
Aluna seperti biasa berangkat ke sekolah lebih pagi dari siswa dan siswi lainnya. Pukul 6 pagi Aluna sudah berada di sekolah, tidak lebih tepatnya ia sudah berada di perpustakaan sekolah untuk mempelajari materi yang akan di jelaskan oleh guru.
Waktu berlalu begitu cepat membuat Aluna segera kembali ke kelasnya karena jam pelajaran sudah akan di mulai. Sesampainya di kelas, sebelum guru masuk Aluna menyempatkan diri untuk tidur sebentar.
Ketika ia tengah tertidur suara kelas yang tadinya gaduh dan berisik seketika menjadi hening. Aluna masih tidak peduli hingga suara seseorang membuatnya terbangun dan memastikan siapa pemilik suara yang ia kenal itu.
"Diam! Kita kedatangan murid baru, Gama silahkan perkenalkan dirimu," ucap Bu Mawar membuat yang lain terdiam.
"Halo nama saya Gama Raden Argantara, biasa di panggil Gama salam kenal," sapa Gama memperkenalkan diri dengan singkat.
Setelah mengatakan itu kelas kembali berisik. Aluna yang penasaran mengangkat kepalanya dan terkejut melihat siapa yang ada di depan kelasnya. Gama remaja laki-laki yang terus mengganggunya kemarin, menjadi murid pindahan di sekolahnya? Yang lebih parah mereka satu kelas.
Aluna tertegun melihat senyum laki-laki itu yang mengarah padanya, membuat seisi kelas kembali berisik karena melihat senyum manis Gama. Aluna yang merasa malu di perhatikan seperti itu oleh Gama, ia segera memanglingkan wajahnya.
"Sial! Mengapa dia bisa satu kelas denganku?" batin Aluna bertanya-tanya sambil kembali menelungkupkan wajahnya di atas meja.
"Baiklah Gama, kamu silahkan duduk di samping Aluna yang tengah tertidur itu," suruh Ibu Mawar pada Gama membuat remaja itu semakin kegirangan.
Setelah diizinkan untuk duduk. Gama segera berjalan ke arah tempat duduknya, kebetulan Aluna duduk sendiri dan hanya kursi yang ada di dekat Aluna saja yang kosong.
Aluna masih belum sadar ketika Gama duduk di sampingnya. Setelah Gama duduk, pelajaran pun dimulai. Aluna tidak di bangunkan ketika tengah penjelasan karena gurunya tahu jika Aluna sudah belajar lebih dulu makanya dia bisa tertidur di kelas.
Gama yang melihat Aluna tertidur di kelas dan tidak di bangunkan oleh guru membuatnya bingung. Ia tak mengerti kenapa Aluna tidak terkena amarah guru ketika tidur di jam kelas. Karena penasaran Gama membangunkan Aluna dan membisikkan sesuatu.
"Aluna hey, Aluna," panggil Gama pelan.
"Eguhh," lenguh Aluna.
"Mengapa kau tidak terkena amarah guru? Padahal kau tertidur," tanya Gama pelan.
Aluna yang mendengar itu mendongak dan terkekeh. Gama memang tidak tahu jika Aluna sepintar itu hingga guru pun tak memarahinya ketika tertidur di dalam kelas. Aluna bangun dari tidurnya dan duduk dengan benar baru ia menjawab pertanyaan dari Gama yang sudah menunggu dengan wajah penasaran.
"Hehe, Ibu Mawar sudah tahu jika aku tertidur di jam pagi tandanya aku sudah belajar lebih dulu materi yang akan di sampaikan olehnya," jelas Aluna pelan sambil terkekeh.
Gama yang mendengar itu hanya ber'oh' ria saja. Namun ia masih tidak mengerti, bagaimana caranya guru itu tahu jika Aluna sudah belajar? Padahal kan ia hanya tidur di kelas, siapa tahu dia berbohong dengan dalih sudah belajar ya kan?
Tanpa mereka sadari, Saskia terus memperhatikan mereka. Saskia tak suka jika ada yang dekat dengan Aluna terlebih Gama anak pindahan dan cukup tampan malah lebih tertarik pada Aluna, si pintar namun tak cantik.
"Awas saja kau Aluna! Kau akan mendapatkan hukumannya nanti," batin Saskia kesal dan kembali memperhatikan Ibu Mawar yang tengah menjelaskan pelajaran.
.
.
Bell jam istirahat pertama sudah berbunyi. Guru yang mengajar sudah keluar dari kelas karena memang sudah waktunya istirahat jadi sudah tidak ada yang perlu dijelaskan lagi.
Lagi-lagi Aluna tertidur dalam pelajaran, namun yang membuat Gama kagum pada gadis itu ketika ia di suruh maju ke depan untuk mengerjakan tugas di papan tulis jawabannya selalu benar. Entah bagaimana caranya Aluna belajar, yang pastinya Gama akan mencari tahu itu.
