
" giliran siapa nih yang mesen makanan" tanya Clara. Mengingat akhir-akhir ini mereka selalu melakukan pergantian saat akan memesan makanan, agar tidak memakan waktu lama.
"Aldhara tuhh" tunjuk Meysa, Aldhara menganggukkan kepala tanda setuju. Memang hari ini adalah giliran dia memesan makanan.
"mau pesan apa lo pada, biar gue catet" tanya Aldhara sambil membuka ponselnya.
"gue bakso"
"biasalahh batagor Ibuk Sriiiii"
"siomay aja deh"
"gue Mie ayam"
"minumnya apa?" Tawar Aldhara.
"minumnya samain aja, es teh PAK TOYIB!!" sahut Nesha sambil berteriak saat menyebut nama pak Toyib.
Sedangkan Pak Toyib yang sedang membuat pesanan minuman terlonjak kaget.
"walah walah, iku sopo buk le nyeluk jenenge bapak. Banter banget" ujar pak Toyib kepada istrinya.
Selesai menulis pesanan, Aldhara bergegas berdiri. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara bass dari gebetannya. Asik, gebetan nggak tuh.
"Biar gue bantu bawain. Kayanya banyak pesanannya" tawar Cakra sambil berdiri.
Aldhara melongo, mimpi apa semalam dirinya, sampai-sampai hari ini mendapatkan rejeki nomplok!!.
"eh eh gausah Kak, gue bisa sendiri kok" Tolak Aldhara basa-basi. Padahal mau-mau aja.
"gapapa, sekalian pesen juga"
Aldhara menganggukkan kepalanya, lalu mereka berdua beranjak dari tempat dan mulai membeli pesanan yang tadi ditulis Aldhara.
Aldhara menunduk malu, saat pandangan gadis-gadis di kantin mayoritas melihat ke arahnya dan juga Cakra.
Cakra yang menyadari ketidaknyamanan Aldhara tersenyum. " Udah gausah diliatin gitu, biasa aja."
lama memesan makanan, akhirnya mereka berdua kembali dengan makanan yang ada di nampan. Lebih tepatnya Cakra yang membawa, kalau Aldhara, Cakra hanya menyuruhnya membawa minuman saja yang tidak terlalu berat. Sosweet sekali.
"Asik makanan datanggg" sahut Putra heboh. Dengan cepat dia membantu membawa nampan yang dibawa Cakra.
Mereka berenam pun mulai makan, diselingi dengan candaan-candaan receh dari Putra yang menghangatkan situasi di meja sudut kantin itu.
"Habis ini jamkos nggak sih?" tanya Clara.
"Iyaa, katanya bu Indri nggak masuk"
"Pas tuh, gimana kalau kita mainan basket aja. Pengen banget gue" ajak Meysa.
Aldhara dan lainnya mengangguk setuju. Lumayan lah untuk olahraga siang-siang.
"wahh kalian jamkos? Sama dong, kita juga. Ikut dong basketnya." Timpal Putra, yang sedari tadi hanya nyimak.
"Beneran nih kak? Seru juga nih, sekalian belajar basket." Seru Nesha, mayanlah bisa main basket langsung dari suhunya. Mana tau entar bisa jadi atlet.
Setelah menyelesaikan makannya, Aldhara dan ketiga sahabatnya pergi menuju loker untuk berganti pakaian biasa. Karena hari ini tidak ada jadwal olahraga, akhirnya mereka memakai baju biasa yang sering mereka taruh di loker untuk berjaga-jaga.
__ADS_1
"udah siap nih, yok ke lapangan." Seru Aldhara semangat.
Gimana nggak semangat kalau mau ketemu mas crush.
"semangat amat lu, tadi aja di kantin diem mulu." sindir Nesha.
"ya itu mah gara-gara gue laper, jadi fokus makan aja." Elak Aldhara, padahal dirinya tadi malu-malu kucing.
"Tuh udah di tunggu, ohhh ada empat orang. Pas nih." Timpal Meysa, saat melihat ada empat orang. Kirain bakal dua orang aja.
"Nha, pas nih. Empat-empat" ujar Putra.
"kita bagi aja dua cewek, dua cowok jadi satu. Biar imbang gitu." timpal Apul. Lelaki dengan poni depannya itu.
Eits, jangan kira Apul itu cowok cupu, nggakk!!!! Apul itu gak cupu, tapi memang style dia aja yang gitu. Aslinya mah ganteng.
Semuanya setuju dengan pendapat Apul, tak lama mereka membagi kelompok. Akhirnya kelompok basket sudah terbagi, dengan anggota,
Aldhara, Nesha, Apul, Cakra VS Meysa, Clara, Putra, Brian.
"Aldhara sini, dhar. Woy sini sini!!" Teriak Nesha hebohh kepada Aldhara.
Aldhara dengan cekatan langsung melemparkan bola itu ke arah Nesha, lalu berlari berpindah tempat.
Tanpa sadar, karena terlalu fokus melihat arah bola. Aldhara menubruk tubuh Cakra, yang saat itu berada di belakangnya.
Mereka berdua sama-sama terjatuh. Mata mereka kembali berpandangan, tapi kali ini lebih lama dari sebelumnya.
Ganteng banget kak cakra. Batin Aldhara
Saat melihat wajah Cakra dengan keringat yang menetes itu.
