
"Papa,aku rindu, Papa!" Bimo kembali bersuara, menyadarkan Bara dari alam bawah sadarnya.
Bara kemudian berjongkok, menyesuaikan tingginya dengan Bimo, sekaligus agar bisa leluasa menatap wajah putranya itu.
"Kamu benar-benar Bimo?" tanya Bara memastikan.
Bimo tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Apa Papa masih ragu? apa, Bima sudah bisa membuat Papa lupa pada Bimo yang sebenarnya?"
Mata Bara berkaca-kaca dan langsung memeluk Bimo dengan sangat erat. Sekarang dia sangat yakin kalau yang sedang dipeluknya sekarang adalah Bimo, anak yang dibesarkannya.
"Pa, aku sekarang sudah tahu, kalau aku bukan anak pungut seperti yang selalu dikatakan oleh Tante Tania, Om Dito dan Tristan. Aku ternyata anak kandung Papa sendiri. Tuhan memang baik, aku ditemukan dan dirawat oleh orang yang benar, yaitu papa kandungku sendiri,"
Bara melerai pelukannya dan langsung berdiri. Kemudian dia menoleh ke arah Bima yang kini juga tengah menatapnya dengan tatapan berkaca-kaca.
"Jadi, kalian berdua benar-benar anak kandungku?" ulang Bara memastikan.
Lagi-lagi Bimo dan Bima menganggukkan kepala, mengiyakan.
Tiba-tiba terdengar suara tawa yang pecah berasal dari Tania. "Kalian percaya dengan dua anak itu? bodoh sekali kalian kalau percaya begitu saja. Mereka ini pasti sedang menipu.
Mereka berdua hanya mengaku-ngaku saja, karena mereka hanya ingin bisa hidup enak. Dan aku semakin yakin karena mereka katanya anak Clara. Wanita itu pasti yang menyuruh mereka untuk mempengaruhi pikiran kalian, dengan mengatasnamakan hubungan kalian dulu,"
"Diam kamu,Tania!" bukan Bara maupun Elva yang bersuara melainkan Arumi. "Kebohongan dan kejahatanmu sudah terbukti, tapi masih saja kamu berani untuk berbicara. Benar-benar tidak tahu malu!" lanjut Arumi lagi.
"Hei, wanita sialan! apa hak kamu memintaku untuk diam? oh, Aku tahu ... kamu juga bagian dari konspirasi mereka kan? kamu melakukannya karena dendam padaku, iya kan? ayo ngaku!" Tania tersenyum sinis ke arah Arumi.
Arumi berdecak, sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, "Pikiranmu memang terlalu dangkal, Tania! pikiranmu memang sudah terlatih untuk selalu berpikiran buruk dan negatif. Sayangnya, sebenci-bencinya aku pada orang, aku tidak akan pernah melakukan hal licik dan manipulatif untuk menjatuhkan orang itu, karena aku bukan kamu!" ucap Arumi dengan sarkas.
"Aku memang mengenal Clara dan dia sahabatku. Aku menemukan dia pingsan di tengah jalan saat ingin mencari kontrakan. Ketika itu dia mengatakan kalau dia baru saja bercerai dan dia dalam keadaan hamil 2 bulan."
__ADS_1
"Hamil dua bulan?" celetuk Bara, memotong ucapan Arumi.
"Ya. Saat itu dia lagi hamil, dan usia kandungannya dua bulan. Aku membawanya ke apartemenku dan memintanya untuk tinggal di situ sampai dia melahirkan. Aku memang tahu, cerita hidup dia, Tapi sumpah demi apapun, selama aku bersahabat dengannya, aku baru saja tahu kalau mantan suaminya adalah kamu. Tapi, memang dasar dia wanita baik, ketika aku berniat untuk mendatangimu dan memberikan kenyataannya, dia malah melarangku, karena lagi-lagi dia tidak ingin menyakiti hati wanita lain. Padahal jelas-jelas aku sudah mengatakan kalau kamu dari dulu tidak pernah mencintai Tania,dan pernikahan kalian hanyalah karena perjodohan. Tapi, dia tetap memohon agar aku tidak memberitahukanmu. Itulah kebaikan dia. Padahal jelas-jelas dia sudah dibohongi oleh Tante Elva, mamamu, sampai-sampai akhirnya dia membuat alasan, lebih memilih uang dibandingkan kamu. Itu semua dia lakukan agar kamu mau menceraikannya, karena dia kasihan pada Tania dan anak kalian," jelas Arumi panjang lebar tanpa jeda.
Penjelasan yang baru saja didengar oleh Bara sontak membuat pria itu kaget sekaligus marah. Bara sontak menoleh ke arah Elva mamanya dengan tatapan menuntut penjelasan. "Apa Mama tahu juga masalah itu?" tanyanya dengan tatapan sangat tajam.
Elva tidak menjawab, tapi wanita itu hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan.
"Mama tahu, tapi kenapa Mama seakan-akan memprovokasiku saat itu untuk membencinya?" Bara masih berusaha untuk tidak meninggikan suaranya, karena bagaimanapun wanita yang dia ajak bicara itu adalah wanita yang sudah melahirkannya.
"Maafkan, Mama Bara. Hari itu Mama hanya ingin kamu bisa melupakan Clara dan mama rasa rasa benci kamu padanya, membuat kamu lebih mudah untuk melupakannya dan bisa menerima Tania dengan tulus," raut wajah Elva terlihat sangat menyesal.
Ingin rasanya Bara marah, tapi dia mengurungkankannya karena bagaimanapun dia tahu kalau mamanya melakukan hal itu karena memang tidak tahu apa yang sudah diperbuat oleh Tania.
