Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)

Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)
Bab 14 Sifat tidak peduli Gama


__ADS_3

"Ashh mengapa kau memukulku?" tanya Gama kesal sambil memegang kepalanya yang habis di pukul oleh Aluna.


"Kerjaan mu hanya tidur dan makan, apa kau tidak takut jika nilaimu di kosongkan di mapel ini?" Ujar Aluna dan bertanya.


Gama menggaruk kepalanya seakan-akan tengah berpikir. Lalu dengan entengnya ia menjawab tidak pada Aluna dan kembali menelungkupkan wajahnya pada meja dan tidur.


"Tidak," jawabnya santai.


Aluna yang mendengar itu tak habis pikir. Ia tahu jika orang tuanya Gama tidak seperti orang tuanya, setidaknya mendapatkan nilai yang sempurna dapat membanggakan diri sendiri dan orang terdekat.


Tak mau memikirkan hal itu lagi, Aluna memilih untuk mengeluarkan buku mapel terakhir hari ini karena gurunya sudah datang dan menyuruh mereka membuka buku dan membacanya.


Setelah mereka membaca beberapa bab, guru tersebut mulai menjelaskan pelajaran mapel tersebut namun ketika sedang menjelaskan ia berhenti karena melihat Gama yang tertidur ketika jam pelajaran tengah berlangsung. Aluna yang tahu tatapan dari guru itu dan segera membangunkan Gama.


"Tara hey! Taraaa cepat bangun kau terus di perhatikan oleh guru, " Ucap Aluna membangunkan Gama.


Gama terganggu oleh Aluna lalu bangun. Ia menatap Aluna dengan kesal dan menyadari jika dirinya tengah di tatap sengit oleh guru yang tengah menjelaskan. Setelah memastikan Gama memperhatikan dirinya yang tengah menjelaskan.


"Hey cuci muka sana," tegur Aluna yang melihat Gama kembali menguap.


"Tak mau, lagi pula sebentar lagi pulang," sahut Gama tak peduli.


Aluna baru kali ini melihat Gama cuek. Ternyata laki-laki itu memiliki sifat yang seperti itu juga. Ia pikir laki-laki itu ceria dan tak ada sisi cueknya ternyata ia salah.


Setengah jam berlalu bel pulang sekolah sudah berbunyi guru telah selesai menjelaskan dan keluar dari kelas. Para murid berbondong-bondong keluar kelas untuk segera pulang.


Aluna telah membereskan peralatan belajarnya sedangkan Gama tiba-tiba menyender pada Aluna dan kembali memejamkan mata. Entah laki-laki itu tidur atau tidak semalam makanya hari ini kerjaannya hanya tidur dan makan.


Aluna baru ingat jika ia memegang vape milik laki-laki itu. Aluna mengambilnya dari saku seragamnya dan memasukannya ke saku seragamnya Gama. Gama yang merasa Aluna menaruh sesuatu di sakunya memeriksa dan tahu Aluna mengembalikan vape miliknya.


"Mau ke danau lagi tidak?" tanya Aluna pada Gama.


"Kenapa? Kau mau kesana?" bukannya menjawab Gama justru balik bertanya dengan cuek.

__ADS_1


Aluna yang mendengar itu merasa kesal. Ia hendak mencairkan suasana karena mungkin laki-laki itu kesal Karena di bangunkan ketika tidur. Karena mendapatkan jawaban seperti itu Aluna tak bertanya lagi lalu segera bangkit dari duduknya membuat Gama yang menyender mau tidak mau duduk dengan tegak.


Tanpa mengucapkan selatan katapun Aluna segera pergi dari kelas dan langsung pulang. Gama yang melihat itu sedikit merasa bersalah namun suasana hatinya sedang tidak baik. Sebaiknya seperti ini saja dulu membiarkan hadis itu tenang dan dirinya tidak ngantuk dan mager.


"Huh, nanti sore aku datang saja lewat balkon. Sambil membawakan apa ya untuknya?" gumam Gama bertanya entah pada siapa dan pulang ke rumah.


Aluna dan Gama tidak pulang bersama, saat Gama keluar dari sekolah ia sudah tidak melihat Aluna. Ia berpikir jika Aluna sudah menaiki angkutan umum dan pulang ke rumah.


.


.


Aluna baru saja selesai mandi. Ia baru selesai mengerjakan tugas dan belajar setelah itu langsung mandi. Ketika ia tengah mengeringkan rambutnya tiba-tiba ada suara ketukan dari arah balkon.


Aluna yang bingung tak mau menghampiri ke balkon dan mencoba untuk mengabaikannya, ia takut jika itu seorang pencuri atau penjahat, bisa bahaya jika kamarnya kemalingan.


Ketukan itu tak berhenti membuat Aluna semakin ketakutan. Sedangkan Gama yang terus mengetuk pintu balkon Aluna lama kelamaan pegal karena gadis itu tak kunjung membuka pintu, padahal ia sudah membawa sekotak roti asal Italia ya pizza dan seblak di tangannya untuk mereka makan bersama oh ya tidak lupa es cekek seribuan ia juga membelinya.


