
"BUNDA!!" Seru Aldhara berlari ke arah kirana, bundanya.
"Eh eh, kenapa ini. Kok mukanya cemberut." Tanya Kirana sambil menerima pelukan putrinya.
"Abang ngeselin, janjinya mau jemput, tapi tidur. Padahal Aldhara udah nungguin lama di Halte." Adu Aldhara.
Dasar tukang adu. Batin Evan.
"Ayah, ayah harus sita aja tuh yah game nya abang. Biar nggak main game mulu, jadinya lupa jemput Aldhara."
Evan yang mendengarkan itu melotot tidak terima. Punya adek satu tapi kelakuannya suka ngaduin, kalo nggak ngaduin ya main nuduh-nuduh aja. Ujung-ujungnya dirinya akan dimarahin sama ayahnya.
"Iya sayang, nanti ayah bakal sita game nya." Jawab Baskara.
"Kamu udah makan?" Tanya Kirana sambil menuntun putrinya ke arah meja makan.
Aldhara mengangguk, sambil melirik sinis ke arah Evan. Bendera permusuhan telah dikibarkan.
"Tapi Aldhara mau makan lagi, masih laper." Jawab Aldhara.
Keluarga mereka pun makan bersama-sama sambil berbincang-bincang hangat. Kecuali Evan dan Aldhara. INGAT!!.
Aldhara menguap lebar sambil memasuki kamarnya yang di dominasi warna putih itu.
Dengan langkah lesu dirinya berjalan menuju kasur dan merebahkan diri. Memandangi langit-langit kamar sambil tersenyum-senyum.
Mengingat kejadian tadi di sekolah hingga ia pulang sekolah, sungguh hari ini adalah hari yang sangat baik.
"Ternyata kak Cakra baik juga. Gue kira bakalan sombong, secara kan kak Cakra itu idola sekolah." gumamnya.
"Udah punya pacar belom ya kira-kira?" Tanya Aldhara kepada diri sendiri.
Dengan segera dibukanya ponsel yang sedari tadi ia abaikan, Aldhara pun membuka aplikasi media sosial, dan mencari-cari username milik Cakra di akun sekolahannya.
"Nah ketemu!!"
"Apaan nih, gaada postingan sama sekali. Di private pula." Gerutu Aldhara saat mendapati akun milik Cakra ternyata di kunci.
Aldhara melemparkan ponselnya asal.
Berarti gaada pacar bukan?
Kalau begitu, Aldhara bisa maju lagi dong.
Lama memikirkan itu-itu saja, Aldhara pun tertidur lelap.
...****************...
Pukul 7 pagi Aldhara terbangun, dilihatnya jam yang berada di atas nakas sambil mengusap matanya. Dengan segera dirinya beranjak dari tidur nyamannya, dan bergegas mandi.
Aldhara mengingat kalau ada janji dengan sahabat-sahabatnya itu.
Dengan sambil berjoget ria, Aldhara mulai mencatok rambutnya agar semakin badai.
"Sudah siap, tinggal menjemput ndoro putri Meysa dan Nesha." Gumam Aldhara.
Dengan bergegas dirinya meraih tas selempang di belakang pintu, dan segera menuruni tangga. Dilihatnya sang Bunda sedang sibuk membuat kue bolu.
"Halo Bundaaa." Sapa Aldhara sambil mencium pipi Kirana.
Kirana tersenyum, "pagi sayang. Udah rapi aja, mau kemana nih." Tanya Kirana, masih dengan tangan yang terampil mengaduk adonan kue.
Aldhara berjalan menuju meja makan, dan mengambil roti tawar. "Mau ke rumah Clara."
"Aldhara pergi dulu ya bun, dadah…"
Kirana hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
Aldhara pun mengeluarkan mobil merahnya dari garasi. Dan melajukan menuju rumah Meysa terlebih dahulu, karena rumahnya dan rumah Meysa lebih dekat.
...****************...
"CLARAAAAA!!!" Teriak mereka bertiga saat sudah sampai di depan rumah Clara.
__ADS_1
Satpam rumah Clara yang sedang tertidur itu terlonjak kaget, dengan segera dibuka nya gerbang itu.
"Eh masuk non, maaf banget tadi saya ketiduran." Sahut Satpam itu.
"Gapapa pak, misi pak." Timpal Aldhara sambil melajukan mobilnya memasuki rumah Clara.
Seperti pesan Clara sebelumnya, mereka langsung di suruh naik saja di lantai dua, tepat di kamar Clara.
"HALO EVERYBODIIHHH" Teriak Meysa sambil membuka lebar kamar milik Clara.
Clara yang sedang memainkam ponselnya terlonjak kaget. Dirinya menoleh ke arah pintu.
"Kaget gue!!" Seru Clara sebal.
Clara melihat tangan ketiga sahabatnya sambil mengerutkan dahi.
"Lo pada gak bawa apa gitu?" Tanyanya.
Mereka bertiga pun saling pandang, "Lah emang bawa apa?" tanya Aldhara.
Clara berdecak.
"Yang benar aja sih, masa mau main gabawa jajanan gitu, emang lo pada ga ngemil-ngemil?" Sungut Clara.
Aldhara mengangguk. Akhirnya dirinya menawarkan diri untuk membeli makanan di depan kompleks, dengan meminjam sepeda keranjang milik Clara. Itung-itung sambil bersepeda.
"Gue ikut Aldhara deh." Ujar Nesha, sambil bangkit dari duduknya.
Mereka berdua pun bergoncengan dengan Aldhara yang memimpin.
"Berat banget lu kutil Badak." Keluh Aldhara sambil berusaha mengobel.
"Aelah lo nya aja yang lemes, sini gue aja yang ngobel."
