
Tristan kini sudah terbang ke Bali demikian juga dengan Bimo yang terbang ke Singapura.
Hari ini Salena terlihat tidak bersemangat selama dalam proses belajar mengajar. Gadis itu terlihat lebih banyak melamun.
sementara itu, Renata yang duduk tepat di sampingnya mengrenyitkan matanya, bertanya-tanya dalam hati tentang sikap Salena yang dari awal masuk kelas tadi lebih banyak diam.
"Salena, kerjakan soal try out nya! kenapa malah bengong sih?" bisik Renata sembari mencubit pelan pinggang sahabatnya itu.
"Apa sih, Ren! buat kaget aja kamu," protes Salena yang tentu saja masih dalam keadaan berbisik.
"Makanya, jangan melamun saja! kamu lagi mikirin apa sih?"
"Aku lagi nggak bersemangat, Ren. Kak Tristan di Bali selama tiga hari ini. Jadinya Pak Sandi lagi deh yang kembali mengantar dan menjemputku. Jadi malas kemana-mana deh. Biasanya kan kalau Kak Tristan yang jemput sekolah, aku suka minta singgah dan minta ditemanin, entah itu beli es krim atau hanya untuk beli jajanan," tutur Salena dengan bibir yang mengerucut.
"Kalau hanya untuk beli es krim atau jajanan, kan juga bisa minta sama supir kamu. Apa bedanya coba?"
"Ya, ada bedanya lah. Kalau dengan Kak Tristan ada kebanggaan, saat dia turun dari mobil bersamaku. karena dia tampan, gagah dan berkharisma. Kesannya kami seperti pasangan yang ada di drama-drama Korea itu lho!" ucap Salena dengan mata yang berbinar membayangkan kebersamaannya dengan Tristan.
Renata sontak berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya, merasa risi, dengan tingkah sahabatnya itu. "Hei, sadar Salena! Kak Tristan itu kakak sepupumu. Kamu tidak lupa kan?" bisik Renata mengingatkan.
"Emm, dia bukan sepupuku kandung, Ren. Jadi, aku dan dia bisa tetap menikah aniway. Lagian, mamaku dan mamanya yang sepupuan, jadi tidak ada masalah sama sekali kalau aku dan Kak Tristan berjodoh. Oh ya, Asal kamu tahu, seandainya Kak Tristan bilang suka samaku, aku mau deh detik ini juga mutusin Reno,"
Renata kembali menggeleng-gelengkan kepalanya, dan memutuskan untuk melanjutkan kegiatannya untuk menjawab soal try out di depannya, karena sebentar lagi kelas tiga SMA seluruh Indonesia akan mengadakan ujian terakhir. Tentu saja, Renata tidak mau kalau dia tidak lulus dari sekolah itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Salena dan Renata kini berjalan bersama menunjukkan pintu pagar, karena sudah waktunya untuk pulang.
__ADS_1
"Beb!" Salena dan Renata sontak menghentikan langkah mereka, ketika terdengar suara Reno yang memanggil.
"Iya," sahut Salena, singkat dan seperti biasa Renata akan diam saja .
"Beb, besok kan aku ulang tahun. Jadi, aku mengadakan acara perayaannya di hotel. Party kecil-kecilan lah. Aku mau kamu datang ke acara pesta ulang tahunku ya! aku ingin potongan kue pertamaku, aku kasih ke kamu. Kamu mau kan?" pinta Reno sembari memasang wajah memelasnya.
"Tapi, Beb ... besoknya kan kita masih harus sekolah, jadi kalau malamnya pesta, bisa-bisa besoknya kita akan mengantuk saat belajar. Kenapa pesta ulang tahunnya tidak kamu rayakan di malam minggu aja sih?" protes Salena, mencoba mengingatkan.
"Beb, ulang tahunku besok bukan hari Sabtu nanti. Aku merasa akan lebih bahagia merayakan ulang tahu di tanggal yang sama dengan tanggal lahir kita dari pada tanggalnya dimajuin ataupun diundurkan. Lagian, percaya deh jam 9 acaranya pasti akan sudah selesai. Jadi, tidak akan membuat kita telat tidur," tutur Reno mencoba membujuk Salena.
