
Ucapan Aldhara membuat Evan melotot.
"Apaan sih lo, suka ngadu mulu!!! Gak gentle."Sungut Evan.
"Ngapain gentle, gue kan cewek. Wuuuuuu wuuuuuu wuuuuuuuuu." Ujar Aldhara sambil memonyongkan bibirnya.
pletaak!!!
Aldhara diam.
1
2
3
"HUAAAAAA BIBIIIIIIII!!! TELFONIN AYAH CEPET!!! KASIH TAU AYAH KALO EVAN NGELEMPAR TOPLES KE DAHI AKU!!"
"HUAAAAAAAAA"
Tangisan Aldhara berhasil membuat bi Sumi lari tergopoh-gopoh dari arah dapur.
"Walah non, itu sampe benjut dahine." Kejut bi Sumi, saat melihat dahi Aldhara sudah membulat besar. Bagaimana tidak membulat, kalau yang dilempar Evan itu toples kaca anti pecah.
Evan yang sedari tadi diam pun bergerak gelisah.
Anjir, mana kena beneran lagi. Gue niatnya cuma gertak aja.
Kalian semua liat kan tadi?
"Lagian lo, berisik banget." Bela Evan, sambil berjalan menuju dapur.
Berniat mengambil es batu untuk Aldhara.
Bi Sumi menuntun gadis itu untuk duduk di ruang tamu. Aldhara masih saja menangis.
Sakit sekali epribadehhh!!!
"Nih bi, kompresin." Ujar Evan menyerahkan es batu yang sudah dimasukkan ke dalam kain.
"Nanti kalau Bunda bilang jangan bilang kalau Evan yang ngelempar ya bi." Ujar Evan.
"MANA BISA!!! GUE BILANGIN KE AYAH SAMA BUNDA!! BIAR TAU RASA LO!!" Teriak Aldhara.
"BIBI SAKIT HUAAAA, PENGEN SEBLAK. BELIIN YA BI, BIAR TAMBAH SEMBUH."
"Apaan, gaada nyambung-nyambungnya. Beli seblak bikin sembuh." sungut Evan.
"Cowok gausah ikut-ikut deh, ini urusan cewek. Ya kan bi?"
Bi Sumi yang sedari tadi hanya diam itu hanya menganggukkan kepala, sungguh pusing dibuatnya. Kedua anak majikannya selalu saja berantam.
Aldhara mendengar suara mobil berhenti.
Waktu nya Akting nih.
"HUHUHU, SAKIT SEKALI KEPALA AKUH."
"PUNYA ABANG GA SAYANG SAMA ADEKNYA YA GINI.",
"MAIN KEKERASAN!!"
"DAHI AKU JADI BENJOL!!"
"RASANYA INGIN PINGSAN"
Aldhara sengaja mengeraskan suaranya, agar kedua orang tuanya mendengarkannya.
Kirana dan Baskara yang baru keluar dari mobil itu dibuat terkejut dengan teriakan putri mereka.
Lalu segera memasuki rumah.
"Yaampun sayang!!" Pekik Kirana, lalu segera menhampiri putrinya.
"Kok bisa gini sih, kenapa?"
"Jatoh ya?" Tanya Kirana khawatir.
Aldhara memulai meneteskan air mata buaya nya.
"Ini tuh gara-gara abang bun, dia ngelempar aku pake toples. Tuh tuh toplesnya, besar sekali kan bun. Sakit ini." Adu Aldhara, melirik ainis ke arah Evan.
Evan?
__ADS_1
Pasrah saja.
Sudah pasrah.
Ngapain bela diri. NGAPAIN?. Ya karena dia emang salah. HAHAHAHA . Galucu hehe.
"Evan? Kok kamu ngelempar adik kamu?" Tanya Baskara.
"Males aja liat mukanya yah, makanya aku lempar pake toples."
"Kamu itu, sama adik kamu kok gitu."
"Dia itu kan saudara kamu."
"Nanti kalau ada apa-apa kan pasti yang kamu butuhin saudara kamu."
...****************...
Aldhara merebahkan kepalanya di bantal empuknya dibantu oleh bi Sumi.
Dirinya tersenyum, mendengarkan omelan sang bunda yang masih saja mengomeli Evan di bawah sana.
"Makasih ya bi"
"Siap non. Non Dhara pengen dibuatin apa?"
"Seblak aja bi, yang pedes ya. Lagi pengen nih."
"Beres non, ditunggu ya."
Sepeninggalan bi Sumi, Aldhara meraih ponselnya. Membuka media sosialnya, untuk apa? Ya jelas untuk menstalking akun media milik Cakra.
JDERRR GUBER GUBERR!!
Hati Aldhara seketika berdetak tak karuan.
Saat melihat akun media sosial milik Cakra, memposting sesuatu.
Lalu sesuatu apakah itu?
Postingan Cakra sendirilah, yakali Aldhara. Jadian belom, bahkan suka sama Aldhara aja enggak.
