Aku Masuk Islam Karena Pembantu

Aku Masuk Islam Karena Pembantu
POV Lilis: lamaran ustadz ganteng


__ADS_3

Disini, dipondok pesantren, Aku menemukan jati diriku yang sebenarnya. Melakukan apa yang Aku cita-cita kan sejak lama yaitu menjadi guru bahasa Inggris. Di samping itu, Aku ikut belajar mengenai sejarah agama Islam. Aku juga melanjutkan kuliah di salah satu kampus di Palembang, belajar meniti karir menjadi arsitek kelak.


Aku dan keluarga ibu sendiri adalah Islam yang mengikuti aliran Nahdlatul ulama, sedangkan Ayah baruku Muhammadiyah. Sebenarnya tidak ada perbedaan antara keduanya, karena Muhammadiyah sendiri berarti berkarakter Muhammad sedangkan Nahdlatul ulama adalah berkebangkitan ulama.


Jadi kalau ikut Muhammadiyah, berarti jadi NU. Sebaliknya, kalau ikut NU, otomatis puncaknya ya jadi Muhammadiyah.


Kali ini dipondok pesantren akan diadakan pengajian Akbar, dan penceramah yang diundang adalah seorang ustadz yang cukup terkenal yakni Ustadz Abdul Somad.


Pihak pondok banyak mengundang Kyai, ustadz, para penegak agama Islam, dan para warga yang boleh siapa saja untuk hadir mengikuti acara, khususnya para guru, santriwan dan santriwati pondok pesantren.


Acara berlangsung cukup meriah, isi ceramah Ustadz Abdul Somad juga mampu menarik hati para jamaahnya. Sehingga acara berjalan lancar dan sukses, tema yang dibawakan beliau adalah persatuan umat apa pun Madzhab, ormas, dan parpolnya.


Ustadz Abdul Somad dalam setiap ceramah-ceramahnya selalu menyerukan umat untuk bersatu, menghormati perbedaan mazhab, tidak terpecah belah karena soal khilafiyah.


Acara ditutup dengan doa yang dibacakan langsung oleh ustadz Abdul Somad.


Seminggu setelah acara Aku meminta izin kepada ayah dan ibu untuk liburan ke Lampung. Mengingat disana banyak kenangan semasa aku kecil hingga dewasa.


Ayah dan ibu mengizinkan, tapi mereka tidak bisa ikut. Karena memang pondok pesantren tidak lama lagi akan melaksanakan ujian tengah semester.


"Lilis ke Lampungnya ajak Gusmu sama Ayuk iparmu ya. Mereka ingin ke Lampung juga." ucap Ayah saat kami sedang menikmati makan malam bersama.


"Iya dek, belum pernah Aku ke Lampung." sambung Ayuk Ratih, istri dari kakak tiri ku sekaligus pemilik pondok pesantren. Dulunya pondok pesantren ini milik Ayah, namun diwariskan kepada anak laki-laki pertamanya yaitu Gus Ilyas. Ayah masih memiliki dua anak perempuan yaitu Larasati ushwa nahla yang masih duduk di bangku madrasah Aliyah, dan Namira Mamora yang masih duduk di bangku madrasah ibtidaiah.


"Boleh dak dek kami ikut?" Sambung Gus Ilyas.


"Boleh bae Gus." jawabku.


"Badskil sama Malika pengen ikut kak, udah lama gak ke Lampung." ucap Badskil adik lelakiku.


"Kan Badskil sama Malika hari Senin udah semester, kak Laras sama kak ushwa juga nggak ikut. Nanti aja kita liburan bareng Ayah kalau sudah liburan semester ya." jawab ibu mencoba memberi pengertian pada adik-adikku.


"Yaudah deh, nanti aja liburannya." jawab Badskil.


"Badskil sama Malika pengen liburan kemana di Lampung?" Tanya Ayah.


"Pengen ke Way Kambas, lihat gajah. Terus ke Transmart di karang main game sama roller Coester." jawab Badskil antusias.


"Nanti ya, tunggu liburan semester" balas Ayah yang lalu dibalas anggukan oleh Badskil.


Selesai acara makan bersama, keempat adikku segera menuju ke masjid pondok. Karena tidak lama lagi sudah memasuki waktu isya, tentu mereka tak ingin keduluan santriwan dan santriwati sampai kesana. Ntah apa maksudnya yang jelas Aku ikut senang melihat adik kandung maupun adik tiri ku semangat dalam menjalankan perintah agama.


Sedangkan Aku tentu ikut membereskan meja membantu ibu dan yuk Ratih. Baru kami bertiga akan menyusul ke masjid.


Namun kali ini ibu sedang kurang sehat jadi memilih Shalat isya dikamar.


"Yuk dek, udah wudhu dikamar kan?" Tanya yuk Ratih. Ditangannya sudah membawa mukena lengkap dengan sajadahnya, dan juga kitab barzanji. Karena dimasjid akan mengadakan acara sholawat nabi setiap malam Minggu selepas sholat isya.


