Aku Masuk Islam Karena Pembantu

Aku Masuk Islam Karena Pembantu
Keberangkatan ke Medan amplas


__ADS_3

Tentu Aku masih memikirkan soal Lilis, tapi tidak ingin terlarut-larut dalam kegalauan. Jika memang berjodoh, tentu sejauh apapun jarak kami sekarang, nanti akan dipertemukan kembali.


Ku putuskan akan menetap di Medan mengawasi pembangunan proyek. Karena Ge Tom sudah mempercayakan dan menyerahkan tanggung jawabnya padaku.


Pukul delapan pagi Aku dan Ge Tom meluncur menuju pelabuhan Merak menuju pelabuhan Bakauheni Lampung dan melanjutkan ke Medan.


Sengaja tidak naik pesawat karena saat tinggal di medan nanti tentu Aku akan membutuhkan kendaraan.


Setelah melewati perjalanan selama kurang lebih empat hari tiga malam akhirnya Aku dan Ge Tom sampai dikota Medan amplas.


Aku menyewa rumah kontrakan berukuran sedang, sementara untuk keperluan sehari-hari ku kerjakan sendiri. Aku akan mencari pembantu setelah kondisi sudah memungkinkan nanti.


Rumah terdiri dari tiga kamar. Kamar utama terlihat lebih besar dari dua kamar yang lain, di salah satu kamar terdapat seperti karpet atau dalam Islam disebut sajadah serta terdapat kitab Al-Qur'an di meja kamar itu.


Kamar tersebut berada disebelah kamar utama. Sedangkan kamar satunya berada berhadapan dengan kamar utama.


Dibagian belakang ada dapur dan kamar mandi.


Karena badan terasa pegal Aku dan Ge tom memutuskan untuk istirahat setelah sebelumnya membersihkan kontrakan dan membeli beberapa peralatan rumah tangga serta spring bed.


Malamnya Ge tom membangunkanku karena merasa lapar.


"Shang keluar yuk cari makan lapar gua, gak kenyang cuma makan tadi siang." ucap Ge tom sembari menggoyangkan lenganku.


Aku yang memang gampang bangun saat mendengar suara saat tidur pun langsung menanggapi.


"Yuk, gua juga lapar." balasku.


Kami menuju rumah makan terdekat.


Terpampang tulisan "Rumah makan Padang." Aku mengarahkan mobil kesana dan mencari tempat parkir.


"Jadi rencana besok kita mulai dari izin sama kepala desa setempat baru mulai memeriksa kondisi lahan." ucap Ge tom saat selesai makan.


"Ya Ge, tapi anak-anak kantor udah dapat arsitektur pembangunannya kan?" tanyaku.


"Udah, tinggal kita serahkan ke tukang." jawab Ge tom yang tampak lebih berpengalaman dariku.


Keesokan harinya Aku dan Ge Tom menuju rumah kepala desa.


"Siang pak." ucap Ge tom.


"Ya pak selamat siang, ada yang bisa dibantu?" tanya pak kades.


"Kita kenalan dulu pak biar lebih akrab. Perkenalkan saya Tomtom Malaru dan ini adik saya Op Shang Malaru" ucap Ge tom memperkenalkan diri.


"Saya Herman, lurah disini." balas pak Herman.


"Maksud kedatangan kami kemari adalah, saya dan adik saya meminta izin untuk membangun sebuah hotel disini. Dan lahan tersebut sudah dibeli oleh perusahaan saya. Jadi saya minta maaf apabila saat proses pembangunan akan mengganggu ketenteraman masyarakat karena suara mesin alat berat ataupun debu yang diakibatkan pembangunan nanti." sambung Ge Tom.


"Baik pak saya sudah mendengar kabar ini jauh hari, bisa saya cek sertifikat hak tanah?" Tanya pak Herman.


"Bisa pak." Ge tom menyodorkan sebuah kertas.


"Saya selaku lurah mengizinkan pembangunan proyek hotel. Tapi dengan syarat tidak menyalahi aturan dan tetap utamakan keselamatan para pekerjanya." Sambung pak Herman.


"Iya pak untuk pekerja nanti akan kita sediakan APD berupa helm proyek, sepatu boots, dan body harness." lanjutku.


