ALDHARA

ALDHARA
move on?


__ADS_3

Aldhara segera memasuki rumah, saat melihat motor milik Cakra sudah menghilang.


"Lesu amat neng." Sindir Evan, saat melihat adiknya mendudukkan diri di ruang tamu.


Aldhara melirik Evan dengan tatapan sinis.


"Pasti sedang patah hati." Goda Evan.


"Siapa yang patah hati Evan?" Terdengar suara Baskara dari arah belakang mereka.


"Eh ayah, ini nih si Dhara."


"Lho, kenapa Dhar? Perasaan tadi seneng- seneng aja." Tanya Baskara, sambil mendudukkan diri di dekat Evan.


"Gaada yah." Jawab Aldhara lesu.


"Kalau memang belum ada kepastian, gausah terlalu berharap Dhara." Nasihat Baskara yang menusuk hati moengil nan lembutnya ini.


"Namanya Cakra kan?" Aldhara mengangguk.


"Kelulusannya kapan?" Tanya Baskara.


"Bentar lagi wisuda yah."


Baskara mengangguk paham.


"Berarti setelah wisuda ini kalian bakal jarang ketemu kan, Cakra rencana mau lanjut di mana?"


Aldhara mengedikkan bahunya, tanda belum menanyakan. Mungkin nanti kalau ada waktu, dirinya akan menanyakan kepada Cakra.


"Yaudah sana masuk kamar, bersih-bersih badan." Suruh Baskara, saat melihat wajah putrinya yang kusut.


"Bunda mana yah?" Tanya Aldhara, saat tidak melihat Kirana. Biasanya wanita itu akan menghampirinya, tetapi ini tidak.


"Bunda di kamar, katanya kurang enak badan." Jawab Baskara.


Aldhara melototkan matanya. "Kok bisa yah?"


"Yabisalah, kan bunda manusia, gimana sih lo." Timpal Evan.


"Apaan sih lo!!"


Aldhara menghentakkan kakinya sambil menaiki tangga dengan wajah kesalnya.


Cklek


Aldhara melihat tubuh Kirana tertidur dengan selimut yang membungkus seluruh tubuhnya.


Dirinya mendekati ranjang itu.


Lalu memegang kening Kirana. Panas.


Karena merasa ada pergerakan di sampingnya, Kirana membuka mata, lalu tersenyum saat melihat putri cantiknya sedang menatap cemas ke arahnya.


"Kok belum tidur Dhar?" Tanya Kirana dengan suara paraunya.


"Baru pulang, bunda kok bisa sakit sih? Pasti makannya sedikit, kan udah Aldhara kasih tau, kalau makan itu harus banyak, biar gak sakit." Cerocos Aldhara.


"Ini cuma kecapekan kok, besok juga sembuh. Udah sana kamu istirahat, pasti capekkan?"


Aldhara pun mengangguk, lalu mengecup pipi Kirana singkat, dan meninggalkan wanita itu.


...****************...


"GUYS GUYS!! KALIAN TAU GAK? WISUDA KELAS 12 DIADAIN MINGGU DEPAN!!!" Ujar Meysa heboh.


Mereka berempat kini sedang berbincang di kantin sekolah di jam istirahat pertama.


"Ya terus kenapa? Lagian kan kita belum wisuda." Tanya Nesha, sambil menyeruput es tehnya.

__ADS_1


"Ishh, lo jadi temen gak peka banget." Ujar Meysa sambil melirik ke arah Aldhara, yang sibuk mengaduk-ngaduk baksonya.


"Oh iya, gimana Dhar? Udah mikirin mau ngasih kak Cakra apa?" Tanya Clara menggoda.


Aldhara melirik mereka bertiga dengan tatapan lesu, "Gatau gue, bingung."


Mereka bertiga yang melihat Aldhara tidak semangat seperti biasanya pun menatap curiga.


"Lo? Kenapa?"


"Padahal kemaren kan baru aja ngedate sama kak Cakra, kok masih murung sih." Ujar Meysa keheranan.


"Apa rekomendasi film dari gue kurang romantis?" Tebak Meysa.


Aldhara teringat sesuatu, lalu menatap tajam ke arah Meysa.


"Romantis pala lo!! Yang ada gue malu sepanjang film gara-gara teriak mulu." Jawab Aldhara menggebu-gebu.


"lah romantis anjr, coba kalau lo takut, lo otomatis bakal meluk kak Cakra, nah Kak Cakra terlihat tidak tega, lalu dirinya pun memeluk dirimu. Begitulah ceritanya...." Ujar Meysa dengan nada dongeng.


"Tapi bukan itu masalahnya" Timpal Aldhara lesu.


"TERUSS??" Jawab ketiga teman Aldhara serentak.


"Hmm, ternyata gosip kalau dia goncengin cewek bener."


"NAH KAN!! APA GUE BILANG!! LO SIH GAPERCAYA AMA GUE!!" Teriak Meysa


"Diem babi!!" Sahut Clara sambil menggetok pala Meysa dengan sendok baksonya.


"HEH HEH, rambut gue kena saosnyaa!!" Teriak Meysa mengheboh.