"Hey Aluna, ini aku. Cepat buka pintunya aku membawa seblak untukmu," teriak Gama kehilangan kesabarannya.


Aluna berjalan menuju balkon dan membuka pintu balkon. Pertama kali yang ia lihat adalah wajah Gama yang kesal karena fak kunjung di bukakan oleh Aluna.


"Mengapa harus lewat balkon kalau pintu depan saja ada?" tanya Aluna tak habis pikir.


"Jika lewat depan belum tentu bisa masuk kamarmu, lagipula aku tak mau bertemu adikmu itu. Berwajah dua," jawab Gama cuek.


Aluna yang mendengar itu tertawa. Lalu menawarkan Gama untuk makan bersama di dalam kamarnya atau di balkon, kebetulan ia baru saja membersihkan kamarnya dan juga balkon kamar.


"Haha kau tahu dia berwajah dua bukan? Sungguh memuakkan. Mau makan di dalam atau di sini saja?" tanya Aluna tertawa.


"Di sini saja, aku tak enak jika di dalam," jawab Gama dan duduk lesehan.


"Baiklah, aku ambil mangkuk dan gelas dulu kau tunggu di sini," sahut Aluna.

__ADS_1


"Oh ya bawa laptop mu juga, kita nonton horor," ucap Gama dan di beri acungan jempol Aluna.


Aluna kembali masuk ke dalam kamar dan mengambil dua mangkuk dan gelas. Kamar Aluna terdapat rak piring karena ia biasa makan di kamar. Tidak lebih tepatnya ia suka membeli bakso dan seblak lalu memakannya dikamar dan bekas piring serta mangkuk tidak ia kembalikan ke dapur.


Aluna kembali ke balkon membawa mangkuk dan gelas lalu memberikannya pada Gama. Sedangkan ia kembali masuk untuk mengambil meja kecil dan laptop miliknya. Selagi Aluna mengambil laptop Gama menuangkan es cekek pada gelas dan seblak ke mangkuk.


Aluna kembali ke balkon dan memberikan laptop pada Gama membiarkan laki-laki itu yang memilih film horor apa yang akan mereka tonton.


"Kau suka pedas juga Tara? " tanya Aluna yang melihat mangkuk seblak Gama cukup merah.


"Yapss, kalau tidak pedas tidak enak. Oh ya kita nonton kuntilanak 3 saja bagaimana?" jawab Gama dan bertanya.


"Benar, kalau tidak pedas tidak enak. Baiklah tak apa meski menurutku kuntilanak tidak begitu menyeramkan, " sahut Aluna dengan entengnya.


Mereka akhirnya memilih untuk menonton film tersebut sambil makan seblak. Selama menonton mereka menikmatinya meski memang tidak se menyeramkan yang diceritakan oleh orang-orang. Mereka menonton seperti menonton film biasa saja.


Seblak sudah habis di makan oleh mereka dan kini roti dari Italia itu mulai dimakan. Sekitar satu jam film itu di putar dan membuat mereka sedikit bosan padahal sudah horor namun masih tetap biasa saja.


"Apa tak ada film yang lebih menyeramkan lagi?" tanya Aluna pada Gama.


"Entahlah aku juga bingung, mau nonton The Doll 3?" sahut Gama bertanya.


Aluna menggeleng. Film itu menurutnya juga biasa-biasa saja, karena mereka bingung berakhir muter-muter di channel tersebut mencari film yang menyenangkan.


Saking bosannya mereka sampai kehabisan cemilan. Ketika mereka sadar mereka kembali bingung harus makan apa, lalu karena tadi Gama sudah mentraktirnya sekarang gantian Aluna yang mentraktirnya.


"Beli makanan online saja lah ya, kau mau apa? " tawar Aluna pada Gama.


"Es cendol enak, sama bakso mercon boleh," sahut Gama.


"Oke, aku pesankan dulu," ucap Aluna dan mulai mengotak-atik handphonenya untuk memesan makanan. Selagi menunggu pesanan mereka sampai, Aluna sedikit bertanya mengapa Gama cuek saja pada nilainya.


"Tara, mengapa kau begitu cuek pada nilaimu?" tanya Aluna penasaran.

__ADS_1


"Eumm aku tidak peduli karena mau aku belajar atau tidak itu niat dariku. Jika aku menginginkan nilaiku bagus aku akan mengejarnya jika tidak ya aku akan bersikap santai, toh nilai bukan segalanya melainkan usaha lah yang paling utama," jawab Gama dengan tenang.


Aluna yang mendengar itu tersenyum, ya kini ia tahu karakter sebenarnya dari Gama meski masih ada banyak hal yang belum ia ketahui tentang laki-laki itu. Tapi menurutnya sudah mengenal Gama seperti ini saja sudah cukup baginya.


__ADS_2