
"Atau jangan-jangan ...." Adrian dan Tristan sama-sama menggantung ucapan mereka. Sepertinya pemikiran mereka berdua sama.
"Apa Om sama dengan yang aku pikirkan?" tanya Tristan.
"Ya, aku yakin dia orangnya. Kamu sudah tahu pasti bagaimana cerdasnya dia," tanpa menyebut nama. Kedua pria berbeda usia itu sudah tahu siapa sosok yang mereka bicarakan.
Sementara itu, jauh di belahan negara lain, tampak seorang pria yang tersenyum tipis melihat photo yang baru saja dikirimkan oleh anak buahnya itu, yaitu photo di mana Ayunda dan Tristas berpelukan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah 4 Tahun berlalu semenjak kejadian yang menimpa Ayunda. Dua tahun yang lalu setelah Tristan menyelesaikan kuliah S1 nya di London, pria itu malah memilih untuk melanjutkan kuliah pasca Sarjana di negara Asia yaitu Singapura, tepatnya di Nanyang Technological Universty. Pria itu tentu saja tetap mengambil jurusan yang sama yaitu bisnis. Entah apa alasan pria itu, hanya dia lah yang tahu. Yang jelas semenjak kejadian yang menimpa Ayu itu, Tristan selalu menghindar dari Ayunda. Pria itu selalu banyak alasan kalau Ayunda mengajaknya jalan-jalan atau hanya sekedar makan siang. Entah apa yang membuat pria itu menghindari Ayunda, lagi-lagi hanya dia lah yang tahu.
Bagaimana dengan Ayunda? Wanita itu tentu saja masih tetap berada di London. Karena setelah lulus Sarjana dua tahun yang lalu, wanita itu langsung melanjutkan pendidikannya sampai ke jenjang pasca sarjana dan sebentar lagi gadis itu akan selesai dengan kuliahnya.
"Huft, sebentar lagi, kuliahku akan selesai, dan itu berarti aku harus kembali ke Indonesia," kalau biasanya orang akan bersemangat untuk pulang menemui keluarga, beda dengan Ayunda. Wanita yang sudah berusia 24 tahun itu terlihat lesu. Kenapa? Karena dia merasa kalau dirinya belum yakin sepenuhnya kalau dia siap untuk bertatap mukan denga Bima, pria yang 6 tahun belakangan ini berusaha dia lupakan.
Ya, selama 6 tahun tinggal di London, Ayunda memang tidak pernah pulang ke Indonesia, tapi keluarganya lah yang datang mengunjunginya ke London. Tapi kali ini, kuliah pasca Sarjananya tinggal menunggu hari untuk selesai. Dia tidak punya alasan lagi untuk tetap tinggal di London. Memang dia mendapatkan tawaran kerja di negara tempat dia menimba ilmu ini, tapi Adrian papanya tidak memberikan izin, dan bahkan sudah menyiapkan butik untuk dirinya kelola setelah kembali ke Indonesia.
"Bagaimana nanti aku akan bertatap muka dengannya? Apa aku sanggup? Aku yakin kalau dia pasti sudah kembali ke Indonesia, sudah cukup lama. Karena tidak mungkin orang cerdas sepertinya, lama menyelesaikan kuliahnya, sekalipun dia langsung melanjutkan pasca sarjana. Pastilah dia, sudah menyelesaikan pendidikannya, minimal dua tahun yang lalu." Bisik Ayunda pada dirinya sendiri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu, di negara Amerika atau yang sering disebut negara uncle Sam atau paman Sam itu, seorang pria tampan yang tubuhnya terlihan semakin berisi, gagah dan berwibawa sedang fokus pada sebuah notebook di depannya. Siapa lagi pria itu kalau bukan Bima Abhimata Prayoga.
Ya, pemuda yang kini sudah berubah menjadi seorang pria dewasa itu, sama sekali belum pulang Ke Indonesia, walaupun dia sudah menyelesaikan pendidikannya sampai S2, di dua universitas dua tahun yang lalu. Entah apa alasannya hanya dia lah yang tahu.Tapi, dalam waktu dekat ini, pria itu sudah memutuskan untuk kembali ke Indonesia atas permitaan Bara papanya.
Sementara Bimo, juga belum kembali, karena Michelle yang belum menyelesaikan pendidikan dokter spesialisnya.
__ADS_1
"Masuk!" titah Bima dari dalam kamarnya,sembari menutup notebooknya, ketika pintu kamarnya diketuk dari luar. Dia tahu benar kalau yang baru saja mengetuk pintuny itu adalah Bimo adiknya.
Benar saja, seorang pria yang tidak lain adalah Bimo masuk ke dalam kamar sang kakak.
"Ada apa?" tanya Bima, to the point sembari memasang wajah datarnya, sembari menatap buku di tangannya.
