ALDHARA

ALDHARA
Siapa gadis itu?


__ADS_3

"Kak Cakra?" beo Aldhara.


Lelaki itu tersenyum, menyodorkan minuman dingin kepada Aldhara.


"Tadi gue ke kelas lo, tapi katanya lo belum datang. Ternyata terlambat ya." Ujar Cakra.


"Eh iya kak, kesiangan tadi." Sahut Aldhara.


Keduanya sama-sama diam, bingung ingin berbicara mulai dari mana.


"Ekhem" Cakra berdeham, mengusir rasa cangging diantara keduanya.


Aldhara menoleh ke arah Cakra.


"Tadi tiketnya temen-temen lo udah gue kasih, ini tiket lo." Ujar Cakra, sambil menyerahkan tiket untuk menonton pertandingan basket nanti sore.


Aldhara menerimanya senang. "Kok repot-repot sih kak, kan bisa dititipin ke temen aku."


"Gapapa."


Mereka kembali terdiam, sampai akhirnya bunyi jam pergantian pelajaran telah berbunyi. Artinya, hukuman yang diberikan kepada Aldhara juga sudah berakhir.


Mereka berdua sama-sama berpisah di tengah lapangan, tadi kelas milik Cakra sedang tidak ada guru. Makanya Cakra keluar kelas untuk menghirup udara segar.


Namun atensi matanya malah melihat Aldhara yang terjemur di tengah lapangan, sedang berkomunikasi dengan teman-temannya meminta minum.


Cakra yang melihat itu segera membelikannya sebotol air dingin, bukan karena apa. Cakra sudah menganggap Aldhara sebagai sahabatnya juga. Jadi tidak ada salahnya kan untuk memberi sebotol air?. Tapi Apakah Cakra tau perasaan Aldhara sebenarnya?.


Aldhara memasuki kelas dengan keadaan lesu, keringat membasahi dahi, muka yang sudah memerah karena terjemur di bawah matahari, dan rambut badainya yang sudah tidak terlihat indah lagi.


"Buset!!, habis bersihin wc neng?." Sahut Clara, saat melihat Aldhara menuju ke arah mereka dengan lesu.


"Parah banget tuh guru BK, bengek gue lama-lama." Sungut Aldhara, sambil mengipasi wajahnya dengan buku tulis milik Meysa.


"Yang habis dapet air minum mah seneng-seneng baee." Sindir Nesha, menggoda Aldhara.


Aldhara melototkan matanya kepada Nesha, tanda harus tutup mulut.


Meysa yang sedang membersihkan kaca matanya menoleh, "Siapa? Aldhara?" Tanyanya.


Nesha hanya mengedikkan bahu, tanda tidak mau menjawab.


Semua murid kembali bergegas duduk di meja masing-masing, saat mendapati guru mata pelajaran selanjutnya sudah memasuki kelas.


Mereka mendengarkan setiap penjelasan itu dengan diam, diam bukan berarti sangat mendengarkan. Ada pula yang diam karena mengantuk, dan ada juga yang mendengarkan sambil pikirannya berkelana kesana kemari, seperti Aldhara.


...****************...


Pukul 15 sore, Aldhara dan para sahabatnya sudah siap akan berangkat menuju gor tempat Cakra bertanding. Mereka memilih berangkat bersama menggunakan mobil Aldhara dengan alasan 'bensin Aldhara kan masih penuh' kata Nesha.


Mereka tidak berangkat bersama Cakra dan teman-temannya karena mereka sudah lebih dahulu ke tempat latihan.


"Asik ada yang ketemu ayang beb nih." Gurau Nesha, melirik ke arah Aldhara dengan senyum menggoda.


"Hah? Siapa yang mau ketemu ayangnya?" Tanya Clara.


"Gatau tuh, paling Nesha sama kak Brian." Jawab Aldhara sambil tersenyum mengejek.


"WHATTT??? NESHA?? LO SAMA KAK BRIAN?" Tanya Clara heboh.

