
naa~~
Naa~~
Naaa~~
Aldhara keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di kepalanya, hari ini jadwal pelajaran cukup senggang. Karena hanya dua mata pelajaran saja. Yaitu fisika dan matematika peminatan.
Aldhara berkaca di depan cermin besarnya, berpose di depannya selayaknya model papan atas.
"Cantik banget gue, masa iya gaada yang suka." Gumam Aldhara.
Dirinya beranjak dari depan kaca, mendudukkan diri si meja rias miliknya. Memulai rutinitas pagi dengan menggunakan skincare.
Setelah selesai dengan per-skincare - annya. Aldhara mulai mencatok rambut panjangnya agar lebih badai.
Setelah memastikan dirinya sudah siap lahir dan batin menghadapi rintangan pagi ini, Aldhara meraih tas ransel nya dan berlalu keluar kamar.
Di bawah, terlihat anggota keluarganya sudah berkumpul di meja makan. Dengan cepat Aldhara menuruni tangga, menghampiri kedua orang tuanya dan mengecup pipi mereka.
"Morning" sapa Aldhara.
Dirinya mendudukkan badan di sebelah Evan yang sedang fokus melahap roti panggangnya.
Baskara menatap putrinya, "bentar lagi kelas 12 ya Dhara?" Tanya Baskara.
Aldhara yang sedang mengunyah rotinya menganggukkan kepala. Besok Senin memang sudah diadakan tes kenaikan kelas, jadi Aldhara mungkin akan sibuk karena mengikuti les.
Ya, setiap akan menghadapi ujian, orang tua Aldhara selalu mendaftarkan kedua Aldhara maupun Evan untuk mengikuti les, agar mendapat nilai yang memuaskan. Namun Kirana juga tidak memaksa kedua anaknya untuk mendapat nilai sempurna, yang paling penting anaknya paham dengan setiap materi yang disampaikan.
"Berarti kamu juga harus sudah ada rencana mau kuliah dimana, Kamu udah ada rencana?" Tanya Baskara.
"Belum yah, tapi secepatnya Dhara akan pikirin. Hehehe." Jawab Aldhara dengan cengirannya.
"Halah, palingan juga pengen cepet-cepet nikah, kemaren kata bi Sumi Dhara ngajak temen cowok nya ke sini dong yah. Ya kan bi?" Evan menoleh ke arah bi Sumi yang sedang mencuci di wastafel.
Bi Sumi menoleh, "Eh? Oh, iya den."
Kirana menoleh ke Aldhara sambil tersenyum menggoda. "Anak bunda udah kenal cowok aja nih." Sindir Kirana.
Aldhara pun langsung gelagapan, lalu menggeleng keras. "Eh enggakkk!!! Itu tu kakak kelas aku, nganterin aku ke rumah. Gara-gara siapa? Ya gara-gara Bang Evan lupa jemput." ucap Aldhara membela diri.
"Kirain pacar kamu Dhar, baru aja Ayah minta kenalin. Kok mau-maunya sama kamu." Goda Baskara, membuat ekspresi Aldhara semakin cemberut.
...****************...
"NAHH INI AJA DHARA!!"
Aldhara terkejut, saay dirinya memasuki kelas semua sedang heboh menatapnya.
"Apa anjir, natep-natep gue." Ujar Aldhara galak.
Ucup selaku ketua kelas pun menghampiri Aldhara sambil tersenyum manis.
__ADS_1
Kalian pasti kaget kalau tau fakta bahwa UCUP SUKA SAMA ALDHARA!!!.
KAGET GAK?!!
Sama gue juga enggak hehe.
"Emm Dhara, jadi gini." Ucup membenarkan jambulnya dulu.
Lalu menatap Aldhara lembut. "Jadi gini, kan besok malam minggu ada pentas seni sebelum ulangan kenaikan kelas. Jadi kit-"
"GAK GAMAU!!" Ucapan Ucup terputus lantaran mendengar teriakan Aldhara.
Semua mata menatapnya dengan ekspresi. KENAPA GAMAU????.
Aldhara sudah hafal betul, setiap ada pentas. Pasti kelasnya menyuruh dirinya buat maju. Kalau bukan diri ya sahabat-sahabatnya, dengan alasan...
lo kan gapunya malu Dhar, jadi gapapa ya kalau wakilin kita-kita.
YA!!
Siapa yang bilang dirinya gapunya malu??? Siapa hah? maju sini lo!!.
Ucup berusaha membujuk Aldhara lagi, karena memang selama ini yang mengatur ide-ide kebanyakan dari Aldhara. Jadi, tidak heran kalau Aldhara selalu diandalkan. Walaupun sedikit maksa.
