Aku Masuk Islam Karena Pembantu

Aku Masuk Islam Karena Pembantu
Banyak jalan menuju Roma


__ADS_3

Setelah kembalinya pak Joko, kami bersama-sama makan malam dirumah Ge tom. Tentu hidangan yang disajikan halal. 


"Ge gua mau balik dulu, mau mampir ke mall nyari baju batik buat kondangan nanti." 


"Yaudah Shang, ati-ati tar kalo mau berangkat ke Palembang." Balasnya. 


Kemudian Ge tom bergegas masuk ke kamar, Aku dan pak Joko menuju garasi. 


"Pak Joko, tunggu sebentar." Ge tom berjalan cepat menuju garasi lalu menyelipkan sebuah amplop ke kantong baju pak Joko. 


"Loh apa ini bos?" Tanya pak Joko. 


"Ini ada sedikit rezeki buat pak Joko karena sudah menganggap adik saya seperti keluarga dan membantunya dalam mengerjakan tugas. Tolong jangan ditolak," jawab Ge tom. 


"Kalau begitu terima kasih ya bos, saya pasti akan membantu pak Shang semampu yang saya bisa." balas pak Joko. 


Ge tom memang orang yang berhati baik, bahkan ia rutin memberi sembako untuk masyarakat kurang mampu. Dan memberikan sumbangan ke panti asuhan. 


Tak terkecuali kakak-kakak ku yang lain, bahkan Aku pun berusaha untuk tidak hitung-hitungan dalam membantu orang lain. 


Tentu sifat dermawan yang kami miliki adalah hasil didikan dari Mama dan mendiang Ayah. 


"Semoga sehat selalu dan panjang umur Ma." doaku setiap mengingat Mama. 


Di mall Aku membeli kemeja batik, jas, dan beberapa celana dasar. Tak lupa membelikan sepasang baju batik dan celana dasar untuk pak Joko. Ucapan terima kasih tentu selalu keluar dari lisannya. 


Setelah selesai belanja Aku dan pak Joko kembali ke rumah gading Serpong. Buk Neni membukakan pintu saat mendengar suara deru mesin mobilku. 


Sepertinya buk Neni sebelumnya tengah tidur, kelihatan dari raut wajahnya yang terlihat masih ngantuk. 


"Lanjut tidur Bu, besok pagi-pagi buatkan sarapan ya. Saya tinggal lagi pergi ke Palembang, tapi cuma sebentar selama empat hari." ucapku pada buk Neni. Saat aku berada di medan beliau Aku perbolehkan untuk istirahat dirumahnya, baru sehari sebelum kepulangan ku dari Medan Aku meminta beliau kembali masuk bekerja membersihkan rumah. 


"Iya pak." jawabnya. Lalu pergi berlalu ke kamarnya.


  


"Pak Joko kalau mau istirahat langsung ke kamar saja, atau kalau belum ngantuk bisa nyalakan TV yang berada dikamar. Film-film aksi Hollywood, Bollywood juga banyak pak di meja bawah TV." ungkapku pada pak Joko. 


"Kalau begitu saya ke kamar ya pak, mengingat besok akan melakukan perjalanan jauh jadi butuh istirahat yang cukup." pamit pak Joko. 


"Iya pak, camilan dan minuman yang ada disana juga untuk bapak." jawabku. 


"Terimakasih pak Shang." balas beliau. 


Pagi setelah sarapan Aku dan pak Joko langsung meluncur ke arah tujuan, yaitu muara Enim. Perjalanan tidak terlalu memakan waktu yang lama karena sekarang sudah ada jalan tol. 


Dengan dibantu google maps kami berhasil sampai di Palembang tepatnya Muara Enim setelah menghabiskan waktu selama sebelas jam perjalanan. Sebelumnya Aku sudah membooking hotel. 

__ADS_1


Waktu malam tidak kami habiskan untuk istirahat melainkan berkeliling disekitaran hotel mencari makanan khas Palembang yakni pempek dan cuko. Lemak nian, bahasa mereka.


"Nanti pasti ada rekan saya juga disana pak, perwakilan dari PT Pratama Nusantara sakti yang juga diundang, tempat saya bekerja dulu. 


 Tadi saya sudah hubungi teman saya untuk tidak pulang sebelum bertemu dengan saya dan pak Shang." ungkap pak Joko sebelum berangkat. 


"Iya pak, semoga nanti kita bertemu dengan teman bapak." jawabku. 


Aku dan pak Joko menuju ke lokasi acara pernikahan jam dua siang dan sampai di lokasi sekitar jam tiga sore. 


Aku dan pak Joko berjalan memasuki gedung yang sudah dihias sedemikian rupa. Tampak mewah dengan nuansa Palembang. 


Seperti acara pernikahan lainnya aku dan pak Joko menyalami para penerima tamu. 


Aku menuju meja prasmanan untuk makan, Lalu duduk di kursi tamu. Sang pengantin sedang duduk di kursi raja dan ratu seharinya. Sang pria menggunakan jas berwarna silver sedangkan sang wanita memakai gaun berwarna krem berkemilau ala india lengkap dengan hijabnya. 


"Pak Joko.! Apa kabar?" Suara dari arah samping pak Joko yang mengagetkan ku. 


"Loh, Danang? Disini juga?" jawab pak Joko dengan senyum sumringah ke arah lawan bicaranya. 


