
Di lain tempat tepatnya di perusahaan Bara tampak Satya berlari keluar dari perusahaan. Sikap asisten tampan itu tentu saja membuat heran karyawan yang dilewatinya, tapi mereka hanya bisa bertanya-tanya dalam hati walaupun akhirnya mereka akan tenggelam pada rasa ingin tahu mereka sendiri yang tidak akan mendapatkan jawaban.
Begitu tiba di parkiran mobilnya, pria itu masuk ke dalam mobil. Namun dia tidak langsung menjalankan mobilnya, tapi lebih dulu merogoh sakunya, mengeluarkan ponsel dari dalamnya.
"Kamu, di mana?" tanya Satya begitu mendengar ucapan halo dari orang yang dihubunginya, yang tidak lain adalah Arumi.
"Aku masih di rumah sakit, tapi sebentar lagi aku akan berangkat juga," sahut Arumi.
"Apa, kamu perlu aku jemput?" tanya Satya lagi yang kali ini sambil menjalankan mobilnya.
"Tidak perlu! aku punya mobil sendiri dan kebetulan aku juga ingin menjemput Bimo ke rumahnya. Kebetulan dia baru saja sampai di Jakarta. Kalau dia tidak dijemput, Clara pasti akan banyak bertanya, jadi kalau aku yang jemput, aku bisa kasih alasan, kalau aku ingin mengajaknya ke suatu tempat untuk membelikan sesuatu," tutur Arumi, panjang lebar, tanpa jeda.
"Kenapa kamu harus menjawab se-detail itu? jawaban yang kuperlukan itu hanya 'iya' atau 'tidak'. Sudah itu saja! kamu tidak perlu menjelaskan alasannya karena buang-buang waktu!" ucap Satya, dingin.
"Eh, Sial__" Sebelum Arumi selesai dengan ucapannya,Satya sudah memutuskan panggilan secara sepihak. Bisa dipastikan kalau Arumi pasti marah-marah sekarang dan sibuk memaki ke arah handphone yang dianggapnya Satya. Untung-untung kalau wanita itu tidak membanting handphonenya saking kesalnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Benar saja, Arumi hampir saja melemparkan ponselnya setelah puas memaki-maki ponsel yang tidak punya salah sama sekali.
Agar kekesalannya reda, Arumi menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya kembali ke udara.
"Kenapa sih ada makhluk laki-laki yang menyebalkan seperti dia? bikin darahku naik saja!" umpat Arumi sembari masuk ke dalam mobilnya.
Masih dengan mulut yang menggerutu tidak jelas,Arumi kemudian melajukan mobilnya menuju kediaman Clara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Bima, kenapa kamu dari tadi terlihat gelisah?" tanya Clara dengan alis yang bertaut tajam, curiga.
"Iya, Bima. Kenapa kamu terlihat gelisah?" Theo yang masih memilih untuk tetap bertahan di rumah Clara ikut menimpali ucapan wanita yang menarikan hatinya itu.
Bimo, tidak menjawab. Namun, anak laki-laki itu menerbitkan seulas senyuman yang berusaha dia tunjukkan semanis mungkin.
"Tidak apa-apa kok, Ma, Pa, eh Om," karena pikiran Bimo selalu memikirkan Bara, membuat anak itu tanpa sengaja memanggil Theo dengan sebutan papa. Walaupun mungkin langsung dia rubah, tapi panggilan itu langsung terekam di kepala Theo. Pria itu tentu saja semakin merasa bahagia, mendengar panggilan itu. Theo merasa, kalau Bima sedang memberikan kode kalau dia memang butuh seorang Papa.
"Aku hanya sedang menunggu Tante Arumi. Karena dia bilang akan menjemputku karena aku meminta Tante itu menemaniku untuk membeli sebuah buku," lanjut Bimo lagi.
__ADS_1
"Kenapa kamu malah minta Tante Arumi? kenapa bukan Mama?" Clara mengrenyitkan keningnya.
"Emm, itu karena aku tahu, kalau Om Theo masih ada di sini dan Mama harus menemani Om Theo. Kan tidak enak, kalau mengusir tamu,"
Alibi yang diberikan oleh Bimo, membuat Theo semakin salah paham. Dia merasa kalau apa yang barusan dikatakan oleh Bimo hanya alasan saja, karena dia ingin membiarkan dirinya berduaan dengan Clara mamanya. "Pasti dia bekerja sama dengan Arumi untuk mendekatkanku dengan Clara. Dia sepertinya sudah benar-benar berharap, aku menjadi papa sambungnya. Dan aku yakin kalau ini tidak lepas dari campur tangan Arumi, yang menceritakan yang baik-baik tentangku," bisik Theo pada dia sendiri.
Sementara itu, Clara terlihat semakin bingung dengan sikap Bimo. "Apa ini berarti Bima, benar-benar menginginkan Theo jadi papa sambungnya? tapi, ini sangat tidak mungkin," Clara membatin.
Di saat bersamaan mobil yang dikemudikan oleh Arumi, terlihat memasuki pekarangan rumah Clara.
"Ma,Om,aku pegi dulu ya!"
Untuk menghindari, pertanyaan dan agar mempersingkat waktu, Bimo langsung berlari keluar dari rumah menghampiri Arumi yang sudah menunggu di dalam mobil.
Setelah Bimo masuk ke dalam mobil, Arumi langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah Clara.
Kecanggungan seketika tercipta antara Clara dan Theo, begitu hanya mereka berdua saja.
