
"Kenapa Kakak datang ke sini?" tanya Arumi to the point.
"Kakak tadi ke rumah Clara, untuk ucapin selamat ulang tahun dan mengajaknya makan malam, tapi ternyata dia tidak ada di rumah. Aku sudah menghubungimu untuk menanya di mana keberadaannya, tapi tidak kamu angkat sama sekali, makanya aku putuskan mencarimu ke sini. Kamu tahu di mana Clara sekarang?"
Arumi sontak menggigit bibirnya, karena tiba-tiba merasa bimbang untuk memberitahukan di mana keberadaan sahabatnya itu. Wanita itu juga seketika membatalkan niatnya untuk mendekatkan kakak sepupunya itu dengan Clara.
"Kenapa kamu diam? kamu pasti tahu kan di mana Clara? soalnya aku ke toko bunganya, ternyata yang ada di sana hanya karyawannya. Katanya, Clara dari tadi sudah pulang." cecar Theo, dengan nada tidak sabar.
"Untuk apa sih Kakak masih terus berusaha mendekati Clara? sebaiknya urungkan saja niat Kakak itu, karena sepertinya Kakak akan sulit untuk mendapatkan hatinya. Yang ada nanti kakak akan sakit hati," bukannya menjawab pertanyaan Theo, Arumi justru merubah keinginan Theo.
Theo mengreyitkan keningnya, bingung mendengar ucapan Arumi. Bagaimana tidak? dia merasa sikap Arumi barusan sangat tidak masuk akal.
"Kenapa kamu bisa berbicara seperti itu? bukannya kemarin-kemarin kamu yang antusias menceritakan semua tentang Clara padaku hingga aku penasaran untuk bisa mengenal sosoknya. Kenapa setelah aku merasa tertarik dan ingin memilikinya, kamu sendiri yang memintaku untuk menghentikan niatku itu?" alis Theo bertaut tajam, menyelidik.
Arumi kembali menggigit bibirnya. Ingin dia menceritakan alasan yang sebenarnya, tapi dia merasa kalau dia harus tetap merahasiakan kebenaran itu, karena menurutnya bagaimanapun Theo adalah kakaknya Tania. Walaupun selama ini mereka tidak akur, tidak tertutup kemungkinan kalau bisa saja pria itu tidak mau adiknya itu di penjara, karena itu merupakan aib bagi keluarga mereka.
"Arumi, kenapa kamu diam? apa ada sesuatu yang kamu rahasiakan?" tatapan Theo semakin curiga.
"Ti-tidak ada apa-apa, Kak. Aku hanya murni tidak mau Kakak terluka nanti karena sulit mendapatkan hati Clara," sahut Arumi, memberikan alasan yang tepat.
Theo sontak tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Apa kamu meragukan Kakakmu ini? harusnya kamu yakin kalau aku akan bisa mendapatkan hati Clara dengan sikapku. Sekuat apapun seorang wanita, pasti akan luluh dengan sikap lembut dan perhatian dari seorang pria. Percaya deh, kalau aku pasti bisa meruntuhkan tembok yang dibangun orang Clara selama ini," ujar Theo dengan sangat yakin.
"Terserah Kakak deh. Yang penting Kakak jangan nanti menyalahkanku!" pungkas Arumi pasrah sembari memutar tubuhnya hendak pergi.
"Hei, kamu mau kemana?" dengan cepat Theo mencegah kepergian Arumi.
"Kakak bagaimana sih? aku mau pulanglah,"
"Tapi kamu belum menjawab pertanyaanku. Di mana Clara sekarang?" ulang Theo tidak mau putus asa.
Arumi, lagi-lagi mengembuskan napasnya dengan berat. "Dia pulang ke kampung halamannya. Tapi, hanya sebentar saja. Dia dan anaknya akan kembali lagi ke sini besok," sahut Arumi akhirnya memilih untuk jujur.
"Oh, begitu ya?" raut wajah Theo memperlihatkan kekecewaan. " Emm apa kamu tahu alamat kampung halamannya?" lanjut pria itu lagi.