"Lah iyaa HAHAHA" Jawab Clara sambil tertawa.


"Heh diem gila!! Dengerin ceritanya Aldhara dulu, gue masih kepo." Timpal Nesha.


"Kok lo tau darimana?" Tanya Nesha, memulai sesi wawancara nya.


"Ya gitu, kemaren gue sama kak Cakra makan kan di Restoran. Terus ada cewek nyamperin kita, ternyata mereka berdua itu sahabat dari kecil. Terus gue berasa dikacangin, mereka asik banget ngobrolnya. Bahkan kak Cakra negur gue, gara-gara gue manggil Sarah gaada embel-embel 'kak'." Terang Aldhara dengan sekali tarikan napasnya.


"Jadi namanya Sarah?" Tanya Clara.


"Iya gitu."


Mereka bertiga tampak berpikir,


"Susah juga kalau saingannya teman dari kecil." Gumam Nesha, sambil mengusap dagunya.


"Iya, soalnya mereka pasti udah ngelewatin kenangan indah." Timpal Clara sambil mengusap dengkulnya.


"Menurut gue sih...."


"move on aja deh lo Dhar." Ucapan Meysa membuat gadis berkuncir kuda itu menatap nanar.


"Eh jangan, sia-sia dong kalau move on gitu aja." Cegah Nesha.


"Tapi mumpung perasaan Aldhara belum terlalu jauh." Timpal Meysa.


"Kita tanya Aldhara coba." Tengah Clara.


Mereka bertiga pun serempak menatap ke arah Aldhara, membuat gadis itu kebingungan.


"Ya gatau, tapi rasanya, gue udah suka banget sama dia. Bahkan udah sayang."


"Wahhh angeel ki angeell." Seru Nesha.


"Udah, lo ikutin kata hati lo, tapi saran dari gue lo jangan ngejar-ngejar dia kalau dia gasuka, hargain diri lo sendiri!!" Nasehat Meysa dengan wajah serius, bahkan kacamatanya sampai berembun.


Clara memberi Meysa tisu, membuat gadis itu menatap bingung. "Apa?"

__ADS_1


"Kacamata lo berembun!! Masa ga ngrasain!!"


"Oh iya, baru keliatan."


Kringg


kriingg


Kringg


Bel masuk pun berbunyi, Aldhara dan ketiga sahabatnya bergegas ke kelas.


Namun saat berada di tengah jalan, Aldhara tidak sengaja menabrak dada seseorang, dirinya mendongak.


"Lo gapapa kan?" Tanya Cakra memastikan, lelaki itu menggunakan pakaian Basket, berarti akan bermain basket sebentar lagi.


"Gapapa kak, maaf." Jawab Aldhara, lalu bergegas berlari menjauh dari Cakra.


Cakra menatap Aldhara dengan bingung. "Aneh banget sikapnya."


Dirinya pun bergegas menuju lapangan, sambil menunggu teman-temannya yang sedang berganti pakaian.


Cling


Bunyi ponsel Cakra, membuat tangan pria itu dengan sigap membukanya.


kamu jadikan, kuliah di kota kelahiranmu?


Cakra membacanya dengan serius, lalu mulai mengetikkan jawaban.


^^^Iya jadi, kenapa?^^^


Hahaha, gapapa. Sama dong.


aku juga bakal balik lagi.


Sama kaya kamu.


Cakra tersenyum.


^^^Kita bisa berangkat bareng kalau gitu hahaha^^^


"Lah gue kira lagi Chattan sama Aldhara, soalnya senyum-senyum." Pergok Apul, membuat Cakra segera menutup ponselnya.


"Gasopan banget ngintip." Sungut Cakra.


"Lo beneran gasuka sama si Aldhara?" Tanya Brian.


"Lo kenapa sih, tanya gitu terus? Emang kurang ya penjelasan gue lusa kemaren?" Tanya Cakra sedikit emosi.


"Weitss, sante broo.. Gue cuma tanya aja, soalnya gue lihat Aldhara kaya naruh perasaan sama lo."


Cakra mengedikkan bahu. "Itu hak dia, mau suka sama siapa. Dia suka sama gue, gue gak akan larang."


"Tapi lo kaya ngasih harapan ke dia anjir." Timpal Putra yang sedari tadi sedang memantulkan bola basket.


"Gue gak pernah ngasih dia harapan, kalaupun yang lo maksud gue ramah ke dia, gue ngajak dia jalan, atau apa lah itu. Gue cuma menghargai dia aja. Kalaupun dia ngerasa gue ngasih dia harapan, itu urusan dia." Jelas Cakra.


Ketiga sahabat Cakra menatap kaget ke arah Cakra.


"Ini Cakra kan? Sahabat kita yang ramah itu? Tapi sekarang kok kaya berubah jadi gini." Cengang Putra.


Cakra menatap mereka dengan wajah malas.


"Ya, semoga lo gak nyesel ya." Ucap Brian, menepuk bahu Cakra pelan.


Lalu berjalan menuju tengah lapangan.


Jadi mager mau basketan kalau gini. Batin Cakra.

__ADS_1


__ADS_2