"Hey bisakah kau menjadi pemandu jalan ku di sekolah ini? Aku masih belum tahu banyak tentang sekolah ini," tanya Gama pada Aluna yang hendak tertidur kembali.
"Jangan denganku, pergi saja dengan Saskia. Gadis yang ada di depan pintu itu," jawab Aluna dengan suara parau dan sedikit tidak jelas namun masih dapat di dengan oleh Gama.
Gama melihat ke arah pintu. Benar saja ada gadis cantik yang tengah berdiri di sana sambil memperhatikan mereka. Namun Gama tidak suka dengan tatapan gadis itu pada Aluna jadinya ia memilih untuk tetap bersama Aluna.
"Aku mau denganmu saja, aku tak suka tatapannya padamu," ujar Gama membuat Aluna terdiam.
Justru itu masalahnya. Jika Gama terus memaksanya ia akan terkena masalah namun Gama yang keras kepala akan sulit untuk Aluna membuat laki-laki itu pergi dengan Saskia dari pada dengan dirinya.
"Apa kau mau aku terkena masalah? Sebaiknya kau pergilah dengannya," sahut Aluna tetap tenang.
"Masalah? Masalah apa? Aku hanya meminta mu untuk menemaniku berkeliling, ayolah itu bukan masalah besar untukmu kan?" tanya Gama terus membujuk Aluna.
__ADS_1
Saskia yang diabaikan segera pergi dari sana dan langsung menuju ke kantin untuk bertemu dengan teman-temannya dengan wajah di tekuk. Aluna mendongak dan tidak mendapati Saskia di depan pintu.
Aluna menghela napas kasar dan menatap Gama yang tengah menatapnya dengan memohon. Aluna kembali menghela napas, sudahlah masalah itu biarkan terjadi ia siap untuk mendapatkannya toh ini juga sudah makanan kesehariannya.
"Baiklah-baiklah, aku akan menemanimu namun pulang nanti kau pergi duluan dan jangan menungguku," ucap Aluna pasrah dan membuat Gama senang namun ucapan terakhir Aluna membuatnya mengerutkan keningnya.
"Kenapa?" tanya Gama penasaran.
"Jangan banyak tanya jika tak mau membuatku terkena masalah yang lebih parah," jawab Aluna membuat Gama bungkam.
"Kau ingin kemana dulu?" tanya Aluna dan bangkit dari duduknya.
"Kantin, aku lapar hehe," jawab Gama dengan cepat.
Lalu mereka berdua segera meninggalkan kelas dan menuju ke kantin. Selama perjalanan menuju ke kantin banyak pasang mata yang memperhatikan mereka, tidak lebih tepatnya memperhatikan Gama dan banyak yang mencibir Aluna.
Gama yang mendengar cibiran-cibiran pedas dari murid lain segera melihat ke arah Aluna yang terlihat biasa-biasa saja. Hal itu membuat Gama semakin bingung mengapa Aluna bisa sesantai itu.
Gama merasa jika ada yang salah dengan mereka. Mereka seperti memusuhi Aluna, padahal menurut Gama Aluna adalah orang yang baik namun tertutup. Lalu bagaimana mereka semua tak menyukai Aluna.
"Hey anak baru, kau yakin jalan bersama dengannya? Apakah kau tidak takut jika menjadi sasaran bully geng Saskia? Sebaiknya kau bergabung saja dengan kami," ujar salah satu siswa menghentikan langkah mereka.
"Bully? Aku tak peduli, sebaiknya kau menyingkirkan dari jalanku," sahut Gama datar.
Lalu setelah mengatakan itu, Gama segera menarik Aluna dengan perasaan emosi. Kini ia tahu mengapa Aluna di tatap seperti itu oleh murid lainnya. Namun mengapa Aluna seperti tidak peduli akan itu? Atau Aluna sudah mengalami bullying sejak lama? Gama terus bertanya-tanya di benaknya.
Aluna yang sadar jika lengannya di pegang oleh Gama segera menarik lengannya dan berhenti membuat Gama ikut berhenti lalu menatap gadis itu.
"Yang dia katakan benar, jangan terlalu akrab denganku jika kau tak mau terkena banyak masalah," ucap Aluna tiba-tiba.
Gama yang mendengar itu tak habis pikir. Gama tak peduli dan memilih untuk menarik Aluna dan meminta gadis itu memberi tahu dimana lokasi kantin berada. Gama tak mau memperpanjang masalah itu, sebaiknya tidak untuk sekarang.
Gama merasakan itu, karena ia tahu jika Aluna adalah salah satu korban bullying ia bertekad untuk melindunginya meskipun Aluna tak suka itu karena ini semua sesuai rencananya.