"Kak, maaf ya! sebaiknya kita pindah ke teras saja. Aku ini seorang janda, tidak enak sama tetangga kalau tahu aku berduaan dengan seorang laki-laki di dalam rumah," Clara buka suara untuk menghentikan kecanggungan yang sempat tercipta.
Setelah mereka berdua sudah berada di teras, keduanya kembali duduk di kursi kayu. Keheningan kembali tercipta karena tidak ada yang mau memulai pembicaraan lebih dulu.
"Ehem ... ehem," Theo kemudian berdeham untuk sedikit mencairkan suasana.
"Clara, seperti yang aku katakan kalau aku benar-benar ingin ___"
"Maaf, Kak, jawabanku tetap sama. Aku tidak bersedia. Maaf sekali!" sebelum Theo menyelesaikan ucapannya,Clara sudah lebih dulu menyela, karena dia tahu arah pembicaraan pria itu.
"Kenapa? bukannya tadi kamu sudah mendengar kalau Bima, tanpa sadar memanggilku 'Papa'? harusnya dari situ kamu bisa menarik kesimpulan kalau dia benar-benar menginginkan seorang ayah. Dan dia menginginkanku yang menjadi ayah sambungnya." Ucap Theo. "Tolong jangan egois,Cla! bagaimanapun kamu harus memikirkan perasaan anak kamu. Kamu jangan terjebak dengan masa lalumu dengan mantan suamimu. Jangan berharap kamu bisa kembali lagi padanya, karena bagaimanapun dia sudah beristri," sambung Theo kembali dengan berapi-api.
Clara mengembuskan napasnya dengan cukup keras dan menatap Theo dengan tatapan yang sukar untuk dibaca.
"Aku tak pernah berharap bisa kembali bersama dengan mantan suamiku, karena aku tidak mau merusak kebahagiaan wanita lain. Tapi, asal kamu tahu, kenapa aku tidak mau, itu karena mantan suamiku dan papa anakku adalah Bara, suami adikmu Tania. Aku rasa dengan ini kamu bisa paham." ucap Clara sembari berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah, meninggalkan Theo yang mematung.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Tan, bisa tidak Tante membawa mobilnya lebih cepat lagi? jangan kaya bebek seperti ini?" ucap Bimo yang terlihat sudah sangat tidak sabar.
__ADS_1
Arumi mengerucutkan bibirnya, kesal.
"Kamu bisa tidak diam saja. Ini aku sudah bawa dengan cepat."
"Cepat bagaimana, Tante? ini mah kecepatannya hanya 60km/jam. Yang cepat itu 100, 120 dan lebih lagi," sahut Bimo santai.
"Eh, anak monyet, ngomong seenak udelmu aja. Kamu sama saja mau buat Tante ke penjara. Ini saja, Tante sudah takut-takut!"
Bimo akhirnya memilih untuk diam saja dari pada wanita yang dia tahu sangat cerewet itu, berhenti tiba-tiba dan memintanya untuk turun.
Bimo kemudian merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya, untuk mencoba menghubungi Bima. Ketika dia merogoh sakunya itu, bukan hanya ponselnya yang keluar tapi ada sebuah benda yang tidak lain adalah sebuah kalung.
Arumi yang menoleh sekilas, tanpa sengaja melihat penampakan kalung itu. Wanita itu mendadak menghentikan mobilnya hingga membuat kepal Bimo hampir membentur Dashboard mobil.
"Tante! ada apa sih? Tante mau membunuh kita ya?" protes Bimo dengan tatapan tajam.
Bukannya menanggapi protes Bimo, Arumi malah meraih kalung yang terjatuh di samping anak kecil itu.
Arumi memperhatikan kalung itu dengan mata yang memicing.
" Kenapa, Tante? apa Tante mengenal kalung itu?" tanya Bimo yang rasa kesalnya seketika menguap entah kemana.
"Iya, sepertinya aku pernah melihat kalung ini di ...." Arumi menggantung ucapannya, berusaha mengingat di mana dia pernah melihat kalung itu.
"Oh,aku ingat! Aku sepertinya pernah melihatnya,di handphone papa, dan seperti aku pernah mengirimkannya ke handphoneku. Coba aku lihat dulu, masih ada atau tidak. Mudah-mudahan masih ada!" Arumi mengeluarkan ponselnya dan mencari photo yang dia maksud.
"Masih ada! ini dia! benar-benar sama kan?" Arumi menunjukkan photo kalung itu dengan kalung yang ada di tangannya.
"Iya, sama Tante," Bimo mengangguk, mengiyakan.
"Dari mana kamu dapat kalung ini? kamu tahu, ini adalah kalung yang kata Om teguh papanya Tania,hilang."
"Itu kalung dari nenek Munah. Kata Nenek itu, sebenarnya mama bukan cucu kandung almarhum nenek buyut, tapi ada seseorang yang sengaja membuang mama,dan kalung ini adalah kalung yang tergantung di leher mama ketika ditemukan almarhum Nenek buyut. Nenek Munah bilang, mudah-mudahan kalung ini bisa mengungkapkan identitasnya mama yang sebenarnya," terang Bimo, membuat mata Arumi membesar.
"Tante,bisa tidak masalah kalung ini kita bicarakan lagi nanti? sebaiknya kita langsung ke rumah papa sekarang. Masalah itu bisa kita urus nanti!"
tbc
__ADS_1