
Hari wisuda yang dinantikan semua murid kelas 12 telah tiba, acara dilakukan di gedung sekolahan, karena sekolahan mereka memiliki gedung khusus yang cukup luas.
Karena adanya wisuda itu, maka kelas 10 dan 11 diliburkan sehari.
Namun, tidak dengan gadis yang sudah berdiri di parkiran sekolahan ini, menatap orang-orang yang sedang berlalu lalang di depannya.
Gadis itu hanya menggunakan dress merah mudanya, dengan tangannya yang membawa sebuket bunga. siapa lagi kalau bukan Aldhara.
Aldhara menghirup napas dalam-dalam, mengusir kegugupannya.
Dirinya nekat datang kemari untuk memberi Cakra buket bunga, padahal para sahabatnya sudah melarang dirinya untuk datang.
Mata cantik itu melirik ke sekitar, mencari keberadaan Cakra.
"Loh Dhar, lo di sini?"
Aldhara menoleh, dirinya mendapati Brian yang menggunakan jas dihadapannya.
"Eh iya kak."
"Mau cari siapa? Cakra?" Tanya Brian tepat sasaran.
"I-iya." Jawab Aldhara malu.
"Yaudah yuk, ikut gue. Gue juga mau ke anak-anak." Ajak Brian, lalu mereka berdua berjalan beriringan.
Brian mengajak Aldhara menuju samping gedung, yang di sana sudah terdapat Cakra,Apul, Putra, dan anak-anak lainnya.
"Wishh ada yang ngapelin nih." Goda Apul melirik ke arah Cakra.
Cakra yang bingung pun menoleh ke belakang, lalu terkejut saat melihat Aldhara ada di sana.
Belakangan ini memang Cakra sedikit menjauh dari Aldhara, karena merasa tidak nyaman dengan godaan dari teman-temannya, dirinya juga tidak mau Aldhara semakin merasa bahwa dirinya memberi harapan.
"Hai Dhar." Sapa Cakra tersenyum.
Walaupun dirinya terkejut, namun Cakra tetap menerima kehadiran Aldhara dengan baik, dirinya tidak mungkin mengusir gadis ini. Ia sangat tidak tega.
"Hai kak, selamat ya wisudanya." Ujar Aldhara tulus, sambil mengulurkan tangannya.
Cakra pun menyambut tangan Aldhara dengan tulus.
"Makasih ya."
"Eumm... Ini, gue bawa bunga buat kak Cakra." ujar Aldhara malu-malu.
"Wuuuu Cieee~~~~" Seru teman-teman Cakra.
Cakra pun menghiraukan mereka, dan menerima buket itu sambil tersenyum.
"Kak Cakra ada waktu?" Tanya Aldhara to the point.
"Ada, kenapa? Mau ngobrol ya?" Tanya Cakra, Aldhara pun mengangguk.
Cakra segera meraih tangan Aldhara, lalu membawanya ke belakang sekolah, agar tidak ada yang mengganggu pembicaraan mereka.
Mereka berdua duduk di bawah pohon besar, yang di bawahnya terdapat kursi taman.
"Mau ngomong apa?" Tanya Cakra, setelah cukup lama mereka terdiam.
Aldhara tampak gugup.
__ADS_1
Aelah pake gugup segala, padahal tadi di rumah udah merangkai kata-kata.
"Kak Cakra mau lanjut kuliah?" Tanya Aldhara.
"Iya."
"Kuliah di mana?"
"Rencananya sih gue bakal balik ke kota asal gue." Jawaban Cakra berhasil membuat Aldhara menoleh ke arahnya.
"Lho, kak Cakra enggak dari sini?" Tanya Aldhara, yang dibalas gelengan oleh Cakra.
"Terus kak Cakra mau perginya kapan?"
"Mungkin nanti setelah gue dinyatain lulus di Universitas yang ada di sana."
"Kalau gitu, kita gaakan ketemu ya?" Ucap Aldhara lesu.
Cakra tersenyum, lalu mengusap rambut Aldhara lembut. "Nanti kita juga bakal ketemu kok, nanti kalau ada waktu libur, gue ajak lo jalan-jalan. Gimana?"
Apa-apaan ini, Cakra bilang dirinya tidak akan memberi harapan untuk Aldhara, tapi apakah dirinya tidak sadar kalau ucapannya barusan membuat Aldhara semakin berharap?.
Ucapan Cakra itu, membuat Aldhara semakin senang, dirinya semakin berharap lebih kepada Cakra, dia yakin kalau Cakra pasti menyukainya juga.
