ALDHARA

ALDHARA
terlambat


__ADS_3

" Lama banget lo berdua, gue kira kalian dikejar anjingnya pak Muthu." Gerutu Clara saat melihat kedatangan Aldhara dan Nesha.


"EMANG DIKEJAR ANJIR!!" Sungut Nesha frustasi.


Clara yang mendengarnya tertawa terbahak-bahak, bisa dibayangkan Bagaimana muka mereka berdua saat dikejar Anjing. Apalagi pakai sepeda.


"Ketawa aja terus, lo kok nggak bilang kalau rumahnya kak Brian di sini." Tanya Nesha.


Clara menghentikan tawanya. "Lha kan lo nggak nanya, Kenapa? Suka lo?" Tanya Clara menyelidik.


"Ehh enak aja, gak lah. Tadi tu kita minta mangganya kak Brian. Nih dikasih banyak." Timpal Nesha, tak terima dikatakan suka dengan Brian.


"Wahhh, asik. Enak nih makan mangga siang-siang." Seru Meysa, sambil mengambil alih kantok plastik berisi mangga.


...****************...


" Kita balik dulu yaa, daahhh.." Pamit Nesha sambil melambaikan tangan ke arah Clara, diikuti oleh Aldhara dan Meysa.


"Gue turun di cafe nyokap gue aja Dhar, mau nemuin nyokap soalnya." Pinta Meysa.


Aldhara mengangguk, jarak rumah Clara dan juga cafe milik Ibu Meysa memang tidak terlalu jauh, jadi tidak masalah baginya mengantar Meysa ke sana.


Sesampainya di cafe, Meysa segera turun dari mobil Aldhara, dan melambaikan tangan saat mobil Aldhara sudah kembali melaju.


"Lo suka sama kak Cakra?" Tanya Nesha tiba-tiba.


Aldhara menoleh terkejut, lalu kembali fokus ke depan.


"Maksudnya?" Tanya Aldhara pura-pura tidak tahu.


"Iya, lo suka sama Kak Cakra? Gerak-gerik lo keliatan soalnya." Jelas Nesha.


"Keliatan banget emang?" Tanya Aldhara, lantaran dirinya sudah berusaha maksimal agar tidak terlihat oleh teman-temannya. Tapi nyatanya ketauan juga.


"Ya... Kalo orang awam engga bakal tau, tapi gue kan sahabat lo dari lama, masa gue gatau si." Dengus Nesha.


"Jangan kasih tau Meysa sama Clara dulu ya, nanti mereka ember lagi." Pinta Aldhara memperingati.


"Gak janjii wleee."


"Gue traktir siomay besok di kantin. Deal?"


"DEALL!!!"


Cukup mudah juga membujuk Nesha.


Setelah mengantar Nesha pulang kerumahnya, Aldhara melajukan mobilnya menuju rumahnya. Sengaja hari ini tidak lanjut main ke Mall kaya biasanya, karena Bundanya menelepon dirinya.


"BUNDAAAA" Teriak Aldhara saat memasuki rumah.


"Eh non, Nyonya lagi di taman belakang non." Timpal bi Sumi.


Aldhara pun bergegas pergi ke taman belakang, dilihatnya sang bunda sedang menyirami tanaman kesayangannya sambil bersenandung.


Aldhara mendudukkan dirinya di kursi taman, sambil menunggu bundanya selesai dengan kegiatannya.


Kirana yang menyadari kehadiran sang putri pun meletakkan selang air itu.


Dirinya menghampiri Aldhara sambil tersenyum. "Udah pulang ya."


Aldhara mengangguk, "udah, Kenapa bun nelpon ?"

__ADS_1


Kirana menggelengkan kepala, "Enggak. Tadinya mau minta anterin kue bolu buat ayah kamu, tapi udah di anter sama supir mamah."


Aldhara menganggukkan kepala.


"tiga bulan lagi kamu udah naik kelas 12 loh sayang. Kamu udah mikirin mau kuliah kemana?" tanya Kirana.


Aldhara menggelengkan kepala, tanda belum memikirkan Universitas mana yang akan dirinya pilih nanti.


"Bunda sama Ayah harap si kamu jangan jauh-jauh kuliahnya, kamu kan anak perempuan. Bunda kawatir." Ujar Kirana sambil tersenyum.


Aldhara menatap sang bunda, "Tapi kalau semisal Aldhara pengennya di luar kota Gimana bun?"


"Boleh-boleh aja, asalkan nanti ada yang jagain kamu."


Aldhara menganggukkan kepala, sebenarnya dirinya juga belum terlalu memikirkannya.


Lama berbincang-bincang dengan sang Bunda, akhirnya mereka berdua memutuskan masuk ke dalam, karena hari mulai gelap.


"MAKAN MALAM TELAH TIBA HEY HEY!!" Teriak Evan dari atas tangga.


Dirinya baru sampai di rumah saat pukul 7 malam, karena kegiatan kampus yang begitu sibuk. Jadinya dirinya selalu pulang terlambat.


