
"Apa kau sudah memikirkannya Aluna?" tanya ayahnya. Aluna tahu maksud dari ucapan ayahnya namun ibu dan adiknya tak mengerti sama sekali mungkin karena tak di beri tahu oleh ayahnya.
"Ya aku sudah memikirkannya, jika ayah setuju aku akan langsung menghubungi wali kelas ku," jawab Aluna santai.
Ibu dan adiknya saling memandang tak mengerti apa yang tengah di bicarakan oleh Aluna dan ayahnya. Ayah Aluna hendak berbicara namun dia sela oleh ibu Aluna yang bertanya.
"Tunggu apa maksudnya ini? Memikirkan apa? Mengapa kami tidak tahu apapun yang kalian bicarakan?" tanya ibu Aluna dengan wajah bingung.
Ayah dan Aluna menghela napas. Ayah Aluna akhirnya memberi tahu ibu Aluna yang sebenarnya ia ingin menjelaskannya nanti namun karena wanita itu sudah penasaran. Ia harus menjelaskannya sebelum wanita itu mengamuk.
"Aluna diberikan pilihan untuk lulus lebih awal atau tidak, yang tandanya sekitar lima bulan lagi Aluna di luluskan itupun jika aku setuju," jelas ayah Aluna singkat.
"Apa? Mengapa kau baru memberi tahu ku? Aluna ambil saja itu dan cepat masuk ke Universitas ternama," ujar ibu Aluna menggebu-gebu membuat Aluna menghela napas kasar.
Aluna hanya diam dan menunggu ayahnya kembali berbicara, meskipun ibunya menyetujuinya namun ayahnya belum berkata apapun. Jika pria paru baya tersebut tak setuju ia tak akan bisa lulus cepat namun jika setuju ia bisa terbebas dari para penyiksa itu.
"Aluna ayah setuju, tetapi ketika kau masuk Universitas masuklah ke jurusan Manajemen Bisnis. Kau akan melanjutkan perusahaan ku," jelas ayah Aluna setuju.
Aluna yang mendengar itu tersenyum dan bersyukur ayahnya menyetujui kelulusan cepatnya. Tak masalah jika ia harus masuk jurusan Manajemen bisnis toh menjadi seorang penulis tidak harus berkuliah di bidang sastra.
Ayah Aluna tertegun melihat senyum Aluna yang begitu manis. Sudah sangat lama pria itu tak melihat putrinya tersenyum dengan manis dan lembut. Mungkin mulai saat ini ia tak akan menuntut gadis itu untuk menuruti semua kemauannya.
"Aluna setelah ini ayah ingin mengobrol denganmu bisa?" ujar ayah Aluna lagi dan bertanya.
Aluna hanya mengangguk. Lalu ibu dan adiknya pergi dari ruang makan tentunya dengan tatapan sinis pada Aluna apalagi adiknya yang sangat tak menyukai keberhasilan dan pencapaian Aluna.
__ADS_1
Setelah kedua wanita itu pergi Aluna kembali menuangkan nasi ke piringnya dan kembali makan. Sejujurnya tadi ia mengambil makanan terlalu sedikit hingga membuatnya kembali lapar.
Ayah Aluna yang melihat itu tersenyum, sudah sangat jarang ia menghabiskan waktu berdua bersama Aluna. Ketika menatap wajah Aluna ayah kembali mengingat kata-kata Gama yang membuatnya sadar jika dirinya bukanlah ayah yang terbaik untuk Aluna namun ia tetap menginginkan yang terbaik untuk Aluna.
"Aluna, bagaimana kabarmu?" tanya ayah Aluna dengan lembut.
Aluna yang tengah makan dan mendengarkan suara ayahnya yang terkesan lembut menatap pria tersebut dan menaikan satu alisnya dan menjawab pertanyaan dari ayahnya itu.
"Seperti yang kau lihat, mengapa kau bertanya? Tumben," jawab Aluna dan balik bertanya kemudian kembali makan makanannya.
Ayah Aluna terdiam ketika mendengar ucapan Aluna tadi meski pelan ia masih dapat mendengarnya dengan jelas. Mungkin ia terlalu bodoh hingga sering menyakiti hati putrinya.
