
Hai guys,
Pertama-tama makasih banget udah mau nyempetin baca cerita aku yang judulnya ALDHARA.
btw, ini cerita pertama aku. Jadi kalau semisal alurnya kurang nyambung, apa kurang bisa dipahami maaf banget ya.
Maaf juga kalau ada typo di mana-mana.
Udah gitu aja, pokoknya makasih banget udah mau baca, walaupun episode nya masih sedikit.
Aku bakal update tiap hari, jadi ditunggu ya episode-episode seru selanjutnya.
LOVE YOU ALL❤️❤️
...----------------...
Cakra memarkirkan mobilnya di sebuah halaman yang luas. Dirinya mengajak Aldhara untuk keluar.
Aldhara menatap takjub ke arah sekitar.
Sejuk sekali.
"Wahhh cantik banget kak pemandangannya, sejukk bangettt." Seru Aldhara senang.
Cakra tersenyum, menatap ke arah Aldhara.
"Iya cantik, kaya kamu." Gumam Cakra.
"Eh?"
"hahaha, gak. Ayo kita ke sana. Ada kebun strawberry loh." Ajak Cakra menggandeng tangan Aldhara.
Aldhara yang disentuh pun terkejut. Tapi juga tidak menolak.
rejeki gaboleh ditolak
"WAHH BAGUS BANGET, BESAR-BESAR BUAHNYAA" Teriak Aldhara senang.
"Kak gue boleh gak ambil buahnya?" Tanya Aldhara menatap harap ke Cakra.
"Boleh, nih keranjangnya. Ambil sebanyak lo mau."
Aldhara pun segera mengambil keranjang yang diberi oleh Cakra, dirinya mulai berlari memilih buah strawberry yang besar-besar.
Cakra tersenyum, mengangkat camera nya. Mengarahkannya ke arah Aldhara.
Ckrek
Cakra melihat hasil fotonya sambil tersenyum.
"Cantik" Gumamnya.
Aldhara menoleh ke arah Cakra, "KAK SINI KAK, LIAT NIH GEDE-GEDE BUAHNYA."
Cakra pun bergegas menghampiri Aldhara, lalu membantu gadis itu mengumpulkan buah-buah.
Hari sudah sore, kini Cakra berada di depan gerbang rumah Aldhara.
"Kak Cakra beneran gamau mampir?" tanya Aldhara memastikan.
__ADS_1
"Enggak usah Dhar, lagian juga udah sore. Gue terusan aja."
"yaudah deh, makasih ya kak. Udah bikin gue seneng hari ini, Strawberry nya juga makasih. Banyak banget ini." Ucap Aldhara sambil memperlihatkan kantong plasting berisi Strawberry.
"Santai aja Dhar, besok kalau ada waktu lagi gue ajak ke tempat yang lebih seru deh." Janji Cakra.
"Serius kak?"
"Iya dong serius."
"Yaudah, gue masuk duluan ya kak, hati-hati di jalan"
Cakra menganggukkan kepala sambil tersenyum manis, melambaikan tangan ke arah Aldhara sebelum dirinya melajukan kembali mobilnya.
Aldhara memasuki rumah dengan keadaan mood yang sangat baik.
"Haduh, putri kecil ayah udah besar aja nih. Udah jalan sama cowok." Ujar Baskara, yang sedang menonton televisi.
Aldhara menoleh, lalu menghampiri Baskara dan memeluk pria itu.
"Apa sih ayah, dia tu kakak kelas aku tau. Nih dikasih banyak. Ayah mau?." Ujar Aldhara sambil memperlihatkan plastik bening itu.
"Taruh kulkas dulu aja, ayah masih kenyang."
Aldhara mengangguk, lalu memilih pergi ke dapur, setelahnya dirinya berjalan menuju kamar.
Hari ini melelahkan tapi juga sangat menyenangkan.
Aldhara berniat untuk membersihkan diri dulu, sebelum belajar untuk tes besok senin.
Ah bahkan Aldhara sempat melupakan kalau besok senin sudah tes kenaikan kelas.
Setelah selesai berberes, Aldhara menaiki kasur lembutnya. Kemudian menyalakan laptop dan mulai mengerjakan kisi-kisi.
Walaupun Aldhara agak miring orangnya, tapi kalau masalah pelajaran, dirinya bisa dibilang cukup pandai. Karena selalu masuk ke sepuluh besar. Walaupun menjadi ranking 10 nya.
