
Saat sampai di depan rumah Aldhara, terlihat dua orang remaja itu sudah sangat basah oleh air hujan. Perkiraan yang Aldhara bilang kalau hujannya akan berhenti ternyata salah.
Nyatanya, mereka sekarang berdiri di depan gerbang rumah Aldhara dengan basah kuyup.
Satpam yang sedang berjaga pun dengan sigap mengambil payung dan membuka gerbang rumah Aldhara.
"Yaampun Non Dhara kok bisa basah begini." Ucap pak Mamat, sambil membuka gerbang dengan cepat. Membiarkan Cakra dan Aldhara masuk terlebih dahulu.
"Pak, bang Evan udah berangkat dari tadi ya?" Tanya Aldhara, saat tidak melihat mobil hitam milik kakaknya.
"Loh non, den Evan kan masih di dalam dari tadi. Mobilnya juga masih di garasi." sahut Pak Mamat.
Aldhara melototkan matanya, jadi sedari tadi dia tidak dijemput?
Gue aduin Ayah lo!!. Batin aldhara.
Aldhara teringat sesuatu, dia menoleh ke arah Cakra yang sama basahnya dengan dirinya. Aldhara meringis. Merasa tidak enak, karena sudah merepotkan Cakra.
"Maaf banget ya kak, gara-gara gue, lo jadi kehujanan." Pinta Aldhara.
Cakra menoleh sambil tersenyum. "Gapapa kali Dhar, emang udah takdirnya gini." Timpal Cakra sambil tertawa yang dibalas tertawa tidak enak oleh Aldhara.
Aldhara pun mengajak Cakra masuk ke dalam rumah. Karena cuaca semakin terasa dingin di kulit.
Saat membuka pintu, Aldhara dikejutkan oleh sang bibi yang lari ke arahnya dengan khawatir.
"Non Dhara kok bisa basah begini non, bibi siapin air hangat ya non." terlihat seorang wanita paruh baya menatap khawatir ke arah Aldhara.
"boleh bi, tolong sekalian bikinin coklat panas ya bi." Ujar Aldhara sopan.
Walaupun cukup di manja oleh keluarganya, Aldhara tetap tidak melupakan ajaran Bundanya agar bersikap sopan kepada yang lebih tua.
Wanita paruh baya itu menoleh ke arah Cakra. Menelisik penampilan cowok itu sambil tersenyum.
"Wah non, ini pacarnya yah?" Tanya Bi Sumi.
Aldhara yang sedang meletakkan tas nya menoleh. Sambil menggeleng. "enggak bi, kenalin Ini Kak Cakra. Kakak kelas aku bi."
Cakra tersenyum sopan, "Cakra bi"
Bi Sumi tersenyum sambil menunduk. "Wah mas nya ganteng, Bibi kira pacarnya Non Dhara. Kalo sampai iya, pasti cocok banget deh."
"bibi ah, ngomongnya nglantur mulu. Katanya mau bikin air bi." Timpal Aldhara, merasa tidak enak kepada cakra. Takutnya lelaki itu merasa tidak nyaman.
"Duduk dulu kak, Gue ke atas dulu sebentar."
Cakra menganggukkan kepala, namun dirinya tidak langsung duduk karena melihat keadaan bajunya yang masih basah. Takut akan membasahi sofa.
Cakra memilih melihat-lihat sekeliling area ruang tamu rumah Aldhara yang luas itu, di sana terpampang foto keluarga dengan bingkai besar, di sana Aldhara terlihat sangat cantik dan anggun dengan gaun putihnya. Senada dengan warna gaun milik Ibu nya.
Ada juga foto Aldhara semasa kecil yang sangat menggemaskan, difoto itu terlihat Aldhara nampak menangis saat akan dicium oleh lumba-lumba.
__ADS_1
Cakra tertawa kecil. Lucu sekali.
Cakra menolehkan kepala saat mendengar langkah kaki mendekat, terlihat Aldhara sudah berganti baju dengan membawa setelan baju yang ia tebak mungkin untuk dirinya.
"ini Kak, ganti dulu. Takutnya nanti sakit kalau nggak ganti." Ujar Aldhara sambil menyerahkan baju rumahan milik Evan.
Cakra menerimanya, "makasih ya, gue ganti dimana?" Tanya Cakra.
Aldhara pun mengantar Cakra ke lantai dua, menuju kamar mandi tamu yang ada di sudut.
"di dalam udah ada air panasnya kak, kalo mau sekalian mandi. Kalau gitu gue tunggu di bawah ya."
Cakra menganggukkan kepala, lalu bergegas memasukki kamar mandi.
Aldhara berjalan menuju dapur, menghampiri Bi Sumi yang sedang berkutat dengan peralatan dapur.
DORR
"EHH AYAM!!" Teriak bi Sumi terkejut. Ia menolehkan kepala, melihat aldhara yang sudah tertawa kencang sekali.