Salena kembali diam, tidak mengiyakan ataupun menolak. Gadis itu terlihat masih berpikir apakan dia bersedia datang atau tidak.
"Kalau kamu berat hati, kamu bisa kok datang dengan sahabat kamu ini!" Reno menunjuk ke arah Renata.
"Hei, jangan bawa-bawa aku!" Renata menepis tangan Reno yang masih dalam posisi menunjuk ke arahnya.
"Kamu kira aku butuh hal-hal seperti itu? sama sekali tidak!" Renata tidak kalah ketus dari Reno.
"Terserah kamu deh!" pungkas Reno tidak mau menghabiskan waktu untuk berdebat dengan Renata, gadis yang dianggapnya tidak ada pengaruhnya dalam hidupnya. Pemuda itu kembali menoleh ke arah Salena, karena dia belum mendapatkan kepastian dari pacarnya itu, mau bersedia hadir atau tidak.
"Beb, bagaimana? kamu mau datang kan? please!" Reno kembali memasang wajah memelasnya.
Karena merasa tidak tega melihat wajah memelas dari Reno, akhirnya Salena menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku akan datang dengan Renata," pungkas Salena yang tentu saja mendapat respon kaget dari Renata."Salena, aku kan__"
"Please, Ren! mau ya!" kini Salena yang memasang wajah memelas pada Renata yang akhirnya membuat Renata tidak tega untuk menolak.
__ADS_1
"Ya udah, iya!" pungkas Renata akhirnya.
"Yes, Terima kasih ya, Beb!" sorak Reno yang saking gembiranya refleks ingin mencium pipi Salena. Beruntungnya Salena langsung menjauhkan wajahnya dan menatap Reno dengan kesal. "Reno, jangan main nyosor aja, napa? ingat ini sekolah dan kita ini masih anak sekolah!" cetus Salena dengan nada ketus.
"Iya, iya, maaf! itu karena aku terlalu senang, Beb!" Reno cengengesan sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya udah jangan diulangi lagi! Kami duluan pulang ya! bye!" untuk menghindari pembicaraan lagi, Salena langsung melambaikan tangannya ke arah Reno dan terakhir menarik tangan Renata agar segera beranjak dari tempat itu.
Setelah Salena dan Renata pergi, raut wajah bahagia Reno seketika berubah sinis menatap kepergian dua gadis itu.
"Sekarang, boleh saja kamu sok suci dan sok menolak, Salena. Besok malam dan seterusnya aku pastikan aku akan membuatmu yang memohon-mohon padaku!" gumam Reno dengan sudut bibir yang membentuk senyum licik.
"Sayang, kamu kok tega sih padaku? aku tadi dengar kalau potongan kue pertamamu akan kamu kasih ke dia. Kamu buat aku cemburu tahu nggak!" tiba-tiba Farah sudah berdiri di samping Reno dengan bibir yang mengerucut.
"Apaan sih? yang semua siswa-siswi di sini tahu kalau pacarku itu Salena bukan kamu, jadi tidak mungkin aku kasih potongan kue pertama ke kamu. Lagian kita sudah ada perjanjian, kalau kamu itu hanya pacar gelapku. Jadi kamu jangan minta hal yang berlebihan. Bukannya Kamu yang mengatakan kalau kamu sanggup walau hanya jadi pacar gelap?" tutur Reno dengan nada yang sangat kesal.
"Iya, iya, maaf! tapi aku kan tetap cemburu, Sayang." bibir Farah semakin mengerucut.
"Far, jangan berlebihan begitu, bisa nggak sih? kita sebaiknya fokus pada rencana kita besok malam,"
Farah yang tadinya merengut tiba-tiba tersenyum lebar, begitu mengingat rencana yang sudah mereka susun dengan rapi.
"Maaf, Sayang. Aku tidak akan bersikap berlebihan lagi! aku sudah tidak sabar melihat Salena hancur besok,"
"Iya. Setelah dia hancur, aku bisa menjadikan apa yang terjadi padanya sebagai ancaman untuk memenuhi semua yang aku inginkan. Kalau dia menolak, apa yang terjadi padanya akan aku sebarkan. Pastinya dia tidak akan berani menolakku," batin Reno dengan senyuman licik yang tidak pernah tanggal dari sudut bibirnya.
tbc
__ADS_1