ALDHARA

ALDHARA
awal pertemuan


__ADS_3

Seorang gadis berambut panjang memandang ke arah kakak kelasnya yang sedang bermain basket. Di sana, berdiri seorang lelaki gagah dengan kulit sawo matangnya, sedang bermain basket bersama teman-temannya.


Gadis itu hanya bisa memandang dari dalam kelasnya, melalui jendela transparan yang untungnya sangat pas posisinya berada di depan lapangan Basket. Aldhara. Nama gadis itu, gadis yang duduk di bangku kelas 11 IPA 3. Tersenyum saat melihat kakak kelasnya memasukkan bola basket itu di ring lawan, sebagai akhir dari pertandingan itu. Dengan cepat Aldhara menoleh ke arah papan tulis, saat tak sengaja mata mereka bertemu.


"Lo ngapain senyum-senyum mulu dah, merinding gue liatinnya." ujar teman sebangku Aldhara, Meysa.


Aldhara menoleh sambil menyengir, temannya memang belum mengetahui kalau dirinya menyukai kakak kelasnya itu, dirinya masih memendam perasaannya. Takut-takut kalau dia memberitahu temannya, dia akan heboh dan berakhir keceplosan.


"Nggak, gue lagi liatin cicak tadi di pohon. Lucu aja gitu" jawab Aldhara sekenanya.


Meysa menyipitkan matanya dibalik kacamata bulatnya. "aneh lo, cicak lo liatin segala. Mending ngerjain tugas ni dari pak Broto, bentar lagi dikumpulin"


Ahh.. Aldhara sampai melupakan tugas dari Pak Broto, pria itu memberi tugas lalu meninggalkan kelas dengan alasan ada kepentingan pribadi.


Aldhara dengan segera menarik buku tulis milik Meysa dan mulai menyalin jawaban di sana.


"Eh eh, main narik aja. Awas aja lo kalau marah-marah ntar pas jawabannya salah." oceh Meysa. Dia hapal sekali dengan tabiat Aldhara.


Aldhara yang mencontek, namun saat jawaban yang dia berikan salah. Maka Aldhara akan menyalahkannya.


"Diem deh Meysa, gue lagi konsen ini." sahut Aldhara dengan tangannya yang terampil menulis jawaban yang entah benar atau enggak.


Pluk


"Aduhh"


Meysa mengaduh saat merasakan kepalanya dilempar sesuatu yang keras, dirinya menoleh. dan mendapati dua orang temannya lagi yang tersenyum lebar ke arahnya.


"Apasi lo pada" sungut Meysa, dirinya heran kenapa bisa berteman dengan tiga orang ini. Yang bahkan untuk dikatakan normal, itu sangat jauh.


"galak amat neng, bagi jawaban dong" seru Nesha. Gadis dengan rambut sebahunya. Paling galak pula.


"ntar, lagi dipinjam Aldhara" Jawab Meysa sambil menunjuk Aldhara.


"Yaudah deh, entar lempar kesini aja jawabannya. Jangan lama-lama tapi" sahut Clara, gadis dengan rambut coklatnya.


Meysa hanya mengacungkan jempolnya, lalu berganti memainkan ponselnya.


"Sa, ini apa si. Lo kalau nulis yang jelas apa." ujar Aldhara.


Nah kan. Belum apa-apa udah protes aja nih orang.


"Organ!!" Jawab Meysa.


"ini apa nih, kecil amat tulisannya"


"Empedu"


"ini"

__ADS_1


"lambung"


"nha kalo ini"


"penyakit!!"


"nah ini nih, ini apa gajelas banget" Protes Aldhara.


"GATAU AH!!" Teriak Meysa frustasi. Sebegitu kecilnya kah tulisan dirinya, sampai-sampai disetiap kata Aldhara bertanya.


"Meysa gaboleh berisik!!" tegur ketua kelas mereka, yang terkenal sangat disiplin. Namun juga lemot.


"ucup diem dulu deh cup, gue lagi emosi nih sama temen gue satu ni" sungut Meysa menunjuk Aldhara.


Aldhara yang ditunjuk hanya mengedikkan bahu, yang jelas tugas lancar jayaaaa.


Kring


Kring


*Kri**ng*


Bel istirahat pertama telah berbunyi. Para murid di kelas dengan segera mengumpulkan buku tugas ke depan. Sedangkan Clara dan Nesha? Mereka sama sekali belom menulis satu kata pun.


Menyadari sudah waktunya istirahat, Nesha langsung melotot.


"EHHH GUE BELOM SELESAI TUGASNYA WOIII" Teriak Nesha sambil mengambil paksa buku tulis dari teman lainnya.


