Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)

Aluna Syahira Mahardika (Rumah atau hanya sekedar RUMAH?)
Bab 19. Hari H Olimpiade.


__ADS_3

Hari kini silih berganti, matahari muncul dengan malu-malu dan menyinari seluruh dunia secara perlahan dan menghantarkan hangatnya melalui cahayanya. Cahayanya yang terang masuk ke dalam kamar seorang gadis melalui sela-sela gorden yang tengah bersiap di depan cermin.


Gadis tersebut telah bersiap untuk menuju ke tempat lomba. Aluna sudah siap dan tengah mengecek ulang tasnya takut jika buku yang akan ia pelajari tertinggal terlebih hari ini adalah hari Olimpiade dan sangat penting baginya.


Setelah memastikan jika barang-barangnya tidak ada yang tertinggal. Ia segera turun dan sarapan bersama keluarganya, seperti biasa setiap ia akan Olimpiade ayahnya lah yang akan mengantarkannya ke tempat tujuan di mana ia lomba.


Aluna bergabung dengan yang lainnya dan segera memakan sarapannya. Ia tidak peduli dengan yang lain dan memilih untuk menghabiskan makanannya meski ia terus di tatap sinis oleh adiknya.


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka untuk menyelesaikan makan mereka. Aluna yang sudah selesai hendak bangkit dari duduknya namun di hentikan oleh sang ibu.


"Aluna, kau harus mendapatkan juara satu kali ini! Jangan sampai kau tidak bisa mendapatkannya, lihat adikmu yang selalu mendapatkan juara satu contoh dia! Sebagai kaka seharusnya kau malu terhadap adikmu sendiri!" sarkas sang ibu sambil mengelus kepala Adira adik tiri Aluna.


Aluna hanya menghela napas sambil memutar bola matanya. Lalu ia segera pergi dari ruang makan daripada ia harus terus mendengar ucapan ibunya yang menyakitkan, meski ia sudah terbiasa tetap saja rasanya tetap sakit.


Aluna memakai sepatunya di luar sambil menunggu ayahnya. Setelah memakai sepatunya bertepatan ayah Aluna keluar bersama Adira. Ayah Aluna segera mengeluarkan mobil dan menyuruh kedua anaknya untuk masuk ke dalam mobil.


Seperti biasa Aluna duduk di belakang, bukan karena apa. Ia lebih suka di belakang meskipun pada awalnya ayahnya selalu menolak duduk di sampingnya. Setelah naik mobil, mobil pun perlahan-lahan berjalan dan meninggalkan kediaman Mahardika.


"Olimpiade kali ini tempatnya berbeda, karena sekolah Adira lebih dekat ayah antarkan Adira dulu," ujar ayah Aluna menatap Aluna lewat kaca spion.


Aluna tak menjawab, ia hanya fokus pada buku yang ia pegang. Selagi menuju di perjalanan menuju ke tempat ia lomba Aluna membaca ulang dan mempelajarinya agar nanti ia tak salah dalam menjawab soal.


Tidak lama kemudian mereka sampai di sekolah Adira. Adira dan Aluna bersekolah di tempat yang berbeda, lebih tepatnya Adira sekolah di sekolah internasional sedangkan dirinya hanya sekolah ternama biasa.


Setelah mengantarkan Adira mereka segera menuju ke tempat Olimpiade Aluna. Kebetulan Olimpiade dimulai pukul sepuluh namun para peserta harus sudah berada di lokasi pukul delapan pagi.

__ADS_1


Setelah menempuh perjalanan sekitar lima belas menit, mereka sampai di lokasi. Aluna turun lebih dahulu lalu di ikuti ayahnya untuk memastikan Aluna datang pada gurunya.


Aluna di antar sampai gerbang dan sudah di tunggu oleh beberapa gurunya di sana. Sebelum Aluna menuju ke gurunya, ayah Aluna berpesan pada Aluna dan Lagi-lagi untuk tidak kalah dari peserta lainnya.


