
Gue kagak nyangka Tuhan bakal memberi kesempatan kayak gini. ia menurunkan hujan agar aku bisa lebih lama dengan Yani.
Saat hujan semakin deras kami pun menepi agar tidak kehujanan, karna takut kehujanan. kayak mana tidak takut coba, hujannya aja main keroyokan, gak berani satu satu/ bayone ya kan! :v
" Haduuh...! pake turun hujan segala lagi.! aduuuh kayak mana ni, nanti aku di omelin pula sama orang tua aku.!" kata Yani dengan cemas
" Udah tenang aja.! nanti gue yang menghadap ke orang tua lo. gak usah di pikirin.! ok!"
Mendengar perkataan Ahmad, lagi lagi merasa deg degkan mendengar kalimat yang ingin membuatnya terbang tinggi.
Hujan pun semakin deras, angin berhembus dengan kencang. pahon pohon menari nari seiiringan dengan hembusan. air yang jatuh semakin deras, yang membuat air di permukaan semakin meninggi. genangan air di mana mana. mobil yang lalu lalang pun melaju dengan cepat karna jalanan menjadi sepi di karenakan hujan deras yang membuat sebagian pengendara bermotor menepi karan tidak membawa jaz hujan.
Ahmad duduk dibangku, begitupun dengan Yani. mereka menepi di rumah kosong, atau mungkin warung yang tutup. meraka hanya berdua di situ, tak ada orang yang menepi disitu mungkin karna tertutup dengan gerobak yang di tutup dengan terpal. Ahmad mengetahui lokasi ini karna ia lumayan sering nongkrong disini bareng temannya. dikarenakan harga makanan / minuman yang di jual di sini relatif murah. dan tempatnya yang lumayan teratur.
Ahmad melihat keaadaan sekitar. hujan bukannya mereda malah semakin deras. dan alangkah terkejutnya Ahmad, ia melihat Yani menggigil, mungkin karna turun hujan dan ditambah dengan angin yang berhembus dengan kencang. Ahmad pun berinisiatif melepaskan jaket yang ia kenakan dan memberikannya ke Yani. Yani melihat tindakan Ahmad yang merelakan jaket yang ia kenakan, dan itu membuat hatu Yani tersentuh.
" Ahmad ka kamu ngapain? pakai aja jaketnya, nanti kamu kedinginan lo!"
" Nggak,! gak papa. cukup aku peluk kamu atau kamu yang meluk aku, aku sudah merasa hangat kok.!"
Deg..deg.. deg..
Mendengar perkataan itu membuat hati Yani terasa nyesek, dameg nya bukan maen.
__ADS_1
Bukan hanya sekedar kata kata, Ahmad pun memberanikan diri, tangannya perlahan memeluk pinggangnya dari samping. sontak Yani kaget dengan tindakan yang dilakukan Ahmad. ia tak bisa berkata kata, lidahnya terasa kaku, bibirnya terasa membeku, dan tenggorokan nya terasa kering. Ahmad semakin mendekat dengan Yani, Yani pun pasrah dengan posisinya saat ini, ia pun menyandarkan kepalanya kebahu Ahmad. Ahmad yang melihat tindakan yang di ambil Yani sontak membuat Ahmad merasa kaget sekaligus senang+ bahagia karna ia berhasil mendapatkan hati Yani.
" Mad,! kamu beneran gak mau pacaran?" tanya Yani, sontak membuat Ahmad tarpaku kaku.
" Aku bukannya nggak mau, tapi kamu kan juga nggak boleh keluar jalan jalan, apalagi malam malam. ditambah lagi kamu mondok. jadi ya...!? percuma aja gitu, kalo kamu mau kita TTM aja..!
kamu mau..!?"
Yani menatap ahmad bingung.
" TTM itu apa!?" Yani bertanya dengan polosnya. melihat tindakan Yani yang begitu polos membuat Ahmad tersenyum tipis.
" TTM itu singkatan dari 'Teman Tapi Mesra'. masa' gitu aja nggak tau.!"
" Hahaha....!"
Kami pun tertawa tawa bercanda kesana kesini dan tampa kerasa hujan pun mulai mereda. kami pun melanjutkan perjalan pulang. dan ini adalah yang paling sulit, yaitu meyakinkan kedua orang tua Yani. Yani sudah menyuruh paksa agar dia menurunkannya di depan gang. tapi Ahmad menolak suruan Yani, karna jika ia menuruti perkataan Yani dan menurunkannya di depan gang, Ahamd akan merasa bahwa ia bukan merupakan pria sejati.
Sesampainya ia didepan pagar rumah Yani, kami langsung di sambut oleh Ayahnya si Yani. Ayahnya menatapi kami dengan sorotan mata yang mengerikan. Yani yang takut masalah menjadi besar, ia pun langsung menyalimi Ayah nya itu. sembari meminta maaf karna pulang malam yang dikarnakan cuaca tadi sore hujan deras.
" Assalamualaikum bi."
"Waalikumsalam." jawab Ayahnya Yani dengan cepat. mungkin karna ia agak kesal karna melihat anak nya yang sudah berani pulang malam.
__ADS_1
"Maaf bi, tadi yani pulang telat karna hujan deras. dan tadi yani juga ketemu sama preman yang mau bawa yani pergi, untung tadi ada..!"
" Sudah, sana masuk"
Belum lagi Yani selasai berbicara Ayahnya langsung memotangnya karna ia sudah mulai berani banyak bicara di depan Ayahnya.
tanpa basa basi, Yani pun langsung masuk ke dalam rumah dan di sambut oleh sang Ibunda. Ibunya pun langsung menyuruh Yani untuk membersihkan diri dan menyuruhnya untuk sholat magrib karna waktunya tinggal sedikit.
Saat Yani sudah membelakangi sang Ayah, Ahmad pun langsung menyalimi Ayahnya si Yani tapi saliman itu tidak di sambut oleh sang Ayah.
" Mau ngapain kamu kesini!?" tanya Ayah Yani dengan wajah yang ketus.
" Maaf Om, saya mau minta maaf karna sudah membawa Yani keluar rumah sampai jam segini. ini juga bukan keinginan saya om, saya minta maaf atas kelancangan saya, dan jika om ingin menghukum saya, silahkan. saya akan menyanggupinya.!" kata Ahmad dengan percaya diri, karna ia adalah ketua geng dan dia juga sering berpidato ke bawahannya sehingga perkataannya barusan agak berwibawa dengan anak seumurannya. namun di mata Ayah Yani itu bukan lah apa apa.
" Pulang.! dan jauhi anak saya.!" kata Ayahnya Yani dengan tegas.
" Syarat apa yang harus saya sanggupi agar saya bisa mendekati anak bapak lagi.!?" tanya Ahmad dengan percaya diri.
melihat reaksi Ahmad ayah Yani agak kagum dengan sikapnya yang melampaui anak seusianya. dan Ayahnya Yani pun memberi syarat ke Ahmad jika ia benar benar ingin mendekati Yani.
" Oh... ! lumayan..! jika kamu bisa menghafalkan al quran dengan baik, mendapatkan prestasi atau juara di bidang agama dan bisa menghidupi diri sendiri tanpa bantuan orang lain maka kamu saya ijin untuk mendekati anak saya lagi. gimana!?" tantang Ayah Yani.
" Insyaallah saya akan berjuang semampu saya, dan maaf Om saya juga harus pulang ke rumah, takut di cariin sama orang tua saya. sekali lagi saya minta maaf om, saya pamit dulu, Assalamualaikum."
__ADS_1
" Waalikumsalam"