Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)

Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)
Bab 6 Rumah atau sekedar rumah?


__ADS_3

Plakkk


Satu tamparan keras mendarat keras di pipi Aluna. Aluna memegang pipinya seraya menatap pria paru baya yang ada di hadapannya, siapa lagi jika bukan ayahnya.


Aluna diam. Jika ia menjawab atau balas marah, ayahnya akan semakin menjadi-jadi. Sedangkan di sofa ruang tamu terdapat dua orang wanita yang tengah menatapnya tanpa ada rasa ingin membantu.


Ibunya menatapnya dengan acuh, sedangkan adiknya tersenyum puas menatap Aluna yang terkena tamparan dari ayahnya.


"Jam berapa ini? Kau pulang telat lagi! Kau tidak bisa menghargai waktu bagaimana kau bisa sukses hah?! " Bentak pria paru baya tersebut menyulut emosi Aluna.


"Sukses atau tidaknya aku, itu bukan urusan mu... Toh aku hanya telat beberapa menit, " Sahut Aluna dingin sambil menatap mata ayahnya tajam.


Pria paru baya itu tertawa mendengar tutur kata Aluna. Pria paru baya itu menatap tajam ke arah Aluna dan lagi.


Plakkkk


Pria paru baya tersebut menampar Aluna dengan sangat keras hingga ujung bibir Aluna terluka. Aluna diam dengan tatapan dingin, jangan bertanya sakit atau tidak pastinya sangat sakit namun ini sudah biasa untuknya semenjak kedatangan adiknya itu.


"Kita lihat, kau akan menjadi seperti apa nantinya... Anak tidak berguna sepertimu tidak akan bisa sukses apalagi menjadi penulis terkenal! " Tungkas pria paru baya itu sambil menunjuk-nunjuk Aluna.

__ADS_1


Aluna menghela napas lalu berdiri dengan tegak di depan ayahnya, matanya menyorotkan kebencian dan amarah yang dalam. Aluna menatap ayahnya dengan jengah dan berkata.


"Akan aku pastikan, aku akan menjadi seorang penulis terkenal hanya dengan kemampuan dan usahaku sendiri!" Tegas Aluna terhadap ayahnya yang tersenyum kecut namun penuh arti.


"Aku tidak membutuhkan orang tua seperti kalian, jangan mengganggu hidupku dan urus saja anakmu itu, " Lanjut Aluna lalu segera pergi dari sana dan langsung menuju ke kamarnya.


Pria paru baya itu menatap punggung anaknya, ada rasa tidak peduli lagi bahkan rasa sayang seperti dulu saja ia merasa sudah tidak ada. Pria paru baya itu melengos dan berkumpul dengan anak dan istrinya.


Aluna berjalan gontai hingga ke kamarnya. Sesampainya di kamar Aluna melempar tasnya ke atas ranjang dan memegang pipinya yang masih berdenyut nyeri.


"Huh aku lelah, sebenarnya ini rumah atau hanya sekedar rumah? " Gumam Aluna menatap langit-langit kamar dengan lesu.


Aluna memasuki kamar mandi dan melucuti seluruh pakaiannya dan segera masuk ke dalam air. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Aluna mandi.


Setelah mandi Aluna segera memakai pakaiannya, lalu kembali mengambil laptopnya tidak lupa ia membawa kompres air dingin dan membawa cemilan.


Aluna membawa itu semua ke balkon kamarnya, sudah menjadi kebiasaannya untuk menulis novelnya di balkon kamar. Bukan tanpa alasan, selain ada angin itu juga dapat membuat otaknya jauh lebih fres.


Aluna mengompres pipinya sambil membuka laptopnya. Setelah lima menit ia kompres, Aluna melepaskan kompresan itu dan mulai fokus dengan laptop.

__ADS_1


Tanpa ia sadari, adiknya masuk ke dalam kamarnya dan menatap kearahnya dengan pandangan puas karena sudah terkena omel oleh ayahnya. Ayah yang membela anak angkat dan tidak menganggap anak kandung apakah pantas di sebut sebagai ayah?


"Gimana rasanya kak? Enak? " Celetuk gadis itu tersenyum jahat.


Aluna yang mendengar itu menoleh lalu ia hanya mengangkat jari jempolnya saja lalu kembali fokus pada laptopnya. Sedangkan adiknya Aluna merasa kesal karena tidak digubris oleh Aluna.


Gadis kecil itu berharap Aluna menangis seperti dulu ketika pertama kali di perlakuan kasar oleh ayahnya? Namun sekarang berbeda Aluna seperti biasa saja bahkan terlihat tidak peduli.


"Cih, " Ucap gadis itu lalu segera keluar dari kamar Aluna.


Aluna yang melihat itu hanya bisa menghela napas dan menggeleng saja, ia masih tak habis pikir diusianya yang masih kecil sudah memiliki pikiran jahat seperti.


"Aku tak peduli, justru itu memberikan aku referensi baru haha, " Tawa Aluna senang dan kembali mengetik di laptopnya.


Ketika Aluna tengah serius mengetik dengan semangat, Tiba-tiba ada cahaya yang menghalalkan matanya. Aluna tak dapat melihat dengan jelas lalu ia melihat ke arah pelaku yang melakukannya.


Aluna menganga melihat orang yang ada di hadapannya, tidak lebih tepatnya rumah yang ada di hadapannya. Di balkon itu ada remaja laki-laki yang tadi mengantarnya.


"Sedang apa dia di sana? Sungguh mengganggu, " Gumam Aluna memutar matanya kesal.

__ADS_1


__ADS_2