Anak Kembar CEO Amnesia

Anak Kembar CEO Amnesia
Aku yang terbaik untukmu


__ADS_3

Arumi baru saja keluar dari ruangannya, karena sudah masuk jam makan siang. Wanita itu, berniat hendak makan di kantin rumah sakit saja, karena memang kebetulan dia malas untuk pergi keluar.


"Halo, Dokter Arumi! mau makan siang ya?" sapa seorang dokter pria tampan. Dokter yang merupakan idola dari semua dokter maupun pegawai wanita di rumah sakit itu.


Arumi melemparkan senyum manisnya dan menganggukkan kepala, mengiyakan.


"Iya, Dok. Dokter juga mau makan siang?" tanya Arumi berbasa-basi. Padahal sebenarnya dia sedikit jengah bila pria yang bernama Ryan itu menyapanya. Bagaimana tidak, pria itu suka sekali bertingkah berlebihan di depannya dan seakan-akan semua wanita menyukainya.


"Iya nih. Kita makan siang bersama ya? kamu tenang saja, aku yang traktir. Terserah, kamu mau makan di restoran yang mana," Dokter Ryan memamerkan senyumnya yang paling manis.


"Emm, Maaf sekali, Dok. Hari ini aku berencana ingin makan di kantin saja. Aku lagi tidak ingin keluar," tolak Arumi secara halus sembari memasang memelasnya.


Dokter Ryan sontak mengembuskan napas kecewa, mendengar penolakan dari wanita yang menarik hatinya itu. Dan ini adalah penolakan Arumi yang kesekian kalinya.


"Jadi, hari ini, aku kamu tolak lagi? kapan sih kamu, mau bersedia menerima ajakanku?" nada suara Ryan tidak seriang di awal. Pria itu juga memasang wajah sendunya..


"Aduh, bagaimana ini? dia tampak sangat sedih. Apa aku memang sudah keterlaluan menolak ajakannya terus-menerus? tapi, kalau aku terima, dia nanti bisa besar kepala dan menganggap, kalau aku juga sudah mulai menyukainya. Di samping itu, aku nanti akan capek meladeni dokter-dokter wanita yang menyukainya. Bagaimana ini?" Arumi membatin, benar-benar merasa dilema.


"Arumi, Kenapa kamu diam? kamu benar-benar tidak mau ya?" Ryan kembali bersuara, menyadarkan Arumi dari alam bawah sadarnya.


"Apa aku benar-benar terlihat buruk di matamu makanya kamu selalu menolak ajakanku? padahal, jujur saja, aku itu benar-benar menyukaimu dan mungkin aku jatuh cinta padamu. Bahkan, aku sudah bertekad, kalau kamu mau menerima cintaku nantinya, aku tidak akan menunggu lama lagi. Aku pastikan aku akan langsung melamarmu!" lanjut Ryan lagi dengan tegas dan lugas.


Arumi sontak saja terkesiap kaget mendengar pengakuan Ryan, yang menurutnya Sany tiba-tiba. Walaupun memang dia sudah cukup lama menyadari akan perasaan pria itu padanya. Tapi, sumpah demi apapun, Arumi sama sekali tidak pernah memiliki perasaan pada pria itu. Padahal kalau dilihat-lihat, semua kriteria Arumi ada pada dokter tampan di depannya.


"Emm, Dokter Ryan. Sekali lagi aku benar-benar minta maaf. Aku tidak bisa." sahut Arumi dengan sangat hati-hati.


"Kenapa? apa ada sesuatu yang salah padaku? kalau ada, kamu kasih tahu saja, supaya aku bisa memperbaikinya,"


"Tidak ada yang salah denganmu. Hanya saja, mungkin aku yang salah dan tidak cocok denganmu. Sekali lagi,maaf!" ujar Arumi masih sangat hati-hati.


"Tapi kenapa? tolong katakan katakan alasannya? karena aku juga butuh tahu apa alasan sebenarnya," nada suara Ryan mulai terdengar menuntut dan sedikit memaksa. Mata pria itu juga terlihat memerah, membuat Arumi seketika merasa takut.


"Karena dia sudah punya calon suami," tiba-tiba terdengar suara seorang pria menyahut ucapan Ryan.


Arumi dan Ryan secara bersamaan, menoleh ke arah datangnya suara. Dua ekspresi berbeda terlihat di raut wajah dua orang itu melihat sosok pria yang baru saja berbicara itu. Arumi yang terkesiap kaget, dan Ryan yang kebingungan.


Tampak seorang pria yang tidak lain adalah Satya, berdiri tidak jauh dari mereka dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya. Raut wajah pria itu juga terlihat datar menatap Ryan dengan tatapan tajam.


"Siapa kamu?" tanya Ryan dengan alis bertaut,tajam.