__ADS_1
"Buat apa?" Arumi mengrenyitkan keningnya.
"Aku punya rencana untuk menyusulnya dan menjemputnya. Aku yakin, dia pasti akan merasa tersanjung dengan pengorbananku," Theo kembali bersemangat, membuat Arumi merasa sangat tidak tega. Dia tidak bisa membayangkan nanti, apa yang akan terjadi pada kakak sepupunya itu, jika nantinya Clara mau kembali lagi pada Bara.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Langit senja kini sudah berubah gelap. Di kediaman Bara, tepatnya di meja makan, tidak terlihat ada Bara bergabung makan malam di meja makan.
Situasi tanpa adanya Bara itu membuat Bima benar-benar merasa tidak nyaman karena sang Oma tidak seperti biasa. Elva, sama sekali tidak ada mengajaknya bicara selama makan malam berlangsung. Justru wanita itu, malah selalu bersikap lembut pada Tristan.
"Tania, Mama sudah mencari guru yang sangat bagus untuk Tristan. Besok dia akan mulai datang. Mama sudah memutuskan agar dia home schooling saja, biar dia bisa lebih fokus untuk belajar. Karena mama mau pewaris kekayaan keluarga Prayoga, itu pintar," ucap Elva, sambil melap mulutnya karena sudah selesai makan.
"Baik, Ma!" sahut Tania, sembari melebarkan senyumnya. Kemudian wanita itu menoleh ke arah Tristan. " Kamu dengar kan Sayang apa kata Oma? mulai sekarang, kamu harus semangat belajar, karena kamu itu adalah satu-satunya penerus keluarga Prayoga!" ucap Tania yang dengan sengaja mengeraskan suaranya, dengan tujuan agar Bima mendengar dan mengerti kalau dia sama sekali tidak dianggap oleh keluarga Prayoga.
"iya, Ma!" sahut Tristan dengan semangat dan ekor mata yang melirik sinis ke arah Bima.
Sementara Bima terlihat tetap santai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, dengan sudut bibir yang tersenyum miring.
"Ma, Oma, aku sudah selesai makan, aku mau kembali ke kamar dulu. Aku mau belajar lagi!" Tristan dengan semangat berdiri dari kursinya.
"Baiklah, semangat belajarnya ya, Sayang!" Tania tersenyum sembari mengelus lembut rambut putranya. Demikian juga dengan Elva, tersenyum manis ke arah Tristan dan menganggukkan kepalanya.
"Oma, aku juga sudah selesai. Aku mau kembali juga ke kamar," Bima yang sedari tadi hanya diam saja, akhirnya buka suara.
"Hmm," jawab Elva singkat, dan malas.
Bima menghela napasnya dengan berat, melihat sikap Omanya yang tidak lagi hangat padanya.
Bima kemudian mengayunkan kakinya melangkah keluar dari ruang makan dengan langkah gontai, yang diiringi dengan tatapan dan senyum sinis dari Tania.
"Ma, sebenarnya aku punya permintaan, itupun kalau Mama setuju," Tania kembali buka suara dengan sangat hati-hati, setelah memastikan Bima benar-benar sudah pergi.
"Permintaan apa itu?" tanya Elva dengan serius.
__ADS_1
"Aku sangat berterima kasih pada Mama yang sekarang sudah mendukungku lagi. Tapi entah kenapa aku merasa kalau Mas Bara sikapnya masih seperti dulu. Sebagai seorang ibu yang memikirkan masa depan anaknya, aku takut kalau nanti mama tiada. Mas Bara justru akan menyerahkan perusahaan pada Bimo, setelah Tristan dan Bimo dewasa. Jadi, aku meminta agar aku merasa tenang, bisa tidak surat warisan atas nama Tristan, dibuat sekarang saja? Bukan berarti aku mendoakan mama meninggal ya, hanya berjaga-jaga saja. Karena tadi, Bimo mengatakan padaku kalau dia akan membuat semua harta jatuh padanya," Tania mulai memainkan kembali dramanya sembari mengeluarkan air mata, seolah-olah dia sekarang lagi di bawah tekanan.