"Kalau begitu terima kasih pak, kami permisi undur diri karena akan segera menuju lokasi untuk memeriksa kondisi dan struktur tanah." ucap Ge tom seraya menyalami pak Herman. Kemudian Aku mengikutinya bersalaman.


Setelah memeriksa kondisi tanah bersama petugas, Aku segera menghubungi pihak pembuatan sumur bor. Karena air adalah kebutuhan pokok yang akan digunakan untuk pembangunan.

__ADS_1


Sedangkan Ge Tom mulai menghubungi toko material dan mencari tukang handal disekitar amplas, Medan.


Tak butuh waktu lama proyek sudah mulai dibangun.


Sebulan sudah Ge tom berada disini. Akhirnya ia memutuskan untuk kembali ke Tangerang dan menyerahkan semua tugas padaku.


Ku antar Ge Tom ke bandara Kuala namu.


"Semoga berhasil, Gua yakin lu bisa Shang." pesan Ge tom sebelum pergi.


Aku mulai mencari pembantu melalui tetangga kontrakan.


Hingga kemudian ada yang menawarkan diri untuk menjadi pembantu di rumah kontrakan ku.


Namanya Bu Fatimah, atau lebih akrab dipanggil Bu Imah. Wanita paruh baya seumuran dengan pembantuku di Tangerang.


Bu Imah sangat cekatan membereskan pekerjaan rumah, bahkan pakaianku pun dicuci dan disetrika.


Dia menempati kamar yang berhadapan dengan kamarku. Sedang kamar disebelah ku masih kosong.


"Pak, kamar yang kosong itu boleh dipakai untuk Shalat?" Tanya Bu Imah suatu sore, saat sudah satu bulan bekerja.


"Boleh saja Bu, daripada kosongkan." jawabku.


Kamar itu memang setiap hari dibersihkan oleh Bu Imah, jadi tampak bersih.


Setelah itu, selepas adzan di masjid berkumandang sering kulihat Bu Imah memasuki kamar itu untuk ibadah.


*


Selesai dari proyek Aku langsung menuju meja makan karena sudah sangat lapar.


Ku buka tudung saji, tampak sayur asem, ikan goreng, tempe goreng, cumi asin goreng dan sambal serta lalapan petai berada di meja. Segera Aku makan dengan lahap.


Aku memang sudah terbiasa dengan makanan seperti ini. Ntahlah, sepertinya aku mulai melupakan masakan asalku. Padahal, kami di Indonesia hanya merantau.


Selesai makan Aku menuju kamar, menyambar handuk dan menuju kamar mandi. Kamar mandi hanya satu dan berada diluar kamar tepatnya didekat dapur. Yang artinya Aku harus berbagi kamar mandi dengan Bu Imah. Tapi kamar mandi selalu terlihat bersih dan wangi, tak ada kecoa ataupun lumut didalam.


Selesai mandi, aku melihat ke dapur dan melihat Bu Imah sedang memotong sayuran.


"Mungkin untuk masakan besok pagi." gumamku.


Saat aku ke dapur untuk mengambil minuman dikulkas, Aku masih mendapati Bu Imah berada di dapur.


"Bu Imah sudah makan?" Tanyaku.


"Belum pak nungguin bapak selesai makan." jawabnya.


"Loh kenapa nungguin saya? Kalo Bu Imah lapar makan aja. Apalagi jam pulang saya nggak nentu nanti ibu sakit. Anggap ini rumah ibu jangan sungkan. Saya tidak marah kalo ibu makan makanan yang ada." ucapku meyakinkan Bu Imah.


"Iya pak, saya takutnya nanti bapak marah dan menganggap saya pembantu yang tidak sopan." jawabnya dengan menunduk.


"Ibu jangan berpikir begitu lagi ya, ayo sekarang makan dulu. Saya tunggu in ibu sampe mau makan nih" ucapku pada Bu Imah.


Akhirnya dia beranjak dan segera makan.


Ku rebahkan tubuh dikasur, tidak dilantai karena terlalu dingin sehabis mandi.


Tak sadar Aku ketiduran.


Aku terbangun saat sayup-sayup terdengar suara orang mengaji. Sangat merdu sekali dengan sedikit serak. Ku lihat jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan malam.

__ADS_1


Ku langkahkan kaki menuju asal suara, yaitu kamar disebelah ku. Ternyata Bu Imah sedang mengaji.


Aku mengintip dari pintu yang memang tidak tertutup.


