Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Tidak habis pikir


__ADS_3

Sudah seminggu semenjak Dito bebas dari penjara, Tristan tidak pernah mengunjungi pria yang merupakan papa kandungnya itu. Hal itu tentu saja membuat Dito semakin kesal dan berasumsi negatif pada Bara. Dia merasa alasan Tristan tidak pernah datang, itu karena dipengaruhi oleh Bara.


"Tidak boleh begini. Tristan itu anak kandungku, itu berarti aku yang lebih berhak pada anakku itu dibandingkan Bara si brengsek itu," Dito mengumpat dengan napas ya g memburu dan wajah memerah.


"Lagian, kenapa Tristan tidak memilih tinggal denganku sih? kenapa tetap di rumah itu? aku kan sudah keluar dari penjara, bukannya dia seharusnya tinggal denganku? apa dia berpikir dengan menyiapkan rumah untuk aku tempati, itu sudah cukup? lagian rumah ini sangat kecil, dan disewa bukan dibelikan untukku. Dia sepertinya memang benar-benar tidak menganggapku," lagi-lagi Dito menggerutu tidak jelas.


Di saat kekesalan masih belum menghilang, tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu.


Dito pun mengayunkan kakinya melangkah untuk membukakan pintu.


"Tristan, kamu datang, Nak?" kekesalan Dito seketika menghilang dengan datangnya Tristan.


"Iya, Om. Aku mau memenuhi janjiku yang mengatakan akan membawa Om ke makam mama," binar di wajah Dito kembali menghilang begitu mendengar Tristan masih belum mengganti panggilannya.


"Ayo, Om, kita berangkat!" Tristan berbalik dan langsung berjalan kembali menuju mobilnya.


Sementara itu, Dito berusaha untuk menahan kegeramannya, dan menyusul Tristan.


Tidak terlalu banyak pembicaraan di antara Tristan dan Dito sepanjang perjalanan menunju makam Tania, karena Tristan terlihat hanya menjawab pertanyaan basa-basi Dito dengan singkat, dan ia bahkan tidak bertanya balik.


"Kita sudah sampai," celetuk Tristan sembari menepikan mobilnya di depan sebuah pemakaman yang terbilang mewah.

__ADS_1


"Ayo, Om, kita turun!" Tristan membuka pintu mobilnya, lalu keluar. Hal yang sama juga dilakukan oleh Dito.


Setelah Dito turun, tanpa bicara lagi Tristan pun langsung melangkah menuju makam Tania mamanya, dan Dito. menyusul dari belakang


Setelah lima menit berjalan, Tristan kini berhenti di depan sebuah makan yang bertuliskan nama Tania. Makam itu terlihat sangat terawat. Tentu saja terawat, itu karena Tristan selalu meminta orang untuk selalu membersihkan makam wanita yang melahirkannya itu.


"Om, ini makamnya Mama. Om bisa panjatkan dia untuk mama agar mama bisa tenang di alam sana," ucap Tristan sembari berjongkok, siap untuk memanjatkan doa.


Sementara itu, Dito kini sudah tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis. Pria paruh baya itu, ikut berjongkok, membelai lembut nama Tania. Jujur, walaupun dia belum sempat menikah dengan almmarhumah Tania, dia tidak bisa membohongi perasaannya kalau dia sungguh mencintai wanita itu dan benar-benar merasa kehilangan.


"Sayang, apa kabarmu di sana? kenapa kamu tega meninggalkanku begitu cepat? kamu tahu, aku sudah keluar dari penjara, tapi aku merasa tidak ada gunanya aku bebas karena kamu sudah tidak ada. Aku benar-benar merasa kesepian, Sayang karena aku merasa sendiri. Bahkan putra kita sendiri seakan tidak menganggapku ada," Dito mulai curhat dan dengan sengaja menyelipkan sindiran pada Tristan.


"Kalau boleh aku meminta, aku juga ingin secepatnya menyusulmu, Sayang dan aku berharap bisa bertemu kamu di alam sana," lanjut Dito lagi dengan ekor mata yang sedikit dia tarik untuk melirik ke arah Tristan.


"Kenapa, Om bicara seperti itu tadi di makam mama?" tanya Tristan begitu mereka berdua sudah berada di dalam mobil lagi.