Elva mengreyitkan keningnya. Sebenarnya ada rasa tidak percaya pada wanita itu, mengingat Bimo yang masih kecil.
"Apa kamu serius, Bimo berkata seperti itu? Dia kan masih sangat kecil, tidak mungkin bisa berkata seperti itu,"
"Tapi, aku tidak berbohong, Ma. Ini buktinya." Tania memperdengarkan potongan rekaman suara Bima.
'Kali ini, apa yang Tante lakukan sudah keterlaluan. Jangan salahkan aku, membuat Tante menyesal mendapatkan akibat dengan apa yang Tante lakukan hari ini,'
"Dia sudah berani mengancamku, Ma. Setelah kata-kata ini, dia mengatakan kalau dia mengatakan akan membujuk Mas Bara agar apa yang ada di video itu menjadi kenyataan, di mana dia yang akan menjadi pewaris. Tapi sayangnya tidak ikut kerekam, karena tiba-tiba handphoneku hampir kehabisan energi. Makanya hanya yang tadilah sempat kerekam," ucap Tania, yang membumbui ucapannya dengan kebohongan dan tipu muslihat. Dia ternyata sempat kepikiran untuk merekam ucapan Bima, begitu melihat tatapan anak kecil itu yang dingin padanya. Dia langsung menekan tombol merekam, karena dia yakin kalau anak kecil itu pasti akan mengucapkan kata-kata menyakitkan.
Brakk
Elva menggebrak meja dengan keras. Matanya tampak memerah, karena amarah sudah merasuki jiwanya.
"Beraninya dia berkata seperti itu. Dasar anak tidak tahu diri!! sudah dipungut, dirawat dan diberi kemewahan, dia menjadi merasa sudah memiliki hak di rumah ini. Ini tidak bisa dibiarkan, dia benar-benar sudah melunjak. Aku akan meminta Bara mengusirnya dari sini secepatnya. Terserah dia mau hidup di mana, aku tidak peduli!" ucap Elva dengan napas yang memburu.
"Haish, bukan ini maksudku. Dia diusirpun tidak ada gunanya kalau surat warisan belum atas nama Tristan. Bagaimana ini ya?" batin Tania, mulai berpikir keras lagi.
"T-tapi Ma,aku yakin Mas Bara pasti tidak akan mau, karena dia sangat menyayangi anak itu. Bagaimana nanti kalau Mas Bara lebih memilih keluar dari rumah ini, kalau mama tetap mengusir anak pungut itu?" Tania mencoba strategi lain, mencoba mempengaruhi mama mertuanya itu.
Elva terdiam, dan membenarkan ucapan Tania. "Emm, Mama tidak mau itu terjadi, karena Mama tidak mau perusahaan hancur, kalau tidak ada Bara. Karena mama yakin Satya juga pasti nanti akan keluar dari perusahaan juga kalau mengetahui Bara pergi. Kalau kemarin-kemarin ketika Bara hilang, dia masih mau membantu mengurus perusahaan. Tapi, untuk masalah seperti ini, Mama tidak yakin kalau Satya akan bisa tetap di perusahaan," Elva diam sejenak, memikirkan ulang permintaan Tania.
"Sepertinya kamu benar. Mau tidak mau, suara warisan untuk Tristan memang harus dibuat. Karena walaupun Bimo masih anak kecil, tapi dia ternyata sudah bisa menjadi ancaman, apalagi nanti kalau dia dewasa," ucap Elva akhirnya menyetujui permintaan Tania.
"Yes! akhirnya aku berhasil membujuk wanita tua ini," sorak Tania dalam hati.
"Baiklah, nanti Mama akan menghubungi pengacara keluarga, agar besok surat warisannya dibuat dan bisa langsung ditandatangani. Untuk membujuk Bara mau menandatangani surat itu, serahkan saja ke mama," pungkas Elva, akhirnya memutuskan.
Dari balik tembok yang membatasi ruang makan dan ruang keluarga, tampak Bima menggeram dengan tangan yang terkepal dan mata yang berapi-api.
tbc
__ADS_1