ALDHARA

ALDHARA
gebetan baru


__ADS_3

8 bulan kemudian.


"GILAAAAA GUE GANYANGKA BISA LULUS WOIIII HAHAHAHA."


"IYA LAH ANJIR, MANA TUGAS GUE NYONTEK SEMUA."


"Eh foto yuk-yuk, buat kenang-kenangan."


Terlihat keempat gadis dengan balutan kebaya itu sedang tertawa bersama-sama. Menatap ke arah kamera dengan senyum lebar.


Menanamkan sebuah kenangan indah di bangku SMA.


Ya, hari ini tepatnya dihari Rabu, angkatan Aldhara sudah menyelesaikan pendidikan jenjang SMA. Tidak terasa bukan? Padahal baru kemaren mereka bercanda ria di kantin, tidur-tiduran di kelas. Dan kini mereka sudah melewati tiga tahun itu dengan penuh kenangan.


Menyiapkan mimpi yang mereka bawa, yang akan mereka tempuh selanjutnya, yang akan mereka raih sepenuh hati. Dan merelakan perpisahan mereka kelak.


"Eh kita duduk di sana yuk." Ajak Aldhara, menunjuk ke arah bangku yang tidak jauh dari gedung acara.


Ketiga sahabatnya mengangguk, lalu bergandengan tangan menuju bangku itu. Sungguh, walaupun mereka kadang suka bertengkar, tapi lihatlah, tangan mereka saling bergenggam erat, menyadari akan berpisah setelah ini untuk meraih mimpi yang mereka impikan bertahun-tahun lamanya.


"Gak terasa banget udah kelar sekolahnya, jadi sedih." Ujar Nesha, memang tidak dipungkiri bahwa dirinya benar-benar merasa terharu.


"Iya ih, padahal baru kemaren aja gue utang ke kantin. Udah harus nglunasin aja." Gurau Clara.


"Kita pisah dong huhuhu...." Timpal Aldhara menampilkan wajah bersedih, yang langsung diberi pelukan oleh Meysa.


"Eh kita itu enggak pisah ya guys!!! Kita itu cuma mengejar mimpi kita dulu, entar kalau kita libur kuliahnya, kita kan bisa ketemu di sini. Ya kan?" Jelas Clara menghibur, yang diangguki mereka bertiga.


"Tapi tetep sedih aja tau, biasanya main bareng. Tapi ini harus pisah jauh." Jelas Aldhara.


"Udah-udah gapapa, kita kan punya kontak masing-masing. Bisa call an. Yang penting jangan sombong aja ye kan." Ujar Nesha.


"Itu tuh si Dhara, yang suka males jawab chat."Sindir Clara.


Aldhara menoleh lalu menyengir tidak enak, "Gue gaakan lupain lo pada deh, serius!! Kita kan bestfriend forever."


Merek berempat pun langsung pelukan terharu.


"Sini cis dulu, gue mau foto nih buat kenang-kenangan." Ujar Aldhara menghadapkan kameranya ke arah para sahabat.


Mereka bertiga otomatis mengambil pose yang paling cantik.


Ckrek


"Anjir Dhar, gue lagi merem malah lo pejet duluan." Protes Meysa tidak terima.


"Hahahaha biarin wlee, nanti kalo lo lagi birthday kita punya fotonya ye kan." Ujar Aldhara sambil melihat foto-foto mereka yang tadi di kamera.


"Gimana hubungan lo sama kak Cakra?" Tanya Nesha tiba-tiba.

__ADS_1


Aldhara yang sedang tertawa melihat foto-foto mereka di kamera pun menoleh, lalu menggeleng.


Mereka bertiga terkejut, lalu saling pandang. "Maksud lo, udah gak ketemu?" Tanya Meysa, gadis itu tampak cantik dengan balutan kebaya hitamnya.


"Udah gak kontak-an sejak ketemu di sekolah waktu itu. Inget kan? Pas gue sama Ica ngambil buku di perpus waktu itu." Jelas Aldhara


"WHAT???!!!" Pekik Clara.


"Perasaan dua hari yang lalu gue ketemu kak Cakra deh di butik pas mau ambil kebaya." Jelas Meysa, mengingat-ingat kejadian waktu itu.


"Ngapain dia di butik anjir, itu butiknya?" Tanya Nesha kepo.


"Eh mana ada, yang punya butik itu temennya nyokap gue. Gue kenal kok."


"Tapi waktu itu, kaya nya dia sama cewek deh."


Aldhara yang mendengar itu menoleh, "Sama Sarah kali." Ujarnya.


Meysa mengerutkan keningnya, mengingat wajah Sarah yang selalu Aldhara ceritakan di kelas.


Gadis itu menggeleng.


"Kayanya enggak deh, gue yakin banget. Ceweknya bukan Sarah."


