
"Aluna, sudah berapa lama kau mengalami hal seperti ini?" tanya Gama melihat wajah gadis itu penasaran.
Aluna yang mendengar pertanyaan Gama terdiam. Entah ia bingung harus bilang pada Gama atau justru sebaliknya. Gama terus menatap Aluna agar gadis itu menjawab pertanyaannya.
Aluna yang terus di tatap seperti itu menoleh menatap Gama lalu ia bangkit dari duduknya dan berjalan kearah danau menghela napas panjang dan memutuskan untuk memberi tahu Gama. Ia yakin jika Gama tak akan ikut membullynya juga.
"Sudah lama, sejak aku kelas 10 aku sudah mendapatkan perlakuan seperti itu. Entah apa salahku hingga mereka memperlakukan seperti itu," jawab Aluna santai.
Aluna merasa jika hal itu sudah biasa namun berbeda dengan Gama. Gama yang mendengar itu merasa kesal dan marah, ia mengepal tangannya dan menggertakan giginya.
Seandainya Aluna melawan mereka, mereka tak akan memperlakukan Aluna seperti itu terus menerus namun Aluna bukan hanya tidak melawan, ia juga tidak memberi tahu siapapun dan memilih memendam semuanya sendiri.
"Kenapa? Kenapa kau tidak melawan dan malah seakan-akan tidak peduli dan hal ini tidak pernah terjadi?" tanya Gama marah.
Aluna yang mendengar nada suara Gama yang berubah menoleh menatap laki-laki itu. Aluna hanya tersenyum, menurutnya ini bukan waktunya untuk melawan. Ia sengaja membiarkan mereka bersenang-senang terlebih dahulu nanti jika sudah waktunya semuanya akan berbalik.
"Bukan tidak melawan, hanya belum waktunya saja," jawab Aluna sambil tersenyum.
Gama yang mendengar itu tak habis pikir. Waktunya? Apa maksud dari gadis itu sebenarnya? Aluna membuka kedua sepatu dan kaus kakinya lalu mulai turun ke danau, ia hanya turun kepinggiran saja karena ia tahu jika dia tengah sudah sangat dalam.
"Airnya dingin," ucap Aluna sambil memainkan air.
Gama yang melihat itu mulai meredamkan emosinya namun ia pastikan jika para gadis yang sudah membuat Aluna seperti itu akan mendapatkan balasannya, secepatnya itu akan terjadi.
"Tara kemarilah, airnya sangat menyejukkan," teriak Aluna memanggil Gama.
__ADS_1
Gama yang melamun tersadar mendengar teriakan Aluna. Lalu ia mengangguk dan melepaskan sepatunya dan menyusul masuk ke dalam danau. Ketika ia sudah masuk ke dalam danau, Aluna tanpa aba-aba mencipratkan air kepadanya.
"Astaga Luna dingin," ucap Gama sambil mencoba menutup wajahnya agar tidak terkena air.
"Hahaha kau sangat lucu Tara, ayolah kau laki-laki masa hanya terkena air dingin saja kau mengeluh," tawa Aluna dengan senang masih mencipratkan air pada Gama.
"Oh baiklah, jangan salahkan aku jika bajumu menjadi basah kuyup lagi," sahut Gama lalu mulai mencipratkan air kepada Aluna.
Mereka saling mencipratkan air hingga mereka hampir basah kuyup namun hal ini sangat menyenangkan terlebih bagi Aluna, ini adalah kebahagiaan yang sangat luar biasa.
Mereka bermain air dan terkadang kejar-kejaran layaknya orang yang tengah kasmaran. Tawa mereka bergema di seluruh danau, beruntung di sana hanya ada mereka berdua jika ada orang lain mungkin mereka akan dibicarakan seperti orang gila.
"Hahah kau tak bisa menangkap ku Tara," tawa Aluna sambil menghindari Gama.
Namun tidak lama kemudian ia tertangkap oleh Gama. Gama memeluk Aluna dari belakang dan mereka berdua terjatuh terduduk, mereka saling pandang dan kembali tertawa. Hari ini hari yang tak akan mereka lupakan, hari yang menyakitkan namun juga menyenangkan.
