Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)

Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)
Bab 17. Lompat Kelas?


__ADS_3

Setelah menyelesaikan makan siang mereka dan bertepatan bel masuk telat berbunyi. Aluna dan Gama segera membereskan mejanya. Tidak lama kemudian guru yang mengajar masuk ke dalam kelas dan hanya memberikan tugas karena para dewan guru akan mengadakan rapat.


Semua siswa dan siswi dikelas Aluna bersorak kegirangan. Tidak ada guru yang artinya jam kosong membuat mereka senang meski harus mengerjakan tugas.


Aluna yang memang dasarnya pintar dan selalu menghargai waktu. Aluna segera mengerjakan tugasnya, sedangkan Gama hanya memperhatikan gadis itu sambil bersandar pada kursi yang ia duduki.


Saskia sejak tadi terus memperhatikan mereka namun tak berani menghampiri karena mengingat tatapan Gama yang menyeramkan bahkan jauh menyeramkan daripada tatapan kepala sekolah pada mereka.


"Luna. Apa yang dibicarakan oleh Bu Mawar tadi?" tanya Gama sambil memejamkan mata.


Aluna yang tengah fokus pada tugasnya terhenti dan terdiam. Ia belum memikirkannya namun jika ia setuju impiannya jauh lebih cepat terwujud karena ia akan mempublikasikan karyanya di platform online untuk mencari pembaca batu ia terbitkan menjadi buku setelah ia lulus sekolah.


"Tentang lompat kelas," jawab Aluna seadanya.


Gama terdiam. Itu kesempatan bagus untuk Aluna namun jika Aluna lulus lebih dulu bagaimana dengan dirinya? Terlebih ia baru mau mendekati Aluna baru-baru ini. Jika Aluna lulus bukankah ia justru akan jarang bertemu?


"Apa jawabanmu?" tanya Gama lagi.


"Entahlah aku masih memikirkannya, lagi pula jika aku mau belum tentu kedua orang tuaku setuju," jawab Aluna.


"Sayang jika kau menolaknya. Tapi jika kau menolaknya kesempatan untuk mendekatimu akan jauh lebih banyak hehe," tawa Gama yang hanya disambut pukulan ringan dari Aluna.


Ya sejak satu bulan yang lalu. Gama mengatakan jika laki-laki itu ingin mendekatinya tanpa mau memaksa gadis itu. Yang di katakan Gama benar jika ia lulus lebih awal laki-laki itu akan kekurangan kesempatan mendekatinya lebih jauh lagi.


.


.

__ADS_1


Waktu berlalu begitu cepat dan kini waktunya pulang sekolah telah tiba. Satu persatu murid-murid mulai berhamburan keluar kelas dan pulang ke rumah masing-masing begitu juga dengan Aluna dan Gama.


Aluna dan Gama selalu pulang terakhir karena tidak mau berdesakan ketika pulang. Kali ini Saskia juga pulang terakhir sepertinya ia ingin mengobrol dengan Aluna.


Gama yang tahu niat jahat Saskia lebih dulu menghentikan gadis itu dengan tatapan tajamnya membuat Saskia tak berani menghampiri mereka dengan wajah kesal dan tangan yang mengepal keras.


"Cih. Awas saja kau Aluna!" batin Saskia kesal.


Aluna dan Gama keluar kelas lebih dulu dan langsung menuju ke parkiran. Sudah sebulan Aluna selalu pulang bersama Gama. Hitung-hitung hemat ongkos.


Sesampainya di parkiran Aluna menghela napas kasar dan menarik perhatian Gama. Aluna melihat ke arah Saskia yang berjalan bersama kekasihnya. Ya Saskia memang sudah memiliki kekasih namun hanya untuk mainannya saja dan ia masih mengincar Gama.


"Jangan dilihat lagi, cepat pakai helmnya dan kita segera pulang. Sudah mau hujan," ujar Gama menghamburkan lamunan Aluna.


Aluna segera memakai helmnya dan melihat ke atas langit. Benar saja yang dikatakan oleh Gama, langit sudah gelap tandanya sebentar lagi langit menangis membasahi bumi.


Aluna naik ke atas motor Gama. Setelah memastikan jika gadis itu sudah benar-benar duduk Gama segera menjalankan motornya langsung menuju ke rumah Aluna.