Akhirnya mereka berdua pun bertukar posisi. Mereka pun melanjutkan kembali perjalanan yang sempat tertunda itu.
Gukk
Gukk
Gukk
"ANJIIINGGGG SHAAAA!!" Teriak Aldhara heboh.
Nesha yang mendengar teriakan Aldhara menolehkan kepalanya, lalu memandang Anjing itu terkejut.
Dengan cepat Nesha mengayuh sepedanya menjadi kecepatan turbo, sehingga membuat Aldhara berpegang erat di pinggangnya.
"Woy sha cepetan itu Anjingnya udah deket wooyyyyy!!!!" Aldhara terus-terusan mengheboh karena hewan itu terus saja mengejar.
"Yaampun Dhara gue capekkkk ngobelnya gimana ini, kaki gue udah kriting. Gilaaaaaa." Panik Nesha, saat merasakan kakinya mulai lemas.
Aldhara yang panik itu langsung mengedarkan pandangan, dengan cepat dia menemukan rumah dengan gerbang masih terbuka.
"Belok situ sha, belokk belokk!!!" Seru Aldhara sambil mengarahkan tangannya ke samping kanan.
Nesha pun dengan sekuat tenaga mengayuh sepeda berusaha memasuki gerbang rumah itu, Aldhara dengan segera turun dari sepeda dan menutup pintu gerbang itu dengan cepat.
Mereka berdua terduduk lemas, hampir saja.
Namun anjing itu tetap saja menunggu di depan gerbang itu sambil menggonggong.
Hussh
Husshh
"Pergi sana!!" Usir Aldhara mengibaskan tangannya ke arah hewan itu.
"Woy siapa lu pada!!" Terdengar teriakan dari belakang mereka.
Aldhara dan Nesha pun takut-takut menolehkan kepala. Mereka melongo.
"Loh kan Brian?" Beo Nesha. Ternyata ini rumahnya Brian?.
__ADS_1
"Lho kalian, ngapain di sini." Tanya Brian saat mengenal dua gadis itu.
Aldhara tersenyum kikuk. "Eh, itu kak. Maaf. Itu anjingnya gamau pergi." Timpal Aldhara sambil menunjuk Anjing yang malah berganti posisi menjadi duduk. Seolah-olah sedang menunggu mereka berdua keluar.
Brian menolehkan kepala, sambil tertawa. Hewan itu suka sekali menganggu pendatang yang mungkin belum pernah ia temui, jadi tidak salah kalau dua gadis itu dikejar.
"Siapa Yan?" Terdengar suara bariton dari dalam rumah.
Aldhara menoleh, ternyata kak Cakra.
"Lho Aldhara?" Sapa Cakra, saat melihat wajah Aldhara yang sudah memerah berkeringat.
Aldhara tersenyum. "Hehe iya kak."
"Kok bisa sampai sini?" Tanya Cakra mendekat.
"Itu, mereka dikejar Anjingnya pak Muthu." Timpal Brian menunjuk ke arah Anjing yang malah tidur di depan gerbang.
Cakra menganggukkan kepala paham.
"Ke sini mau ngapain emang?" Tanyanya.
"Oh itu kak, main ke rumah Clara. Ini mau beli makanan, eh malah ketemu Anjing." Jelas Nesha sambil menetralkan nafasnya yang masih belum stabil itu.
Para lelaki itu mengangguk.
Aldhara mendongakkan kepalanya, saat melihat ada pohon Mangga di rumah Brian. Matanya berbinar senang, saat melihat ada beberapa Mangga yang diperkirakan sudah matang itu. Dirinya menoleh ke arah Brian.
"Kak, gue boleh nggak minta Mangganya. Pengen nih." Pinta Aldhara, sangat berharap jika Brian memperbolehkannya.
Brian melihat ke mangga-mangga itu, lalu mengangguk. "Bentar, gue cariin alat dulu."
"Eh gausah kak, Aldhara jago manjat kok, ya kan Dhar?" Tanya Nesha sambil tersenyum nyengir.
Aldhara tersenyum kikuk. "I-iya kak, gue bisa kok manjat."
"Jangan ntar lo jatoh lagi." Tolak Cakra, masa iya mereka membiarkan seorang gadis yang memanjat.
"Biar gue aja yang manjat." Tawar Cakra.
Mereka pun menganggukkan kepala, melihat ke arah Cakra yang memanjat dengan lihai.
satu mangga
Dua mangga
Tiga mangga
…
tujuh mangga
"Udah kak, udah banyak nih." Ujar aldhara sambil menunjuk keranjang besar berisi Mangga.
Cakra menoleh ke bawah, lalu mengangguk. Lalu beranjak menuruni pohon itu.
"Makasih banyak ya kak, malah ngrepotin." Ujar Nesha tidak enak hati. Ya walaupun senang mendapat mangga besar-besar begini.
"Enggak kok, lagian mangga nya juga suka jarang di panen sama Bokap. Jadinya suka membusuk." Timpal Brian.
Setelah memindahkan mangga ke dalam plastik, Aldhara dan Nesha pun berpamit untuk pergi, karena Anjingnya juga sudah tidak ada lagi.
"Eh kak ini, gue kasih." Ucap Aldhara sambil memberi satu mangga ke arah Cakra. Lalu beranjak pergi bersama Nesha.
Kedua lelaki itu memandang dua gadis itu seksama.
"Lucu juga mereka ya." Ujar Brian.
"Iya lucu." Jawab Cakra, sambil melihat mangga di tangannya.
"Siapa yang lucu?"
"Aldha-" Cakra menghentikan ucapannya, saat tersadar. Lalu mengajak Brian masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Brian yang menyadari sikap temannya itu tersenyum.