Rasanya enggan beranjak, ku sandarkan tubuh didekat pintu demi mendengarkan suara Bu Imah. Tak sadar tiba-tiba mataku basah, entah perasaan apa yang sedang kurasakan.


Bu Imah berhenti dari mengajinya. Ia berusaha meraih tali mukena dikepalanya, mungkin akan melepasnya.


Tak ingin Bu Imah melihatku menangis Aku segera kembali ke kamar dan mengunci pintu. Padahal meski tidak dikunci tidak mungkin Bu Imah akan tiba-tiba masuk ke kamarku.


Ku dengar Bu Imah batuk-batuk menuju ke kamarnya. Aku segera membuka pintu dan menanyakan keadaannya.


"Ibu sakit ya? Ayo saya antar berobat ke dokter." Tawarku.


"Ngga usah pak, ini cuma batuk biasa sebentar lagi akan sembuh." tolak Bu Imah.


"Nggak bisa begitu Bu, Bu Imah disini tanggung jawab saya. Jadi sebelum terjadi apa-apa harus kita cegah." ucapku sedikit memaksa.


Beliau tetap menolak dan meyakinkanku bahwa batuk yang ia alami hanya batuk biasa. Namun, bukan aku kalau tak memaksa.


Tak tega diusia nya yang paruh baya beliau nampak kesepian. "Setelah ini akan ku tanyakan mengenai keluarganya." gumamku.


"Ayo Bu ke dokter, mumpung belum terlalu malam" Bu Imah akhirnya mengangguk karena tak bisa menolak.


Aku dan Bu Imah menuju klinik terdekat karena rumah sakit terlihat lumayan jauh di google maps.


"Nggak papa pak, ibu cuma sakit batuk biasa. Ini saya berikan obatnya. Jangan lupa minum air putih yang banyak ya Bu. Dan hindari makanan berminyak dulu." ucap Bu bidan.


"Iya Bu terima kasih banyak" balasku.


"Sebenarnya saya takut berobat pak, takut nanti malah dikira kena covid." Ucap Bu imah.


"Ibu jangan takut, kalaupun ibu terkena covid pasti akan menjalani perawatan hingga pulih." Aku berusaha menenangkan Bu Imah yang ketakutan dengan bayang-bayang virus Corona yang baru saja muncul bulan lalu.


Segera ku ajak Bu Imah pulang dan menyuruhnya untuk istirahat setelah minum obat.


"Ah, Aku jadi kangen Mama. Semoga Mama benar-benar bahagia tinggal bersama Ge tom dan ci Sri." ku rebahkan tubuh dikasur dengan posisi terlentang dan menghadap langit-langit kamar.


Aku memutuskan untuk melanjutkan tidur, mengingat besok harus pergi ke salah satu kota di Medan untuk membeli material bangunan langsung dari pabrik.


"Semoga masih diberi kesempatan melihat dunia esok pagi" doa yang selalu Aku baca dalam hati sebelum tidur.


"Kak Shang, besok jadi kan kesini." ucap Lilis yang tiba-tiba menelefon.


"Kesini mana?" Tanyaku bingung.


"Ke pondok pesantren di Palembang, tempat belajar ilmu. Dan yang utama belajar ilmu agama Islam." Jawab Lilis.


"Iya jadi dong mbak, kan Ayah mbak sendiri yang bakal ngajarin Aku mengucapkan kalimat syahadat." jawabku.


Tak lama kemudian Aku sudah sampai di Palembang, lebih tepatnya pondok pesantren dimana Lilis dan keluarganya berada.


Suasana tampak ramai oleh santri dan santriwati dari tingkat madrasah ibtidaiah sampai madrasah Aliyah.


Tiba-tiba Aku sudah didalam masjid didalam pondok pesantren. Suasana lumayan ramai juga. Ada Lilis, ibunya, ayah baru Lilis dan ustadz beserta beberapa santri.


Ayah Lilis menanyakan beberapa hal padaku mengenai alasanku untuk masuk ke dalam agama Islam.


Setelah menjawab pertanyaan Aku ingin masuk agama Islam karena ingin menikahi Lilis, beliau melihat keraguan.


Dapat kulihat dari raut wajah ayah Lilis, seperti tak suka dengan jawabanku.

__ADS_1


Terimakasih sudah setia membaca cerbung ini ☺️


__ADS_2