ALDHARA

ALDHARA
MAMAMAMA~~~~


__ADS_3

"Kak Cakra?" beo Aldhara, saat melihat Cakra berada di depannya sambil tersenyum.


"Boleh duduk?" Tanya Cakra.


Aldhara mengangguk sambil mengambil tas ranselnya di atas meja.


Aldhara masih terdiam, menunggu Cakra memulai perbincangan.


"Tadi pagi sekolah?" Tanya Cakra, memecah keheningan.


"iya sekolah kak." Jawab Cakra seadanya.


"Gue kira bolos haha, soalnya tadi ga liat sama sekali." Terang Cakra bergurau.


Aldhara terkekeh, "Tadi emang lebih banyak di kelas kak, lagi diskusi tentang pentas seni buat besok." Jelas Aldhara jujur. Ya walaupun diselingi dengan pergibahan.


"Lo maju buat pentas?" Tanya Cakra, tertarik dengan pembahasan ini.


Aldhara mengangguk semangat, "Iya, disuruh sama ketua kelas. Gapapa itung-itung buat nambah pengalaman." Jelasnya.


"Keren pasti besok pentasnya, gue jadi gak sabar nontonnya." Seru Cakra penuh semangat.


"Gue besok juga nyumbang lagu, gabung sama anak OSIS." Jelas Cakra. Dirinya tadi saat sekolah diajak oleh anak OSIS untuk berkolaborasi dengan band mereka.


Aldhara tersenyum tertarik, "Wahhh pasti bagus tuh suaranya kakak, nanti aku videoin deh." Seru Aldhara semangat.


Mereka saling pandang dalam diam, memandangi wajah Cakra yang lumayan dekat ini membuat jantung Aldhara berdetak tidak karuan.


"Ekhem"


Aldhara berdeham kecil untuk menetralkan jantungnya.


Mereka berdua larut dalam obrolan-obrolan selanjutnya, hingga hari mulai petang.


"Kak Cakra bener gamau bareng gue?" Tanya Aldhara tidak tega.


Cakra tertawa sambil menggelengkan kepala, "lo udah nanyain itu 6 kali loh Dhar, gue kan bawa motor sendiri. Tuh.." tunjuk Cakra ke arah motor hitamnya.


Aldhara yang melihat itu menganggukkan kepala.


"Kalau gitu gue duluan ya kak, see you." Pamit Aldhara sambil melambaikan tangannya.


Cakra pun membalas lambaian tangan aldhara, lalu berjalan ke arah motornya.


Sesampainya di rumah, Aldhara bergegas pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri, setelah itu turun ke bawah menghampiri bundanya yang sedang membantu bi Sumi menyiapkan makan malam.


"Ayah kemana bun," tanya Aldhara, sambil mengambil alih mangkuk sup yang dipegang bundanya.


"Itu di ruang kerjanya, kamu panggilin gih. Sekalian panggilin kakak kamu. Katanya kurang enak badan." Pinta Kirana.


Aldhara pun bergegas pergi ke ruangan ayahnya.


Cklek


Aldhara mengintip ke dalam ruangan itu, dilihatnya Baskara sedang sibuk dengan laptopnya, lengkap bersama kacamata yang bertengger manis di hidungnya.


Baskara yang menyadari kehadiran seseorang mendongak, lalu tersenyum ke arah Aldhara.


"Hai sayang, sini masuk."


Aldhara memasuki ruangan itu, menghampiri sang ayah. "Rumit banget yah, grafiknya." Ujar Aldhara, saat mengintip laptop Baskara.


"Memang begini sayang, besok kamu juga akan paham lama-lama."


Aldhara mengangguk.


"Bunda nyuruh manggil Ayah, suruh makan malam. Aldhara mau ke kamar abang dulu." Ujar Aldhara.


"Tumben, mau disuruh bangunin abang. Biasanya gamau." Ucap Baskara, memang Aldhara selalu saja susah jika disuruh membangunkan kakaknya itu. Alasannya cukup simple, yaitu karena Evan sangat susah dibangunkan. Bahkan Aldhara sering kali berteriak di telinga lelaki itu, membuat Evan selalu berjingkat kaget ketika bangun tidur.

__ADS_1


"Iya, terpaksa. Kata bunda abang sakit."


Setelah mengatakan itu, Aldhara berpamitan untuk keluar.


Di sini sekarang dirinya, berkacak pinggang di depan kasur Evan, menggelengkan kepala, melihat posisi tidur Evan yang sangat berantakan.


"BANGUN!!" Seru Aldhara mengguncangkan tubuh Evan kencang.


Evan yang memang benar sedang sakit pun meringis pelan, merasakan pusing di kepala.


"Yang kalem dong banguninnya, pusing nih pala gue." Protes Evan, sambil merubah posisi tidurnya.


"Yaudah itu, disuruh bunda ke bawah." Ucap Aldhara, berusaha kalem.


Evan bergeming, masih dengan posisinya yang membungkus tubuh dengan selimut.


"Nanti aja, gak mood makan." Jawabnya.


"Entar lo tambah sakit bang, gini-gini walaupun lo ngeselin tapi gue perhatian ya." Timpal Aldhara sambil menggeret lengan Evan, memaksa lelaki itu duduk.


Evan pun mau tidak mau merubah posiainya menjadi duduk, menetralkan tubuhnya agar tidak terlalu pusing.


"Nanti gue suruh bibi buat bikinin jahe anget." Ucap Aldhara, sambil meninggalkan kamar Evan.


Evan tersenyum sambil menatap kepergian Aldhara, "Sok-sokan cuek, padahal kalau gue sakit juga khawatir kn lo."


