ALDHARA

ALDHARA
Apa maksutnya?


__ADS_3

"Bagaimana perasaan anda saat sebangku dengan gebetan?" Ujar Nesha, mewawancarai Aldhara.


Kini keempat gadis itu sedang berada di kantin, sebelum melaksanakan tes selanjutnya.


"Yaa.... Sangat senang tentunya, hati saya juga ikut bergetar. Saya mencoba untuk tetap kalem selama ulangan tadi." Jawab Aldhara formal.


Mereka tertawa bersama-sama.


"Gila sih, gue kira Aldhara gak normal. Ternyata selama ini suka sama Kak Cakra." Ujar Clara.


"Gue sih udah tau dari lama, udah keliatan banget gerak-geriknya." Timpal Nesha, sambil menyeruput es teh.


"Tapi serius deh, kak Cakra tuh udah punya pacar belum sih." Tanya Meysa.


"Aelah lu Sa, gausah dipikirin kalau itu mah. Udah pasti belum, kan bisa dilihat dari kak Cakranya yang selalu perhatian sama Aldhara." Terang Nesha meyakinkan.


Aldhara juga berpikir seperti itu, iya juga ya. Mana mungkin Cakra memberinya perhatian kalau memang sudah punya kekasih.


Bel masuk pun berbunyi, mereka berempat kembali bergegas memasuki kelas. Sebelum guru pengawasan datang.


Di sana, Aldhara bisa melihat Cakra duduk di bangkunya, sambil berbincang-bincang dengan para sahabatnya.


"Eh minggir-minggir, tuan putri mau duduk nih." Seru Apul, saat melihat keberadaan Aldhara.


Aldhara tersenyum kikuk, Cakra yang memang sedang duduk di tempat Aldhara pun bergeser ke arah bangkunya.


"Sini Dhar."


Aldhara mengangguk, sambil berjalan ke arah tempat duduknya, agak sedikit kesusahan karena memang terhalang oleh tubuh Cakra. Lelaki itu hanya memiringkan badannya saja.


"Dari mana?" Tanya Cakra.


"Dari kantin."


"Tadi gak belajar?"


Aldhara menggeleng


"Enggak, belajarnya udah semalem, kalau belajar lagi pusing kepala gue."


Cakra terkekeh.


Tidak lama kemudian, pak Broto memasuki kelas. Sambil membawa amplop berisi soal ulangan.


"Semua tas sudah diletakkan di depan?" Tanya pak Broto memastikan.


"Sudah paak!!"


Guru itu pun mulai membagi soal demi soal.


Aldhara mengerjakannya dengan teliti, walaupun ada sedikit gangguan dari temannya Clara. Yang terus melemparinya dengan kertas kecil-kecil.


Lama mengerjakannya, akhirnya Aldhara menyelesaikan soal itu. Dilihatnya jam yang menempel di dinding. Ternyata masih ada satu jam. Padahal dirinya merasa sangat lama sekali tadi waktu mengerjakan.


Aldhara menoleh ke arah Cakra yang masih sibuk menatap soalnya, lelaki itu yang sadar ditatap pun menoleh ke arah Aldhara sambil tersenyum.


"Gue tau kok, kalau gue ganteng." Ujarnya.


"Eh apa sih."


Aldhara pun memilih meletakkan kepalanya di atas lipatan tangannya, dirinya memilih menghadap ke arah tembok. Merasa bosan dengan aktifitasnya, Aldhara pun tertidur pulas.


Kring


Kring


Kring


Bunyi bel pulang sekolah telah tiba, semua murid bergegas mengumpulkan soal di depan meja, satu persatu.


Saat giliran Aldhara, gadis itu masih saja lelap dalam tidurnya.


"Absen 04, Aldhara?" Ujar pak Broto, memperhatikan Aldhara.


Namun Aldhara tetap saja masih tertidur.

__ADS_1


Cakra yang mengetahui jika Aldhara tertidur pun mengambil lembar jawab milik gadis itu, lalu mengantarkannya ke depan meja.


"Ini pak."


"Loh kok kamu yang maju."


"Aldhara tidur pak, biarin dulu. Kayanya kecapekkan."


Setelah itu pak Broto mengangguk paham.


Semua murid langsung keluar kelas, saat pak Broto sudah meninggalkan kelas.


ketiga sahabat Aldhara pun menghampiri gadis itu, di sana masih ada Cakra yang sedang memainkan ponsel. Entah apa tujuannya, padahal sahabat-sahabatnya sudah mengajaknya keluar dari tadi.


"Dhar.." guncang Meysa, Aldhara masih saja bergeming.


"Biarin aja, kalian pulang dulu juga gapapa. Biar Aldhara sama gue." Timpal Cakra.


"Serius kak? Lo gak bakal ngapa-ngapain sahabat kita kan?" Tanya Nesha dengan wajah menyelidik.


"Enggak mungkin gue ngelakuin hal yang kotor ke Aldhara." Jawab Cakra yakin.


Mereka bertiga pun mengangguk-angguk, akhirnya dengan sedikit kebimbangan mereka memutuskan untuk pergi.


Tolong beritahu Aldhara bahwa mereka tidak berniat meninggalkan gadis itu.