"Baiklah, aku juga lelah," jawab Aluna lalu mereka duduk menghadap danau.
Aluna menyenderkan kepalanya pada pundak Gama. Gama tak mempermasalahkan itu justru ia juga menaruh kepalanya di atas kepala Aluna. Mereka lelah karena berlarian namun pemandangan indah membuat mereka merasa hal itu biasa-biasa saja.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terus memperhatikan dengan senyuman lebar yang merekah melihat keakraban mereka berdua. Sebelum mereka menyadari kehadirannya, orang itu segera pergi dari sana dan membiarkan keduanya memadu kasih dan semoga saja tidak terjadi hal yang tak senonoh pada mereka.
.
.
__ADS_1
Aluna diantar pulang oleh Gama hingga masuk ke rumah, tidak lupa Gama meminta maaf karena baru mengantar Aluna setelah les tambahan karena ban motornya yang bocor. Padahal itu hanya akal-akalannya saja.
"Om, tante maaf saya baru mengantar Aluna, ban motor saya bocor di jalan membuat Aluna harus menunggu sedikit lama," jelas Gama meminta maaf tanpa dicurigai oleh kedua orang tua Aluna.
"Tak masalah asal Aluna pulang dengan selamat, kau tidak melakukan hal aneh-aneh padanya bukan?" jawab Ibu Aluna dan menyelidiki.
"Tidak tante tenang saja, saya masih tau batasan kok," jawab Gama dengan tenang.
"Baru kali ini ada yang mengantar Aluna, mengapa kau bisa bersama Aluna?" tanya Ayah Aluna menyelidiki.
"Saya juga ikut les tambahan om makanya bisa bareng sama Aluna, kebetulan rumah saya disebelah om," jawab Gama dengan sangat tenang padahal didalam hatinya sudah ketar-ketir takut ketahuan berbohong.
"Oh kau anak dari Febby? astaga ternyata kau sudah besar ya, oh ya kau ikut les apa? Apakah matematika juga seperti Aluna?" tanya Ibu Aluna beruntun.
"Iya tante, tante kenal Ibu saya? Saya les bahasa tante saya kurang suka dengan matematika," jawab Gama mencarikan keadaan.
"Ouh ternyata anak tetangga, syukurlah tante jadi tidak begitu khawatir pada Aluna," sahut Ibu Aluna seakan-akan ia Ibu yang baik bagi Aluna.
"Sudah, ini sudah malam kau boleh pulang. Oh ya om titip anak om sama kau,tolong jaga dan jangan di rusak," ucap ayah Aluna.
Gama yang mendengar itu tiba-tiba menjadi emosi, sebab pria paru baya yang ada di hadapannya bisa berbicara se enteng itu dan memintanya jangan merusak Aluna sedangkan dirinya saja merusak mental anak mereka.
Gama tetap tersenyum dan mengangguk agar menutupi amarahnya. Lalu Gama segera pamit pada kedua orang tua Aluna dan segera meninggalkan tempat terkutuk itu dengan perasaan sebal dengan ucapan ayah Aluna, meski itu hanya wanti-wanti untuk anak perempuan namun ia tahu jika pria itu tak mengatakannya dengan tulus.
Setelah kepergian Gama. Ibu Aluna menatap suaminya lalu segera ke kamar Aluna untuk memeriksa gadis itu. Sesampainya di kamar Aluna ia melihat Aluna yang tengah belajar jadi ia tak mengganggu lagi, sedangkan Aluna yang memastikan jika ibunya sudah pergi kembali membuka laptopnya dan melanjutkan menulis naskahnya.
__ADS_1
Tadi sebelum ia ke kamar, Aluna sudah pergi berterimakasih pada Gama. Jika buka karena laki-laki itu, Aluna tak akan merasakan hal yang semenyenangkan ini hari ini, meski mereka harus berbohong namun Gama perlu mendapatkan apresiasi karena kebohongannya membuat kedua orang tuanya dapat percaya padanya.
"Tara, terimakasih," gumam Aluna sambil menyelesaikan naskahnya.