"Yaampun non, hobi banget ngagetin bibi." Ujar bi Sumi sambil mengelus dada.
"lagian bi Sumi tegang banget masaknya." Sahut Aldhara.
Aldhara melihat masakan bi Sumi, "wahhh oseng cumi. Enak nihh!!"
Bi Sumi tersenyum bangga, anak majikannya ini sering sekali memuji masakan dirinya. Yang membuat bi Sumi selalu semangat untuk memasak.
Aldhara yang sedang membuka kulkas menganggukkan kepala, dirinya sedang mengambil beberapa buah untuk dikupasnya.
"orangnya ganteng non" Ujar bi Sumi tiba-tiba.
Aldhara menoleh bingung, "apa bi?"
"Itu, cowoknya ganteng non. Cocok!!" Jawab bi Sumi sambil mengacungkan kedua jempol.
Aldhara tersenyum malu. "Doain aja bi."
Bi Sumi yang tau maksud dari Aldhara pun mengacungkan jempol, tanda menyetujui.
selesai mengupas buah, Aldhara membawa mangkok berisi buah itu ke arah ruang tamu. Ternyata di sana sudah ada Cakra yang sedang memainkan ponselnya.
Cakra yang melihat kedatangan Aldhara pun mematikan ponselnya sambil tersenyum.
"gausah repot-repot Dhar." Ujarnya, saat melihat Aldhara membawa buah yang sudah siap makan.
"Enggak kok kak, ini dimakan."
Mereka berdua pun berbincang-bincang, walaupun sedikit canggung karena mereka baru kenal hari ini. Namun perbincangan mereka juga tak kalah seru.
Membuat Aldhara semakin jatuh dengan perasaannya sendiri.
__ADS_1
"Oh iya, minggu depan ada pertandingan basket. Lo mau lihat nggak?" Tawar Cakra. Barangkali Aldhara dan teman-temannya ingin ikut memeriahkan pertandingan yang akan ia dan sahabatnya ikuti.
"Wahh bener kak? Boleh tuh, nanti aku ajak mereka deh." Sahut Aldhara tak kalah heboh.
Cakra tersenyum, sangat senang rasanya jika ia bercerita dan lawan bicaranya juga sangat exited mendengarkannya.
"Nanti gue kasih tiket VIP nya deh, biar lo sama temen-temen lo bisa langsung duduk." Tawar Cakra.
Aldhara menggelengkan kepala tanda tidak setuju.
"Gausah kak, gue nontonnya di tribun aja sama kaya yang lain. Gaenak, kan biasanya kalau yang VIP itu buat yang orang penting." Tolaknya halus.
"Lo kan penting Dhar." Ujar Cakra.
Aldhara menganga bingung. Penting? Dirinya penting bagi Cakra?.
"Penting?"
"Iya penting, lo kan udah gue anggap sahabat gue." Jawab Cakra menjelaskan.
JDERRRR
Baru saja melayang setinggi langit, malah jatuh.
Kirain penting Bagaimana. Ternyata penting sebagai SAHABAT!!!
Pede banget jadi orang lo Dhar.
"O-ohhh hahahaha. Yaudah kalau gitu boleh deh kak." Jawab Aldhara, lumayan lah dapet VIP. Bisa liat dari dekat.
Lama mereka mengobrol, akhirnya hujan sudah berhenti. Cakra pun berpamitan pulang, namun ditahan oleh Aldhara, agar makan terlebih dahulu. Cakra yang tidak enak menolak akhirnya menyetujuinya, tidak ada salahnya kan kalau dia makan dulu. Itung-itung menghemat uang makan.
Aldhara melambaikan tangan saat melihat motor yang Cakra kendarai sudah berlalu pergi. Senyum dirinya pun luntur, saat melihat kakaknya sedang makan dengan wajah bantalnya khas bangun tidur.
Dengan langkah kaki lebar, dan nafas yang menggebu-gebu Aldhara menghampiri Evan, tanpa babibu, dia menjambak rambut Evan sampai sang empu kesakitan.
"ADUHH ADUH SAKIT WOYYY GILA!!"Teriak Evan sambil memegang rambutnya.
"GUE ADUIN AYAH LO!! BUKANNYA JEMPUT MALAH ENAK-ENAK TIDUR" Ancam Aldhara semakin kuat menarik rambut Evan.
"Maap aduuhhh, gasengaja. Tadi niatnya tiduran bentar. Aduhh lepasin!!"
"GAK!!"
"BIAR TAU RASA LO!!"
Mereka pun terus adu mulut. Sampai-sampai tidak menyadari kehadiran dua orang yang berjalan menuju ruang makan.
Sepasang suami istri yang baru saja pulang dari tempat kerja nya itu dibuat panik saat melihat kedua anaknya bertengkar. Lebih tepatnya hanya Aldhara yang menjambak dan Evan yang hanya bisa pasrah. Dengan terus ber-adu mulut.
"YAAMPUN KALIAN!!"
__ADS_1