
Hari kini telah berganti. Aluna sudah sampai di rumah pukul enam sore tadi dan sempat diomeli oleh sang ayah karena pulang telat. Kini gadis tersebut tengah belajar, kembali mempelajari materi yang tadi di sampaikan oleh sang guru.
"Aku lelah tapi mau bagaimana lagi? Ini sudah tugasku sebagai seorang pelajar," cetus Aluna meregangkan tangannya seusai mempelajari pelajaran.
Aluna menoleh ke atas ranjang, di sana terdapat kotak hadiah yang tidak besar namun membuatnya penasaran. Hadiah yang diberikan oleh Gama belum juga ia buka, lebih tepatnya ia lupa jika ia belum membuka hadiah tersebut.
"Sebenarnya apa yang dia berikan padaku? Sudahlah buka dulu," tanya Aluna entah pada siapa sambil berjalan menuju ranjang dan mengambil kotak hadiah tersebut.
Aluna duduk di pinggir ranjang lalu perlahan-lahan membuka kotak tersebut. Setelah kotak tersebut terbuka terdapat boneka beruang mini berwarna coklat sambil memegang bunga dan di selipan bunga tersebut terdapat kartu ucapan selamat dan sebuah surat yang tersegel rapih.
Aluna tersenyum melihat hadiah yang sangat menggemaskan tersebut, ia memandang boneka beruang tersebut lalu memeluknya. Baru kali ini di beri hadiah boneka dan bukan telur busuk atau sebagainya.
Beralih mengambil sepucuk surat Aluna membuka surat tersebut dan melihat tulisan tangan yang rapih di sana. Ia membaca surat tersebut perlahan-lahan dan tak percaya dengan apa yang ia baca sekarang.
__ADS_1
Dear Aluna.
Hay, selamat ya atas kemenanganmu aku bangga padamu. Jangan pernah bilang jika dirimu tak berguna lagi yah! Kau hebat buktinya kau bisa mendapat juara dengan usahamu sendiri.
Aluna Syahira Mahardika, gadis cantik yang aku temui di sebuah cafe, gadis yang menarik perhatianku sejak awal. Aku Gama Raden Argantara menyukainya semenjak kita bertemu namun aku baru berani bilang padamu, entah respon apa yang akan kau berikan dan aku sudah tahu jawabanmu jika kamu tak akan memiliki hubungan dengan lawan jenis dalam waktu dekat bukan? Hehe
Aku akan menunggumu Aluna, sampai kamu siap menjadi kekasihku dan sebelum saat itu jangan menjauh darimu yah. Salam sayang.
Begitulah isi surat dari Gama yang tadinya menggunakan bahasa formal menjadi akrab. Aluna yang membaca itu terkejut, ia tak menyangka jika laki-laki itu menyukainya terlebih ia sudah tahu jawaban yang akan ia berikan pada laki-laki itu.
Aluna meneteskan air matanya sedikit tertawa melihat surat cinta, semangat dan sedikit dibumbui dengan candaan yang di buat oleh Gama. Aluna tersenyum lalu ia akan meyakinkan dirinya untuk balik menyukai Gama.
Aluna tak mau mensia-siakan Gama yang sudah mendukungnya meski baru beberapa bulan mereka bertemu dan bersama. Sejujurnya Aluna merasakan rasa nyaman dan menjadikan Gama rumah kedua baginya.
__ADS_1
"Tara mungkin untuk saat ini aku belum menyukaimu dan belum ingin menjalani hubungan dengan siapapun tapi akan aku pastikan aku tak akan mensia-siakan laki-laki sepertimu Tara," ujar Aluna dan memeluk boneka beruang yang diberikan Gama.
Tanpa Aluna sadari, Gama sudah berada di balik pintu balkon kamarnya dan mendengar semua ucapan dari gadis tersebut. Gama tahu jawaban gadis itu dan tersenyum juga terharu karena Aluna tak akan mensia-siakan dirinya.
.
.
Satu minggu berlalu, sebentar lagi ujian akhir semester akan di mulai. Aluna dan Gama kini tengah berada di salah satu perpustakaan di ibu kota untuk mencari buku yang tidak ada di perpustakaan sekolah mereka dan meminjamnya.
"Buku seperti ini saja masa sekolah tidak ada, kemana semua uang yang kita bayarkan itu?" dumel Gama membawa beberapa buku yang ia butuhkan.
"Sudahlah jangan mendumel terus, toh uang yang kita bayar kan masuk ke saku mereka sendiri hahah bercanda," tawa Aluna menimpali Gama dan diikuti oleh Gama yang tertawa meski suara mereka tertahan karena tidak boleh berisik.
__ADS_1