Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)

Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)
Bab 23. Seblak bakso aci & Es teler.


__ADS_3

Aluna dan Gama kini tengah berkeliling di sekitar pusat ibu kota. Kenapa mereka berkeliling di sana karena pedagang kaki lima banyak di sekitar sana.


Sejak tadi mereka terus berkeliling karena tempat yang penuh dan langganan Gama belum juga terlihat tempatnya mereka belum juga turun dari atas motor.


"Mau sampai kapan kita berkeliling seperti ini terus?" tanya Aluna yang sudah lelah duduk di jok motor.


"Sebentar, aku lupa lokasi si abang mangkal," jawab Gama terus memperhatikan sekeliling.


Aluna hanya menatap Gama kesal. Lalu tidak lama kemudian Gama melihat tukang seblak yang biasa ia beli terlihat, ternyata sedikit berpindah dari tempat biasa dan sedikit terpojok.


Selain ada tukang seblak di sana banyak jajanan khas Indonesia, salah satunya kue ape, kue putu, pokoknya segala macam makanan basah dan juga gurih.


Gama segera memarkirkan motornya di dekat tempat yang sudah tersedia, lalu mengajak Aluna menuju tukang seblak sebelum tempatnya penuh.


"Akhirnya sampai juga," ucap Aluna duduk lesehan di tempat yang sudah di sediakan oleh tukang seblak.

__ADS_1


"Iya, beruntung si abang pindah ke pojok jadi lebih sejuk dan adem," sahut Gama membenarkan ucapan Aluna.


Tidak lama kemudian si abang penjual seblak datang sambil memberikan menu yang mereka punya seputar seblak dan juga makanan asin lainnya.


"Mau pesan apa?" tanya Gama.


"Aku mau seblak bakso aci aja deh, sama ciapk koceak," jawab Aluna setelah melihat menu.


"Oke deh samain aja. Abang pesen seblak bakso acinya dua cipak koceak dua ya, ini tidak ada minumnya?" ujar Gama memanggil pemilik warung.


"Ouh Oke deh, akang sini pesan es teler dua ya," ucap Gama dan memanggil tukang es di sebelah tukang seblak.


Tukang es tersebut tidak hanya menjual es teler ada es lainnya namun di cuaca yang terik seperti ini lebih enak minum es teler terlebih di dampingi dengan seblak beuh betapa nikmatnya dunia.


Aluna melihat sekeliling ibu kota yang sangat ramai. Jika di ingat-ingat ia sangat sering keluar dan izin pada ayahnya namun di perbolehkan semenjak ia bertemu dengan Gama. Entah itu keberuntungan atau justru kesialannya ia tetap bersyukur.

__ADS_1


"Luna ada apa?" tanya Gama memperhatikan Aluna yang tiba-tiba terdiam dengan tatapan kosong.


"Jika di ingat-ingat semenjak aku bertemu denganmu, jadwal belajar ku sedikit berkurang. Aku rasa ini kesialan bertemu denganmu," Gurau Aluna dengan menatap Gama serius.


"Enak aja kesialan, justru keberuntungan tahu. Dari pada belajar terus yang ada stres mending healing kayak gini kan?" sewot Gama membuat Aluna tertawa melihat wajah Gama yang kesal.


"Hahah iya-iya," tawa Aluna.


Gama yang mendengar itu semakin kesal namun ia tetap senang melihat Aluna yang bisa tertawa lepas seperti ini. Setelah mengobrol lama tidak lama kemudian pesanan mereka datang.


"Ini aa, neng pesanannya silahkan dinikmati," ujar tukang seblak dengan logat sundanya.


"Eumm enak banget ini, selamat makan," sahut Aluna dan mencicipi seblak tersebut.


Aluna memejamkan matanya karena rasa yang pedas dan gurih menjadi satu di dalam mulutnya, ini baru seblak bakso aci yang paling enak dan pas rasanya. Tidak lama kemudian es teler yang mereka pesan datang dan mereka berdua menikmati sore dengan makan seblak dan es teler.

__ADS_1


__ADS_2