Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)

Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)
Bab 13 Hari Yang Cerah


__ADS_3

Hari telah berganti. Matahari mulai muncul malu-malu dan menghangatkan seluruh dunia dengan pancaran cahayanya. Cahayanya yang terang masuk menyelinap ke kamar salah satu gadis yang masih tertidur melewati sela-sela gorden.


Aluna mengerjapkan matanya dan menatap ke arah jam dinding yang ada di kamarnya lalu segera bangun dari tidurnya. Ia meregangkan tubuhnya lalu bangkit dari atas ranjang untuk membersihkan diri dan bersiap untuk berangkat ke sekolah.


Sebelum mandi Aluna mempersiapkan pakaian yang akan ia kenakan hari ini. Hari baru menunjukkan pukul enam pagi dan Aluna sudah hampir siap untuk ke sekolah. Sudah menjadi kebiasaannya berangkat pada pukul enam pagi.


Setelah semuanya selesai, Aluna segera masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri. Tidak perlu membutuhkan waktu yang lama bagi Aluna untuk membersihkan diri. Setelah mandi Aluna segera memakai seragamnya dan turun untuk mengambil sarapannya.


Aluna tidak akan sarapan bersama dengan keluarganya, ia memilih untuk membawanya sebagai bekal dan di makan ketika sudah sampai di kelas nanti.


Aluna menuruni tangga dan langsung ke dapur mengambil kotak bekalnya. Ibu Aluna meski kejam ia tetap mempersiapkan bekal sarapan Aluna. Kedua orang tua Aluna dan adik tirinya tidak Memperdulikan kehadiran Aluna. Aluna pun tak peduli dan memilih untuk pergi, sebelum pergi ia hanya berpamitan dengan mengucap salam.


Setelah itu ia segera keluar dari rumah dan menuju ke gang depan dimana angkot dengan tujuan searah sekolahnya ada. Aluna memilih untuk naik angkot karena memang lebih nyaman naik kendaraan umum daripada harus bersama ayahnya di satu mobil yang sama.


"Tumben angkot belum ada yang lewat," gumam Aluna sambil melihat kejam tangannya.


Aluna menunggu angkot didepan gang bersama beberapa ibu-ibu dan anak sekolahan yang memang sudah rutinitas naik kendaraan umum. Ketika ia tengah menunggu angkot, sebuah motor berhenti tepat di hadapannya laku menyodorkan helm padanya membuat Aluna kebingungan.


"Apa maksudnya?" tanya Aluna masih belum sadar jika yang menyodorkan helm adalah Gama.


Gama menghela napas melihat kebingungan Aluna. Lalu ia segera membuka helm miliknya membuat Aluna segera menerima helm pemberian laki-laki itu sambil cengengesan tidak jelas.


"Hehe ku kira siapa, ternyata kau Tara," kekeh Aluna.


"Sudah cepat naik, nanti keburu padat jalanan," sahut Gama kembali menggunakan helmnya.


Aluna mengangguk lalu ia segera menggunakan helm dan menaiki motor Gama. Gama bangun pagi demi bisa berangkat bersama Aluna, ketika ia sampai di rumah Aluna kedua orang tua Aluna bilang jika Aluna sudah berangkat beruntung Gama masih dapat bertemu Aluna yang masih menunggu angkutan umum.


Setelah memastikan Aluna sudah benar-benar naik, Gama mulai menjalankan motornya. Selama perjalanan menuju ke sekolah tidak ada yang berbicara sama sekali, hanya terdengar suara deruman dari kendaraan yang lewat.


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka sampai di sekolah. Karena jalanan yang masih sepi dan Gama membawa motor dengan kecepatan rata-rata jadi mereka datang sesuai perkiraan Aluna.


Gama memarkirkan motor dan Aluna turun dari motor sambil melepaskan helmnya. Setelah terlepas ia memberikan helm itu pada sang pemilik. Setelah itu mereka berjalan bersama menuju ke kelas.


Koridor sekolah masih sepi, karena yang datang masih sedikit. Beberapa kali Gama terlihat menguap, Aluna hanya menggeleng saja. Ketika tengah berjalan menuju ke kelas perut Aluna berbunyi karena lapar. Karena keadaan sepi suaranya terdengar begitu keras.


Kriukk... Kriukk... Kriukk.


"Astaga," ujar Gama terkejut menatap Aluna yang cengengesan.


"Hehe aku lapar belum sarapan," tawa Aluna malu.


Gama yang setengah mengantuk mendengar itu tertawa terbahak-bahak. Itu kejadian yang cukup memalukan namun menggelikan. Aluna yang mendengar Gama tertawa terbahak-bahak segera pergi meninggalkan Gama dengan keadaan wajah yang memerah merona karena malu.


