Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)

Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)
Bab 16. Olimpiade.


__ADS_3

Satu bulan kemudian...


Satu bulan telah berlalu setelah kejadian itu. Kini tepat hari ini adalah hari pendaftaran Olimpiade, lebih tepatnya pendataan bagi para peserta yang akan mengikuti lomba.


Aluna tentu saja sudah didaftarkan dan di data ulang. Kepala sekolahnya selalu memprioritaskan dirinya karena dia adalah siswi yang cukup berprestasi di sekolahnya. Kini Aluna tengah fokus belajar sambil survei tempat yang akan menjadi ajang kompetisi lomba yang akan ia ikuti.


Selagi menunggu kepala sekolah yang tengah mempersiapkan nomor urutnya. Aluna hanya berjalan-jalan saja sambil sesekali melihat siapa yang akan menjadi pesaingnya.


Tak ada yang berubah sejak tahun lalu. Peserta lombanya tetap orang yang sama meski ada beberapa yang baru Aluna lihat. Aluna tak meremehkan mereka meski di setiap tahun Aluna selalu menang, Aluna selalu waspada pada para peserta lainnya yang semakin lama semakin pintar.


Aluna memperhatikan mereka yang juga tengah memperhatikannya namun hal itu tidak lama karena kepala sekolah telah selesai dengan urusannya dan mereka akan kembali ke sekolah.


.


.


Sesampainya di sekolah, Aluna kembali ke kelasnya yang sudah ada guru. Gadis itu masuk dan meminta izin untuk duduk kembali ke tempatnya. Setelah di izinkan Aluna kembali ke tempat duduknya.


Seperti biasa, Gama selalu tertidur ketika pelajaran. Aluna hanya bisa menggeleng melihat laki-laki itu. Daripada memikirkan Gama dan berakhir ia yang akan kena amarah guru lebih baik ia mengeluarkan buku pelajaran dan mendengarkan penjelasan dari guru yang ada di hadapannya.


Satu jam berlalu dan pelajaran telah selesai. Waktunya istirahat dan para siswa dan siswi mulai keluar dari kelas lalu langsung menuju ke kantin. Aluna juga hendak ke kantin namun tidak jadi karena di panggil oleh guru yang mengajarnya alias wali kelasnya.


"Aluna kemarilah," panggil Bu Mawar pada Aluna.


Aluna mengangguk lalu menghampiri guru itu. Bu Mawar menyuruh Aluna mengambil kursi dan menyuruhnya duduk di hadapannya. Ada hal yang cukup penting yang akan ia bicarakan pada Aluna. Mumpung keadaan tengah sepi dan hanya ada Gama saja yang tertidur pulas di mejanya.


"Ada apa ibu memanggil saya?" tanya Aluna dengan sopan.

__ADS_1


Guru tersebut tersenyum dan meraih tangan Aluna. Awalnya ia ragu untuk mengatakan itu, namun Aluna adalah anak yang pintar meluluskannya lebih cepat satu tahun dan membiarkan gadis itu masuk ke perguruan tinggi yang dapat menampung kepintarannya.


"Aluna, apakah kau memiliki cita-cita?" tanya Bu Mawar.


"Ada Bu, " jawab Aluna.


"Apa itu?"


Aluna yang mendengar itu merasa malu. Ia tak yakin untuk mengatakan apa cita-citanya pada gurunya. Meskipun ia tak tahu respon apa yang akan ia dapatkan ketika ia memberi tahu wali kelasnya itu.


"Cita-cita saya ingin menjadi penulis novel terkenal bu," jawab Aluna malu-malu.


Bu Mawar yang mendengar itu tersenyum. Ia memang sudah tahu sejak lama jika Aluna ingin menjadi seorang penulis ia dapat merasakan ambisi dari gadis itu.


"Raihlah cita-citamu itu nak, suatu saat nanti kau akan sukses dengan pilihanmu itu," ujar Bu Mawar merespon dengan positif.


"Iya Bu terimakasih," ucap Aluna berkaca-kaca.


"Bukan hanya itu yang ingin ibu katakan padamu. Aluna apakah kau mau lulus satu tahun lebih cepat?" ucap Bu Mawar dan bertanya.