"mau aku tumpuk Nesha" Ujar Ica, gadis lugu yang selalu menjadi pusat percontekan teman-teman sekelas. Namun memang harus ekstra sabar jika ingin meminjamnya, karena Ica itu polos-polos pelit.


"bentar doangg" Ujar Nesha sambil menarik buku milik Ica.


"gamau Nesha"


"BENTAR DOANG ICAAA"


"GAMAU!!!"


"PELIT AMAT LU!! MAU GUE GIBENG LU?" Ujar Nesha sambil melototkan matanya ke arah Ica.


Ica yang diancam begitu langsung menciut, lalu membiarkan bukunya yang sudah tidak mulus itu ditarik oleh Nesha.


Sedangkan clara?? Dirinya hanya diam saja, menatap ke arah depan. Sambil berdiam diri, ternyata Nesha galak juga.


"nah sip, lama banget Aldhara nulisnya. Kita pinjem punya Ica dulu aja" ujar Nesha sambil duduk di kursi kebanggaannya dan mulai menulis jawaban.


"kesannya lu malak si" Ujar Clara.


"biarin, salah siapa pelit"

__ADS_1


Clara yang mendengarkan hanya memutar bola matanya malas.


Selesai dengan drama pertugasan, akhirnya empat serangkai itu mengumpulkan tugasnya, yang ujung-ujungnya dikumpulkan paling terakhir.


"laper banget. Kantin yok" ajak Aldhara sambil memegang perut rampingnya.


"iya nih, dari pagi belom makan gue" jawab Meysa ikut-ikutan mengeluh.


"ehh kutil badak!! Apaan belom makan, gue liat lu tadi pagi udah beli telur gulungnya pak Asep ya!!" Sahut Nesha.


Dirinya tidak berbohong, tadi pagi saat dia turun dari mobil. Nesha melihat Meysa sedang membeli Telur gulung best seller milik pak Asep. Nesha tadinya ingin menghampiri Meysa, tapi dirinya sudah keburu diajak masuk gerbang oleh teman kelas lainnya.


"lah telur gulungnya pak Asep dikit mah itu, gak bikin kenyangg" elak Meysa. Padahal dirinya tadi membeli 10 tusuk.


Mereka berempat pun bergegas menuju kantin, sangat ramai sekali.


"duduk mana nih kita, rame banget. Tempat duduknya udah pada penuh" keluh Clara. Padangannya berkeliling mencari tempat yang kira-kira kosong.


mereka mengedarkan pandangannya.


"HAHHH SITU AJA TUUUHH KOSONGGGG" Teriak Aldhara saat mendapati meja kosong di pojok kantin.


Dengan segera Aldhara dan ketiga temannya berbondong-bondong berlari menuju meja itu, takut-takut ada yang menempati.


dua langkah lagi menggapai tempat duduk, tiba-tiba Aldhara menabrak seseorang.


Gubrakkk


"Aduuhhhh" ringis Adhara memegangi pantatnya yang rasanya sangat nyeri, dirinya melihat ke arah depan. Seorang lelaki juga sama jatuh terduduk seperti dirinya. Mereka berdua berpandangan sampai akhirnya Aldhara memutuskan kontak mata itu, lalu bergegas berdiri.


Sedangan ketiga temannya hanya bengong dengan mulut terbuka.


"Aldhara lo gapapa? Ada yang sakit ga" tanya Clara saat sudah sadar dari ke-syok-annya.


"gakpapa" Aldhara menjawab cepat, dan duduk di kursi yang tadi sempat ingin ia raih.


"yah, udah di tempatin Cak. Gimana nih, cari tempat lagi?" tanya seorang lelaki kepada temannya.


"yaudah ke atap aula aja, kalo gaada tempat lagi" ujar lelaki yang di panggil 'Cak' itu.


"eh, sini aja kak. Tempatnya juga masih longgar kok. Ya kan guys?" tiba-tiba Nesha menawarkan tempat duduk.


"iya gapapa, sini aja kak" balas Meysa


"gapapa nih? Ganggu nggak?" tanya Lelaki itu, merasa tidak enak jika harus bergabung dengan lara gadis-gadis ini.


"gapapa, Aldhara pindah sini aja. Biar di situ kak Cakra sama kak Putra bisa duduk" ujar Clara, sambil menggeser tempat duduknya


Aldhara yang sedari tadi diam pun berpindah tempat ke samping Clara, dan berakhir berhadap-hadapan dengan Cakra.

__ADS_1


Ya!. Cowok yang menabraknya tadi Cakra, gebetannya. Malu sekali dirinya, apalagi dirinya tadi terjatuh dengan posisi tidak aesthetic.


__ADS_2