Cakra memandangi wajah polos Aldhara dengan lamat-lamat.


Dirinya tersenyum.


"Lo cantik Dhar,"


"Tapi..."


"Gue gabisa."


"Gue, gatau, tapi... Setiap dekat sama lo, hati gue jadi tenang. Tapi, gue bener-bener gabisa."


Entah apa maksud dari ucapan Cakra itu, Aldhara mendengarkannya. Dirinya sudah terbangun setelah para sahabatnya meninggalkannya.


Apakah gaada celah buat gue?


Tapi gue yakin, gue bisa buat lo jatuh cinta kak.


Entah itu sekarang, atau mungkin waktu yang akan datang.


Aldhara, pura-pura menggeliat. Sehingga membuat Cakra menegakkan kembali badannya.


"Udah bangun hm?" Tanya Cakra, saat melihat netra Aldhara terbuka perlahan.


Aldhara mengangguk.


Menoleh kesana kemari, melihat ternyata mereka hanya berdua.


"Gue lama banget ya tidurnya kak?" Tanya Aldhara.


"Tenang aja, lembaran lo udah gue kumpulin."


"Ngantuk banget emang?" tanya Cakra.


"Iya, semalem tidurnya agak malam."


"Pasti lo kecapekan gue ajak main kemaren kan? Maaf ya." Ucap Cakra tulus, merasa tidak enak hati.


Aldhara buru-buru menggelengkan kepalanya.


"Eh enggak kak, bukan gara-gara lo kok. Gue nya aja yang kebo."


Cakra tertawa, lucu sekali Aldhara.


"Yaudah, mau balik sekarang?" Tawar Cakra.


Aldhara melirik ke arah jam yang tertempel di dinding.alu menganggukkan kepala.


Mereka berdua pun berjalan beriringan di koridor sekolah, keadaan di sana lumayan sepi, namun masih ada murid yang berlalu-lalang.

__ADS_1


"Gue duluan ya Dhar." Ujar Cakra sambil menaikkan kaca helm nya.


"Iya kak, hati-hati. Gaboleh ngebutt!!" Timpal Aldhara mengingatkan.


Cakra hanya mengacungkan jempolnya, lalu berlalu pergi meninggalkan Aldhara setelah tersenyum manis.


...****************...


Kini, di sebuah kamar, terlihat Aldhara sedang menatap langit-langit kamarnya, merenung tentang perkataan Cakra tadi siang.


"Maksudnya apa sih."


"Arghh pusing gue."


"Kenapa sihh, kenapa gak terus terang aja, gabisa kenapa."


"Udah bikin salting juga."


"Yakali punya pacar."


"Perasaan gaada, soalnya masih berita miring kan."


"Tapi kalo ternyata berita miring itu beneran lurus gimana anjr."


"Tau ah, pusing gue."


Begitu lah gerutuan Aldhara sepanjang malam, membuat dirinya tidak fokus untuk belajar.


Keesokan harinya, Aldhara sudah sampai di dalam kelas. Aldhara melihat ke sekeliling, namun tidak mendapati keberadaan Cakra.


Dirinya pun memutuskan bertanya kepada Apul yang sedang duduk bersama Brian dan Putra.


"Eh Dhar, kenapa?." Tanya Apul, saat melihat aldhara menghampirinya.


Aldhara masih bingung, ingin bertanya mulai dari mana. Takut-takut kalau mereka bertiga curiga.


"Kak, Emm anu..."


"Anu lo kenapa Dhar?" Tanya Putra.


PLETAKK!!


"SAKIT WOY!!" Teriak Putra, memegangi kepalanya. Karena mendapat timpukan dari Brian.


"Lagian pertanyaan lo ambigu banget, Aldhara jadi tambah malu oneng!!" Sahut Brian.


Aldhara terlihat bingung,


"Eumm gini, Kak Cakra kok belum keliatan?" Tanya Aldhara akhirnya.


"Wah wah wahhh, Kok tiba-tiba nyariin Cakra, ada apa nihhh." Tanya Apul menggoda.


"Eh enggak kok kak, cuma tanya aja. Soalnya kemaren mau ada yang dibicarain."


Brian mengangguk paham.


"Tadi sih, niatnya mau bareng kita-kita berangkatnya, cuma dia lagi ada urusan katanya." Jelas Brian.


Aldhara tidak puas dengan jawaban Brian, lelaki itu tidak menjelaskan urusan apa yang dilakukan oleh Cakra.


Semalam Aldhara bertekat, untuk terus berusah untuk mendapatkan hati Cakra. Dirinya sangat yakin kalau Cakra nantinya akan jatuh hati kepadanya.


Namun, karena tidak ingin membuat mereka bertiga curiga, Aldhara hanya menganggukkan kepala. Lalu berlalu pergi.


Brian menatap ke arah Aldhara, dia paham.


Dia sangat paham.


Dia paham, bahwa Aldhara menyukai Cakra.


Brian tidak menjelaskan kepada Aldhara urusan apa yang Cakra lakukan, karena tidak ingin melihat Aldhara merasa putus asa.


Artinya,


Brian berpihak kepada Aldhara.

__ADS_1


Bukan, gadis itu.


__ADS_2