"Hey tunggu aku," panggil Gama setelah menghentikan tawanya dan menyadari Aluna sudah tidak ada di sampingnya.

__ADS_1


Gama sedikit berlari untuk mengejar Aluna yang sudah masuk ke dalam kelas. Aluna sudah duduk di tempat mejanya dan melihat masih ada bekas darah kemarin. Kening Aluna masih diplester namun kedua orang tuanya tidak ada yang menyadari itu sama sekali.


"Hey jangan marah, maafkan aku," ujar Gama setelah berhasil menyusul Aluna dan duduk di samping gadis itu.


Aluna tidak menggubris laki-laki itu dan memilih untuk memakan sarapannya. Ia sangat lapar karena semalam ia tidak makan, beruntung ibunya sedang baik hati membuatkan makanan yang cukup berat untuk sarapannya.


"Pagi-pagi sudah makan berat, apakah kau tidak sakit perut huh?" tanya Gama tak habis pikir dengan Aluna.


"Aku lapar dari semalam belum makan," sahut Aluna dan fokus pada makanannya.


Gama yang mendengar itu menoleh. Aluna tidak makan malam? Mengapa? Seharusnya gadis itu menjaga pola makannya agar tetap sehat meski ia tahu jika Aluna sudah tidak suka mau bagaimanapun tetap tidak akan suka, seperti pengamatannya beberapa waktu ini.


"Kenapa kau tidak makan malam?" tanya Gama penasaran.


"Tidur," jawab Aluna singkat padat dan jelas.


Gama yang mendengar itu ternganga. Benar-baner membuat orang terkejut, padahal belum begitu malam sudah tidur? Apakah dia *****? Nempel dikit langsung molor?


Gama tak mau mengganggu Aluna lagi lalu ia mengeluarkan vape dari saku seragamnya. Gama memang perokok namun beberapa minggu ini sudah ganti menjadi vape karena terkena omel sang ibu jadinya ia menggantinya.


Aluna yang sudah selesai makan terkejut melihat Gama dengan santainya ngvape di dalam kelas. Aluna makan dengan kilat karena lapar jadi tidak membutuhkan waktu lama ia sudah menghabiskan makanannya.


Aluna merampas vape ditangan Gama membuat laki-laki itu yang tengah santai ikut terkejut. Aluna menggeleng dan memperingatkan laki-laki itu agar tidak merokok dan sebagainya di dalam kelas.


"Apakah kau ingin masuk BK? Sebaiknya jangan ngevape di sekolah. Lakukan itu ketika pulang sekolah nanti," peringat Aluna dan menaruh vape tersebut ke saku seragamnya.


Aluna memutar bola matanya. Sepertinya nyawa dan otak Gama masih tertinggal di atas ranjang makanya melantur kemana-mana. Gama yang kesal karena vapenya diambil oleh Aluna terus merengek dan mencibir agar Aluna mengembalikan vape miliknya. Sayangnya Aluna menutup kedua telinganya dan memilih membuka buku miliknya.


Tidak lama kemudian para murid mulai berdatangan, kelas pun yang tadinya sepi kini perlahan-lahan ramai. Gama yang kesal memasang wajah datar, ia tengah ngambek pada Aluna meski Aluna tidak peduli akan itu.


"Dimana gadis itu?" tanya Gama tiba-tiba sambil memperhatikan para gadis yang masuk kelas.


Aluna yang tahu maksud Gama hanya melirik laki-laki itu enggan untuk menjawab. Ya biasanya tidak lama setelah Aluna datang, Saskia pasti datang tidak lama kemudian. Namun kali ini kelas sudah ramai dan jam pelajaran sebentar lagi dimulai namun gadis itu belum juga datang.


"Mungkin takut akan ancaman ku kemarin? Atau ini salah satu dari rencananya?" gumam Gama bertanya-tanya entah pada siapa.


"Biarkan saja. Jika dia tidak masuk hari ini adalah hari bahagiaku," sahut Aluna tiba-tiba setelah lama diam.


Gama menoleh melihat Aluna setelah gadis itu berkata seperti itu. Benar juga, karena Saskia kehidupan Aluna semakin berantakan. Gama tersenyum lalu menaruh kepalanya di atas meja dan melanjutkan tidur padahal bel masuk sekolah sudah berbunyi.


Aluna yang melihat itu hanya menggeleng. Sepertinya hari ini guru akan datang telat, karena sudah waktunya jam pelajaran namun belum ada guru yang datang ke kelas.