"BERISIK!!!" Sahut Aldhara yang sudah duduk di meja makan sedari tadi.


"Apa sih lo, dasar bocil!!" Timpal Evan sambil menyentil kening Aldhara.


"ADUUUHH AYAHHH SAKIT HUAAAA!!"


Evan memutar bola matanya malas.


Dasar tukang drama.


"Eh udah Van, gangguin adeknya mulu kamu ini." Tegur Baskara, saat melihat kedua anaknya kembali bertengkar.


Suasana pun kembali tenang, diselingi dengan candaan yang dilontarkan oleh Evan kepada Aldhara. Bukan candaan sih, lebih tepatnya ejekan.


Setelah makan malam tadi, Aldhara sempat menonton televisi, lalu beranjak ke dalam kamar setelah melihat jam sudah menunjukkan pukul 10 malam.


Diraihnya laptop di atas nakas berlogo apel itu, Aldhara ingin menonton film dulu, sebelum tidur. Hari ini cukup melelahkan, namun entah Mengapa dirinya belum merasa sangat mengantuk. Jadi, tidak ada salahnya dia menonton film sebentar, untuk memanggil rasa kantuk.


Ckling...


Ponsel Aldhara berbunyi, menandakan ada pesan masuk.


Dengan segera dirinya mengambil ponsel itu, dahi Aldhara mengerut saat melihat nomer tidak dikenal memberinya pesan.


...085743*****...


Aldhara?


^^^Iya siapa ya?^^^


Oh, ini gue Cakra.


Aldhara langsung mengubah posisi badannya, saat mengetahui jika pengirim pesan adalah Cakra.


Aldhara langsung tersenyum senang.


^^^Oh hai, Kenapa kak?^^^


Maaf ya, malam-malam ganggu. Cuma mau ngasih tau aja, kalau besok pertandingan basketnya dimajuin hari senin.

__ADS_1


^^^Oh ya? Yaudah, besok gue nonton.^^^


Maaf banget ya Dhar, tapi kalau lo sibuk gausah dateng gapapa.


^^^Eh enggak kak, gapapa.^^^


^^^Jam berapa emangnya?^^^


Jam 4 sore,


Besok tiket VIP nya gue kasih di kelas ya.


Aldhara yang membaca pesan itu tersenyum sumringah. Tambah semangat nih nonton ayang.


^^^Boleh kak, kalau nggak ngrepotin.^^^


Enggak kok,


Kalau gitu gue tutup ya.


Selamat malam aldhara.


^^^malam juga Kak Cakra.^^^


Aldhara langsung melemparkan ponselnya di kasur, dirinya melompat-lompat di atas kasur seperti sedang mendapat hadiah yang besar.


Besok Cakra akan ke kelasnya langsung untuk memberinya tiket VIP.


Aldhara sudah sangat tidak sabar itu pun bergegas menarik selimutnya, lalu menyelam ke alam mimpi.


...****************...


Di sini, di depan tiang bendera. Berdiri seorang gadis dengan seragam putih dikeluarkan. Menatap ke arah tiang bendera sambil meletakkan tangan di ujung pelipisnya.


Coba tebak siapa?


BENAR!!


Aldhara.


Hari ini dirinya terlambat ke sekolah, karena bangun kesiangan. Kenapa tidak dibangunkan saja oleh orang di rumah? Jawabannya adalah, Kamar Aldhara itu selalu dikunci. Ditambah lagi tidur Aldhara yang mirip kaya kebo, susah dibangunin.


Alhasil Kirana yang sudah lelah mengetuk pintu kamar Aldhara, memilih meninggalkannya lalu bergegas pergi bekerja.


"Panas banget buset!" Seru Aldhara.


"YANG SEMANGAT INCES DHARAA!!!" Teriak ketiga sahabatnya dari depan kelas, sambil mengacungkan jari jempol. Tanda kekompakan mereka bertiga menyemangai Aldhara, lebih tepatnya mengejek.


"Beliin air doongg!!" seru aldhara sedikit berteriak. Teriknya matahari membuat tenggorokannya terasa kering.


Dirinya ingin sekali meminum air es.


"GABISAA, ITU GURUNYA UDAH DATANG" Seru Meysa, menunjuk ke arah guru killer yang berjalan menuju ke arah kelas mereka.


Aldhara tertunduk lesu. Kalau gurunya yang itu, sudah pasti ketiga sahabatnya tidak berani. Karena kalau sampai ketauan bolos pelajaran, nilainya bisa saja menjadi taruhannya.


Aldhara kembali meratapi nasibnya ini yang hanya bisa menelan ludahnya saat merasa tenggorokannya kering.


Cess


Aldhara terkejut saat mendapati sesuatu yang dingin menempel di pipi kanannya. Dirinya menolehkan kepalanya ke samping.

__ADS_1


Melihat sosok pria tersenyum manis ke arahnya.


__ADS_2