"Udah yuk, ayok berangkat." balasku yang sudah duduk menunggunya diruang tamu juga dengan membawa mukena, sajadah dan kitab barzanji.


Pondok pesantren dan rumah kediaman keluarga pondok memang terpisah, tapi tidak jauh dan masih satu halaman. Ayahku lebih akrab dipanggil Abah oleh para penduduk pondok.


Selesai sholat isya para santri tidak langsung keluar masjid melainkan duduk disetiap sisi dalam masjid, shaf santriwan dan santriwati terpisah kain penutup.


Tampak Gus Ilyas memimpin acara dan kamipun mengikuti bacaan sholawat yang telah diperintahkan oleh Gus Ilyas.


Kali ini sholawat nabi yang akan dibacakan adalah ya nabi salam alaika.


"Ya nabi salam alaika.."


"Ya rasul salam alaika"


"Ya habib salam alaika"


"Sholawatullah alaika"

__ADS_1


"Asyraqal Badru alaina"


"Fahtafat minhul buduuru"


"Mitsla husnik maaro aina"


"Khothu ya wajha suruuri"


"Anta syamsun anta Badrun"


"Anta nuurun fauqo nuuri"


"Anta iqsiru waghali?"


"Anta mishbahus sudhuri"


"Ya nabi salam alaika"


"Ya rasul salam alaika"


"Ya habib salam alaika"


"Sholawatullah alaika"


Suasana dalam masjid sangat ramai oleh suara lantunan sholawat nabi.


Masih ku ingat dalam ingatan saat membaca ceramah dari salah satu penceramah, bahwasanya nabi Muhammad Saw sangat menyayangi umatnya yang taat dengan perintah Allah dan gemar membacakan sholawat untuk-Nya. Semoga kita semua termasuk umat yang disayangi oleh nabi terakhir kita.


Acara selesai pukul sembilan malam. Setelah selesai membaca sholawat para jamaah menikmati hidangan makanan dan minuman yang disediakan, lalu acara ditutup dengan doa-doa. Para santriwan dan santriwati sudah diperbolehkan untuk istirahat di asrama masing-masing.


Aku dan Ayuk segera kembali ke rumah dan masuk ke kamar masing-masing untuk istirahat dan akan kembali ke masjid untuk shalat subuh esok.


~


Aku kembali menjalankan tugas sehari-hari mengajar materi bahasa Inggris. Kali ini jadwalku adalah kelas dua belas A, setara dengan tiga SMA.


Setelah duduk, barulah ketua kelas memimpin teman-temannya untuk mengucap salam dan doa.


"Rabbi zidni Ilman.. wardzukni fakhman." mereka beramai-ramai membaca doa.


Dan seperti perintahku, setiap pelajaran bahasa Inggris setiap murid harus menggunakan bahasa Inggris dalam setiap pertanyaan yang mereka ajukan. Bahkan, Aku menjelaskan menggunakan bahasa Inggris dengan bahasa yang simpel dan mudah dimengerti.


Kali ini mereka ku beri tugas untuk menuliskan tokoh atau artis idola mereka yang memberikan dampak positif dan mengharumkan nama bangsa Indonesia dengan menggunakan bahasa Inggris. Boleh memakai kamus asal bukan searching google.


"Assalamualaikum." ucap seseorang dari arah pintu kelas.


"Waalaikumussalam." jawabku dan murid-murid.


Pak Afgan memasuki ruangan. Dia adalah guru olahraga, wajar kalau bentuk badannya sangat atletis dan tegap. Wajahnya juga tampan disertai lesung pipi. Dan satu lagi, dia masih single.


"Maaf Bu Lilis menganggu waktunya sebentar, habis jam ibu kan pelajaran olahraga dan tidak dipisah jam istirahat. Jadi saya akan memberi tahu murid-murid untuk segera mengganti seragam dengan baju olahraga setelah jam pergantian pelajaran selesai, agar waktu tidak habis oleh alasan ganti baju. Khususnya buat cewek-cewek nih." ungkap pak Afgan dengan lantang agar semua murid mendengar.


"Iya pak." jawab murid-murid.


"Yasudah Bu saya permisi, terimakasih waktunya." pak Afgan berjalan keluar dari kelas.


"Iya pak silahkan." jawabku dengan mata tetap fokus ke buku besar.


Agak sedikit terganggu dengan sikapnya yang seperti mencari kesempatan untuk mendekatiku.


"Dasar aja pak Afgan modus pengen ketemu dan caper dengan Bu Lilis." ucap salah satu murid perempuan yang tak sengaja ku dengar.


"Iya, padahal kan kemarin juga dia udah sempet marahin kita dan bakal hukum kita kalo telat ke lapangan dengan alasan ganti baju dikamar mandi." balas satunya lagi.


