Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Sahabat Salena


__ADS_3

"Kenapa kamu belum turun juga? apa kamu mau telat?dan kenapa wajahmu pucat seperti itu?" ucap Tristan dengan kening berkerut


"Iya, aku turun nih!" Karena sudah tidak punya pilihan lagi, akhirnya Salena turun dari mobil.


Seseorang yang sedang menunggunya di depan pintu pagar sontak melihat ke arahnya dengan mata yang memicing dan mengusap-usap matanya, seakan sedang memastikan kalau yang dilihatnya adalah orang yang sedang dia tunggu.


Setelah memastikan kalau Salena lah yang keluar dari dalam mobil, sosok itu langsung berlari menghambur ke arah Salena.


"Lena, ini benaran kamu? kenapa kamu bisa turun dari mobil mewah?" tanya orang itu yang ternyata adalah Renata, sahabat Salena.


"Oh, itu karena __"


"Salena, Kakak jalan dulu, ya! kamu baik-baik sekolah. Nanti Kakak akan jemput kamu lagi!" belum sempat Salena menjawab pertanyaan Renata, Tristan ternyata sudah ikut keluar dari dalam mobil dan mengacak-acak rambut gadis itu dengan lembut.


Sementara itu, Renata tampak mematung dengan mulut sedikit terbuka, kagum melihat sosok pria tampan yang berdiri di samping Salena. Kalau Renata mematung, Salena justru meringis serta mengumpat dalam hati, kesal melihat Tristan ikut keluar dari dalam mobil.


Seakan tidak peduli dengan tatapan kagum gadis remaja yang berdiri di depan Salena itu, Tristan langsung masuk kembali ke dalam mobil dan menjalankannya.


"Salena, siapa dia? kenapa kamu bisa ada di mobilnya?" tatapan kagum Renata kini berubah menjadi tatapan curiga ke arah Salena.


"Oh, dia kakakku?" sahut Salena, gugup.


"Kakak? bukannya kamu pernah cerita kalau kamu itu anak pertama dan hanya punya satu adik laki-laki yang namanya Aris, iya kan?" Renata masih menatap Salena dengan curiga.

__ADS_1


"Sudahlah, kita masuk kelas dulu! nanti kita bisa telat kalau ngobrol di sini terus!" Salena meraih tangan Renata, dan mengajak sahabatnya itu masuk ke dalam area sekolah.


Setelah berada di area sekolah, Renata menepis tangan Salena dengan halus dan berhenti melangkah.


"Aku masih penasaran, Lena dan kalau sudah seperti itu, kemungkinan aku tidak akan fokus belajar. Sejak kapan kamu punya kakak?" Renata kembali ke topik awal.


Salena kemudian menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan cukup berat. "Dia itu kakak sepupuku. Hmm, sepupu jauh sih. Tadi dia kebetulan datang ke rumah, ya sekalian aja aku nebeng ... kan lumayan, Ren, aku bisa jadi hemat ongkos," jelas Salena tertawa kecil.


Renata terdiam dan menatap Salena untuk mencari kebenaran ucapan sahabatnya itu melalui raut wajahnya.


"Kamu kenapa menatapku seperti itu? apa kamu tidak percaya aku lagi?"


Renata tersentak kaget seketika merasa bersalah telah mencurigai sahabatnya itu. Gadis itu kemudian tersenyum dan merangkul pundak Salena. "Iya, iya aku percaya kamu deh! maaf ya! aku hanya tidak menyangka kalau ternyata kamu memiliki kakak sepupu yang kalau dilihat dari penampilan dan mobilnya adalah anak orang kaya. Sekali lagi maaf ya!" Renata memasang wajah memelasnya.


"Maaf ya, Ren. Aku sudah membohongimu lagi! tapi aku takut kalau aku jujur mengakui kalau aku bukan orang kurang mampu seperti yang kamu pikirkan, aku takut kamu menjauhi aku, karena pemikiranmu yang selalu merasa tidak pantas berteman dengan orang kaya.


Ya, dia adalah Renata. Gadis manis yang bukan dari keluarga berada. Bahkan bisa dikatakan kurang mampu. Namun dia adalah anak yang cerdas sehingga karena kecerdasannya dia bisa sekolah di sekolah elite bermodalkan Bea siswa yang dia dapat.