"Ini tarian kelompok kok Dhar, lo bisa sama Nesha, meysa, sama Clara." Jelas Ucup.
Aldhara menoleh, "Oh berkelompok? Gue kira solo kaya dulu."
"Iya Dhara, harusnya sih gue yang maju, tapi gue kasih ke lo aja gapapa kok." Timpal Ica.
Aldhara lupa menyadari, Ica itu pintar, punya otak cerdas, tapi dia juga suka nyebelin. Semua murid di kelas rata-rata malas dengan Ica, ya kecuali circle Ica sendiri.
Aldhara memutar bola matanya malas, gapapa lah ya maju. Itung-itung nambah pengalaman, lagi pula sebentar lagi kelas 12. Terus ga lama lagi lulus.
"Yaudah deh, serahin gue aja. Beres." Putus Aldhara akhirnya. Semua teman sekelas yang mendengarnya bersorak riang, kalau yang maju Aldhara dan para sahabatnya pasti acara sangat seru.
"Lo serius nerima Dhar?" Tanya Meysa meyakinkan. Sebenarnya mereka bertiga ga masalah kalau maju, kan ada pawangnya. Si Dhara.
"Gapapa lah, itung-itung nambah pengalaman." Jawab Aldhara, sambil mendudukkan diri di kursi pojok dekat jendela, tempat nyamannya.
" Terus konsepnya gimana nih, kita punya waktu tiga hari doang anjir. Mendadak banget." Sahut Nesha, yang dianggukki kedua temannya.
"Gausah pusing-pusing, nanti gue cariin tema nya. Dijamin joossss." Timpal Aldhara mengacungkan kedua tangannya ke atas.
"Perasaan gue gaenak." gumam Clara.
"Sama." Balas Nesha dan Meysa bersamaan.
Mereka pun melanjutkan berbincang-bincang, eh salah. Maksutnya melanjutkan dengan mendeskripsikan tingkah laku seseorang.
Tak terasa bel sekolah pun berbunyi, Aldhara dan ketiga sahabatnya berjalan menuju parkiran bersama-sama.
"Denger-denger kak Cakra lagi deket sama cewek sekolah lain tau." Ujar Meysa tiba-tiba.
__ADS_1
Aldhara menoleh, "ngaco!"
"Eh bener gila. Tadi pas gue lagi pesen makanan di kantin, cewek-cewek pada ngomongin itu, katanya liat kak Cakra nganter cewek ke sekolah mana gitu. Katanya mesra." jelas Meysa.
Aldhara terdiam, dirinya berusaha berpikir positif, mungkin saja saudaranya?
Nesha menoleh ke arah Aldhara, melihat ekspresi sahabatnya itu. Sungguh malang nasibmu Dhar.
"Ohh" Balas Aldhara singkat.
Mereka berempat berpisah di parkiran. Aldhara melambaikan tangan ke arah mobil milik Clara, kini dirinya sendirian di parkiran.
Aldhara merenung, kira-kira siapa gadis itu, apakah gadis yang sama saat pertandingan kemaren?
Karena pusing memikirkan, akhirnya Aldhara memasuki mobilnya dan melajukannya membelah jalan raya.
Hari ini suasana hati Aldhara cukup galau, saat mendengar kenyataan bahwa Cakra mengantarkan seorang gadis ke sekolah.
Nyesek memang.
Aldhara menghentikan mobilnya di sebuah Cafe, lalu memasukinya.
"Mas kopi paling pahit satu." Pesan Aldhara, ingin mencoba meminum kopi pahit, agar bisa melupakan kegalauannya.
Dirinya berjalan menuju kaca bangku dekat kaca, agar bisa merasakan angin sepoi-sepoi menyentuh kulinya.
Aldhara membuka playlist lagu galau, lalu memutarnya dengan menggunakan headphone.
Ohh kasih~~
Teganya kau~~
Mendustaiku~~~~
Hohoho~~~
"MBAK!!"
Aldhara terlonjak kaget saat menyadari dirinya dipanggil, Aldhara menoleh ke samping, ternyata kopinya sudah tiba.
"Maaf mbak agak ngegas, soalnya mbaknya dipanggil nggak noleh-noleh." Ucap perempuan itu.
Aldhara tersenyum tidak enak, lalu menganggukkan kepala. "Maaf ya mbak."
Setelah melihat kepergian perempuan itu, Aldhara mulai menyeruput kopi itu.
"HIYEK PAIT BANGET!!" Serunya.
Ternyata kopinya sangat pahit, bahkan masih nyangkut di tenggorokannya.
"Hai Dhar"
Aldhara menoleh.
__ADS_1