Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)

Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)
Bab 11 Kemarahan Gama


__ADS_3

Saskia yang melihat kedatangan Gama segera menahan laki-laki itu dan mencoba untuk menjelaskan namun Gama tidak peduli dan memilih menghampiri Aluna lalu menatap para gadis yang melakukan itu pada Aluna dengan tajam dan mengancam.


Tanpa aba-aba Gama menggendong Aluna dan berdiri menghadap ke arah para gadis itu. Gama menatap mereka satu persatu lalu berkata.


"Sekali lagi aku tahu jika kalian melakukan hal ini pada Aluna, kalian akan terkena konsekuensinya!" pungkas Gama lalu membawa Aluna pergi.


Sedangkan mereka yang sudah membully Aluna terdiam. Entah mengapa mereka terintimidasi oleh Gama. Biasanya tak ada satupun orang yang bisa mengintimidasi mereka selain kepala sekolah.


"Sial!" Kesal Saskia menatap kepergian Gama yang menggendong Aluna.


.


.


Gama keluar dari kelas lalu langsung menuju ke kantin untuk membeli minum. Selagi Aluna masih di kelas ia merasa jika Aluna masih aman jadinya ia masih bersikap santai.


Sesampainya di kantin. Gama mengambil satu botol minuman berwarna dan satu air mineral. Setelah membayar minuman yang ia beli, Gama menuju ke salah satu meja kantin dan minum di sana.


"Akhhh segarnya," ujar Gama merasa senang karena dahaganya telah hilang.


Tanpa ia sadari, Saskia sudah mulai melakukan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh orang lain pada Aluna di kelas sekarang. Gama asik bermain handphone sambil meminum minumannya.


Tidak lama kemudian, minumannya habis dan ia hendak pulang namun ia baru mengingat sesuatu dan terkejut setelah itu ia segera berlari ke kelas mencari Aluna. Bisa-bisanya ia melupakan tujuan awalnya dan malah menikmati minuman segar itu.


"Astaga aku lupa, semoga saja Aluna baik-baik saja," gumam Gama sambil berlari.


Sesampainya di kelas, sudah tak ada siapapun namun Gama melihat setetes darah di dinding dan di lantai tepat di samping tampat duduk Aluna.


Karena panik Gama segera berlari menuju ke toilet perempuan, dimana Saskia meminta Aluna untuk menemani gadis itu ke toilet. Dengan napas terengah-engah Gama sampai di depan pintu toilet perempuan. Ia hendak membuka pintu namun tak bisa karena di kunci dari dalam.


Ia menempelkan telinganya ke pintu dan mendengar suara tawa dari para gadis dan salah satunya Saskia. Karena emosi Gama mendobrak pintu toilet dan terkejut dengan apa yang ia lihat.


Ia melihat keadaan Aluna yang berantakan dan basah kuyup, dengan cepat Gama menghampiri Aluna namun ia dihalangi oleh Saskia yang mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi.


Menurut Gama apa yang dilakukan Saskia justru kebalikannya. Gadis itu seakan-akan tengah menutupi sesuatu padahal sudah terlihat jelas apa yang terjadi di sana. Gama menghampiri Aluna dan menatap tajam mereka.


Setelah Gama membawa Aluna keluar dari toilet, ia segera membawanya menuju ke parkiran motor. Sudah ia duga hal ini akan terjadi pada Aluna, seandainya ia tetap bersikukuh untuk pulang mungkin keadaan Aluna akan jauh lebih dari ini.

__ADS_1


"Tara, bisakah kau turunkan aku?" panggil Aluna dan meminta Gama menurunkannya.


"Kau bisa berjalan?" tanya Gama khawatir.


Aluna hanya mengangguk. Gama yang melihat itu menghela napas lalu menurunkan Aluna secara perlahan-lahan agar Aluna bisa berdiri dengan tegak. Sejujurnya ia masih marah akan apa yang terjadi pada Aluna.


Aluna melihat kearah Gama yang masih menahan emosinya lalu memegang lengan laki-laki itu agar laki-laki itu dapat meredam amarahnya. Gama yang mengerti maksud Aluna menghela napas panjang meredamkan emosinya lalu memberikan jaketnya pada Aluna untuk dipakai gadis itu.


"Pakai ini, oh ya bisakah kau bilang pada ayahmu jika ada les tambahan?" ujar Gama lalu menggandeng Aluna tanpa sadar.


Mereka kembali berjalan menuju ke tempat motor Gama. Aluna mengangguk bisa saja, itu sudah menjadi kebiasaannya jika sedang ingin keluar meski harus berbohong pada ayahnya.


"Bisa, memangnya kenapa?" jawab Aluna dan bertanya.


"Tidak apa-apa, cepat kabari ayahmu aku ingin membawamu ke suatu tempat," Jawab Gama sambil tersenyum.


"Kemana?" tanya Aluna penasaran.


"Nanti kau akan tahu, ayo naik," jawab Gama setelah mengeluarkan motornya dan menyuruh Aluna naik.


Aluna mengernyitkan keningnya bingung namun ia tetap naik ke atas motor Gama. Setelah memastikan jika Aluna sudah benar-benar naik, Gama segera menjalankan motornya menuju suatu tempat tidak lupa ia mampir ke apotek untuk membeli p3k yang kecil.


