ALDHARA

ALDHARA
Tidak ada perasaan?


__ADS_3

Ulangan kenaikan kelas telah usai, selama itu juga Cakra seperti berusaha menjauh dari Aldhara.


Seperti contohnya sekarang, dirinya berpapasan dengan Cakra di lorong sekolah. Cakra hanya meliriknya sekilas, padahal Aldhara sudah tersenyum dan bersiap menyapa Cakra.


Senyum Aldhara pudar, Kenapa akhir-akhir ini Cakra menjadi menjauhinya. Bahkan saat duduk bersebelahan pun Cakra sedikit menggeser bangkunya.


Lelaki itu juga tidak lagi membantu Aldhara mengumpulkan lembar jawab saat gadis itu tertidur di ruang kelas. Membuat dirinya dimarahi oleh guru pengawas.


"Kak Cakra kenapa sih, emang gak liat apa gue segede gini masa gak ada nyapa-nyapanya."


Dirinya berjalan perlahan ke arah kelasnya dengan lesu.


Mendudukkan pantatnya di kursi samping Meysa, gadis berkacamata itu meneliti raut wajah Aldhara, lalu mengarahkan pandangannya ke arah Clara dan Nesha yang juga kebingungan.


"Kenapa lo, kaya gaada semangat hidup." Tanya Meysa.


"Kaya nya iya, semenjak kak Cakra jadi cuek sama gue." Jawab aldhara lesu.


"Gue jelek Sa??!!"


Meysa terlonjak kaget saat tiba-tiba wajah Aldhara berada tepat di depannya.


"Najis lu, munduran dikit napa." Ujar Meysa sambil menonyor dahi Aldhara.


"Lo kenapa sih Dhar." Kini giliran Nesha yang bertanya.


Aldhara menghela napas, lalu mulai menceritakan kejadian dari awal hingga akhir dengan raut wajah yang histeris menyayat hati.


Membuat ketiga sahabatnya ikut terenyuh. Bukan terenyuh mendengar cerita Aldhara, tapi terenyuh karena bingung dengan cerita Aldhara yang muter-muter.


"Jadi, intinya kak Cakra nyuekin lo, gitu kan?" Jelas Clara. Aldhara mengangguk.


"Hmm... Menurut penelitian gue, dan menurut cerita yang lo ceritain tadi, walaupun membingungkan. Gue bisa nyimpulin, kalau kak Cakra tuh gasuka sama lo. Dan dia udah ada orang yang dia suka."


JDERRR


Penjelasan dari Meysa membuat hati aldhara tambah potek.


Masa iya Cakra tidak menyukainya, padahal lelaki itu sering memberinya perhatian.


Ya walaupun jarang bertukar pesan, namun saat di sekolah lelaki itu begitu perhatian pada dirinya.


"Yaudah sih, selagi gaada kejelasan, gass in aja dah Dhar. Lagian gaada salahnya kan memperjuangin cinta lo." Kini Nesha menyemangati Aldhara.


Gadis itu mengangguk, benar juga kata-kata Nesha. Selagi belum ada kejelasan yang pasti, dirinya masih bisa mengejar Cakra bukan??.


"Tapi kan sebentar lagi acara wisuda kelas 12. Gimana mau ngejarnya coba." Ujar Aldhara, kembali tertunduk lesu.


"Ya lo pikirin caranya, yang penting jangan sampai ganggu masa depan lo. Terus jangan sampai lo itu ngemis-ngemis!!" Jelas Clara dengan api membara.


"WOY DHAR!!! GUE BELOM SELESAI NGOMONG!!!" Teriak Clara saat baru menasehati Aldhara, perempuan itu malah langsung ngacir keluar kelas.


"Ingin mengejar cintanya wahai anak muda." Timpal Meysa.


"Asli, gue mau ngomong ini tapi kasian sama Aldhara. Kemaren gue liat kak Cakra goncengan lagi sama gadis sekolah lain tau." Ujar Meysa.


"Yang terbaik aja deh buat Aldhara. Dia itu koplak tapi polos." Jawab Nesha, sangat prihatin dengan Aldhara.


Aldhara berlari mencari keberadaan Cakra.


Pandangannya menelisik ke seluruh penjuru yang bisa dijangkau oleh matanya.

__ADS_1


Hingga atensinya melihat keberadaan Cakra yang sedang berkumpul bersama trio wekwek (Brian, Apul, Putra).


Aldhara bergegas berlari ke arah Cakra, lalu berdiri di depan lelaki itu sambil mengatur napasnya.


"Kak Cakra.." Sapa Gadis itu.


Cakra yang sedang tertawa itu menoleh, dan terkejut saat melihat keberadaan Aldhara.