Arumi kemudian, kembali menatap ke arah Tania yang terlihat semakin gelisah sekaligus cemas.
"Sialan! bisa tidak kamu meminta baik-baik?" Satya menggerutu, tapi malah dibalas tatapan tajam dari Arumi.
Tanpa memperdulikan keberatan Satya, Arumi melangkah menghampiri Bara.
"Nih, kamu lihat sendiri! ini adalah hasil test DNA antara kamu, Bima dan Bimo. Bimo yang meminta tolong untuk melakukan testnya, karena biayanya sangat mahal,"
Bara menerima amplop yang berisi hasil test DNA itu dengan raut wajah bingung. Karena dia merasa tidak menyerahkan sample apapun pada wanita di depannya itu.
"Samplenya dari darah yang terjatuh di lantai ruangan kantormu, Bar. Saat, kamu marah akibat ulah Tania. Sesaat kamu pergi, Nona Arumi datang menemuiku, diminta oleh Bimo. Sebelumnya dia sudah ada sample darah dari Bimo, jadi tinggal Bima. Tapi aku berhasil mendapatkan sample darah Bima, dengan pecahan gelas yang sengaja aku pecahkan," Satya buka suara, ikut menjelaskan melihat wajah kebingungan dan penuh tanya dari sahabatnya itu.
Mendengar ucapan Satya Bima terlihat kaget, karena dia tidak menyangka kalau hal yang terlupakan olehnya itu, ternyata sudah dipikirkan oleh adiknya Bimo. Kejadian tentang kejadian di kamar pribadi papanya di kantor itu langsung berkelebat di kepalanya.
"Jadi yang kemarin itu Om sengaja? kenapa harus seperti itu caranya? kan Om Satya bisa minta sendiri darahku. Aku pasti dengan senang hati memberikannya. Kalau begitu caranya, aku jadi menderita dua kali? kaget dan sakit. Kalau diminta baik-baik, menderitanya hanya sekali, yaitu sakit doang," protes Bima panjang lebar, dengan memasang wajah pura-pura marah.
__ADS_1
"Jangan kesal padaku! ini semua kemauan Bimo! untuk alasannya tanya sendiri!"
Bima sontak menoleh ke arah Bimo yang sudah cengengesan. "Maaf, Kakakku. Aku melakukannya sebagai kejutan, biar aku juga terlihat ada kerjanya. Sekaligus kejutan buat kamu, karena aku yakin kalau kamu pasti melupakan hal itu disebabkan terlalu banyaknya hal yang kamu pikirkan," jelas Bimo, yang dibarengi dengan senyum manisnya.
Sementara itu, Bara mulai membuka amplop coklat itu dan mengeluarkan secarik kertas dari dalamnya dari dalam. Mata pria itu sontak membesar sekaligus berembun begitu membaca hasil yang tertera di surat itu, yang mana menjelaskan kalau dia memang benar-benar ayah biologis dari si kembar.
"Ja-jadi aku benar-benar sudah punya anak? dan anakku kembar? jadi selama ini aku membesarkan anakku sendiri?" ucap Bara dengan suara bergetar. Tanpa mempedulikan rasa malu lagi, pria yang terkenal dengan wajah datar itu, mengeluarkan air mata dan memeluk Bima dan Bimo, kemudian menciumi puncak kepala si kembar berkali-kali.
Sementara itu, Elva tidak mau ketinggalan, wanita itu meraih surat hasil test DNA itu. Sama seperti reaksi Bara, mata wanita itu juga sontak mengeluarkan air mata, bahkan tangan wanita itu sampai gemetar.
Elva, ikut berjongkok dan meraih tubuh Bima dan Bimo ke pelukannya.
"Ja-jadi kalian berdua benar-benar cucu kandung Oma?" ucap wanita itu dengan suara bergetar.
Bima dan Bimo tersenyum dan menganggukkan kepala, mengiyakan. "Tidak perlu diragukan lagi Oma, karena Oma sendiri yang bilang kalau keturunan Prayoga tidak ada yang bodoh. Kan kami berdua pintar?" celetuk Bima, sembari menyelipkan sindiran di balik ucapannya, yang tentu saja sindirannya dialamatkan pada Tania.
Elva kemudian terkekeh di sela-sela air matanya yang masih menetes. Wanita itu kembali menarik kedua cucunya itu ke pelukannya. "Bima, maafkan ucapan Oma yang benar-benar kasar dari kemarin ke kamu. Oma benar-benar merasa bersalah!" ucap Elva dengan tulus dan menciumi puncak kepala Bima.
"Cukup, Oma! jangan cium aku lagi! aku sudah besar, malu dilihat orang!" ucap Bima yang membuat tangis Elva berubah menjadi tawa.
Sementara itu, Tania terlihat semakin gelisah dan benar-benar kesal, karena dia sama sekali tidak menyangka kalau ternyata Bima dan Bimo benar-benar anak kandung Bara.
Melihat semuanya sedang larut dalam keadaan haru. Tania merasa seperti memiliki kesempatan untuk kabur. Wanita itu mencolek Dito dan memberikan isyarat dengan natai untuk kabur.
Melihat isyarat mata itu, Dito tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Mereka berdua mulai menyingkir dengan perlahan dan sangat hati-hati.
Kedua orang licik itu, tersenyum kemenangan, karena merasa tindakan mereka tidak ketahuan. Namun, mungkin kali ini Tuhan tidak memberikan kesempatan lagi buat mereka untuk menang, karena begitu hampir sampai di pintu, beberapa pria berseragam polisi sudah berdiri di ambang pintu.
Tbc
__ADS_1