Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Kamu salah paham


__ADS_3

"Bimo kenapa kamu sudah pulang? di mana kakak-kakakmu? dan kenapa wajahmu kusut?" cecar Clara sembari celingukan mencari keberadaan Bima dan Tristan.


"Aku tidak tahu dan tidak mau tahu. Aku capek, mau tidur dulu!" sahut Bimo ketus sembari melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Clara mamanya.


"Bimo, bersikap sopan pada mamamu!" tegur Bara yang memang kebetulan ada di ruangan itu dan mendengar ucapan Bimo yang ketus.


Bimo sontak berhenti melangkah dan kembali menoleh ke arah mamanya dengan tatapan penuh bersalah, apalagi ketika melihat ekspresi wajah mamanya yang terlihat shock dengan sikap ketusnya. "Maaf,Ma. Aku benar-benar hanya capek saja!"


"Capek?" alis Clara bertaut curiga.


"Iya, Ma. Kebetulan kepalaku juga lagi sakit, makanya aku memutuskan untuk pulang lebih dulu," ucap Bimo berusaha membuat mamanya percaya.


"Aku masuk ke kamar dulu ya, Ma, Pa. Aku mau istirahat!" tanpa menunggu jawaban dari Clara dan Bara, Bimo langsung mengayunkan kakinya, menaiki anak tangga menuju kamarnya.


"Mas, aku rasa ada yang tidak beres antara Bima dan Bimo, karena dari kemarin Bimo selalu menghindar kalau ada Bima," Clara mendaratkan tubuhnya duduk di samping Bara suaminya.


"Kamu jangan berpikir yang tidak-tidak. Mungkin benar kalau Bimo memang sedang sakit kepala dan apa yang ada dalam pikiranmu itu hanya perasaanmu saja," Bara melemparkan senyumnya ke arah Clara, untuk menenangkan hati Istrinya itu.


Clara berdecak, merasa kesal pada Bara karena dia menganggap suaminya itu tidak bisa membaca apa yang sedang terjebak.


"Mas bagaimana sih? masa tidak bisa melihat sesuatu yang janggal. Dari dulu, papa kan tahu, sesakit-sakitnya mereka berdua tapi mereka selalu hangat satu sama lain dan saling mendukung. Tapi kali ini benar-benar beda, Mas," Clara mulai menggerutu.


Bara bergeming, tidak membantah ucapan sang istri karena setelah dia mengingat-ingat, memang benar apa yang dikatakan oleh Clara istrinya.


"Aku ibu yang melahirkan mereka berdua,jadi aku bisa membaca kalau ada sesuatu yang terjadi," lanjut Clara lagi, masih dengan nada kesalnya.


"Iya,iya. Aku percaya kamu. Jadi, menurutmu bagaimana?" akhirnya Bara memilih untuk mengalah.


Kini gantian Clara yang terdiam, memikirkan tindakan apa yang akan dia lakukan. Setelah diam beberapa saat, Clara menghela napasnya lalu berdiri dari tempat dia duduk.

__ADS_1


"Kamu mau kemana, Sayang?" Bara mengrenyitkan keningnya.


"Aku mau ke kamar Bimo,Mas. Aku mau bertanya baik-baik padanya. Apa kamu mau ikut?"


"Sepertinya, untuk sekarang cukup kamu dulu, supaya dia lebih nyaman. Nanti kalau masih berkelanjutan, baru aku akan turun tangan,"


Clara menganggukkan kepalanya, setuju dengan ucapan Bara suaminya. Setelah berpamitan, Clara pun beranjak pergi, menuju kamar Bimo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Bimo menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang dan tatapannya langsung menerawang ke langit-langit kamarnya.


Kemudian, pemuda itu menoleh ke arah nakas dan melihat pigura yang berisi photo dirinya dan Bima. Di photo itu, tampak keduanya terlihat sangat akrab sembari tertawa lebar.


Kalau dulu, setiap melihat photo itu, menimbulkan rasa hangat di dalam hati, entah kenapa kali ini Bimo melihat tawa Bima seakan sedang meledeknya.


"Mama?" Bimo menyipitkan matanya, begitu melihat kalau yang mengetuk pintu kamarnya adalah mamanya sendiri.


"Apa Mama boleh masuk?" Clara mengulas senyuman ke arah Bimo.


"Untuk apa,Ma? bukannya tadi aku sudah mengatakan kalau aku ingin istirahat?" sangat kentara kalau pemuda itu keberatan dengan kehadiran mamanya sekarang.