"Ingat, jangan sampai kalah! Ayah pergi," setelah mengatakan itu ayah Aluna segera pergi sebelum menemui guru Aluna.


Aluna sudah biasa seperti itu dan para guru di sekolahnya pun memakluminya. Aluna menghampiri kepala sekolah dan kepala sekolah memberikan nomor urut Aluna dan menempelkannya pada seragam gadis tersebut.


"Apa kau siap nak?" tanya kepala sekolah pada Aluna yang hanya di jawab anggukan saja.


Lalu mereka segera masuk ke dalam tempat Olimpiade karena upacara pembukaan akan segera dimulai dan diharapakan para siswa siswi menghadiri upacara pembukaan.


.


.


Ketika Aluna berada di podium dan merebut jawaban dari lawan ia melihat seseorang yang sangat tidak asing baginya. Gadis itu segera menghampiri gurunya dan sudah ia duga jika Gama lah orang yang tidak asing baginya.


Dengan santainya Gama menyapa Aluna padahal tadi habis terkena omel oleh kepala sekolah. Aluna duduk di samping Gama dan mengambil air yang ada di tangan laki-laki itu.


"Astaga, itu milikku. Milikmu ada di tas itu," ucap Gama menunjuk sebuah tas.


"Aku sudah haus tahu, kau bisa ambil yang baru," sahut Aluna menghabiskan air yang ada di botol tersebut.


"Aiss kalian berdua ini, kau juga Gama mengapa kau bisa lolos dari satpam dan datang ke sini?" ujar kepala sekolah frustasi dan bertanya.

__ADS_1


"Oh saya taruh motor di warung depan sekolah pak, terus saya izin buat fotocopy tugas," jawab Gama tanpa rasa bersalah.


"Astaga! Hanya kali ini saja kau begini yah! Bapak masih ada urusan mungkin agak siang baru datang lagi ke sini dan kau Gama jaga Aluna selagi bapak tidak ada," sahut kepala sekolah pasrah dan meminta tolong pada Gama.


Gama mengacungkan kedua ibu jadinya dan membiarkan kepala sekolah pergi. Aluna yang mendengar itu terheran-heran mengapa kepala sekolah membiarkan satu siswanya bolos dan malah menyuruhnya menemaninya.


"Kepala sekolah habis kepentok apa ya? Kok bisa sebaik itu?" tanya Aluna pada Gama.


"Entah aku juga tidak tahu, oh ya kapan giliranmu?" jawab Gama dan bertanya pada Aluna.


"Sekitar dua puluh menit lagi, setelah dua ronde ini akan masuk ke babak final," jawab Aluna dan kembali membuka bukunya.


"Ouh baiklah, semangat Aluna! Tapi apakah kau tidak merasa pusing menjawab pertanyaan di podium tadi?" sahut Gama dan kembali bertanya.


"Tidak aku sudah biasa," jawab Aluna singkat padat dan jelas.


Gama yang mendengar itu tak bisa berkata-kata lagi, Aluna dalam mode serius sulit untuk mengajak gadis itu bercanda. Dua puluh menit kemudian nama Aluna kembali di panggil. Aluna dan Gama yang mendengar itu segera menuju ke lapangan.


Sesampainya di lapangan Gama menyemangati Aluna sebelum gadis itu naik ke podium dan berdoa agar gadis itu masuk ke babak final dan memenangkan kompetisi ini.


"Semangat, aku tahu kau bisa. Jangan sampai kalah dari mereka," ujar Gama menyemangati.


"Iya pasti," jawab Aluna lalu Aluna naik ke atas podium dengan percaya diri yang tinggi.


Gama melihat Aluna sambil tersenyum, sesekali laki-laki itu mengambil foto gadis itu ketika tentang menjawab pertanyaan dari pemateri dan juri yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Ah iri sekali pada Aluna, seandainya aku sepintar Aluna mungkin aku sudah bisa membuat pesawat jet pribadi sendiri," gumam Gama menatap iri pada Aluna sambil berkhayal.


__ADS_2