Kecerdasannya itu menurun dari sang ayah, yang memang dulu sampai umurnya sudah kepala lima ini masih sangat cerdas dan teliti.
22.30 WIB
Aldhara menutup laptopnya, bersiap untuk menjelajah ke alam mimpi.
"Oh iya lupa gue, mau nanya soal gadis itu ke kak Cakra. Ish, lupa mulu sih lo Dhar. Padahal masih muda, gimana kalau udah tua coba." Gerutu Aldhara kepada dirinya sendiri.
...****************...
"DHAR MENANG BANYAK LOOO!!"
Aldhara terkejut, saat sudah sampai di depan kelasnya. Meysa teriak kepadanya.
"Menang apanya sih."
"Lo sebangku sama Kak Cakra tau tes nya." Bisik Meysa kegirangan. Sahabatnya ini pasti langsung salting brutal saat mengetahui siapa teman sebangkunya.
Aldhara melotot, "Yang bener lo!!"
"Bener elah, ngapain gue bohong."
"Tapi pas tes kemaren, gue duduknya sama kelas sebelah tuh. Enggak sama kelasnya kak Cakra." Ujar Aldhara.
__ADS_1
"Yaelah, kalo masalah itu mah pasti ada maju mundurnya kali, seneng kan lo. Ngaku." Cercah Meysa.
Aldhara langsung tersenyum malu-malu kucing, ya pasti seneng laah. Yakali sebelahan sama gebetan gak Seneng sihhh.
"Yang lain kemana?" Tanya Aldhara, saat tidak melihat keberadaan Clara dan Nesha.
"Tau tuh, telat mungkin."
Mereka berdua pun memutuskan untuk pergi ke ruang kelas yang sudah ditentukan, Aldhara duduk di paling depan dan pojok sendiri.
Sedangkan Meysa duduk di paling belakang, tempat paling menguntungkan untuk mencontek.
"Gile, sebelahan cuyyy. Mimpi apa lo semalem." Ujar Meysa, saat melihat nama absen milik Cakra tertempel di meja.
"Padahal gue semalem mimpi nyolong mangganya kak Brian." Jawab Aldhara jujur.
"Lah nih anak."
"HALLO EVERYBODIHH." Teriak Nesha saat memasuki kelas. Disusul oleh Clara.
"Adek kelas sekarang gaada sopan-sopannya di depan kakak kelas ya." Sindir kakak kelas perempuan yang sedang bergosip.
Yang namanya Nesha itu memang suka blak-blakkan, dirinya menghampiri gadis itu sambil berkacak pinggang.
"Kalo ngomong di depannya dong, gausah di belakang. Cupu banget lo." Seru Nesha.
Gadis yang berbicara tadi melototkan matanya, kirain suaranya tidak akan terdengar.
"Apa sih lo, sewot banget. Emang gue nyindir lo?" Ucapnya.
"Lo kira gue gak denger apa." Jawab Nesha tak kalah sinis.
"Udah si Nes, biarin aja. Gausah diladenin, entar lo capek sendiri." Seru Clara melerai Nesha dan gadis itu.
Nesha pun langsung menggerutu kesal.
Bel masuk kelas pun sudah berbunyi, semua murid bergegas meletakkan tasnya ke depan.
Dan mulai duduk rapi di meja masing-masing.
Guru pengawas sudah memasuki kelas dengan tampang yang menyeramkan. Sudah alamat tidak bisa mencontek ini mah.
"Kok bangkunya masih kosong empat." Tanya guru itu, saat menghitung bangku yang kosong masih empat, termasuk di sebelah Aldhara.
"Maaf bu, kita terlambat."
Semua murid mengarahkan pandangan di daun pintu, disana terlihat Cakra, Apul, Brian, dan Putra masuk kelas bersama-sama.
Aldhara terpesona dengan penampilan Cakra yang terlihat urakan tapi tidak seperti berandalan.
Cakra mendudukkan diri di samping Aldhara sambil tersenyum ke arahnya.
"Gue liat di mading agak kaget pas tau temen sebangku gue itu lo." Bisik Cakra.
"Emang kenapa kak?"
"Gapapa, seneng aja." Timpal Cakra.
Aduh mas, gue salting ini. Nikahin adek bangg. Batin Aldhara.
__ADS_1
Siapa coba yang enggak semakin jatuh cinta, saat orang yang lo taksir kaya ngasih lampu hijau buat lo maju. Termasuk Aldhara, yang semakin hari dibuat jatuh ke perasaannya terhadap Cakra.