Ketika satu kelas merasa senang karena guru tidak datang. Ketua kelas datang dan memberitahu jika ada rapat para dewan guru membuat para guru di jam pelajaran pertama dan kedua tidak datang namun tetap memberikan tugas pada mereka.


"Hey dengarkan aku semuanya!" teriak Ketua kelas.

__ADS_1


Semuanya yang tadinya berisik menjadi hening dan terfokus pada Ketua kelas mereka dan mendengarkan informasi apa yang akan disampaikan oleh ketua kelas tersebut.


"Hari ini ada rapat dewan guru dan di mata pelajaran pertama dan kedua guru tidak akan masuk namun mereka memberikan tugas. Untuk tugasnya akan aku tuliskan di papan tulis," jelas Ketua kelas memberikan informasi pada mereka.


Seketika kelas yang sepi mendadak sangat ramai karena sekitar dua jam lebih mereka akan jam kosong. Aluna yang mendengar itu sedikit kesal karena kelas akan sangat berisik namun bersyukur setidaknya ia bisa kembali tidur.


Setelah melihat tugas yang diberikan oleh guru. Aluna segera mengerjakannya agar tidak menunda dan berakhir ia lupa mengerjakan tugas tersebut. Setelah menyelesaikan tugas yang di berikan, Aluna kembali menyimpan peralatan belajarnya dan menaruh kepalanya di atas meja lalu ikut tertidur.


.


.


Bell istirahat kedua sudah berbunyi lima menit yang lalu. Gama sudah bangun lebih dulu dari Aluna dan ia sudah ke kantin lebih dulu membeli makan dan membawanya ke kelas. Tidak lupa Gama juga membelikan makan untuk Aluna karena jika menunggu gadis itu bangun akan lama mungkin hingga bel masuk.


Gama kembali dari kantin dan melihat Aluna yang belum juga bangun. Gama menghela napas lalu menaruh makanan yang ia beli di atas meja dan membangunkan Aluna.


"Hey kebo! Cepat bangun, aku sudah membelikan mu nasi goreng," ucap Gama membangunkan Aluna sambil menggoyangkan lengan gadis itu.


"Enguh, " Lenguh Aluna dan meregangkan otot-ototnya.


Gama yang melihat itu hanya bisa menggeleng tak habis pikir. Aluna bangun dan melihat jam yang ternyata sudah masuk ke istirahat ke dua. Aluna melihat tiga bungkus nasi goreng dan dua botol air mineral. Aluna menatap Gama yang sudah makan lebih dulu.


"Dua bungkus lagi punya siapa?" tanya Aluna membuka salah satu bungkus nasi goreng itu.


"Aku," jawab Gama singkat.


Aluna melotot tak habis pikir akan porsi makan Gama yang bak kuli. Padahal kerjaannya hanya tidur saja, tiga bungkus nasi goreng akan dihabiskan laki-laki itu sendiri? Sungguh diluar dugaan Aluna.


"Kau yakin akan habis sendiri?" tanya Aluna di sela-sela makannya.


"Iya aku bisa menghabiskannya, tapi yang satu untuk nanti," jawab Gama sambil membuka bungkus nasi yang ke dua.


Aluna menggeleng mendengar jawaban Gama. Lalu diantara mereka tak ada yang berbicara lagi, karena mereka fokus dengan nasi mereka masing-masing.


Tidak lama kemudian makanan mereka sudah habis bertepatan dengan bel masuk kelas dan di ikuti oleh guru yang masuk. Kelas yang awalnya ramai kini menjadi hening.


"Baiklah anak-anak buka buku kalian di bab 4," ujar guru tersebut.


Semua murid segera membuka buku mereka sesuai nata pelajaran, jika mereka tak membuka buku. Guru yang tengah mengajar salah satu guru kiler disekolah mereka dan tak ada yang berani membantah atau melawan.


Guru tersebut sudah mulai menjelaskan dan semua murid mendengarkan. Namun tidak untuk Gama, laki-laki itu justru kembali makan nasi goreng yang tersisa beruntung guru tersebut tidak menyadarinya. Jika menyadarinya mungkin saat itu juga Gama di suruh keluar kelas dan tak di izinkan masuk dalam pelajarannya lagi.


Satu jam berlalu dan pelajaran guru tersebut telah selesai. Setelah memberikan tugas yang aka di kumpulkan minggu depan guru tersebut keluar. Aluna yang geram pada Gama yang hanya tidur dan makan selama pelajaran memukul kepala laki-laki itu pelan.


Plak..

__ADS_1


"Ashh mengapa kau memukulku?" tanya Gama kesal sambil memegang kepalanya yang habis di pukul oleh Aluna.


__ADS_2