
Di dalam sebuah kamar, tampak seorang pemuda sedang fokus melihat ponselnya dan sesekali pria itu juga melihat ke arah notebooknya. Entah apa yang dikerjakan pria itu di malam yang semakin larut. Pria itu tidak lain adalah Bima.
Di saat sedang serius,tiba-tiba terdengar sebuah bunyi yang dari bunyinya sudah tahu kalau itu adalah pemberitahuan yang sangat penting. Ya, Bima memang selalu membedakan bunyi-bunyi di handponenya,antara yang tidak terlalu penting, cukup penting, penting sampai ke yang sangat penting. Tujuannya agar mempermudah dirinya untuk mengutamakan mana yang lebih dulu.
Di saat dia baru membuka pemberitahuan yang masuk ke handponenya, mata pemuda itu tiba-tiba memerah, rahangnya mengeras dan tangannya juga terkepal dengan kencang. Itu, pertanda kalau pemuda itu sedang marah besar.
"Brengsek!" umpat pemuda itu sembari mengertakkan giginya.
Kemudian pria itu mengambil ponselnya yang satu lagi yaitu ponsel yang sering dia gunakan. Tidak menunggu beberapa lama, Bima terlihat,terlibat pembicaraan yang serius dengan seseorang yang sedang dia hubungi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di sebuah apartemen di London, tampak juga Ayunda sedang menerima sebuah telepon yang berasal dari Harold.
Awalnya dia tidak ingin menerima panggilan pria itu,tapi karena tidak merasa enak hati akhrinya Ayu menjawab panggilan Harold juga.
"Aku tahu, kamu mungkin merasa tidak nyaman akan pengakuanku kemarin,makanya kamu selalu menghindar. Tapi, sumpah Ayu, aku merasa tidak nyaman dan selalu kepikiran. Aku tidak apa-apa kalau kamu tidak menerima cintaku, tapi aku mohon jangan menghindar dariku. Kita masih bisa tetap berteman kan?" tutur Harold dengan panjang lebar dengan suara yang lirih.
Nada bicara Harold yang memelas,membuat Ayu semakin merasa tidak enak hati. Dia merasa kalau sikapnya pada pria itu sudah cukup keterlaluan.
"Maaf, ya Harold karena membuatmu jadi kepikiran. Aku menghindar, karena aku tidak ingin perasaanmu semakin dalam yang akhirnya sulit untuk melupakanku," sahut Ayunda dengan nada sama seperti pria di sebrang sana.
__ADS_1
"Tapi aku benar-benar tidak ingin kamu hindari, Ayu. Aku berjanji tidak akan memaksamu untuk menerima perasaanku, yang penting kamu masih mau berteman denganku,"
Ayu menghela napasnya dan menganggukkan kepalanya, tidak menyadari kalau anggukan kepalanya tidak bisa dilihat oleh Harold.
"Ayu, kenapa kamu diam? Apa kamu memang sudah tidak mau berteman denganku lagi?" suara Harold terdengar semakin lirih.
"Astaga, pantas saja dia bertanya lagi. Aku tadi mengaggukkan kepala saja kan? Kan tidak mungkin dia bisa melihat." Ayunda menepuk jidatnya.
"Ayu,apa kamu masih di sana?" suara Harold kembali terdengar.
"I-iya,Harold? aku masih di sini kok," jawab Ayunda dengan cepat. "Harold, aku tidak masalah kok, berteman denganmu. Kamu tenang saja, aku tidak akan menghindarimu lagi," Sahut Ayunda, akhirnya.
"Serius, Ayu?"
"Yes! Terima kasih, Ayu ... Terima kasih!" sorak Harold, berulang-ulang mengucapkan terima kasih.
Ayunda menyunggingkan senyumnya sembari menganggukkan kepala, lagi-lagi tidak menyadari kalau pria di ujung sana tidak mungkin bisa melihat senyumnya.
"Oh ya, Ayu, besok aku mau mengadakan party bersama teman- teman, apa kamu bisa hadir?"
Ayunda tidak langsung menolak maupun mengiyakan. Perempuan itu, hanya diam dan berpikir apakah dia menerima ajakan itu atau menolak.
__ADS_1
"Kalau aku menolak, dia pasti akan merasa kalau aku masih menghindarinya, tapi kalau aku mengiyakan, aku tidak terlalu suka dengan pesta-pesta," bisik Ayunda pada dirinya sendiri, mempertimbangkan ajakan Harold.
"Ayu, apa kamu tidak mau? bukannya tadi kamu katakan kalau kamu tetap mau berteman denganku?"
Harold yang tiba-tiba bersuara lagi, membuat Ayunda terjengkit kaget.
"Em, bukan tidak mau datang,Harold, tapi jujur saja, aku tidak terlalu suka dengan yang namanya pesta. Jadi maaf ya, sepertinya aku tidak bisa datang. Kalian enjoy saja pestanya," akhirnya Ayunda memberanikan diri untuk menolak.
"Begitu ya? Kalau begitu aku batalkan saja pestanya. Karena sejujurnya, aku mengadakan pesta untuk kamu,karena kamu sudah mau berteman denganku lagi. Tapi, ya sudahlah, mungkin kamu belum sepenuhnya masih mau berteman denganku, dan aku tidak akan memaksa,"
"Aduh, bagaimana ini? kenapa jadinya bisa begini sih?" Ayunda menggaruk-garuk kepalannya yang tidak gatal sama sekali.
"Harold, aku mau tahu, siapa saja yang kamu undang ke pestamu?"
"Teman-temanku saja, Ayu. Kamu tenang saja, temanku bukan hanya laki-laki tapi juga banyak wanita. Dan kamu juga jangan khawatir kalau akan terjadi apa-apa ke kamu. Aku juga akan pastikan tidak akan ada alkohol, di pesta itu. Semuanya minuman kaleng biasa dan juice. Kita hanya akan mengadakan pesta barbeque kecil-kecilan," ucapan Harold terdengar sangat meyakinkan.
Ayu kembali diam,kembali mempertimbagkan permintaan Harold.
"Emm, baiklah,Harold. Tapi, kamu harus benar-benar memegang kata-katamu tadi dan tidak boleh pulang terlalu malam!" Ayunda akhirnya mengiyakan, tapi tetap memberikan syarat.
"Siap! Aku bisa pastikan itu, dan semuanya sesuai dengan yang kamu mau!" suara Harold terdengar begitu bahagia.
__ADS_1
Tbc