"Ganteng banget asli calon imam guehh." Ujar Aldhara.
PETOK!!
Karena terlalu bersemangat untuk duduk, dahi Aldhara yang benjol itu tak sengaja terkena ujung nakas.
"BUSET SAKIT MAAKKK!!!" Teriak Aldhara, disertai ringisan di bibirnya.
"Gapapa deh, liat muka ayang jadi ga sakit mwehehehe."
Aldhara pun kembali melihat ponselnya, lalu memainkannya sembari menunggu seblak milik ya datang.
1 menit
10 menit
Khoorrkk khookrkk khoorrkk~~~
Aldhara sudah tertidur lengkap dengan ngorok nya.
Bi Sumi yang sudah selesai membuat seblak pun mengantarkannya untuk Aldhara.
Namun saat melihat Aldhara sudah tertidur, bi Sumi kembali membawa seblak itu keluar.
"Ternyata non Aldhara bisa ngorok juga ya hihi." Cekikikan bi Sumi.
"Eh eh bi, itu apa?" Cegah Evan yang akan memasuki kamar.
Sesi nasihat tadi cukup lama, jadi dirinya merasa lapar.
"Oh ini seblaknya non Aldhara, tapi tadi non tidur"
"Yaudah biar aku makan aja bi, daripada mubazir." pinta Evan.
Lumayankan seblak gratis.
Nyam nyam yummyy~~
"Oh iya den, ini silahkan dinikmati."
Evan pun menerima mangkuk itu dengan senang hati, lalu membawanya masuk ke kamar.
__ADS_1
"Ssrttt wenaaak." Gumam Evan sambil melihat seblak itu.
Lalu mulai memakannya.
...****************...
Keesokkan hari nya, Aldhara sudah mematut dirinya di cermin. Sedikit tidak bersemangat karena dahinya nampak menonjol.
"Jadi kurang cantik deh..."
"Gapapa deh, tetep cantik kok."
Aldhara lalu menuruni tangga, dan menghampiri ayah bundanya di ruang makan.
"Pagi my love." Ujar Aldhara sambil mencium kedua orang tuanya.
"Pagi sayang."
"Abang mana?"
Tanya Aldhara saat tak melihat Evan di bangkunya. Biasanya lelaki itu paling cepat kalau soal makan.
"Ke toilet, masih mules perutnya. Katanya habis makan seblak yang buat kamu itu, katanya pedes banget. Sampe perutnya melilit." Terang Kirana.
Aldhara tertawa puas.
Lalu melirik kedatangan Evan yang lesu, sambil memegangi perutnya.
Lelaki itu duduk di kursinya dengan tidak nyaman.
Mulai makan seperti yang lainnya, namun sesuatu di dalam perutnya terlihat tidak menikmatinya.
Seperti ada yang ingin keluar, sekuat tenaga Evan menahannya. Namun....
Tuuuuuuuttttt~
"JOROOOK BANGEEETTTTT HUUUEKKK!!!!!" Teriak Aldhara sambil menutup hidungnya kuat-kuat.
Asli bau banget, kata Aldhara seperti bau ndog bosok.
Evan langsung ngacir kembali ke arah toilet guna menuntaskan urusannya.
Sedangkan Aldhara sudah tidak napsu makan lagi, lalu memilih berangkat terlebih dahulu.
"Biar ayah antar." Ujar Baskara.
"Gamau aahh."
"ssttt gaada penolakan. Dahi kamu aja masih benjol gedhe gitu." Titah Baskara, tidak menerima penolakan.
Aldhara menoleh ke arah kirana, meminta bantuan.
Sedangkan wanita itu hanya mengedikkan bahu, dan tersenyum. Menyuruh Aldhara mengikuti perintah Ayahnya.
Sesampainya di depan gerbang, Aldhara mengecup pipi Baskara.
"Nanti gausah jemput, mau bareng Meysa aja." Ujarnya.
" Yaudah tapi hati-hati ya, jangan mau dianter orang gak dikenal." Ucap Baskara.
"Iya iya. Dadah ayaaah~~~"
Aldhara memerhatikan mobil Ayahnya yang sudah melaju menjauh.
Lalu berbalik badan dan berjalan menuju kelasnya, semua murid-murid di sana melihat Aldhara dengan pandangan ingin tertawa.
Bagaimana tidak? Mereka melihat dahi Aldhara yang memerah dan benjol. Namun gadis itu tetap berjalan dengan pedenya, sesekali dia memelototi orang yang terang-terangan memerhatikannya.
"Apa lo liat-liat!!"
"Gue lempar sepatu juga nih!!"
"Minggir awas!!!"
Aldhara pun memasuki kelas, di sana sudah ada ketiga sahabatnya.
Lalu segera menghampiri mereka. "Halo bestiihhh."
Mereka bertiga pun menoleh.
"BUSSEET!!"
"WELADALAHH!!"
__ADS_1
"YAAMSYOONG!!!"