__ADS_1


Nesha melotot sambil menggeleng keras, kalau ini mah namanya senjata makan tuan. Niatnya menggoda Aldhara, malah dirinya yang kena.


Mereka berempat telah sampai di gor. suasana di sana tampak ramai, lebih tepatnya didominasi oleh para cewek-cewek.


Aldhara dan lainnya langsung menuju tempat VIP yang telah di siapkan itu, beberapa mata tertuju pada mereka. Ada juga yang berbisik heran menanyakan siapa keempat gadis itu.


"Gile, emang bener-bener VIP ini mah, di kasih nasi kotak sama minum juga." Ujar Meysa, sambil membuka nasi kotak berisikan ayam goreng itu.


"Gak rugi dah temenan sama mereka HAHAHA" Timpal Nesha.


Mereka pun duduk dengan tenang. Menunggu pertandingan yang akan dimulai.


Mata Aldhara bertemu pandang dengan netra tajam milik Cakra, lelaki itu tersenyum. Aldhara yang ditatap seperti itu memberikan senyuman manisnya, memperagakan tangan membentuk tanda semangat untuk menyemangati Cakra dan tim.


Pertandingan dimulai dengan dihiasi riuh dari para penonton, Cakra sebagai kapten tim pun sebisa mungkin memberi arahan kepada timnya.


Babak demi babak pun dilewati, pertandingan di menangkan oleh Cakra dan tim. Penonton yang menjadi pendukung mereka pun bersorakk gembira.


Tiba-tiba Aldhara berpikir untuk memberikan Cakra sebotol air minum digenggamannya, di sana terlihat Cakra sedang mengatur napas lelah.


Aldhara pun bangkit dan berlari menghampiri Cakra. Namun langkahnya berhenti ketika seorang gadis menghampiri Cakra dengan memberikannya sebotol air minum, Cakra menerimanya dengan tersenyum. Dan meneguk habis air itu.


Aldhara yang sudah terlanjur memasuki area pertandingan pun menyita perhatian Cakra, karena tidak ingin terlihat seperti anak hilang, langkah Aldhara langsung berlari menuju Apul, teman Cakra.


"Nih kak, diminum." Ujar Aldhara sambil menyodorkan botol minum ke arah Apul.


Apul yang sedang bercanda dengan anak lainnya pun menoleh terkejut.


"Loh Dhar, buat gue?" Tanya Apul memastikan.


Aldhara mengangguk, sambil menggoyangkan botol minum itu.


"Makasih ya, kebetulan haus banget gue." Ujar Apul sambil menerima botol itu.


"Gimana tadi? Bagus gak?" Tanya Cakra.


Aldhara tersenyum dan memberi Cakra tepuk tangan. "Bagus banget kak, kerennn deh kalian. Ga nyangka gue." Timpal Aldhara, berusaha menepis siapa gadis tadi. Barangkali fans nya Cakra.


Cakra tertawa, sambil menyugarkan rambutnya ke belakang. Dirinya menatap Aldhara. " Makasih ya dhar, udah mau nyempetin ke sini. Besok gue traktir deh kalian di kantin. SEPUASNYA!!" Seru Cakra senang.


Aldhara yang mendengarnya langsung berbinar, di traktir??? Dirinya tidak akan menyiakan kesempatan ini, makan gratis kapan-kapan lagi coba.


Selesai pertandingan basket, Aldhara mengantarkan teman-temannya ke sekolah untuk mengambil kendaraan mereka sendiri.


Menyusahkan sekali. Batin Aldhara.


Karena hari yang sudah gelap, Aldhara melajukan mobilnya menuju rumah.


Di sana terlihat mobil milik Evan sudah terparkir rapi di samping mobil Ayahnya. Berarti hari ini keluarganya di rumah semua. Sangat jarang sekali berkumpul seperti ini, mengingat betapa sibuknya sang Ayah dan kakaknya itu.


Namun, walaupun seperti itu, Keluarga mereka tetap harmonis, orang tua mereka selalu menyempatkan diri untuk menghabiskan waktu bersama anak-anaknya. Entah itu berlibur, atau bermain.


