
"Oohh jadi gitu...." Ketiga sahabat Aldhara mengangguk bersamaan, saat sudah mendengar kronologi dan asal mula jidat aesthetic milik Aldhara itu.
"Gue tadi liat kak Cakra tau." Ujar Clara, memulai gosip panas.
Aldhara mendekatkan wajahnya ke arah Clara, "Serius?"
"Serius tau." Jawab Clara, sambil mendorong dahi Aldhara agar menjauh.
"Sakit."
"Emang ngapain?" Tanya Nesha.
"Ya pasti urusan ambil ijazah lah." Timpal Meysa, sambil mengelap kaca mata bulatnya menggunakan kain.
"Eh eh mau ngapain?" Cegah Clara saat melihat Aldhara beranjak dari tempatnya.
"Mau liat lah."
"Udah bel masuk, bentar lagi guru juga dateng." Sergah Clara.
Aldhara pun kembali mendudukkan dirinya dengan lesu. Pupus sudah bertemu ayang beb.
Benar saja, tak lama kemudian guru memasuki kelas dengan tampang yang kurang ramah.
Sepertinya suasana hatinya sedang mendung semendung pagi ini, pikir Aldhara.
"Siapa ketua kelasnya?" Tanya guru itu datar.
Aldhara menaikkan tangannya takut-takut.
"S-saya bu."
Guru itu menoleh ke arah Aldhara. "Lho itu jidat kamu kenapa, habis di sruduk sapi?"
Semua murid di kelas tertawa saat mendengar penuturan dari guru itu. Membuat Aldhara semakin malu.
"Ini ada insiden tak terduga buuu." Jawab Aldhara mantap.
"Yaudah sana ambilkan buku paket di perpus, sebanyak jumlah siswa ya."
"Sama Meysa ya bu, kan berat." Ujar Aldhara.
Guru itu memandang Meysa, "Meysa wakil ketua kelas?" Tanyanya, yang dibalas gelengan oleh Aldhara.
"Sama wakilnya. Siapa wakilnya??"
"Saya bu!!" Jawab Ica mantap, sambil menyelipkan rambut di belakang telinga.
"Yaudah sana bantu Aldhara!!"
Ica pun mengangguk, lalu menghampiri Aldhara. "Ayo Dhar, gue anter."
Aldhara menghela napas, lalu berlalu pergi bersama Ica.
"Aldhara lo kok pakaiannya dikeluarin, masa ketua kelas gitu." Ujar Ica di tengah perjalanan.
"Ini tuh fashion." Bela Aldhara.
"Mana ada fashion kaya gitu Dhar. Gak baik loh, lagi pula lo kan ketua kelas. Harus kasih contoh yang baik." Nasihat Ica.
Aldhara memutar bola matanya malas, tidak menjawab omongan Ica.
__ADS_1
Ica menoleh lalu menaikkan sebelah alisnya. "Kok gak dijawab sih Dhar."
"Iya Ica iya!!"
Mereka pun memasuki ruang perpustakaan, dan mulai mengambil buku yang diperintahkan guru tadi.
"Aldhara tolong ambilin bukunya lagi, ini kurang empat." Ujar Ica saat mereka sudah sampai di meja depan.
Aldhara berdecak, lalu berputar haluan untuk mengambil sisa buku.
Sesekali gadis itu juga mengusap keningnya yang terasa nyut-nyut an.
"Nih."
Ica menerimanya sambil tersenyum, lalu membagi buku untuk mereka bawa.
"Lohh lo kok cuma bawa 15."
"Mana adil." Protes Aldhara, yakali dirinya harus membawa sisa buku ini. Berat cooyyyy.
"Maaf ya Dhara, soalnya gue lagi sakit, gabisa bawa buku berat-berat." Jawab Ica.
Aldhara yang sudah malas itu pun berlenggang pergi, malas menanggapi ucapan Ica.
Dengan bersusah payah Aldhara menuruni tangga, dikarenakan ruang perpustakaan sekolah mereka berada di lantai dua.
Saat ingin menurunk tangga terakhir, tidak sengaja kaki Aldhara tersandung tali sepatunya sendiri.
Sehingga dirinya menjadi tidak seimbang, sudah dipastikan dirinya akan nyungsep ini, Aldhara sudah menyiapkan badannya manakala jika dirinya akan berakhir jatuh.
Namun sampai detik ini, Aldhara tidak merasakan tubuhnya terasa sakit, dengan perlahan dirinya membuka mata.
