Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)

Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)
Bab 15 Keterkejutan Ayah Aluna.


__ADS_3

Mereka berdua asik menonton film, meskipun tidak menyenangkan karena tidak sram. Ayah Aluna yang baru saja tiba di rumah mendapati seorang ojek online yang membawa pesanan makanan milik Aluna.


Karena itu milik Aluna, ayah Aluna mengambilnya kebetulan Aluna sudah membayarnya vie online. Ayah Aluna juga ingin tahu perkembangan nilai Aluna, jangan sampai nilainya turun dan peringkatnya tergantikan oleh orang lain.


Sedangkan Aluna dan Gama mereka berdua asik tanpa mereka tahu akan ada hal yang membuat masalah cukup besar. Bukannya untuk belajar bersama mereka berdua justru asik menonton film si kembar dua yang botak.


Mereka tertawa lepas kala dua karakter tersebut berbuat konyol. Meski mereka sudah dewasa, tak munafik jika mereka masih menyukai film tersebut. Ayah Aluna yang masuk ke dalam kamar Aluna terdiam karena terkejut mendengar suara laki-laki dari kamar putrinya.


Dengan emosi ayah Aluna menaruh makanan di atas meja nakas kamar Aluna dan menuju ke balkon kamar. Ia melihat Aluna dan Gama tengah tertawa membuatnya meradang karena di jam seperti ini Aluna seharusnya masih belajar namun kini di ganggu oleh Gama.


"Hey! Aluna mengapa kau tidak belajar dan malah membawa laki-laki ke dalam kamarmu?" bentak ayah Aluna murka.


Aluna dan Gama yang tengah asik menonton terkejut karena kedatangan ayah Aluna, sontak berdiri. Aluna ketakutan melihat kedatangan ayahnya yang sangat marah sedangkan Gama begitu santai menatap ayah Aluna.


Plak...


Satu tamparan melayang ke pipi Gama membuat Gama emosi namun masih dapat menahannya. Sedangkan Aluna yang melihat itu terkejut dan segera meminta maaf pada ayahnya.


"Ayah jangan, aku minta maaf. Aku janji tak akan mengulanginya lagi ayah ku mohon," Mohon Aluna.

__ADS_1


Sudah lama Aluna tidak mengucapkan kata itu pada ayahnya. Ia berkata seperti itu karena ia tak mau Gama ikut terjerumus dalam masalah keluarganya dan lebih baik ia mengalah demi kebaikan mereka berdua.


"Kamu masih berani membelanya hah?" Bentak ayah Aluna kembali dan hendak melayangkan tamparan untuk putrinya itu.


Aluna yang melihat itu bersiap untuk menerima tamparan keras dari ayahnya, toh ia juga sudah terbiasa di perlakuan seperti itu. Gama yang melihat itu tak terima sontak menghentikan tangan ayah Aluna membuat ayah Aluna menatap Gama dengan tajam namun dibalas dengan tatapan datar oleh Gama.


"Saya baru tahu, jika tuan Mahardika yang terhormat ternyata ringan tangan," ujar Gama dengan berani dan menghempas tangan ayah Aluna.


"Berani juga kamu ternyata," ucap ayah Aluna hendak memukul Gama namun terhenti karena ucapan dari remaja laki-laki itu.


"Om, jangan salahkan saya jika suatu hari nanti anda akan kehilangan putri anda. Salahkan diri anda karena bersikap pilih kasih dan kasar hanya pada satu anak. Suatu saat nanti anak yang Anda banggakan justru akan membawa bencana bagi keluargamu dan ketika itu terjadi, Aluna tidak ada hubungannya lagi dengan keluarga ini!" ujar Gama tegas membuat ayah Aluna mati kutu.


"Kau memangnya siapa berani berkata seperti itu? Putriku tidak akan meninggalkanku! Karena aku cinta pertama mereka," pungkas ayah Aluna pucat tak yakin dengan ucapannya sendiri.