Setelah semua sudah berkumpul di meja makan, kegiatan makan-makan pun dimulai. Diselingi dengan obrolan-obrolan hangat, yang semakin membuat keluarga itu semakin harmonis.


...****************...


Hari yang ditunggu-tunggu telah tiba, malam ini adalah malam yang dinantikan seluruh murid karena acara pentas seni sudah digelar.


Semua menggunakan kostum yang sangat menawan, untuk menampilkan penampilan mereka di atas panggung sebagai bentuk perwakilan kelas masing-masing.


Tapi lihatlah empat manusia ini,


"ANJIR DHAR, BAJUNYA NGGAK BANGET!!" Teriak Nesha frustasi.


Clara dan Meysa yang daritadi pasrah pun hanya mengangguk. Sudahlah terima saja, daripada enggak ada kostum.


Bagaimana Nesha tidak frustasi, lihatlah, disaat yang lain menggunakan kostum yang anggun dan menawan, dengan polesan make up yang cantik.


Tapi kenapa Aldhara memilihkan kostum yang seperti ini!!, dengan rok pendek mekar berwarna-warni, dipadukan dengan legging bewarna hitam, baju manset bewarna hitam dengan sayap kupu-kupu dibelakang. Dan jangan lupa rambut mereka yang dikuncir dua mengacung ke atas.


Semua itu Aldhara yang menyiapkannya,


'udah tenang aja, serahin ke gue. Kalian tinggal duduk manis aja. Udah beres.'


Ya sebenarnya mereka sudah curiga sejak awal karena konsep pertunjukan mereka yang sedikit nyeleneh, semua itu ide dari Aldhara. Jadi, ya dengan konsep pertunjukan seperti itu, harusnya mereka tidak berekspetasi menggunakan gaun yang sangat indah bukan?.


"Udah gapapa, ini juga lucu tau. Yang penting kompak!! Okay?" Seru Meysa menyemangati.


Mereka pun menganggukkan kepala sambil berteriak. "SEMANGATTTT!!!!"


"Berisik anjir!!" Seru salah satu gadis yang sedang menggunakan make up di ruang kelas.


"OKAYYY SELAMAT MALAM SEMUAAAA..."


Teriak pembawa acara menyapa seluruh murid-murid yang bersorak ramai.


"JADI GUYS, HARI INI KITA AKAN MENAMPILKAN PERTUNJUKAN. YEAAYYY!!!"


"PERTUNJUKAN APA ITU KAK?" Tanya salah satu pembawa acara, seakan-akan mereka sedang berkomunikasi.


"YANG PASTINYA PERTUNJUKAN YANG SANGAT MERIAH, DIBAWAKAN DARI PERWAKILAN KELAS MASING-MASING."


"WAAWWW SERU YAAA..."


"IYA DONG SERU!! JADI GUYS, NUNGGU APA LAGI? AYO KITA MULAI PENTAS MALAM INI!!"

__ADS_1


Semua murid bertepuk tangan riuh, acara demi acara dilalui. Mulai dari sambutan kepala sekolah, sambutan guru-guru, sambutan ketua OSIS, pentas pembuka yang dibawakan anggota OSIS, sampai akhirnya masuk kepentas perwakilan kelas.


"KELAS SELANJUTNYA, KELAS 11 IPA 3!!"


Semua tangan bertepuk riuh, terutama murid kelas 11 IPA 3,


"ALDHARA!!"


"ALDHARA!!"


"ALDHARA!!"


"SEMANGAT BESTIEEEE!!!"


Aldhara dan lainnya tersenyum sumringah sambil berjalan ke arah panggung, semua murid tercengo, saat melihat penampilan Aldhara dan sahabatnya yang seperti anak TK sedang pentas.


"okey ready?" Bisik Aldhara.


Mereka bertiga mengangguk bersama-sama.


Posisinya adalah, Aldhara berada di depan, dan ketiga temannya berada di belakang dengan posisi sejajar.


"TU WA GA!!" Teriak Aldhara memulai goyangan pinggul dan hentakan kaki, diikuti para sahabatnya.


laa laaa laaaaa


Musik sudah berbunyi,


"MAMAMAMAMAMAMA~~~" Aldhara mulai bersuara.


"MAMAA~~~" Nesha, Clara, dan Meysa mengikuti.


Tawa semua murid pecah, lucu sekali melihat penampilan dari ke empat gadis itu, yang sangat menghibur itu.


"SAKIT HATI INIII~~~"


"SAKIT SAKIT SAKIT"


"MAMAMAMAMAMAMAMA~~"


"MAMAA~~~"


"DIA TELAH MENYAKITIKU"


"DIA DIA DIA~~"


"MAMAMAMAMAMAMAA~~"


"MAMAA~~~"


"LELAKI ITU MODUS SAJAA~"


"MODUS MODUS MODUS"


Nyanyian terus dinyanyikan oleh Aldhara dan ketiga sahabatnya hingga selesai.


Semua murid tertawa, memberi tepuk tangan paling meriah ke arah mereka.


Nesha yang tadinya tidak terima dengan kostum itu pun malah kenyataannya suaranya paling bersemangat saat bernyanyi tadi.


Aldhara dan lainnya pun membungkukkan badan, tanda hormat. Lalu pergi meninggalkan panggung.


Mereka berempat ber-tos ria, sambil tertawa.


" Bener-bener deh lo Dhar, ide lo selalu bikin kaget." Seru Clara, masih dengan tertawanya.


Aldhara tersenyum sombong.


"Aldhara gitu lohhh. Wuuwww." Ujarnya berseru.

__ADS_1


"Penampilan lo lucu juga Dhar." Aldhara menghentikan tawanya, laku menoleh.


__ADS_2