Aluna dan Gama tidak memperdulikan tatapan-tatapan itu dan memilih untuk memesan makanan. Setelah pesanan makanan mereka jadi, mereka memilih salah satu tempat untuk mereka duduki.
Setelah itu mereka mulai memakan makanan mereka, terlebih mereka sudah cukup lapar tidak lebih tepatnya Gama yang sudah kelaparan. Sedangkan Aluna tidak begitu lapar namun tetap membeli makanan untuk cemilan.
Aluna memesan seblak sedangkan Gama nasi kuning dan semangkuk bakso tidak lupa es teh manis kesukaannya. Ketika mereka tengah makan, Saskia menghampiri mereka dan duduk disamping Gama.
"Hay Gama, kenalin aku Saskia sahabat Aluna," ujar gadis itu sambil memperkenalkan diri dan mengulurkan tangannya.
Gama yang melihat itu awalnya tak ingin menggubris gadis itu. Namun demi Aluna tak terkena masalah Gama memilih untuk meraih jabat tangan gadis itu.
"Salam kenal," jawabnya singkat dan kembali makan.
Saskia yang ditanggapi oleh Gama merasa sangat senang dan menatap Aluna dengan tatapan jijik dan mengejek. Sedangkan Aluna hanya menanggapinya dengan tatapan datar saja. Toh ia bukan siapa-siapa Gama.
Tidak lama kemudian mereka telah selesai makan. Sejak tadi Saskia terus mengajak ngobrol Gama dan memperhatikan laki-laki itu membuat Gama sedikit risih namun masih tetap menanggapi seadanya.
"Kami sudah selesai makan Saskia, kami pergi dulu," ucap Gama dan berdiri dari tempat duduknya di ikuti oleh Aluna.
"Kau mau kemana? Tidakkah kau mau menemaniku mengobrol?" tanya Saskia sedikit kesal namun tetap menampilkan wajah lembutnya membuat Aluna merasa jijik melihat wajah dua milik Saskia.
"Aku ingin ke perpustakaan meminjam buku, lain kali saja kita mengobrol," jawab Gama laku segera pergi dari kantin diikuti Aluna di sampingnya.
Saskia yang mendengar itu mencibir, ia merasa kesal karena tak di ajak. Lagi-lagi Aluna, mengapa harus Aluna? Padahal sudah jelas ia lebih cantik dari gadis itu bahkan sangat.
Aluna mengantarkan Gama ke perpustakaan, kebetulan ia juga hendak meminjam buku di perpustakaan karena sebentar lagi akan ada Olimpiade matematika ia harus banyak belajar.
"Mengapa kau tak mengiyakan ajakan Saskia?" tanya Aluna.
__ADS_1
"Aku risih berdekatan dengannya, wajahnya duanya terlalu terlihat... Apakah kau benar-benar baik-baik saja dan apakah kau benar-benar bersahabatan dengan rubah itu?" jawab Gama dan bertanya sambil menatap serius pada Aluna.
"Huftt bisa dibilang begitu, aku tak yakin," jawab Aluna santai dan pergi untuk mengambil kartu peminjaman buku.
Gama memperhatikan punggung Aluna dalam. Entah kehidupan seperti apa yang sudah terjadi padanya. Gama segera menyusul Aluna dan meminta kartu pinjaman buku kepada siswa yang berjaga di perpustakaan.
Mereka berdua kembali ke kelas. Kelas cukup sepi hanya ada beberapa orang saja di dalam kelas. Aluna segera kembali ke tempat duduknya lalu fokus pada buku matematika yang ada di tangannya.
Gama yang melihat itu sedikit heran pada Aluna, apakah gadis itu tidak bisa tidak terlalu fokus? Atau biasa-biasa saja seperti yang terlihat. Karena melihat Aluna fokus pada bukunya, Gama mulai membaca buku yang ia pinjam dan mempelajari materi yang sudah tertinggal.
Tidak lama kemudian bell masuk berbunyi, semua murid berbondong-bondong masuk ke dalam kelas. Kelas yang tadinya sepi kini menjadi ramai dan sedikit sumpek karena ada yang berkeringat habis main bola atau basket di lapangan ada juga yang masih memegang makanan dan makan di dalam kelas.
"Ck, kelasnya jadi bau... Mana bau ketek juga," cibir Gama sambil menutup hidungnya.
"Berasa seperti di dalam bis ketika ACnya mati," timpal Aluna sambil menutup hidungnya juga.
Mereka saling pandang dan ketawa. Namun tawa mereka, mereka tahan agar tidak didengar oleh yang lain. Memang kelas setiap habis istirahat pasti akan menjadi bau entah bau keringat, bau ketek ataupun bau makanan yang beraroma tajam seperti mie cup.