"Terimakasih Gama. Hati-hati ya," ujar Aluna tersenyum.


"Iya sama-sama. Lagi pula ngapain hati-hati di samping rumah mu kan rumahku haha," tawa Gama membuat Aluna ikut tersenyum lalu ia segera pulang karena hujan mulai turun.


Aluna segera masuk ke dalam rumah. Sebelum masuk ia melepaskan sepatunya dulu dan ia bawa ke kamar. Aluna masuk ke dalam rumah dan mendapati ayahnya yang ternyata sudah berada di rumah.


Semenjak kejadian itu, ayah Aluna membiarkan Aluna berhubungan dengan Gama dengan satu syarat tidak mengganggu pelajaran Aluna. Aluna teringat surat yang di berikan oleh wali kelasnya.


Sebelum ia menuju ke kamar. Aluna menghampiri ayahnya yang tengah membaca koran di temani kopi di sofa ruang tamu. Aluna duduk di hadapan ayahnya sambil mengeluarkan surat.

__ADS_1


"Ayah, ini ada surat dari wali kelasku," ujar Aluna sambil menyodorkan surat tersebut pada ayahnya.


Ayah Aluna mendongak menatap surat itu lalu mengambilnya tanpa berkata-kata. Ia membaca judul surat itu. Awalnya ingin memarahi Aluna namun tidak jadi, ayah Aluna menatap Aluna dan berkata.


"Kita bicarakan ini setelah makan malam nanti. Kau ikutlah makan malam bersama," ujar ayahnya membuat Aluna bingung namun tetap mengangguk.


"Baiklah,"


Setelah mengatakan itu Aluna segera membawa sepatunya naik ke atas menuju kamarnya. Hujan sudah turun dengan lebat dan rasanya menjadi panas bukan menjadi dingin karena cuaca yang awalnya panas tiba-tiba hujan.


Sesampainya Aluna dikamar ia masih bertanya-tanya mengapa ayahnya kembali mengajaknya makan malam bersama setelah beberapa tahun terakhir tidak memperdulikannya. Aluna menepis pikiran itu terlebih dahulu dan langsung menuju ke kamar mandi.


"Biarkanlah, aku harus memikirkan apakah memilih untuk setuju lulus lebih awal atau tidak," gumam Aluna dan masuk ke dalam kamar mandi.


Sesampainya dikamar mandi Aluna melucuti seluruh pakaiannya dan masuk ke dalam bilik shower. Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Aluna mandi kini ia telah selesai dan menggunakan pakaian tidurnya.


Masih ada waktu sebelum makan malam. Aluna memilih untuk mempelajari materi yang akan keluar besok untuk lomba, ia harus mengeluarkan seluruh kemampuannya besok jangan sampai mengecewakan guru yang sudah berharap padanya.


Dua jam berlalu Aluna berjalan keluar kamar setelah menyelesaikan belajarnya dan langsung menuju ke dapur karena makan malam akan di lakukan.


Sesampainya Aluna di dapur. Surat terdapat orang tuanya dan adiknya yang sudah makan lebih dulu. Adiknya menatap tidak suka melihat Kedatangan Aluna ia hendak protes namun ditatap tajam oleh ayahnya membuatnya mengurungkan niat protesnya.


Aluna yang melihat itu acuh tak acuh. Ia memilih mengambil makanannya dan mulai makan karena perutnya yang sudah lapar juga. Memang mereka makan bersama hanya saja meja makan itu tetap terasa dingin bagi Aluna.


Setelah selesai makan. Ayah Aluna bertanya tentang perkembangan lomba Aluna. Aluna hanya menjawab seadanya saja lalu mereka mengubah topik ke tentang kelulusan awal bagi Aluna.


"Aluna bagaimana perkembangan Olimpiade mu?" tanya ayahnya tanpa ekspresi.

__ADS_1


"Sejauh ini lancar," jawab Aluna singkat.


"Apa kau sudah memikirkannya Aluna?" tanya ayahnya. Aluna tahu maksud dari ucapan ayahnya namun ibu dan adiknya tak mengerti sama sekali mungkin karena tak di beri tahu oleh ayahnya.


__ADS_2