Satya tersenyum miring dan mengayunkan kakinya, melangkah menghampiri Arumi dan Ryan. Kemudian, pria itu mengulurkan tangannya ke arah Ryan yang sedikit enggan menyambut tangannya. "Kenalkan, aku Satya, calon suami Arumi!"


Mata Arumi membesar terkesiap kaget mendengar pengakuan Satya, pria yang belakangan ini selalu mengganggu pikirannya.


Ryan melepaskan tangannya dari genggaman Satya dan menatap Arumi, seakan ingin meminta kepastian dari wanita itu.

__ADS_1


"Apa itu benar, Dokter Arumi?" tanya Ryan memastikan.


Arumi seketika merasa kesulitan untuk menjawab. Di samping dia yang masih bingung,dia juga tidak tahu apa alasan Satya mengatakan seperti itu.


"Sayang, kenapa kamu diam? ayo jawab dong!" dengan sengaja Satya merangkul pinggang Arumi dengan mesra.


"I-iya. Dia memang calon suamiku!" pungkas Arumi akhirnya.


"Nah,kami dengar sendiri kan? jadi kami sudah tahu alasan kenapa dia menolakmu. Aku, selaku calon suaminya, sangat minta maaf. Aku minta mulai sekarang, kamu jangan mendekati calon istriku lagi!" suara Satya terdengar lembut, tapi penuh ketegasan.


Ryan sontak berdecih dan mendengus mendengar ucapan Satya. "Masih calon istri, belum jadi istri. Bahkan yang mau menikah besok pun bisa batal. Apa sih yang tidak mungkin terjadi di dunia ini?" ucap Ryan dengan sinis, menatap remeh pada Satya.


Satya tersenyum smirk dan sekarang mengganti posisi tangannya, menjadi bersedekap di dada.


"Ya, apapun bisa terjadi di dunia ini, termasuk kepalamu yang bisa terpisah dari tubuhmu. Jadi, kemungkinan itu bisa terjadi kalau ada yang berani atau dengan sengaja mau mengusik apa yang sudah jadi milikku. Bahkan dengan mudah, aku bisa membuatmu keluar dari rumah sakit ini dan tidak akan diterima di rumah sakit manapun," nada suara Satya masih terdengar lembut, tapi kali ini berisi ancaman.


Raut wajah Ryan seketika berubah pucat mendengar ucapan Satya. Apalagi begitu melihat senyum pria itu yang benar-benar terlihat menyeramkan baginya. Kemudian, tiba-tiba mata Ryan membesar karena tiba-tiba dia baru ingat kalau pria yang ada di depannya itu adalah asisten atau orang kepercayaan Bara pemilik dari rumah sakit tempat dia bekerja sekarang.


"Ma-maaf! aku janji tidak akan mengusik apa yang sudah jadi milikmu. Aku pamit, Tuan Satya!" pungkas Ryan dan berlalu cepat-cepat dari depan Arumi dan Satya.


"Hei, sejak kapan aku jadi calon istrimu? berani-beraninya kamu membohongi dokter Ryan!" protes Arumi sembari mengerutkan bibirnya.


Satya tidak menjawab sama sekali. Pria itu justru berbalik dan melangkah meninggalkan Arumi di belakangnya.


"Hei, manusia kutub, bisa tidak kamu pelan jalannya!" seru Arumi yang kewalahan mensejajarkan langkahnya dengan langkah Satya.


Satya tiba-tiba berhenti dan berbalik kembali menoleh ke arah Arumi. "Makanya, jangan mau punya kaki pendek!" ucap pria itu masib dengan wajah datar.


Arumi sontak berhenti dan menatap marah ke arah Satya. Wanita itu kemudian berbalik dan berlalu meninggalkan Satya seraya menggerutu tidak jelas.


"Hei, kamu mau kemana?" panggil Satya yang kini berganti mengejar Arumi.


Tidak butuh waktu lama, kini Satya sudah bisa berjalan di samping Arumi.


"Calon istriku mau kemana? apa kita tidak jadi makan siang?" kali ini suara Satya tiba-tiba berubah lembut.


Mendengar ucapan Satya, langkah Arumi sontak berhenti dan menatap Satya dengan tatapan penuh tanya.


"Tidak jadi makan siang? maksudnya?" mata Arumi memicing, bingung.


"Lho, bukannya tadi kamu mengirimkan pesan padaku, mengajakku makan siang?" kini Satya yang kebingungan.


"Aku sama sekali tidak pernah mengajakmu makan siang. Kamu jangan mengada-ada!" sangkal Arumi.


"Jadi ini siapa kalau bukan kamu?" Satya menunjukkan pesan yang memang berasal dari nomornya.

