
"Apa pria ini yang namanya Bima?" bisik, Farell tepat di telinga Ayunda, hingga pria itu terlihat seperti tengah mencium Ayunda.
Ayunda menoleh ke arah Farell. Wanita itu tidak mengiyakan secara langsung, tapi dengan tanda yang dia berikan berupa kedipan mata, pertanda kalau tebakan Farell benar.
"Tatapannya menyeramkan," bisik Farell lagi.
Ayunda berdecak memberikan isyarat dengan matanya agar sang kekasig bohongan diam saja.
"Hai, Bima!" Ayunda memberanikan diri untuk menyapa pria dingin di depannya dengan tangan yang terulur ke arah pria itu.
Bima tidak langsung menyambut tangan Ayunda. Pria itu lebih dulu melirik ke arah tangan itu dan tanpa suara akhirnya menyambut tangan wanita itu.
"Kamu tidak bisa bicara ya, Bima?" bukan Ayunda yang buka suara melainkan Michelle. "Kamu tuh disapa harusnya dijawab, bukan hanya diam!" lanjut Michelle lagi.
Bima tidak menjawab sama sekali.Pria itu hanya melirik Michelle dengan lirikan yang sangat tajam.
"Michelle, tidak apa- apa sama sekali! aku sudah terbiasa dan kebal. Lagian, aku bukan yang dulu, yang selalu berharap dia baik ke aku. Sekarang mah mau dia baik, mau tetap seperti dulu, aku udah bodo amat," sahut Ayunda dengan santai dan bibir yang tersenyum.
"Oh ya, Sayang, kenalkan mereka ini teman-temanku. Yang ini Michelle, ini Bimo, Bima dan yang ini Radit," sambung Ayunda kembali menunjuk satu-satu persatu ke empat orang itu.
Farell kemudian tersenyum walaupun terasa kaku dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan empat orang yang baru saja disebutkan nama oleh Ayunda.
"Salam kenal,saya Farell," ucapnya.
"Sebenarnya sih masih ada satu orang lagi yang ingin aku kenalkan ke kamu, tapi aku belum melihatnya," Ayunda mengedarkan tatapannya ke semua arah, untuk mencari sosok pria yang dia anggap penyelamat hidupnya. Siapa lagi pria yang dia maksud kalau bukan Tristan.
"Kak Tristan tidak hadir ya?" tatapan Ayunda kini beralih ke arah Michelle karena dia tidak melihat di mana keberadaan Tristan.
"Ada kok tadi. Tapi mungkin dia ada urusan,karena malam ini dia jadi pengasuh," Michelle tertawa lepas.
"Pengasuh?" alis Ayunda bertaut, bingung.
"Iya. Karena dia tidak punya pasangan, Tristan mengajak Salena anaknya Tante Arumi. Kamu masih ingatkan anak kecil yang tidak pernah diam dan selalu banyak tanya hal yang tidak penting itu?"
__ADS_1
Ayunda diam dan mencoba mengingat anak kecil yang disebut oleh Michelle barusan.
"Eh, iya, aku ingat dia! Sekarang dia pasti udah jadi gadis remaja ya? Kalau tidak salah, usiannya sudah 18 tahun," Michelle menganggukan kepala, mengiyakan. "Jadi, kenapa kamu mengatakan kalau Kak Tristan jadi pengasuhnya? Kan sudah besar dan sebentar lagi lulus SMA?" sambung Ayunda kembali dengan kening yang masih berkerut.
"Karena, dia masih sama seperti dulu, cerewet. Bahkan semakin menjadi. Tentu saja Tristan harus super menjaganya, kalau tidak ... habis dia sama Om Satya,"
Ayunda sontak tertawa renyah, seperti tidak ada beban.Untuk sesaat dia melupakan keberadaan Bima di tempat itu.
"Kak, aku lapar. Apa kita datang ke sini hanya untuk mengobrol saja?" tawa Ayunda sontak berhenti, mendengar bisikan Farell.
Ayunda menoleh ke arah Farell dengan lirikan tajam, seperti sedang mengingatkan Farell dengan apa yang harus dia lakukan selanjutnya.
"Sayang, tadi kamu belum makan apa-apa. Apa kamu mau aku ambilkan makanan? Aku tidak mau kamu sampai lupa makan," ucap Farell yang seketika menyadari makna lirikan Ayunda, yang tidak lain memintanya untuk melakukan ekting berikutnya.
"Oh, tidak perlu, Sayang! kita ambil makanan bersama saja.Aku tahu kalau kamu juga lapar," sahut Ayunda dengan nada manja.
"Tapi, bagaimana dengan ...." Farell menunjuk ke arah empat orang yang katanya teman Ayunda. Namun Ia tetap berusaha menghindari kontak mata dengan Bima yang masih menatapnya dengan tatapan yang semakin tajam.