"HEH HEH MALAH PANDANG-PANDANGAN. AWAS JATUH CINTA!!" Teriak Brian. Memecah keheningan saat itu.
Menyadari posisi mereka yang masih keadaan terjatuh, aldhara buru-buru bangun dari tubuh Cakra. Sambil tersenyum nyengir.
"Maaf kak, nggak sengaja. Sumpah dah." Seru Aldhara sambil memperlihatkan dua jarinya. Tanda dirinya memang tidak sengaja.
Dia itu anti modus-modus club!!!
Cakra berdiri, sambil membersihkan pasir pada bajunya. "iya gapapa. Lagian tadi gue juga tiba-tiba di belakang lo." Balas Cakra sambil tersenyum.
Akhirnya mereka melanjutkan pertandingan itu sampai istirahat kedua berbunyi.
Mereka pun kembali ke kelas mereka masing-masing. Setelah berbincang-bincang sebentar di lapangan tadi.
"HUAH GILA. CAPEK BANGET COOYYYY" teriak Aldhara sambil menidurkan dirinya di lantai kelas.
"Aldhara jangan disitu, gue mau nyapu nih" seru Ucup sambil menunjukkan gagang sapu yang dipegangnya.
Aldhara menoleh malas. "Bentaran Cup, nanti aja si nyapunya. Gue udah gak kuat berdiri nih." Ujar Aldhara sambil mengatur napasnya. Dia memang jarang sekali olahraga, jadi jangan heran kalau main basket aja udah berasa orang lari maraton 15 Km.
"nih gue beliin minum" ujar Meysa sambil menyerahkan air minum kepada sahabat-sahabatnya.
"wahh baik banget Mbak Meysa." Timpal Clara sambil meneguk air es yang dibeli Meysa tadi.
"Besok libur, mau kemana nih kita." Ujar Nesha.
__ADS_1
"main aja di rumahnya Clara." usul Aldhara, dia usul begitu bukan tidak ada maksud terselubung ya.
Sudah lama sekali Aldhara tidak memakan buah mangga yang ada di komplek perumahan Clara, Aldhara berniat ingin mengambilnya lagi secara diam-diam.
"yaudah, gampang itu mah. Nyokap Bokap gue juga lagi ke luar Negri, jadi aman laahh." Timpal Clara.
"adek lo sama siapa?"Tanya Meysa, Clara itu punya adek. Usianya baru tiga tahun.
"sama mbak di rumah, tapi aman kok." Jawab Clara.
Mereka pun melanjutkan dengan candaan-candaan. Walaupun didominasi oleh Nesha, yamg candaannya lumayan garing. Tapi oke-lahhh.
Hari ini Aldhara pulang di jemput oleh kakak laki-lakinya. Namun sejak tadi dirinya menunggu di Halte, kakaknya itu belum muncul juga batang hidungnya.
Aldhara mendengus sebal. "kalau gitu mending gue pake mobil sendiri aja. Huh!!" sungutnya.
Aldhara menoleh saat mendapati motor sport hitam berhenti di depannya. Aldhara hanya cuek saja, karena merasa tidak ada janji dengan siapapun.
"Hai Dhara."
Aldhara menoleh, ternyata pemilik motor itu adalah Cakra. Ada apa pria itu berhenti di depannya?.
"Eh kak Cakra, kenapa kak?" Tanya Aldhara basa-basi.
"Udah sore kok lo belum pulang, nunggu siapa?." Tanya Cakra, mengingat bel pulang sekolah sudah berbunyi dari satu jam yang lalu. Namun gadis ini masih saja berdiri di Halte.
"nunggu jemputan, tapi belum dateng-dateng." Jawab Aldhara.
"Bareng aja yok, udah mau mendung ini. Bentar lagi pasti hujan."
WHAATT???!!!!
Mimpi apa dirinya semalam, hari ini benar-benar full day bersama Kak Cakra.
Karena tidak mau membuang kesempatan, Aldhara langsung menjawab. "Eh beneran kak? Nggak ngrepotin?." Tanya dirinya basa-basi dulu.
Yakali langsung bilang iya. Jual mahal dikitlaaah.
"Gakpapa, ayo. Tapi maaf ya, gue bawa helm nya cuma satu." Timpal Cakra, sambil menyuruh aldhara naik ke atas motor.
"Eh gapapa kak, makasih banget loh. Udah ngasih tumpangan. Hehe." Cengir Aldhara.
Lalu dengan berhati-hati dirinya naik ke atas motor besar milik Cakra.
Cakra terlihat melepas jaket jeans nya. Lalu menyerahkannya kepada Aldhara.
"Buat nutupin paha lo. Anginnya lumayan kenceng soalnya."
Aaaa perhatian banget sih mas. Adek kan jadi salting.
Aldhara tersenyum, lalu mengambil jaket itu.
Cakra pun menyalakan motornya, dan menjalankannya. Membelah jalan raya. Yang ternyata benar saja, awan sudah mulai menurunkan air. Walaupun tidak deras, namun cukup membuat badan terasa dingin.
"mau lanjut apa berhenti??!!" Tanya Cakra sambil sedikit berteriak.
"lanjut aja kak, Kayanya nanti terang lagi deh!!".Jawab Aldhara tak kalah berteriak.
__ADS_1
Cakra pun menambah kecepatan motornya, Aldhara yang terkejut langsung berpegangan pada pundak Cakra.