Selama perjalanan menuju tempat yang akan mereka tuju, diantara mereka tak ada yang berbicara sama sekali. Aluna memperhatikan kepadatan lalu lintas. Sudah cukup lama Aluna tidak jalan-jalan sebebas ini.


Tanpa Aluna sadari, Gama terus memperhatikan Aluna dari kaca spion motornya. Ia merasa senang ketika melihat wajah Aluna yang tersenyum kala melihat kepadatan lalu lintas meski ini hanya hal kecil setidaknya gadis itu sudah sedikit melupakan kejadian disekolah tadi.


"Aluna pegangan," teriak Gama.


"Hah?" Aluna yang bingung hanya bisa balas berteriak namun tanpa aba-aba Gama mempercepat kendaraannya membuat Aluna mau tidak mau memeluk laki-laki itu.


Gama merasa senang kala Aluna memeluknya sedangkan Aluna sedikit ketakutan karena Gama yang membawa motor seperti sedang kesetanan. Tidak lama kemudian mereka sampai di tempat yang sepi namun sejuk.


Ya meskipun tempat itu sedikit di pedalaman desa namun jarang sekali ada orang yang datang. Karena ada isu jika di sana terdapat siluman yang membuatnya jarang dikunjungi oleh orang, padahal itu hanya akal bulus Gama saja ketika kecil agar tak ada yang datang ke tempat kesukaannya itu.


Setelah memarkirkan motornya Gama dan Aluna turun. Aluna tertegun melihat keindahan danau yang ada di hadapannya. Aluna tak menyangka jika di tempat selamat ini masih terdapat tempat yang lestari dan sejuk.


"Darimana kau tahu tempat ini Tara?" tanya Aluna sambil memperhatikan sekelilingnya.

__ADS_1


Gama yang sudah duduk di salah satu kursi kayu menjawab pertanyaan Aluna sambil memberikan gadis itu sebotol air mineral yang ia beli, untung belum ia minum.


Aluna menghampiri Gama dan menerima sebotol air mineral itu, sejujurnya Gama memang peka kebetulan ia sedang sangat haus. Aluna minum sambil memperhatikan danau yang tenang.


"Ketika aku kecil, aku sering datang kesini. Ini tempat favoritku sejak kecil, indah bukan?" jawab Gama dan bertanya.


Aluna hanya mengangguk saja. Memang seperti yang dikatakan oleh Gama, tempat ini sangat indah namun Aluna yang tak tahu apapun bertanya mengapa tempat ini sepi.


"Lalu mengapa tempat ini sangat sepi? Seharusnya tempat seperti ini dijadikan destinasi para warga karena keindahannya," tanya Aluna pada Gama yang tengah membuka kotak p3k.


"Aku membuat rumor jika ada siluman disini, jadi tidak ada orang yang berani datang hanya beberapa saja yang suka uji nyali," jawab Gama.


Laki-laki itu tengah fokus menuangkan alkohol pada kapas. Aluna yang mendengar itu hanya mengangguk tak percaya jika Gama membuat rumor yang seperti itu, yang paling tidak dipercaya mengapa semua orang bisa percaya pada ucapan anak kecil?


"Aluna, sini biar aku obati dulu lukamu," ucap Gama meminta Aluna menghadap ke arahnya.


Aluna menurut dan menghadap ke arah laki-laki itu. Gama mendekatkan diri pada Aluna lalu mulai mengobati kening Aluna, meski sudah tidak mengeluarkan darah tetap saja harus di obati.


Aluna yang baru pertama kali dekat dengan laki-laki merasa gugup. Terlebih keadaan mereka tengah sangat dekat. Jantung Aluna berdegup sangat cepat dan mungkin Gama dapat mendengar suaranya.


Aluna menelan air yang ia minum dan memegang dadanya berharap degupan itu berhenti secepatnya. Bahkan karena terlalu gugup Aluna sampai lupa bernapas.


"Hey, bernapas lah dengan benar aku tak mau menjadi pembunuh ya haha," tawa Gama melihat wajah Aluna yang gugup dan menahan napas.


Duk...


Aluna dengan kesal memukul dada Gama dengan cukup keras hingga bunyi. Bukannya berhenti Gama justru semakin tertawa terbahak-bahak membuat Aluna malu dan wajahnya merah merona.


"Hahaha kau sangat lucu Aluna," tawa Gama.


"Iss, sudahlah sebaiknya aku pulang saja jika kau terus menertawai ku seperti itu," pungkas Aluna kesal.


Gama yang mendengar itu berhenti tertawa lalu mulai menutup luka Aluna dengan plester. Wajah kesal Aluna membuatnya merasa puas namun ia juga senang karena Aluna dapat berekspresi karena kekesalannya.


"Sudah, nanti setelah mandi plesternya di ganti yah," ucap Gama setelah menempelkan plester.


"Terimakasih Tara," ucap Aluna.

__ADS_1


Gama hanya mengangguk saja dan mereka berdua menikmati keindahan danau. Sebenarnya tujuan Gama membawa Aluna ke tempat ini bukan hanya untuk bersantai saja melainkan mengajak gadis itu bersenang-senang.


"Aluna, sudah berapa lama kau mengalami hal seperti ini?" tanya Gama melihat wajah gadis itu penasaran.


__ADS_2