"Iya pak Joko, kebetulan saya masih kerabat dekat dengan pengantin perempuan." ungkap pria muda bernama Danang tersebut. 


"Oh, bagus kalau gitu. Ini kenalin bos saya, pak Shang namanya." ungkap pak Joko dengan menoleh ke arahku. 


Aku langsung tersenyum ke Danang, ku tafsirkan usianya seumuranku. 


"Danang Gafur." balasnya dengan tersenyum. 


"Kok bisa sampai kesini pak Joko? Diundang juga ya?" Tanya Danang ke pak Joko. 


"Saya ikut pak Shang, kebetulan dia perwakilan dari perusahaan Alexindo. Katanya rombongan pak Hamid, pak Revan, pak Aji, pak Taufik juga sebentar lagi sampai. Perwakilan dari PT Pratama Nusantara sakti" ungkap pak Joko. 


"Ya kan memang sudah jadi tradisi ditempat kerja kita bahwa setiap ada yang menikah selalu ada perwakilan yang datang pak. Tapi kapan ya giliran saya akan menyusul? Hehehehe." ungkap Danang. 


"Kamu kan dulu sempat deketin Lilis to? Gak berhasil ya?" Balas pak Joko. 


Lagi-lagi nama Lilis disebut, dan lagi-lagi hati ini bergetar. Sedalam itukah pengaruh Lilis dikehidupanku? 


"Gagal pak, ya gimana. Sekuat apapun saya berjuang kalau Lilis nggak mau ya gimana." balas Danang. 


"Sabar Nang, masih banyak perempuan yang cantik-cantik. Apalagi di Palembang ceweknya cantik-cantik dan baik-baik." sambung pak Joko. 


"Hehe, doakan saja ya pak." 


"Ya sudah pak saya duluan pulang ya, sudah lama disini soalnya. Hehehehe." pamit Danang pada pak Joko. 


"Kok buru-buru Nang, ya sudah sampai ketemu lain waktu." balas pak Joko. 

__ADS_1


"Saya permisi juga ya pak." Danang melambaikan tangannya ke arahku. 


"Iya silahkan, hati-hati." balasku. 


"Pak, saya boleh tunjukkan foto seseorang gak?" Tanyaku pada pak Joko. 


"Boleh pak, foto siapa?" Tanya pak Joko yang tampak penasaran. 


Ku keluarkan ponsel dan menunjukkan foto digaleri handphone ku, yaitu foto Lilis yang dulu pernah Ia kirim bersama dengan ibu dan adik-adiknya. 


"Loh, kok bapak bisa tahu foto itu? Itu Lilis yang pernah saya maksudkan dan saya bahas dengan Danang tadi, berteman di Facebook atau Instagram ya?" Tanya pak Joko dengan mimik wajah yang biasa saja. 


"Bukan pak, saya kenal Lilis yang pak Joko maksud. Bahkan dia sempat bekerja dirumah kakak saya, Ge tom. Sebagai pembantu." ku jelaskan pada pak Joko. 


"Beneran pak? Semenjak dia keluar saya tidak tahu lagi kabar tentang Lilis. Tapi, masa dia kerja jadi pembantu?" pak Joko mulai penasaran dengan ceritaku. 


Lalu pandangan pak Joko beralih ke arah tamu yang barusan datang. Terlihat mimik wajah senang dari wajahnya. 


"Itu rekan-rekan saya pak, perwakilan dari PT Pratama Nusantara sakti." ucap pak Joko padaku. 


"Wah, panggil saja pak biar gabung bareng kita." balasku. Aku berharap bisa mendapatkan informasi tentang Lilis lebih banyak dari mereka. 


Tak lama kami sudah bergabung dengan mereka. Pak Joko tentu sangat senang bertemu rekannya, dan rekannya pun sama, tampak senang bertemu dengan pak Joko. 


Puncaknya ku beranikan diri untuk bertanya mengenai Lilis. 


"Bapak-bapak ada yang tahu keberadaan Lilis sekarang ini dimana? Yang saya tahu dia ikut keluarga Ayah barunya di pondok pesantren Palembang." ungkapku dengan sedikit ragu. 


"Tahu, ibunya Lilis itu kan pegawai lama yang pernah bekerja di perusahaan proyek kita juga, dan beberapa waktu yang lalu ibunya Lilis menikah dengan pemilik pondok pesantren. Sekarang mereka tinggal di pondok pesantren Indralaya." jawab pak Taufik. 


"Bu Kusuma Ningrum ya pak yang dimaksud?" Timpal pak Anwar. 


"Iya Pak, mantanmu kan hehe." balas pak Taufik. 


"Kalo tentang Bu Kusuma gak mungkin lupa." imbuh pak Joko. 


Mereka tertawa serempak. 


"Kenapa pak Shang bertanya mengenai Lilis? Kenal juga dengannya?" Tanya pak Hamid. 


"Iya pak saya kenal Lilis..." Ku ceritakan secara detail mengenai Lilis yang pernah bekerja dirumah Ge tom. 


Pak Hamid juga mengetahui perkara ibunya Lilis menikah lagi dengan ayah dari pemilik pondok pesantren Indralaya. 


"Bisa antar ke pondok pesantren tempat Lilis tinggal?" Tanyaku. 


Aku berharap mereka mau membantuku untuk bertemu Lilis.

__ADS_1


Terimakasih sudah membaca 😃


__ADS_2