"Wah wah wah, gila... Tidak bisa ini, berarti kak Cakra udah ada gebetan dong." Kompor Clara.


Pletak.


"Lah lo sih, malah ngompor-ngomporin. Gak liat tuh muka Dhara udah kaya pantat wajan." Sungut Nesha.


"Fakta anjir." Ujar Clara.


"Yaudah sih, lagian dia juga udah nggak kontak gue lama banget. Mungkin emang udah ada gebetan, mungkin aja dia ke sini buat nemenin pacarnya itu wisuda." Terang Aldhara sambil mengusap matanya yang sedikit berair.


Cengeng banget.


"Tapi lo masih suka?" Tanya Clara.


"Ya kalau boleh jujur mah, masih lah. Lo kan tau sendiri gue itu susah suka sama orang, sekalinya suka ya bisa sampe bucin." Jelas Aldhara.


"Deh ngapain sih masih suka, kak Cakra saja ga pernah nglirik lo. Ganti aja deh, sama kak Bryan kek atau apa." Jelas Nesha penuh emosi.


"Lah sampe kak Bryan anjir." Timpal Meysa.


"Lah lo gatau? Selama ini gue perhatiin, kak Bryan itu kaya suka sama Aldhara. Lo sih, terlalu fokus sama kak Apul!!" Jelas Nesha menyindir Meysa.


Aldhara dan Clara yang tidak tahu apa-apa itu pun menoleh ke arah Meysa, meminta penjelasan.


"Lo deket sama kak Apul?" Tanya Aldhara.

__ADS_1


"E-eh apa sih, kemaren itu cuma ngasih tumpangan tau. Enggak deket banget. Yeee si Nesha suka ngarang cerita." Protes Meysa sambil menjitak kening Nesha.


"Btw lo kapan berangkatnya Dhar?" Tanya Meysa, mengubah topik pembicaraan.


"Eumm.... Kayanya minggu depan aja deh, gak terlalu terburu-buru juga sih." Jelas Aldhara.


Kemaren malam dirinya sudah berdiskusi dengan keluarganya, kalau Aldhara pergi ke luar kotanya minggu depan saja, itung-itung menghabiskan waktu selama di sini.


Sebenarnya Kirana dan Baskara sempat tidak setuju saat Aldhara mengatakan akan berkuliah di luar kota. Namun sebisa mungkin Aldhara menyakinkan kedua orang tuanya dengan alasan ingin mandiri.


Akhirnya orang tuanya menyetujuinya.


Sedangkan kakaknya Evan, lelaki itu sudah bekerja di Perusahaan yang diberikan Baskara.


Tapi masih saja sampai sekarang lelaki itu selalu mengganggu Aldhara di rumah, pasti ada saja waktu untuk mereka berdua bertengkar.


Mereka menghabiskan waktu yang masih tersisa dengan berbincang-bincang dan berfoto. Hingga terdengar pemberitahuan, kalau seluruh murid wisuda diperkenankan memasuki gedung, untuk acara pelepasan.


Mereka berempat berjalan bersama menuju gedung yang sudah dihias dengan sangat indah itu.


"Eh, liat deh bukannya itu kak Cakra?" Tanya Meysa, saat netra matanya tidak sengaja melihat Cakra berjalan membawa sebuket bunga, menggunakan kemeja putih yang digulung sampai siku.


"EH WOY WOY DIA NUJU KE ARAH KITA WOY" Pekik Nesha heboh, lalu segera menarik tangan Clara dan Meysa menjauh. Memberikan waktu kepada Aldhara dan Cakra.


"Cieee ada yang dikasih bungaa..." Goda Clara sebelum meninggalkan Aldhara.


Aldhara tersipu malu, lalu menatap ke arah Cakra yang mendekat ke arahnya.


Lelaki itu berdiri di depannya dengan senyuman manis.


"Selamat wisuda ya Dhara." Ujarnya, mengulurkan tangan berniat menjabat tangan Aldhara.


Aldhara yang melihat itu tersenyum, dan menerima jabatan tangan Aldhara.


"Makasih ya kak."


Cakra mengangguk, lalu merogoh saku celananya. "Nih, coklat buat kamu."


Aldhara tersenyum bingung. "K-kamu?"


"Kenapa? Gaboleh ya pake aku-Kamu?" Tanya Cakra tidak enak.


"Eh b-boleh kok kak, makasih ya coklatnya." Ujar Aldhara menerima coklat dari Cakra.


Matanya melirik ke arah buket bunga yang masih digenggam oleh Cakra.


Ini gak ada niatan ngasih bunganya? Apa nunggu waktu yang pas?


"Kalau gitu, aku pergi dulu ya, mau kesana." Ujar Cakra menunjuk ke arah gerombolan murid.

__ADS_1


"O-oh iya kak."


Cakra pun melenggang pergi setelah


__ADS_2