"Mama tidak akan lama. Ada satu hal yang sangat mengganjal di pikiran Mama, sampai-sampai kepala mama sakit memikirkannya. Mama tidak mau, kepala mama sampai pecah kalau Mama terus-menerus memikirkan hal itu. Jadi, tolong izinkan mama masuk!"


Bimo yang awalnya ingin menolak kembali, melihat tatapan mamanya akhirnya tidak sanggup untuk menolak.


"Baiklah,Ma, ayo masuk!" Bimo akhirnya membuka pintu lebar-lebar memberikan jalan untuk Clara bisa masuk.


"Ada apa, Ma?" tanpa menunda, Bimo langsung bertanya.

__ADS_1


"Kamu duduk dulu di sini, Nak!" Clara menepuk-nepuk kasur di sampingnya.


Bimo menghela napasnya dengan berat, tapi tetap tidak bis menolak permintaan mamanya itu.


"Sekarang, tolong jujur sama Mama. Kamu lagi ada masalah ya sama Bima?" tanpa basa-basi lagi, Clara langsung saja pada point yang ingin dia tanyakan.


"Berapa kali aku harus katakan, Ma. Aku dan Bima sama sekali tidak ada masalah. Mama jangan berpikir yang tidak-tidak!" Bimo masih saja tetap berusaha untuk menutupi, agar wanita yang disayanginya itu, merasa tenang.


"Bimo, tolong jangan bohongi Mama. Mama yang sudah melahirkan kalian berdua, jadi kalau ada hal aneh,Mama bisa merasakannya. Kamu tidak bisa menyembunyikan masalahmu di depan Mama, Nak. Jadi tolong jelaskan pada Mama, apa yang sebenarnya terjadi?" suara Clara terdengar sangat lembut pun dengan tatapannya.


Bimo tercenung, diam beberapa saat. Pikiran pemuda it berperang antara mau berterus terang atau tetap tutup mulut.


"Bimo, apa kamu masih tidak mau memberitahu mama tentang masalahmu?" Clara kembali buka suara, menyadarkan putranya itu dari alam bawah sadarnya.


"Ma, aku hanya tidak suka dengan sikap Bima yang menurut aku sangat munafik. Di depanku dia bersikap seolah-olah tidak menyukai Michelle. Tapi ternyata di belakangku, dia juga menyukai Michelle Padahal dia tahu jelas kalau Michelle adalah gadis yang aku cintai dari dulu, tapi dengan teganya dia juga menumbuhkan perasaan cinta pada wanita yang adiknya cintai. Aku merasa seperti dikhianati oleh kakak sendiri Ma," akhirnya Bimo sudah tidak bisa menahan diri untuk menutupi apa yang dia rasakan. Pria itu menumpahkan alasan kekesalannya pada saudara kembarnya itu.


Sementara itu, mata Clara membesar terkesiap kaget mendengar pengakuan putra bungsunya itu. "Dari mana kamu bisa menyimpulkan kalau Bima mencintai Michelle?"


"Mama jangan pura-pura tidak tahu. Bukannya kemarin Bima sudah mengakuinya pada Mama. Aku mendengar apa yang mama dan Bima bicarakan kemarin di taman, Ma!"


"Astaga!" Clara sontak menepuk jidatnya, menyadari kalau putra bungsunya itu sudah salah paham.


"Apa kamu mendengar keseluruhan apa yang kami bicarakan, atau kamu langsung pergi karena sudah dikuasai emosi?" tanya Clara,ambigu.


"Aku memang langsung pergi, begitu mendengar pengakuan si munafik itu, Ma, karena aku berpikir tidak ada gunanya lagi untuk mendengar kelanjutan pembicaraan kalian berdua yang pasti akan lebih menyakitkan hati,"


"Bimo, itulah letak kesalahanmu. Harusnya kamu mendengar apa yang kami bicarakan selanjutnya. Bima memang ada mengatakan kalau dia menyukai wanita yang sifatnya seperti mama dan dia mengaku kalau itu ada pada Michelle. Tapi, selanjutnya dia mengatakan kalau dia hanya menyukai sifat Michelle, bukan orangnya, karena dia tidak mungkin menyukai wanita yang sangat dicintai oleh adiknya," terang Clara dengan suara lembut, membuat Bimo langsung terdiam seribu bahasa.


Tbc

__ADS_1


__ADS_2