Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)

Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)
Bab 7 Gama Raden Argantara


__ADS_3

"Sedang apa dia di sana? Sungguh mengganggu, " Gumam Aluna memutar matanya kesal.


Aluna tak mau memperdulikan laki-laki itu dan memilih untuk melanjutkan kegiatannya dan fokus pada laptopnya. Sedangkan remaja laki-laki itu yang di kacangi menemukan ide dan segera keluar dari kamarnya.


Entah ide apa yang remaja laki-laki itu punya yang jelas Aluna tidak peduli pada laki-laki itu. Tidak lama kemudian ada suara gemuruh dari depan balkon Aluna membuat Aluna terganggu dan melihat apa yang terjadi sebenarnya.


Grudak... Gruduk... Gubrak...


Suara gaduh itu terus terdengar membuat Aluna kesal dan melihat ke bawah balkon memastikan apa yang tengah terjadi di bawah sana. Ketika melihat seseorang dengan membawa tangga hendak naik ke atas balkon kamarnya membuatnya ternganga tak bisa berkata-kata.


Sedangkan orang yang hendak naik ke atas hanya cengengesan saja. Setelah berhasil naik ke atas balkon dan duduk di samping Aluna sambil meregangkan tangannya membuat Aluna menggeleng bagaimana bisa remaja itu berpikir mendatanginya langsung.


"Kau mendapatkan tangga dari mana?" tanya Aluna memicing.


"Di samping taman rumah mu," jawab laki-laki itu santai sambil melihat laptop Aluna.


"Lalu bagaimana kau bisa masuk dan tak di halangi oleh satpam?" tanya Aluna lagi.


"Aku hanya memberinya segelas kopi, lalu dia mempersilahkan ku masuk. Oh ya apa yang kau kerjakan itu? Sepertinya seru," jawab remaja itu dengan santai lalu bertanya.


Aluna terdiam masih tak percaya dengan ucapan laki-laki di sampingnya. Aluna menepuk pelan keningnya dan tak menghiraukan laki-laki itu lalu memilih fokus dengan laptopnya.

__ADS_1


Remaja laki-laki yang tadi bertemu dengan Aluna sekaligus mengantarkan Aluna terus memperhatikan gerak-gerik Aluna. Ia memang tak mengerti dengan apa yang tengah Aluna lakukan namun, wajah cantik Aluna ketika serius membuatnya terpesona.


"Cantik." Laki-laki itu menatap Aluna dalam.


Aluna yang mendengar itu menoleh dan menatap tajam laki-laki yang ada di sampingnya. Sejujurnya ia sedikit tidak nyaman kala laki-laki itu terus memperhatikannya.


"Jangan memperhatikan ku seperti itu, apakah kau tidak memiliki pekerjaan lain selain menggangguku?" tanya Aluna dan di balas gelengan dari laki-laki itu.


"Oh ya kita belum kenalan, namaku Gama Raden Argantara. Kalau namamu?" ujar laki-laki itu yang bernama Gama sambil mengulurkan tangannya pada Aluna.


Aluna yang mendengar itu terdiam, ia juga baru menyadari jika mereka belum berkenalan. Aluna meraih tangan Gama lalu memperkenalkan dirinya.


"Tara?" tanya Gama sebab tak ada yang pernah memanggilnya seperti itu.


"Iya, tak masalah bukan jika aku memanggilmu seperti itu?" jawab Aluna dan bertanya.


"Tara ya? Tak masalah hanya untukmu," ucap Gama sambil tersenyum.


Aluna tersenyum lalu melepaskan jabat tangan mereka dan kembali fokus pada laptopnya. Sedangkan Gama terus memperhatikan Aluna sambil sesekali membaca teks yang di tulis oleh Aluna.


"Aluna Syahira Mahardika, aku pastikan aku akan membahagiakanmu meski kau masih harus tersiksa di rumah ini, tunggu kita lulus aku akan membawamu pergi," Batin Gama memperhatikan wajah cantik Aluna.

__ADS_1


Mereka berdua terfokus pada laptop Aluna. Gama yang melihat itu kini mengerti apa yang tengah Aluna kerjakan, laki-laki itu kagum melihat Aluna dapat mengekspresikan diri ke dalam sebuah tulisan.


"Sudah berapa naskah yang kau buat Luna?" tanya Gama tanpa melihat ke Aluna.


Aluna terdiam sambil menghitung jumlah naskah yang telah ia buat. Kira-kira naskahnya sekarang mungkin sudah berjumlah lima naskah namun tidak ada yang di publikasikan di manapun ataupun di terbitkan menjadi buku. Bukan karena apa tapi Aluna belum mau saja melakukan itu.


"Kira-kira ada lima naskah, dan ini naskah yang ke enam," jawab Aluna.


Gama mengangguk-angguk mengerti. Ia jadi penasaran dengan lima naskah lainnya milik Aluna, naskah yang tengah di garap Aluna sana sudah sebagus ini meskipun Gama kurang mengerti tentang kepenulisan namun jika membaca ia pasti akan mengerti meskipun sedikit.


"Aku jadi ingin membaca naskahmu yang lain, oh ya apakah sudah ada yang di terbitkan?" lanjut Gama bertanya.


Aluna menjawab dengan gelengan membuat Gama bingung. Mengapa tidak ada yang di terbitkan? Padahal kualitas karya milik Aluna lumayan bagus.


"Kenapa?" tanya Gama lagi.


"Belum waktunya, nanti saja setelah naskahku terkumpul hingga 10 naskah," jawab Aluna santai.


"Baiklah, kapan-kapan bolehkan aku baca naskahmu yang lain? Aku mendukungmu Aluna," sahut Gama dan di angguki oleh Aluna.


Aluna tersenyum, ini kali pertama dirinya memiliki teman yang mau mendukungnya. Gama Raden Argantara, Aluna akan mengingat terus nama ini. Aluna benar-benar berterimakasih pada laki-laki yang baru ia kenal karena sudah menghargai karyanya dan orang pertama yang mau membaca naskahnya.

__ADS_1


__ADS_2