Bimo tidak langsung menjawab. Pria itu justru menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Raut wajahBimo terlihat tidak semangat, seperti sedang ada beban.
"Kenapa kamu diam? Apa ada yang sedang kamu pikirkan?" Bima akhirnya meletakkan bukunya di atas meja dan beranjak mendekati Bimo.
"Papa memintaku untuk pulang. Katanya papa sudah kewalahan mengurus perusahaan sendiri, Bima," akhirnya Bimo buka suara.
Bimo sontak melirik Bima dengan lirikan sinis tidak suka. "Jadi, kamu bagaimana? Bukannya kamu juga sudah seharusnya pulang ke Indonesia, dua tahun yang lalu? kalau aku ada alasan di sini, kalau kamu apa? Tidak ada kan? Lagian, anak papa bukan aku saja, kamu juga iya kan? kamu itu putra sulung,jadi kamu ___"
"Tidak ada yang namanya sulung ataupun anak bungsu di dalam melakukan sebuah pekerjaan. Semuanya punya hak." Sebelum Bimo selesai bicara, Bima sudah menyela ucapan adiknya itu.
"Satu lagi aku tekan kan,yang sulung itu Kak Tristan bukan aku. Walaupun dia bukan anak kandung,tapi di belakang namayanya sudah tertera nama Prayoga dan itu sudah sah secara hukum." sambungnya kembali.
"Iya, iya aku tahu," Bimo mengembuskan napas. Dia memang selalu tidak bisa membantah ucapan kakak kembarnya itu.
"Ok, kita kembali ke pembicaraan awal ...." Bimo buka mulut kembali.
"Kenapa kamu belum juga pulang ke Indonesia sampai sekarang? Kalau kamu memiliki kekasih yang masih belum selesai kuliah,sepertiku,mungkin aku bisa terima alasanmu kenapa tidak mau pulang. Ini kan tidak sama sekali. Jadi kamu tidak punya alasan untuk tidak mau pulang ke Indonesia. Lagian yang aku lihat, kamu itu selalu menghabiskan banyak waktu di kamar saja, apa kamu tidak bosan?" Bimo mengoceh panjang lebar tanpa jeda.
__ADS_1
"Kamu mau tahu kenapa aku tidak pulang?" Bimo menganggukkan kepalanya.
"Itu, karena aku ingin menjaga, kamu dan Michelle berbuat maksiat," jawab Bima, santai tanpa ekspresi.
"Sialan kamu!" Sebuah bantal sofa tiba-tiba melayang ke arah Bima. Tapi, bukan Bima namanya kalau tidak bisa menghindar.
"Kalau kami ingin, sudah lama kami melakukan hal itu. Tapi aku masih bisa menahannya. Kamu tahu kenapa, itu karena cintaku datangnya dari sini," Bimo menunjukkan dada, di mana hatinya berada. "Bukan dari sini," imbuh Bimo lagi, dengan jari telunjuk yang sudah berpindah ke bagian intimnya.
Bima terkekeh ringan mendengar ucapan Bimo.
"Jangan tertawa! Tidak lucu sama sekali!" Bimo memasang wajah kesalnya.
"Sekarang aku mohon, agar Kakak mau pulang ke Indonesia dan bantu Papa, Nanti aku akan menyusul setelah pendidikan Michele selesai. Lagian tidak lama lagi kan? Tidak sampai sebulan ini. Mau ya, Kak?" Bimo memasang wajah memelas di depan Bima.
Bima sontak berdecih dan mendengus, mendengar permintaan Bimo.
"Cih, giliran ada maunya manggil Kakak, kalau tidak, kamu panggil nama saja. Lagian, apa salahnya kita pulang sama-sama ke Indonesia? Toh di sana sudah ada Kak Tristan yang bantu, Papa kan?" Bima masih berusaha menolak.
"Kak, jangan begitulah! Kalau Kakak tidak mau pulang, Papa pasti akan terus-menerus memintaku pulang. Katanya, Kakak keras kepala, selalu menolak untuk pulang. Apa sih alasanmu tidak mau pulang? Apa karena kamu merasa kalau Ayunda sudah kembali ke Indonesia, dan kamu masih mau menghindarinya?" tukas Bimo penuh selidik.
"Jangan asal bicara. Alasanku pulang tidak ada hubungan dengannya," sangkal Bima, tegas dan nada kesal.
"Kenapa kamu jadi marah, menjawabku? Kan kamu bisa tinggal menjawab 'tidak' tanpa harus melotot seperti itu. Kalau kamu seperti itu, kesannya dugaanku benar, di mana alasan kamu belum mau pulang gara-gara __"
"Siapa bilang aku tidak mau pulang? Aku akan pulang minggu depan!" tegas Bima, yang tidak mau terus berdebat dengan Bimo.
Tbc
__ADS_1