"Please be quiet don't be noisy.! Focus on the lesson." (Tolong diam jangan ribut.! Fokus ke pelajaran). Ungkapku dengan nada tenang namun tegas. Aku tak suka keributan apalagi terdengar menjelekkan orang lain.

__ADS_1


Kelas kembali tenang, beberapa murid sudah mengumpulkan hasil tugasnya.


Ku beri nilai sesuai dengan cara penulisan, titik, koma, inti, dan tokoh-tokoh serta prestasi tokoh dalam tulisan mereka.


Jam pergantian pelajaran berbunyi. Ku lihat murid-murid sangat senang karena berarti mereka tidak harus pusing memikirkan tugas dariku.


"Selesaikan diasrama untuk PR, dan kumpulkan besok dimeja ruangan saya." ucapku yang tentu membuat mereka sedikit kesal. Biarlah, ku ajari mereka arti tanggung jawab. Agar tak kebiasaan sengaja mengulur waktu saat diberi tugas.


"Yahhh" ungkap beberapa murid.


"Iya Bu Lilis yang geluis." jawab salah satu murid laki-laki. Tentu mendapat gombalan dari murid-murid sendiri sudah hal biasa. Mengingat usiaku tidak terpaut jauh dari mereka.


Aku berjalan menuju kantor madrasah. Tempat ruang para guru-guru.


Dikantor tampak sepi karena para guru sedang mengajar dikelasnya masing-masing.


Ku raih tas dan segera kembali ke rumah karena jam pelajaran ku sudah kosong.


Tujuanku setelah ini adalah ke kampus. Selain menjadi guru bahasa Inggris aku juga kuliah jurusan teknik sipil. Berbanding terbalik dengan profesiku yang seorang guru bahasa Inggris, aku mengambil jurusan teknik sipil agar cita-citaku dulu yang ingin menjadi guru bahasa Inggris sudah tercapai, aku cita-cita keduaku juga tercapai yakni menjadi seorang arsitek. Entahlah, jiwa proyek sudah melekat dalam diri.


Saat sudah sampai dirumah segera ku ucapkan salam dan mencari ibu. Ternyata beliau tengah dikamar bersama ayah, jadi ku urungkan niat untuk ngobrol sekedar soal materi teknik sipil.


Ku ganti baju seragam guru dengan tunik army, rok span dan jilbab pashmina. Bersiap untuk ke kampus.


"Aku makan siang dan sholat dhuhur dikampus aja." batinku.


"Lis, Lilis." ucap ibu sembari mengetuk pintu.


"Iya Bu, masuk" jawabku yang tengah memakai jilbab.


"Tadi kata ayukmu Lilis nyari ibu, kenapa?" Tanya ibu yang sudah duduk disisi ranjang tempat tidurku.


"Nggak papa, pengen ngobrol soal materi kampus Bu. Kalau ibu lagi repot nanti aja." jawabku.


"Nggak repot kok ibu, ayo ikut ke kamar. Ayah sama ibu mau ngomong sesuatu." ungkap ibu.


"Ngomong apa Bu kok kayaknya penting banget?" Tanyaku penasaran.


"Udah ikut aja." jawab beliau.


Aku segera mengikuti ibu menuju kamarnya dan kamar Ayah.


Tampak Ayah sudah duduk santai memegang buku novel tentang kajian-kajian keislaman.


"Sini Lis duduk." Ayah mempersilahkan Aku untuk duduk disofa yang terdapat di dalam kamar. Kamar ayah dan ibu memang cukup besar.


Aku segera duduk di dekat ibu.


"Lilis kan udah dewasa ya, udah duapuluh dua tahun lebih, hampir dua puluh tiga." ungkap Ayah.


Aku mengangguk, seperti paham arah tujuan ayahku.


"Lilis udah ada planning mau nikah umur berapa?" Sambung beliau.


"Belum, ada cita-cita yang masih Lilis ingin capai yah." jawabku jujur.


"Sebenarnya Ayah ingin memberi tahu sesuatu, Lilis ingat kan waktu acara pengajian Akbar kemarin?" Tanya Ayah.


"Iya ingat, kenapa yah?" Jawabku penasaran.


"Banyak sekali yang datang, termasuk keluarga dari pondok pesantren lain. Dan apa Lilis ingat ada beberapa Ustad yang masih lajang? Nah salah satu dari mereka ada yang ingin melamar Lilis. Orangnya baik, ilmu agamanya bagus, mapan dan diberi kelebihan wajah yang tampan. Gimana Lis pendapat Lilis?" Ungkap ayah dengan pelan-pelan. Mungkin takut Aku akan salah tanggap.


"Ibu pengen Lilis mendapatkan jodoh yang baik, beriman, dan bertanggung jawab. Tapi untuk semua itu Lilis yang putuskan. Ibu sama Ayah cuma bisa berharap yang terbaik buat Lilis" timpal ibu.


Sebenarnya aku belum siap untuk menikah, tapi apakah boleh menolak niat baik seseorang?

__ADS_1


terimakasih sudah membaca ☺️


__ADS_2