
" Aaaaa....tolong..!" suara triakan dari arang trumbu karang. kami yang mendengar suara tersebut langsung lari ke sumber suara, karna suara tersebut hampir mirip dengan kawan yang aku bawa ke pantai ini. yang benar saja, itu Dodi kawan yang kami bawa. ia berlari seperti anak kecil sambil berteriak minta tolong. Aku yang melihat ia kepanikan, tapi aksinya malah terlihat kocak di mata kami. ya, tubuh Dodi gendut pendek dan sifatnya cenderung kekanak kanakan. dia la yang yang sering membuat perkumpulan yang awalnya canggung menjadi lebih hangat.
" Aaa... tolong..!" teriak Dodi.
" Dodi, kenapa kon?" tanya Riski saat kami sampai menghampiri Dodi.
Dodi yang sudah sampai pinggiran itu langsung terbaring, karna kecapean lari dari tengah kepinggiran, malah si Dodi nggak pandai renang lagi.
" Kaki gue ki..!" kata si Dodi sambil ngos ngosan. saat kami melihat kaki nya ternyata ada bekas sengatan yang sangat amat banyak, dan itu melingkari betisnya Dodi. bentuknya seperti urat yang berwarna biru kemerah merahan.
" Waah... ini habis kena sengat Ubur uburni. tu tengok, banyak kali bekas sengatnya. mungikin ia merasa terancam, makannya nyengat lo Dod.!" jelas Arif. ya Arif memang tau tau banyak tentang IPA karna ia pernah ikut Olimpiade Sains Nasional.
__ADS_1
" Terus gimana dong ini Rif...?" tanya Dodi penuh harapan.
" Ya gampang aja sih cuma Basuh area yang terkena sengatan dengan air cuka (asam asetat) untuk menonaktifkan sel nematosit dan menghentikan aliran racun. tapi kita nggak bawa asam apapun kesini." kata Arif dengan penuh percaya diri.
" Lah.. terus gimana dong..?" tanya Dodi.
"Hmmm... kita kencingin aja,!"
" Udah udah, biarin aja nanti juga sembuh, lebay amat sih.!" kata si Riski. seketika situasinya jadi hening antara keempat orang ini.
" Ayo, bawa kesana dulu. biar enak istirahatnya, sini makin panas aja ku tengok.!" usul Ahmad. mereka pun menompang tubuh Dodi menuju tempat mereka duduk tadi.
__ADS_1
Sesampainya mereka di sana, Arif pun menyuruh Dodi duduk dengan kaki yang di luruskan kedepan. mereka pun sibuk dengan dengan urusannya masing masing lagi. tak lama kemudian kawan yang mereka bawa kepantai ini ada yang datang satu orang sambil membawa hasil pancingan nya. nama nya Hatta, ia hobi memancing badannya juga tegar dan kekar. ya, mungkin bisa di bilang ia juga orang yang di hormati di sini selain Ketua. Karna sifatnya yang lebih Dewasa dari anak seumurannya.
" Nih... mayaan, bakar bakar kita. ayo cari kayu bakar, satu orang bantu gue.!" gak ada yang respon karna gak mau capek tapi mau enak nya aja.
" Mad, ayo bantu gue cari kayu. bentar aja kok, ngak oake lama. dari oada lo melamun mulu' gue tengok dari sana."
ajak si Hatta. siapapun yang sudah di tunjuk sama Hatta gak ada yang berani membantah, karna terakhir kali si Hatta ada nyuruh Anak untuk beliin makanan tapi orang itu gak mau malah bawa bawa namo Orang tua, ia pun berakhir di UGD.
mau nggak mau Ahmad pun mengiya kan ajakan Hatta karna ia sering membantu geng kecilnya ini kalo ketemu masalah.
Meraka pun berjalan menuju pinggiran bukit yang banyak pepohonan rindang disana. sesampainya mereka pun mulai mengambil ranting demi ranting yang kering yang ada di sana. karna tidak membawa peralatan memotong mereka pun hanya bisa mengandalkan kekuatannya sendiri untuk mematahkan ranting yang kepanjangan yang ada di sana. Ahmad lama kelamaan mulai kesal karna rinting yang ia dapat selalu susah untuk di patahkan, ia pun melampiaskan amarahnya pada kayu yang di ambilnya. melihat aksi ahmad Hatta hanya bisa tersenyum karna sifatnya itu. ia tiadak mau mengganggu Ahmad, Hatta pun membiarkan siAhmad untuk tenang teelebih dahulu.
__ADS_1