah wanita yang sangat Aku cintai berada didepanku.
Jenazah Mama sudah berada didalam peti dan siap dikuburkan di pemakaman Kristen, pemakaman gocap.
Selesai upacara pemakaman, para keluarga dan tetangga mulai kembali ke rumah masing-masing.
Tentu Aku, Ge tom, dan kakak-kakak ku yang lain sangat merasakan kesedihan yang mendalam. Tapi dalam Al kitab disebutkan bahwa tidak baik terlalu menunjukkan lambang atau tanda kesedihan kepada orang banyak. Dan yang pasti, setiap yang hidup pasti akan mati.
Seminggu kepergian Mama, Aku dan pak Joko kembali ke Medan. Karena bagaimanapun sudah tanggungjawabku untuk menyelesaikan proyek pembangunan hotel tersebut.
Dan untuk pak Joko, Aku berencana untuk menaikkan gajinya mulai bulan ini.
"Bu Imah." Aku memanggil Bu Imah sembari mengetuk pintu kontrakan ku.
Tak ada sahutan dari dalam,
"Bu? Ibu didalam kan?" Ucapku dengan suara sedikit dikeraskan, takut beliau sedang tidur.
Tetap hening, tak ada sahutan.
Ku putuskan untuk mengintip keadaan dalam rumah dengan menyipitkan mata ke jendela didekat pintu, tak ada tanda-tanda keberadaan Bu Imah.
"Kemana Bu Imah?" Batinku.
"Ceklek" bunyi gagang pintu dibuka.
"Pak Shang, maaf tadi saya sedang sholat." ucap Bu imah dengan menunduk seperti biasanya.
__ADS_1
"Oh sedang sholat, iya Bu gapapa. Saya kira Bu Imah pulang karena tidak betah disini" balasku.
"Saya betah kok pak, pak Shang majikan yang baik." balas Bu Imah.
"Bisa saja Bu, ya sudah saya ke kamar dulu Bu. Lelah setelah hampir empat hari perjalanan." ucapku pada Bu Imah.
"Iya pak, sudah saya masakin pak. Ada dimeja makan, pak Shang mau minum kopi atau teh?" Tanya Bu Imah.
"Iya Bu nanti saya makan. saya tidak minum kopi atau teh, saya punya asam lambung." jawabku. Karena setiap minum kopi atau teh perutku terasa kembung dan tidak nyaman.
"Oh ya sudah pak." jawab beliau yang kemudian menuju ke dapur.
Sampai kamar ku ganti pakaian dengan celana pendek dan kaos oblong, terasa lebih nyaman. Ku raih bantal dan melakukan kebiasaan lamaku yaitu rebahan diubin keramik lantai, sungguh kenikmatan yang luar biasa. Dan akhirnya Aku benar-benar terlelap.
Ntah berapa jam Aku tertidur, Aku terbangun saat mendengar suara Bu Imah sedang mengaji dikamar sebelah. Ku hayati setiap bacaan yang beliau lantunkan, sampai selesai.
Mataku melirik ke arah jam dinding, jam tujuh malam. Aku membuka lemari untuk mencari handuk, karena saat Aku pulang sudah berpesan kepada Bu Imah agar mencuci handukku dan menyimpannya di lemari bajuku.
Setelah menemukan handuk, sekalian ku ambil pakaian ganti.
Segera ku selesaikan mandiku karena merasa sangat dingin, aku tak biasa mandi malam hari.
"Bu Imah, ayo makan bareng." ku keraskan suara agar Bu Imah yang berada didalam kamar mendengar suaraku.
"Bapak duluan saja, nanti saya akan makan." jawabnya setelah keluar dari kamarnya.
"Jangan nanti-nanti Bu, pokoknya sekarang." ucapku.
Bu Imah menuju meja makan dan ikut makan bersamaku.
"Ibu jangan sungkan-sungkan, kan saya sudah pernah bilang. Apalagi sekarang saya sudah tidak memiliki seorang ibu, Mama saya baru meninggal Bu." tentu masih ada raut kesedihan saat aku mengungkapkan kata-kata itu.
"Innalilahi wa innailaihi Raji'un, semoga ibu dari pak Shang bahagia dan tenang dialam sana." jawab Bu Imah, terlihat rasa simpati dari wajahnya.
"Iya Bu, Bu Imah tidak keberatan kan kalau saya menganggap Bu Imah sebagai ibu saya?" Tanyaku pada Bu Imah.
"Saya tidak keberatan pak, jangan sungkan untuk menceritakan segala masalah pak Shang kepada saya." ungkap Bu Imah.
"Baik Bu, terimakasih. Saya akan bercerita mengenai masalah percintaan saya.." mulai ku ceritakan semuanya tentang Lilis, dari awal hingga akhir. Bu Imah terlihat mendengarkan curhatan ku.
__ADS_1
"Jadi pak Shang ingin menjadi mualaf?" Tanya Bu Imah.
Terimakasih sudah membaca ☺️