"Baiklah, ayah harap kau tak akan mengecewakan ayah ketika lomba besok. Jika tidak kau tahu konsekuensinya bukan?" ucap ayahnya lalu segera pergi dari ruang tamu.
Kata-kata sadar sepertinya hanya angan-angan saja. Aluna menghela napas berat ia tahu apa yang di maksud ayahnya karena dulu ia pernah kalah dalam lomba tidak lebih tepatnya ia mendapatkan peringkat ke dua dan ia mendapatkan hadiah oleh ayahnya.
"Semoga saja aku tidak mendapatkan peringkat kedua lagi," gumam Aluna dan menyelesaikannya makannya.
.
.
Aluna kembali ke kamar dan terkejut melihat siapa yang ada di atas ranjangnya dengan santai bermain handphone tanpa melepaskan sepatu. Siapa lagi jika bukan Gama yang seperti hantu kadang ada kadang menghilang.
Plakkk...
__ADS_1
Aluna melemparkan buku yang ada di meja tepat di samping ranjang dan tepat mengenai wajah Gama membuat laki-laki itu terkejut dan langsung terduduk sambil melihat wajah Aluna yang kesal sambil berkacak pinggang.
"Bisakah kau tidak mengagetkan ku? Terlebih bukankah sangat tidak sopan menyapa tamu dengan melemparkan buku?" tanya Gama menggaruk kepalanya tanpa rasa bersalah.
"Seharusnya aku yang bertanya, apakah sopan tamu langsung masuk ke kamar seorang gadis dan merebahkan diri di atas ranjang tanpa melepaskan sepatu hah?" marah Aluna pada Gama.
Sedangkan laki-laki itu hanya cengengesan saja. Aluna menghela napas, memang sepertinya Gama lah yang selalu membuatnya darah tinggi. Aluna menutup pintu kamarnya dan duduk di tempat belajarnya menatap Gama yang kembali fokus pada handphonenya.
"Hey, apakah kau tidak ada kerjaan dan harus datang ke tempatku?" tanya Aluna pada Gama yang asik dengan handphonenya.
"Eumm justru itu aku datang ke tempatmu, aku tak mau di suruh-suruh," jawab Gama dengan santai membuat Aluna melotot menatap laki-laki itu.
"Oh ya bagaimana apakah kau sudah memutuskannya?" tanya Gama lagi.
"Ya aku sudah memutuskannya, aku akan ikut kelulusan lebih awal dengan syarat aku harus mendapatkan juara satu di Lomba dan masuk ke Universitas jurusan manajemen bisnis," jawab Aluna, ayahnya memang tidak bilang jika ada syaratnya namun Aluna tahu jika ia tak menuruti itu ayahnya tak akan setuju.
"Benarkah? Sepertinya sebentar lagi aku tak akan memiliki teman sebangku lagi. Tapi kau akan mempublikasikan naskahmu bukan?" ujar Gama sedikit sedih dan mematikan handphonenya.
Aluna tersenyum mendengar ucapan Gama. Gadis itu menatap laki-laki yang tengah menatapnya juga. Aluna mengangguk, ya ia akan mempublikasikan karyanya namun entah darimana laki-laki itu tahu jika ia ingin mempublikasikan karyanya setelah ia lulus sekolah.
"Ya aku akan mempublikasikan naskah ku, tetapi bagaimana kau bisa tahu?" jawab Aluna dan bertanya.
"Aku hanya menebaknya saja hehe. Baguslah jika kau akan mempublikasikannya, ada naskahmu yang belum aku baca tahu," sahut Gama dengan senang.
Ya memang ada beberapa karya Aluna yang belum di baca olehnya, lebih tepatnya ia baru membaca dua naskah saja sisa naskahnya tak di perlihatkan oleh Aluna. Kata Aluna nanti saja ketika ia mempublikasikannya baru laki-laki itu boleh membacanya.
__ADS_1
Mereka berdua mengobrol hingga cukup lama. Namun setelah percakapan tadi mereka pindah ke balkon sambil memakan cemilan, mereka tak mau di dalam kamar berdua takutnya ada hal buruk terjadi atau Gama macam-macam pada Aluna, jika di balkon Aluna dapat mendorong laki-laki itu jatuh namun jika di kamar ia harus mendorongnya kemana?