__ADS_1


Arumi langsung merampas ponsel Satya dari tangan pria itu dan membaca semua pesan, yang disengaja dikirim di jam tidur dan di jam dia tidak memegang ponsel. Yang membuat Arumi tidak habis pikir isi pesan yang dikirimkan menggunakan nomornya itu, berisi ungkapan cintanya pada Satya. Dia sama sekali tidak tahu masalah ini karena ketika dia bangun, posisi handphone sudah tidak ada pesan yang masuk sama sekali, alias sudah terbaca.


"Astaga, sumpah ini semua tidak pernah aku kirimkan. Ini kerjaan siapa? kenapa isi pesan itu, aku terkesan seperti wanita yang haus akan belaian ya?" Arumi malu sendiri membaca pesan-pesan yang dikirim mengatasnamakan nomornya itu.


"Aku tahu! ini pasti ulah dua anak itu! Bima ... Bimo, awas kalian berdua ya!" Arumi menggeram sembari menghentak-hentakkan kakinya.


"Kenapa aku tidak yakin ya, kalau dua anak itu yang mengirimkan pesan-pesan ini? kamu pasti sedang malu kan mengakuinya?" goda Satya, tetap dengan wajah datar tentunya.


Arumi mendengus kesal, mendengar ucapan Satya."Terserah kamu mau percaya atau tidak. Yang jelas, aku tidak pernah mengirimkan pesan-pesan menggelikan seperti itu," Arumi bergidik. "Tapi, seingatku kamu juga pernah mengirimkan komentar di media sosialku. Kamu memujiku cantik dan membuat emoticon kiss dan love juga," kini giliran Arumi yang menyerang pria di depannya itu.


Satya sontak mengrenyitkan keningnya. Kini pria itu yang kebingungan.


"Seingatku aku tidak pernah melakukan hal yang menjijikan seperti itu. Kamu jangan mengada-ada!"


"Aku tidak mengada-ada. Tunggu,aku akan tunjukkan ke kamu!" Arumi membuka media sosialnya dan mencari photo yang dipuji oleh akun atas nama Satya itu.


"Nih, coba kamu lihat!" Arumi meletakkan layar ponselnya tepat di depan mata Satya.


"Ya ampun! aku tidak pernah menulis seperti itu!" Satya mengusap wajahnya dengan kasar.


"Fix, ini ulah si kembar. Bocah-bocah itu ya ... mereka benar-benar keterlaluan. Awas nanti kalau sudah ketemu, aku jewer telinga mereka," Arumi menggertakan giginya, geram.


"Sudahlah! mereka hanya anak-anak dan tujuan mereka baik. Walaupun pesan-pesan itu dikirim oleh mereka, aku tetap menganggap itu dari kamu. Jadi, aku sudah menghubungi Tante Mayang dan Om Affan, kalau Sabtu depan aku akan datang melamarmu,"


Ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Satya, lagi-lagi membuat Arumi kaget.


"Tunggu-tunggu! a-apa maksudmu? kamu mau melamarku? dan kamu melakukan hal itu tanpa persetujuan dariku? kenapa kamu tidak membicarakannya lebih dulu?"


"Aku kan sudah mengatakan di pesan itu. Dan kamu malah senang dan menyetujui!" ucap Satya, santai.


"Tapi, kan aku sudah bilang kalau itu bukan aku!"


"Dan bukannya aku juga sudah bilang, kalau aku tetap menganggap itu dari kamu? sudahlah tidak perlu dibahas lagi, ayo kita makan siang!" pungkas Satya, masih tetap dengan sikap santainya dan tentu saja wajah datarnya tidak ketinggalan.


"What? jadi kamu melamarku dengan cara seperti ini? benar-benar tidak romantis!" Arumi mencebik, kesal.


"Padahal dulu aku tidak mau menikah dengan Bara karena aku tahu pria itu juga sangat dingin. Aku menginginkan seorang laki-laki yang romantis. Tapi, ternyata aku mendapatkan pria yang tidak jauh berbeda dari Bara. Benar-benar menyebalkan?" Arumi menghentak-hentakkan kakinya, kesal.


"Kalau kamu menginginkan seorang pria yang romantis dan suka mengeluarkan kata-kata manis, kenapa kamu justru menolak dokter tadi? bukannya dia sesuai dengan kriteriamu?"


Arumi sontak terdiam, tidak bisa menjawab, karena memang dia juga tidak mengerti alasannya.


"Kadang apa yang tidak kita inginkan itu yang kita dapat. Kadang yang kamu inginkan itu, bukan yang terbaik padamu, karena Tuhan lebih tahu apa yang sebenarnya terbaik untukmu. Dan percayalah, akulah yang terbaik untukmu!" pungkas Satya, membuat Arumi tidak bisa berkata-kata lagi.


tbc

__ADS_1


__ADS_2