"Hati-hati Dhar, kalau jatuh gimana." Ucap Cakra, sambil memungut paket yang sudah berserakan.
"Yaampun Dhara, lo kok bisa jatuh sih." Pekik Ica dari arah belakang mereka.
"Kan udah gue bilang bukunya dibagi rata aja." Ujar Ica.
Aldhara menganga, perasaan tadi Ica tidak mengatakan seperti itu.
Ingatkan Aldhara untuk terus mengingat kalau Ica itu pinter tapi SUKA CAPER!!!
"Terserah lo deh Ca!!" Sungut Aldhara malas.
"Ayo gue anter ke kelas, Lo duluan aja." Ujar Cakra sambil menyuruh Ica pergi.
"Lo kok di sini kak." Tanya Aldhara.
"Oh iya, tadi mau ambil ijazah."
"Udah daftar kak?"
"Apanya?"
"Kuliahnya."
Cakra menggeleng.
"Kayanya gue gak jadi kuliah, harus ngurus perusahaan bokap gue." terang Cakra.
Aldhara tersenyum senang. "Jadi lo gajadi keluar kota?"
__ADS_1
"Tetep Dhar, kan perusahaan bokap gue ada di luar kota."
"Kenapa? Keliatan lesu banget." Goda Cakra.
Aldhara hanya tersenyum, hingga langkah mereka berhenti di depan kelas Aldhara.
Cakra menyerahkan paket itu kepada Aldhara.
"Nih, gue duluan ya, udah ditungguin anak-anak" Pamit Cakra
"Iya kak, makasih ya."
Mereka berdua pun kembali berpisah, menyisakan kehampaan dalam diri Aldhara.
"Kamu kok nggak bareng Ica Dhar, kata Ica kamu lagi berduaan sama cowok ya." Ujar guru itu saat Aldhara menyerahkan paket.
"Ibu percaya sama Ica? Dia itu caper bu!!!" Sungut Aldhara kesal, Ica membuatnya muak.
"Kamu kok bilang gitu sama temen kamu sendiri, nggak baik!!"
"Ya lagian ibu ini kenapa? Jangan mentang-mentang Ica orangnya pinter, kesayangan guru, beda sama saya yang punya otak pas-pasan. Terus anda langsung berpikiran negatif tentang saya?" Cercah Aldhara, kesal sekali jika harus dibandingkan dengan Ica.
"Yaudah, duduk sana kamu."
Aldhara pun berjalan ke arah tempat duduknya, menatap sinis ke arah Ica. Membuat gadis itu menatapnya takut. Salah pilih lawan!!.
"Oke anak-anak, dikarenakan di kelas 12 ini kalian tidak sampai satu tahun, maka mulai sekarang, ibu harap kalian bersungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita yang kalian inginkan."
"Bagaimana caranya? Ya kalian harus rajin belajar, kejar impian kalian." Ujar guru itu.
"Dan juga, sekolahan sudah berdiskusi, kalau kalian juga harus mengikuti les tambahan."
"Yah bu, pulangnya udah jam set 3, masa harus ditambahin les sih." Protes Hikmal.
"Gapapa Mal, itung-itung buat nambah materi. Iya kan bu?"
"Iya, benar kata Ica."
"Lagian nanti kita pulangnya jam 4. Enggak lebih." Ujar Guru di depan kelas.
Aldhara dan murid-murid lain pun hanya menghela napas lesu. Dan hanya bisa menyetujui, lagian gratis juga kan hehe.
"Dhara, gue minta maaf ya soal yang tadi." Ujar Ica kepada Aldhara, yang kini sedang mendudukkan diri di kantin sekolah.
Aldhara menoleh sekilas ke arah Ica lalu hanya mengedikkan bahu. Bukan tidak peduli, hanya saja terlalu malas meladeni cewek seperti Ica ini. Selalu mencari perhatian kepada orang-orang di sekitar.
"Dhar, dipanggil tuh." Sahut Meysa.
"Tau" Jawab Aldhara acuh.
"Aldhara gamau diganggu, lo pergi dulu aja." Usir Nesha, ikut merasa kesal kepada Ica.
Ica pun hanya terdiam, lalu pergi meninggalkan mereka berempat.
"Males banget liat mukanya, polos-polos mematikan." Sungut Clara.
"Gue kira dulu dia kalem anjir, mana gue suka baik-baikin pas mau minta tugas lagi." Timpal Nesha.
"Heleh lo mah doyannya nyontek." Ujar Clara, yang mendapat pelototan dari Nesha.
Benar juga sih.
__ADS_1