Michell dan Bimo serta Radit menganggukan kepala, mengiyakan,kecuali Bima yang tidak memberika reaksi apa-apa.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Acara temu sapa kini sudah selesai dan MC sudah mengumumkan kalau kini acaranya bebas.
Yang memiliki pasangan terlihat mengajak pasangan masing-masing untuk berdansa. Michelle dan Bimo tentu saja ikut terjun ke lantai dansa, demikian juga dengan Ayunda dan Farell, demi menyempurnakan sandiwara mereka.
"Bima, kenapa kamu minum?" Radit mengrenyitkan keningnya melihat sahabatnya yang tidak biasa menyentuh alkohol tiba-tiba menyentuh minuman itu, dan sepertinya dia sudah menghabiskan dua gelas.
"Tidak apa-apa! Aku hanya ingin minum sedikit saja. Tidak masalah kan?" ucap Bima sembari kembali meneguk kasar minumannya.
"Tapi kamu sidah minum tiga gelas.Kamu sebaiknya berhenti minum, karena nanti kamu bisa mabuk. Kamu tidak terbiasa minum alkohol Bima!" Radit merampas gelas dari tangan Bima.
"Radit, kenapa kamu lancang merampas gelas itu dari tanganku! Sini kembalikan!" Bima menggerakkan jari-jarinya mengisyaratkan agar sahabatnya itu memberikan kembali gelas miliknya.
__ADS_1
"Tidak, Bima! kamu harus dihentikan! Kalau tidak, nanti kamu bisa mabuk dan aku pasti akan kena marah Tante Clara dan Om Bara." Radit menggeleng-gelengkan kepalanya, seraya menjauhkan gelas di tangannya agar sulit dijangkau oleh sahabatnya itu.
"Kamu kalau ada masalah yang kamu sembunyikan,cerita! Jangan alihkan ke minuman!" sambungnya kembali sembari menyingkirkan botol minuman di depan Bima.
"Kamu jangan sok tahu! Orang minum apa hanya karena ada masalah? tidak kan? Aku hanya ingin minum sedikit, dan aku rasa kalau hanya sedikit saja tidak akan mabuk. Sini gelasku!" Bima meminta kembali gelasnya.
"Tidak akan!" tolak Radit mentah-mentah.
"Wah, sepertinya kamu mulai berani ya? Mau aku pecat?"
Radit mengembuskan napasnya dengan keras. "Terserah!" sahut Radit yang yakin kalau sahabatnya itu tidak akan mungkin melakukan ancamannya.
"Kamu ya, benar-benar ...." Bima mengepalkan tangannya, menggeram berusaha menahan amarah yang sebenarnya sudah sampai ke ubun-ubunnya. Karena Radit tidak kunjung memberikan gelas dan minumannya, Bima berinisiatif sendiri merampas dan kali ini Radit tidak bisa mengahalangi Bima.
"Aduh, Bimo dan Michelle kemana sih? Kenapa mereka menghilang?" harusnya mereka di sini, biar Bimo bisa mencegah si gila ini, minum," Radit mengedarkan tatapannya ke lantai dansa. Namun dia sama sekali tidak menemukan pasangan itu.
"Sial, di mana sih mereka? Apa mereka pesan kamar ya? Tapi, masa iya sih?" otak Radit mulai dibayangi pikiran-pikiran kotor.
"Tapi, nggak mungkin! Mana mungkin anak-anak Om Bara seperti itu!" sangkalnya kembali. "Ini lagi si Tristan. Dia kemana sih? Kenapa dia juga menghilang?" Radit kembali celingukan.
Sementara Bima sama sekali tidak peduli. Ia menuangkan kembali wine ke dalam gelasnya dan bersiap untuk meneguknya kembali.
"Bima, tolong! Ayunda diculik seseoran!" tiba-tiba Michelle muncul dengan wajah panik dan ketakutan sehingga membuat Bima tersentak kaget dan refleks meletakkan gelas minumannya dengan kasar.
"Jangan bercanda!" pekik pria itu dengan suara yang menggelegar.
"A-aku tidak bercanda. Tadi kami sama-sama ke kamar mandi, eh pas keluar dari sana, ada yang langsung membekap mulut Ayunda dan membawanya pergi!" tutur Michelle.
"Brengsek! Beraninya membangunkan singa tidur! Si Brengsek Farell itu, ngapain saja, kenapa tidak bisa melindungi Ayunda? Dasar pria tidak berguna!" tanpa pamit, Bima langsung beranjak dari tempat duduknya dan berlari dengan raut wajah tegang penuh amarah.
Sembari berlari pria itu masih sempat merogoh sakunya dan mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon seseorang.
Tbc
__ADS_1