"ALDHARA PULANG..."


"BERISIK ******" Teriak Evan, yang sedang duduk di ruang tamu. Memainkan game kesayangannya.


Aldhara menghampiri Evan, oh lebih tepatnya menghalangi layar televisi agar Evan tidak bisa melihat layarnya.


Evan yang masih fokus mengendalikan gamenya itu bergerak ke kanan dan ke kiri untuk melihat apakah dirinya game over atau tidak.

__ADS_1


"Minggir!!"


"Gak!!"


"Minggir Aldhara Azaella Camella!!"


"Gamau Evan Marques Mahardika" Ejek Aldhara menirukan suara kakaknya.


Evan yang terlanjur kesal itu pun menarik tangan Aldhara hingga gadis itu terjerembab ke depan, lalu dengan segera Evam mengapit kepala Aldhara diantar ketiaknya. Aldhara yang terkejut pun hanya berteriak-teriak heboh.


Asli gak bohong, kalau Ketiak Kakaknya itu sangat bau.


"BAUUUUUKKKK" teriak Aldhara sambil berusaha memukul Evan.


Evam tertawa jahat, sangat puas sekali mengerjai adiknya seperti ini.


"Rasain lo, nih bau ketiak gue. Mumpung belom mandi dari tadi. Nih nih!!" Ujar Evan, semakin mengeratkan capitannya.


"AYAAAAAAAHHHHHH"


Evan seketika menutup telinganya, suara Aldhara barusan sangat sangat keras, bahkan telinganya terasa ngilu.


"Anjir diem kek, lo cewek atau apaan sih. Gabisa kalem!!" Sungut Evan sebal.


Baskara yang sedang membaca koran di ruang makan pun terkejut, matanya berpandangan dengan Kirana yang sedang membuatkan kopi.


"Anak-anak selalu saja berantem." Ucap Baskara, sambil melipat korannya.


Bersiap menghampiri kedua anaknya itu.


"Namanya mereka saling sayang" Timpal kirana, mengikuti langkah suaminya.


"Ada apa ribut-ribut begini?" Tanya Baskara, dilihatnya kedua anaknya sudah saling menjauh, lengkap dengan tampang masam mereka.


"Abang ngeselin, padahal Aldhara dari tadi diem." Adu Aldhara.


Evan melotot tak terima, "EH!!! Siapa yang tadi gangguin gue main game?" Enak saja dirinya disalahkan, jelas-jelas Aldhara yang mulai duluan.


sabar-sabar, orang sabar di sayang banyak cewek. Batin Evan, menetralkan emosinya.


"Yaudah gih minta maaf dulu." Timpal Kirana, yang sudah duduk di sofa.


"gamau!!" tolak Aldhara, masih dengan mode ngambeknya.


"Yaudah, Aldhara ganti baju dulu sana, masih pakai seragam begini." Lerai Baskara, mengusap surai lembut sang putri.


Aldhara menganggukkan kepala, dirinya bangkit dari duduknya. Memandang Evan sengit, sambil menjulurkan lidahnya. Lalu berlari menuju lantai atas.


"Tingkah Aldhara memang ajaib terus." Ucap Kirana, masih memandang tubuh Aldhara yang mulai hilang di telan pintu kamar.


"Ajaib, sampai Evan kualahan." Sungut Evan.


Kirana dan Baskara langsung tertawa mendengar gerutuan dari anak sulungnya itu. Padahal dulu Evan sangat senang sekali saat mendapati kabar bahwa Kirana hamil seorang adek perempuan. Dia begitu exited sampai-sampai memilihkan pakaian-pakain untuk sang adik.


"Bunda, nanti adiknya dikasih ini aja, bagus. Ada gambar kuda poninya."


"nanti kalau Adik udah besar, Evan bakal jagain adik terus."


"Ayah, belikan adik boneka ini,"

__ADS_1


"Ayah, Evan udah gasabar nunggu adik nih."


ya begitulah kira-kira betapa senang dan gembiranya Evan menyambut sang adik, sebelum tau tingkah adiknya itu.


__ADS_2