"Ayah, itu mungkin dulu sebelum kalian semua berubah aku tak akan meninggalkan keluarga ini jika terjadi masalah namun sekarang berbeda, aku lebih baik pergi dan hidup sendiri dan mencari kebahagiaanku sendiri," sahut Aluna dingin tanpa menatap ayahnya.


Ayah Aluna yang mulai percaya diri melihat wajah Gama yang sedikit panik tiba-tiba terdiam tak menyangka dengan apa yang di ucapkan oleh putrinya.


"Apa maksudmu? Kau lebih memilih laki-laki itu dari pada keluarga mu sendiri? Apa kau bodoh? Aku sudah mengatur masa depanmu dan ini balasan mu untuk ku hah? Apa kau sud-

__ADS_1


"Cukup ayah! Kau mengatur hidupku! Semuanya kau atur hingga kau bahkan tak memperdulikan persetujuan dan perasaan ku! Aku ingin menggapai cita-cita ku untuk menjadi seorang penulis ayah! Aku tak suka bisnis!" Potong Aluna tak sabar dengan ucapan ayahnya.


Ayah Aluna terdiam. Ia benar-benar tidak bisa berkata-kata, selama ini tidak lebih tepatnya setelah kedatangan adik Aluna ia memang mengatur semua hidup Aluna tanpa mendapatkan persetujuan dari Aluna atau gadis itu suka atau tidak.


"Om, om sudah mendengarnya bukan? Jika om masih merasa diri anda sebagai ayah yang baik anda salah besar. Ada anak yang tersakiti di keluarga anda tanpa anda pedulikan apakah dia baik-baik saja atau tidak. Om dia hanya anak angkat mu, jangan hanya karena dia lebih pintar dari Aluna membuat om sampai lupa pada Aluna dan memaksanya untuk menjadi yang terbaik terus menerus.


"Asal om tahu, sebagian anak bunuh diri karena tidak kuat dengan kondisi keluarga mereka dan mencari ketenangan dengan cara melukai diri dan paling gila adalah bunuh diri. Pikirkan semuanya sebelum semuanya terlambat om," ujar Gama panjang lebar dan menarik Aluna yang sudah menangis kedalam pelukannya.


Ayah Aluna terdiam. Pikirannya kosong kala Gama membahas kondisi keluarga dan kondisi mental anak. Ayah Aluna menatap Aluna yang menangis tersedu-sedu di pelukan Gama namun ia masih dalam pendiriannya jika dirinya adalah yang terbaik dan ucapan dari remaja laki-laki itu salah.


"Ayah tak setuju dengan cita-cita sampahmu itu! Sebaiknya kau cepat pergi pengganggu," ujar ayah Aluna lalu segera pergi.


"Yang pengganggu itu kau,dasar gila," sahut Gama bersuara cukup keras dan masih dapat di dengar oleh ayah Aluna.


Gama memeluk Aluna dengan erat. Ia tahu Aluna sangat sakit hati akan ucapan ayahnya. Gama terbilang cukup berani mengatakan hal-hal itu pada ayah Aluna, tetapi jika ia tak bicara seperti itu ayah Aluna tak akan berpikir meski belum tentu setelah ia mengatakan itu ia berpikir.


"Sudahlah, jangan menangis lagi. Kejarlah cita-cita mu itu dan gapai kesuksesan dengan caramu sendiri! Kau berhak memilih jalan hidupmu sendiri. Aku mendukungmu," ujar Gama menenangkan Aluna.


Aluna hanya mengangguk saja. Ia masih betah dalam pelukan Gama. Sudah lama, sudah sangat lama tidak ada yang memeluknya dan menenangkannya seperti ini. Ia iri pada Gama yang memiliki keluarga yang harmoni namun ia tahu jika Gama juga memiliki masalah tersendiri dan belum tentu dari keluarga.

__ADS_1


"Aku ingin bertemu dengan keluargamu, sekali-kali merasakan kehangatan itu boleh kan?" ucap Aluna serak.


"Tentu, besok sore kau akan kubawa bertemu keluargaku," jawab Gama tersenyum mengelus kepala gadis itu dan di balas senyum merekah dari Aluna.


__ADS_2