Tidak lama kemudian guru masuk dan berkata sama seperti apa yang di katakan oleh Aluna dan Gama membuat mereka kembali terkikik geli. Gama yang tidak pernah melihat tawa Aluna ia terpesona melihatnya, Aluna lebih cantik ketika tertawa.
Setelah itu mereka kembali belajar. Meski dengan keadaan bau mie cup yang semerbak pelajaran tetap dilanjutkan dengan harmonis namun tidak sedikit dari mereka yang perutnya kembali berbunyi karena harum mie cup.
Ketika tengah menulis catatan yang ada di papan tulis. Kepala sekolah datang ke kelas dan merasakan hal yang sama, bau mie cup yang semerbak membuatnya menggeleng lalu segera mencari seseorang.
"Aluna ikut saya sebentar," panggil kepala sekolah pada Aluna.
Aluna yang mendengar itu segera bangkit dari duduknya dan mengikuti kepala sekolah menuju ruang kepala sekolah. Seperti biasa mereka pasti akan membahas tentang Olimpiade yang akan di gelar satu bulan lagi.
Selagi Aluna pergi, Saskia memiliki kesempatan lalu menghampiri Gama dan duduk di samping laki-laki itu. Lebih tepatnya duduk di kursi milik Aluna.
Gama tidak memperdulikan Saskia dan lebih memilih fokus mencatat materi yang ada di papan tulis agar tidak ketinggalan materi lagi, sejujurnya ia paling malas mencatat jadi hampir semua bukunya kosong dan berisi sedikit catatan.
"Gama, apa yang kau suka dari Aluna sih? Aku jelas lebih cantik darinya," tanya Saskia sambil menyimpan diri.
Gama yang mendengar itu ingin muntah. Cantik si cantik tapi sayang hatinya jahat dan juga tukang bully. Gama menghela napas menghentikan aktivitas menulisnya lalu menatap Saskia.
"Cantik, tapi sayang berwajah dua," ujar Gama di awal lembut sangat di akhiri dengan tatapan tajam.
Saskia yang mendengar itu melotot dan tak percaya pada Gama yang sudah bilang jika dirinya berwajah dua, padahal kebenarannya memang seperti itu. Karena kesal Saskia kembali ke tempat duduknya membuat Gama tersenyum puas melihat ekspresi dari gadis itu.
Sedangkan diwaktu yang sama, Aluna tengah mendapatkan nasehat dari kepala sekolah. Meski nanti ia tak menang jangan terlalu kesal karena kepintaran orang itu berbeda-beda. Jika kali ini Aluna gagal bukan berarti Olimpiade selanjutnya ia akan gagal.
"Aluna apakah kau mendengar bapak?" tanya kepala sekolah melihat Aluna yang terdiri mendengarkannya.
"Ah ya pak, saya mendengarnya terimakasih nasehatnya pak. Saya akan menerapkan itu pada diri saya," jawab Aluna sambil tersenyum.
Kepala sekolah tersenyum. Ia bangga memiliki murid seperti Aluna hanya saja sayangnya ia menjadi korban bully, meski yang membullynya sudah di hukum tapi tetap saja mereka tidak jera hingga kepala sekolah bingung harus berbuat apa pada mereka dan sampai sekarang masih memikirkan hukuman apa yang tepat untuk mereka nantinya.
Setelah mendapatkan nasehat sekitar setengah jam lamanya. Aluna kembali ke kelasnya dan tepat ketika ia kembali bell istirahat kedua berbunyi. Aluna tidak ke kantin ia memilih untuk tidur di kelas, sudah kebiasaan dirinya tidur ketika jam istirahat.
Gama yang melihat Aluna tidur, ia memilih ikut tidur juga dan berharap setelah istirahat selesai jam terakhir kosong dan mereka dapat pulang dengan cepat.
Istirahat kedua tak begitu lama. Lima belas menit kemudian bell masuk kembali berbunyi dan para murid kembali masuk ke kelas, seperti harapan Gama jika guru pelajaran terakhir tidak masuk dan hanya memberikan PR pada mereka.
Kelas kembali berisik dengan suara teriakan berebut makanan atau beberapa murid yang bernyanyi. Saskia melihat Aluna membereskan bukunya lalu menghampiri gadis itu.
"Aluna, pulang sekolah nanti temani aku ke toilet yah," ucap Saskia memohon.
Aluna tahu jika itu bukan hanya sekedar ke toilet saja. Aluna mengangguk setuju, setelah melihat anggukan dari Aluna Saskia memeluk Aluna dengan senang dan kembali ke tempat duduknya.
Sedangkan Gama merasa ada yang janggal. Jika ingin ke toilet mengapa harus pulang sekolah? Kenapa tidak sekarang saja? Namun ia masih berpikir positif mungkin saja Saskia ingin mengaplikasikan skincare lagi pulang sekolah nanti agar kulitnya tidak terbakar terkena sinar matahari.
__ADS_1