Renata selama ini selalu dijauhi dan dibully oleh siswa-siswi di sekolah itu karena dianggap tidak selevel dengan mereka. Renata awalnya merasa tertekan dengan kesenjangan sosial yang terpampang jelas antara dirinya dengan para siswa di sekolah dan hampir saja membuatnya ingin keluar dan pindah ke sekolah lain. Namun,dia mengurungkan niatnya ketika dirinya mengingat kalau bisa bersekolah di sekolah ini adalah impiannya selama ini. Renata akhirnya memutuskan untuk tetap di sekolah itu dan menganggap semua ejekan yang datang ke dirinya adalah sebuah motivasi.


Sementara itu Salena yang memang tidak pernah ikutan membully Renata, merasa kalau di balik sikap cuek Renata, gadis itu memiliki sifat menyenangkan dan baik. Akhirnya gadis itu melakukan pendekatan pada Renata dengan dia berpura-pura memiliki nasib yang sama dengan Renata. Ia mengatakan kalau dia bisa sekolah di sekolah elite juga karena Bea siswa. Karena alasan itulah, Salena selalu meminta turun di tempat yang sedikit jauh dari sekolahnya dan ketika pulang sekolah, selalu menghindar dari jemputan supir pribadi. Setiap pulang sekolah Gadis itu selalu naik angkutan umum bersama dengan Renata.


Kedua gadis itu kini tiba di depan pintu kelas mereka. Namun, ketika mereka hendak masuk, tiba-tiba langkah mereka dihadang oleh tiga orang perempuan.

__ADS_1


"Hei, gadis miskin! siapa tadi yang mengantarkanmu ke sekolah!" tanya salah satu dari perempuan itu, yang tidak lain Farah. Ia merupakan ketua geng dan merasa kalau dia adalah perempuan paling populer di sekolah.


"Bukan urusanmu! tolong minggir, kami mau masuk!" ucap Salena tidak merasa gentar melihat tatapan penuh intimidasi dari gadis sombong di depannya itu.


"Wah, kamu udah mulai berani ya! kamu merasa sombong ya, karena ada pria kaya yang mengantarkanmu sekolah? kamu pasti merasa kalau kamu itu secantik bidadari. Ingat ya, kamu belum bisa dibandingkan denganku!" Farah mendorong tubuh Salena dengan sedikit keras.


"Lah, aku memang cantik! dan asal kamu tahu kecantikanku tidak layak dibandingkan dengan wajah topeng seperti kamu!" sindir Salena sarkastik, dengan salah satu sudut bibir melengkung tersenyum sinis.


"Brengsek kamu!" Farah mengayunkan tangannya hendak memukul Salena, tapi tangannya terhenti di udara karena tangannya kini dicengkram kuat oleh Renata.


"Lepaskan tanganmu anak miskin! tanganku bisa penuh virus disentuh tanganmu!" Farah histeris merasa jijik.


Renata kemudian menghempaskan tangan Farah dengan kasar, membuat perempuan itu meringis kesakitan.


"Ihhhh, mana hand sanitizerku? cepat semprotkan! aku tidak mau kulit tanganku nanti gatal-gatal kena virus!" titah Farah dengan suara tinggi, membuat kedua temannya itu dengan sigap langsung melakukan perintah Farah.


"Cih, dasar kacung! mau aja diperintah oleh wewe gombel modelan begitu! minggir, kami mau masuk!" umpat Salena sembari mendorong tubuh dua orang gengnya Farah. Kemudian ia masuk bersama dengan Renata.


Di saat bersamaan, Salena dan Renata sudah duduk, dua gadis yang duduk di belakang mereka mencolek tubuh Salena.


"Hei, Salena. Aku mau tanya, yang mengantarkanmu tadi kalau tidak salah salah satu putranya Tuan Bara pemilik perusahaan Prayoga group kan? dia yang pertama, yang kedua dan ketiga itu kembar iya kan?" Wajah Salena sontak berubah pucat dan langsung menoleh ke arah Renata yang kini juga menatapnya dengan tatapan penuh tanya.


"Kamu sepupuan dengan keluarga Prayoga, Salena? kenapa bisa? itu berarti kamu tidak sama sepertiku,"

__ADS_1


Tbc


__ADS_2