Aluna yang terkejut mendengar ucapan dari Bu Mawar terdiam. Ia mengerti maksud dari Bu Mawar namun mengapa harus dirinya? Masih ada siswa yang lebih jenius dan pintar darinya.


"Apa maksudnya ya Bu?" tanya Aluna memastikan.


"Apa kau mau lompat kelas dan ikut ujian kelulusan sekolah lima bulan lagi? Ini surat resmi dari kepala sekolah dan berikanlah pada orang tuamu. Ibu tidak memaksamu lakukanlah sesuai keinginanmu dan atas persetujuan orang tuamu, jika setuju datanglah pada ibu lagi dan kita buat waktu untuk membahas itu dengan orang tuamu," jelas Bu Mawar sambil memberikan surat lalu pergi dari sana setelah mengelus kepala Aluna.


Gama yang mendengar obrolan mereka samar-samar kembali tidur karena mungkin itu tidak ada hubungannya dengan dirinya. Aluna terdiam kaku di depan meja guru.

__ADS_1


Lalu ia mengembalikan bangku yang ia gunakan untuk duduk lalu berjalan kembali ke tempat duduknya sambil memegang surat tersebut. Aluna masih bingung namun karena perutnya yang berbunyi membuatnya harus mengalihkan perhatian dan menyimpan surat tersebut di tasnya dan segera ke kantin untuk membeli makan siang.


Selama ia membeli makanan kali ini. Ia tak di ganggu sama sekali oleh geng Saskia. Lebih tepatnya setelah ancaman dari Gama mereka tak ada yang berani mendekati Aluna dalam waktu dekat ini.


Setelah membeli tiga bungkus nasi goreng Aluna kembali ke kelas yang ternyata sudah ada beberapa siswa yang makan di kelas. Aluna sangat baik bukan membelikan dua bungkus nasi goreng untuk Gama sedangkan laki-laki itu entah sudah bangun atau belum.


Aluna kembali ke tempat duduknya dan seperti yang ia duga. Gama masih tidur dengan pulasnya. Aluna menaruh nasi bungkus tersebut lalu mengeluarkan botol minumnya baru ia akan membangunkan Gama.


"Huftt, apakah dia tidak lelah tidur terus menerus?" gumam Aluna bertanya-tanya.


Aluna menggoyangkan lengan Gama agar laki-laki itu bangun. Namun sudah ia coba terus menerus laki-laki itu tak kunjung bangun membuat Aluna kesal dan berakhir mencipratkan air ke wajah Gama.


"Astaga hujan mengapa di kelas bisa hujan?" ucap Gama terbangun bingung dari mana datangnya air padahal mereka berada di dalam kelas.


Aluna yang melihat itu tertawa. Melihat wajah Gama yang panik juga bingung serta khas orang bangun tidur menurutnya lucu dan tertawa membuat Gama yang melihat Aluna kebingungan mengapa gadis itu tertawa sedangkan dirinya panik.


"Hahaha astaga kau Lucu sekali haha," tawa Aluna terbahak-bahak.


"Mengapa kau tertawa? Apakah ada yang lucu dan juga darimana datangnya air?" tanya Gama menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Ini," ujar Aluna santai sambil menunjukkan botol minumnya.


Gama yang melihat itu hanya bisa ternganga. Tak menyangka hujan yang menimpanya ternyata buatan Aluna. Gama menatap gadis itu kesal sedangkan Aluna justru mulai fokus dengan makanannya dan tak memperdulikan Gama.


"Jangan melihatku seperti itu, cepat makan makananmu. Oh ya jangan lupa mengganti uangku tiga bungkus sudah habis 25 ribu tahu!" ucap Aluna tanpa melihat ke arah Gama.


"Baiklah-baiklah terimakasih sudah membelikan ku makan. Aku akan mengganti uangmu nanti," sahut Gama dan memulai makan.

__ADS_1


Meski wajahnya terlihat masih mengantuk, siapa sih yang akan menolak makanan jika sudah ada di depan mata. Jadi gas aja tinggal makan soal uang itu bisa dibicarakan lagi nanti.


__ADS_2