"Masih ada yang mau ditanyain?" Tanya Cakra, yang dibalas gelengan oleh Aldhara. Dirinya juga bingung ingin bertanya apalagi, karena tujuan dirinya menemui Cakra ya itu, menanyakan langkah Cakra selanjutnya.
"Kalau gitu gue ke anak-anak dulu ya."
"Iya kak, maaf banget pasti ganggu ya." Ucap Aldhara tidak enak.
"Eh? Enggak kok, gak ganggu. Oiya, nih.. Gue kasih, biar gak sedih lagi." Ujar Cakra sambil memberikan coklat kepada Aldhara.
"I-ini buat gue?"
"Tadi dikasih, tapi gue kasih ke lo aja. Soalnya sama."
Aldhara menaikkan alis bingung.
"Iya sama, sama-sama manis soalnya."
Bdjenakdbskmabxn.
Siapapun kasih gue oksigen cepettt, keburu pingsan gue!!!. Batin Aldhara berteriak.
Pipi gadis itu bersemu merah, lalu menerima coklat dari Cakra dengan senang hati.
"Makasih ya kak."
"Iya, santai aja."
Mereka berdua pun berjalan bersama menuju depan gedung, lalu Aldhara pamit kepada teman-teman Cakra.
"Lo bicara apa ke dia?" Tanya Brian.
"Kepo."
"Yaa... Gue harap sih kalau lo gak suka sama dia, berhenti kasih harapan deh." Ucap Brian, memulai nasihatnya.
"Tenang aja, gue gak ngasih dia harapan. Tadi cuma nanyain mau lanjut kemana." Jawab Cakra.
Brian hanya mengangguk, namun sedikit tidak percaya.
__ADS_1
Aldhara memasuki mobil dengan hati berbunga-bunga, dirinya berencana untuk pergi ke *C*afe untuk menikmati kopi susu.
"Mas pesen-"
"Kopi pahit ya mbak?" potong barista.
"Bukan!!, kopi susu satu. Gausah manis-manis, soalnya saya udah manis."
"Oke!! Siap!!"
Aldhara pun berjalan ke arah meja dekat jendela, lalu meletakkan tas mininya di atas meja.
Dirinya meraih coklat pemberian Cakra itu, lalu memandanginya sambil tersenyum.
"So sweet banget deh, makin suka." Gumamnya.
Lalu dengan segera bungkus coklat itu dia buka, dan memakannya.
"Wah dapet coklat nih." Ujar seseorang di samping meja Aldhara.
Aldhara kira omongan itu ditujukan untuknya, namun ternyata tidak. Dia melihat segerombolan gadis sedang duduk di sebelah mejanya.
Aldhara merasa tidak asing dengan salah satu gadis itu. Sarah.
"Iya dong, ini kan dikasih sama Cakra." Ujar Sarah bangga.
"Cakra anak sekolah sebelah itu?"
"Iya lah, siapa lagi. Romantis kan?"
"Wih gila, so sweet banget. Gue jadi iri sama lo."
Mereka pun tertawa.
Berbeda dengan raut wajah Aldhara yang murung, dirinya kira Cakra memberinya coklat khusus untuknya, ternyata yang diberi coklat bukan dirinya saja.
Bahkan coklat milik Sarah lebih terlihat special dibanding coklat miliknya.
Salahkah bila Aldhara cemburu?
Coba katakan!! Apakah salah?
Aldhara membungkus kembali Coklat itu, lalu memasukkannya ke dalam tas. Dan menikmati jalanan sambil menunggu pesanannya datang.
"Permisi kak, ini pesanannya ya."
Aldhara menoleh, lalu menganggukkan kepala juga tersenyum.
"Lo rencana mau lanjut di mana nih." Aldhara melirik ke samping, sambil curi-curi dengar.
"Rencananya mau ke kota kelahiranku, sama Cakra!!" Jawab Sarah senang.
"Gila lo, makin deket aja sama tu cowok, hati-hati jatuh cinta."
"Yee gapapa kalau jatuh cinta juga, lagian kita kan udah sahabatan lama. Gue yakin Cakra pasti suka juga sama gue." Seru Sarah
Aldhara berdiri dari duduknya, lalu mengambil tasnya. Dan meninggalkan Cafe itu.
Sungguh hatinya merasa panas, saat mengetahui bahwa Cakra dan Sarah akan kembali bersama lagi setelah wisuda ini.
Aldhara kira, dia yang spesial. Tapi ternyata masih ada Sarah.
__ADS_1
Mungkin benar kata sahabatnya, dirinya tidak usah terlalu berharap.