"Eh hai Dhar, kenapa?" Tanya nya.


"Eumm.. Nanti malam, mau main gak."


Gila lo Dhar...


"Hah? Boleh, mau main kemana?" Tanya Cakra.


"Eumm, gue mau ajak lo nonton. Mau gak?" Tanya Aldhara memastikan.


"Boleh, nanti malam gue jemput ya." Ujar Cakra.


Aldhara tersenyum senang, lalu mengangguk.


"Kalau gitu gue balik kelas dulu ya kak."


Setelah mengucapkan itu, Aldhara bergegas berlari kembali ke kelas dengan perasaan berbunga-bunga.


"Wishh ada yang mau nge date nih." Goda Apul.


"Cekurukuk kugeruuu~~~" goda apul.


"Cekurukuk"


"Kugeruuu~~~" Brian dan Putra ikut menimpali.


"Apaan sih lo pada, gajelas."


"Lo punya perasaan sama Aldhara?" Tanya Brian.


"Hah? Gue? Enggak." Jawab Cakra mantap.


"Lah si kutil badak, terus kenapa lo sering ngasih perhatian ke dia." Tanya Apul sedikit kesal.


"Perhatian gimana sih, gue kan gitu. Gak lewat batas juga kan."


"Ngeri banget omongan lo." Ujar Putra tak percaya.


"Ngeri apanya? Kan emang gini, gue itu nganggap Aldhara udah kaya kalian-kalian ini. Jadi, kalau gue perhatian sama dia ya itu karena gue anggep dia sahabat. Gak lebih." Jelas Cakra panjang x lebar x tinggi.


"Ya semoga aja lo gak nyesel deh." Peringat Brian.


Cakra hanya diam, sambil memainkan ponselnya. Membalas pesan dari seseorang.


Aldhara kembali ke kelasnya dengan perasaan berbunga-bunga.


"Dhar, lo gak kesambet penunggu dari pohon kan?" Tanya Nesha memastikan.


"Gue kesambet cintanya kak Cakra." Jawab Aldhara ngaco.


"Lo barusan nemuin kak Cakra?" Tanya Meysa, yang diangguki semangat oleh Aldhara.


"Gue ngajak dia nonton nanti malem, terus kak Cakra mau." Jelas Aldhara.

__ADS_1


"Gila!!! Gercep banget nih anak satu." Meysan menggeleng-gelengkan kepala.


Padahal baru saja gadis itu bersedih ria di hadapan mereka, tapi sekarang gadis itu berganti suasana hati dengan begitu cepat.


"Nah, pinter banget murid gue." Seru Nesha berbangga diri.


...****************...


Sepulang sekolah, Aldhara bergegas memasuki kamarnya dan segera membersihkan diri.


Menggunakan sabun terbaiknya dan mulai memanjakan diri agar terlihat cantik nanti malam.


"GAS PDKT SEMANGAT!!!"


Teriak Aldhara kencang.


Aldhara mematut dirinya di cermin sambil mengoles masker di wajahnya.


Cling.


Aldhara menoleh, saat mendengar ponselnya berbunyi, buru-buru dirinya membuka ponsel itu.


Lalu mendengus kesal, saat melihat bahwa Evan yang mengirim pesan.


...ATM ku 🤪❤️...


woy, tolong angkatin kolor gue dong.


di balkon kamar yak.


^^^Ogah, ambil sendiri sono^^^


Elah lo cil, pelit banget.


^^^Minta sama bi Sumi aja sih^^^


Ya malu lah gue,


Dikit doang kolornya, cuma 10 kolor.


^^^Buset!! Lo mau jualan?^^^


Rencananya gitu,


Tapi sama Ayah gaboleh.


Katanya muka gue kegantengan,


Takut dikroyok pembeli.


Oke. Aldhara sudah cukup mengahadapi sikap kepedean dari kakaknya itu, dirinya lebih memilih melaksanakan pesan sang kakak.


Memang hari sudah mulai mendung, jadi takutnya kalau kolor kesayangan abangnya itu terkena hujan.


Nanti bisa-bisa Evan histeris lagi seperti waktu itu.


"KOLOR GUEEE!!!!"


"lo gimana sih, gue suruh angkatin malah lo biarin ke hujanan. Mana ini banyak banget taik burungnya." Sungut Evan kesal.


Menatap pedih ke arah kolornya yang sudah kotor dengan kotoran burung.

__ADS_1


"Ya maap, gue gasengaja ketiduran. Lagian salah lo sendiri gak bilang dari awal. Lo bilangnya pas gue mau tidur, ya gue tidur bentar lah. Malah keblabasen." Bela Aldhara tak mau kalah.


"Gamau tau!! Gantiin kolor gue SEKARANG!!"


__ADS_2