"Apa ada yang salah dengan yang aku katakan? tidak ada yang salah kan?" ucap Dito santai.


"Jelas salah. Kalau aku memang tidak peduli, aku sama sekali tidak akan menjemput Om begitu keluar dari penjara. Aku juga tidak akan menyiapkan rumah untuk Om tinggali. Aku juga menyiapkan semua kebutuhan Om. Apa masih kurang? menurut Om, perlakuan seperti apa yang baru bisa dianggap peduli?"


"Apa menurutmu dengan kamu melakukan semua hal yang kamu sebutkan tadi, itu sudah cukup? aku benar-benar merasa sendiri, Tristan. Aku tinggal di rumah itu sendiri, dan kamu malah memilih untuk tetap tinggal di rumah Bara. Kamu tidak menyadari kalau kematian mama kamu, tidak bisa lepas karena mereka,"

__ADS_1


Tristan tiba-tiba menghentikan mobilnya dengan mendadak, begitu mendengar ucapan Dito.


"Tristan, kenapa berhenti mendadak? kamu mau membunuh papa kandungmu sendiri?" pekik Dito, sembari mengelus-elus jidatnya yang tadi sempat sedikit terbentur ke dashboard mobil.


"Kenapa Om bicara seperti tadi? kematian mama sama sekali tidak ada kaitannya dengan papa Bara dan Mama Clara. Semuanya murni memang karena sudah takdir," Tristan sama sekali tidak peduli dengan protes yang dilontarkan oleh Dito tadi, makanya dia tidak mengucapkan kata maaf.


"Lihatlah, kamu masih membela mereka! secara kasat mata, memang mereka terlihat tidak ada kaitannya dengan kematian mama kamu, tapi coba kamu pikir ... seandainya mereka memberikan pengampunan dan tidak memasukkan mamamu ke penjara, pasti mamamu masih ada sampai sekarang, jadi yang menyembabkan mamamu mati adalah mereka, Tristan!" suara Dito terdengar meninggi dan mengebu-gebu. Beruntungnya mobil Tristan itu kesal suara jadi suara Dito yang menggelegar tidak akan terdengar sampai ke luar.


Tristan bergeming, benar-benar tidak bisa berkata-kata karena tidak mengerti dengan jalan pikiran pria paruh baya di sampingnya itu. Tristan kemudian berdecak dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Aku bingung, dengan jalan pikiranmu, Om. Seharusnya Om juga harus menyadari kenapa mama dan Om harus dimasukkan ke penjara. Apa menurut Om, apa yang Om dan mama lakukan itu perbuatan yang layak diampuni. Kejahatan mungkin bisa dimaafkan oleh mama Clara dan Papa Bara, tapi bukan berarti hukum juga harus berhenti. Hukum harus tetap berjalan, Om. Kalau cukup dengan kata maaf saja, makanya akan banyak orang jahat yang melakukan kejahatan dan begitu ketahuan, cukup dengan minta maaf saja, bisa lepas dari jerat hukum," tutur Tristan panjang lebar tanpa jeda.


"Tadinya aku mengira setelah Om keluar dari penjara, Om akan menyesal dan Ingin menjalani hidup dengan lebih baik, ternyata hati Om masih dipenuhi dengan kebencian. . Please Om, tolong hentikan perasaan benci itu, karena itu akan merugikan Om sendiri," sambung Tristan kembali.


"Kamu dikasih makan apa sama mereka, makanya kamu lebih membela keluarga itu dibandingkan papamu sendiri? kamu bahkan tidak sudi memanggilku papa,"


"Aku dikasih segalanya, Om. Keluarga itu benar-benar menganggapku bagian dari keluarga mereka. Om harusnya bahagia dan berterima kasih, karena mereka masih sudi membesarkanku, dan memberikan kasih sayang yang tulus. Mama saja sebelum kepergiannya, masih sempat minta maaf, tapi kenapa Om tidak menyadari kesalahan Om sendiri? Om, kalau mereka dulu tidak mengangkatku anak, apa menurut Om aku masih bisa seperti sekarang dan ada di depanmu?"


Dito sontak terdiam tidak bisa memberikan jawaban atas ucapan putranya itu.


Tbc

__ADS_1


.


__ADS_2